basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Pernikahan yang Digagalkan: Ketika Mataram dan Banten Hampir Bersatu, dan VOC Diduga Bermain di Balik Layar Di tengah pusaran ke...

Pernikahan yang Digagalkan: Ketika Mataram dan Banten Hampir Bersatu, dan VOC Diduga Bermain di Balik Layar


Di tengah pusaran kekuasaan abad ke-17, sebuah rencana diam-diam berpotensi mengubah peta politik Nusantara.

Bukan melalui perang.
Bukan melalui ekspansi wilayah.
Tetapi melalui sebuah pernikahan.

Kesultanan Banten di bawah Sultan Ageng Tirtayasa dan Kesultanan Mataram di bawah Amangkurat I sempat menjajaki penyatuan politik melalui ikatan keluarga: pernikahan antara putra mahkota Mataram, Raden Mas Rahmat (kelak Amangkurat II), dengan seorang putri Banten.

Jika berhasil, ini bukan sekadar pernikahan kerajaan.
Ini adalah potensi aliansi dua kekuatan Islam terbesar di Jawa.

Dan itu berarti satu hal: ancaman serius bagi Vereenigde Oostindische Compagnie di Batavia.


---

Pernikahan sebagai Strategi Kekuasaan

Dalam tradisi kerajaan Jawa, pernikahan bukan urusan pribadi. Ia adalah instrumen politik.

Ketika Raden Mas Rahmat memasuki usia dewasa sekitar tahun 1652, keluarga istana Mataram mulai menyiapkan langkah strategis: mencarikan pasangan dari kerajaan lain yang bisa memperkuat posisi politiknya.

Menurut H.J. de Graaf dalam Runtuhnya Istana Mataram, rencana pernikahan dengan putri Banten bukan sekadar hubungan keluarga, melainkan bentuk legitimasi kerja sama politik antara dua kerajaan besar tersebut.

Namun, di balik rencana itu, terselip syarat yang tidak sederhana.

Mataram meminta agar salah satu anggota keluarga Kesultanan Banten menetap di istana Mataram.

Syarat ini bukan hal baru. Ini adalah pola dominasi.

Peneliti Belanda R.M. van Goens menyebut praktik ini sebagai bentuk menjadikan pihak lain sebagai “hamba kerajaan”—cara halus untuk memastikan loyalitas politik.

Kesultanan Cirebon pernah mengalaminya.
Banyak anggota keluarganya harus tinggal di Mataram sebagai bentuk kontrol.

Namun Banten berbeda.

“Tidak pernah seorang keluarga Kerajaan Banten bersedia tinggal di Mataram, sehingga perkawinan yang direncanakan itu batal,” tulis De Graaf.

Di titik inilah rencana besar itu mulai retak.


---

VOC dan Ketakutan Akan Aliansi Besar

Secara terbuka, tidak ada dokumen yang menyatakan VOC menggagalkan pernikahan tersebut.

Namun, dalam pembacaan geopolitik saat itu, sulit untuk mengabaikan satu fakta:

VOC memiliki kepentingan besar untuk memastikan Mataram dan Banten tidak bersatu.

Sebagai kekuatan dagang yang berpusat di Batavia, VOC hidup dari strategi “pecah dan kendalikan”.
Persatuan dua kerajaan besar Islam di Jawa akan menjadi ancaman langsung terhadap dominasi mereka.

Catatan harian VOC, Daghregister, menunjukkan intensitas pengamatan Belanda terhadap dinamika internal Mataram—termasuk urusan pernikahan politik.

Artinya, setiap langkah yang berpotensi mengubah keseimbangan kekuasaan berada dalam radar mereka.

Apakah VOC terlibat langsung?
Sejarah tidak memberi jawaban eksplisit.

Namun, dalam politik kekuasaan, intervensi tidak selalu tampak di permukaan.


---

Kegagalan Berulang: Dari Banten ke Cirebon

Setelah rencana dengan Banten gagal, Mataram beralih ke Cirebon.

Sejak April 1653, upaya peminangan mulai disiapkan. Bahkan perwakilan Belanda, Barent Volsch, turut diundang dalam proses tersebut—menunjukkan bahwa VOC bukan sekadar pengamat pasif.

Namun rencana itu kembali kandas.

Alasan resmi: garis keturunan putri Cirebon dianggap “tidak sepadan” dengan Mataram.

Penilaian ini dipertanyakan oleh De Graaf, mengingat keluarga Cirebon berasal dari keturunan Sunan Gunung Jati—salah satu tokoh penyebar Islam paling berpengaruh di Jawa.

Kegagalan demi kegagalan ini menimbulkan pertanyaan:

Apakah ini murni persoalan gengsi dan hierarki?
Atau ada tekanan yang tak tercatat?


---

Pencarian yang Berujung Tanpa Kepastian

Menurut J.J. Meinsma dalam Babad Tanah Djawi, Pangeran Anom bahkan sempat dikirim langsung ke Cirebon untuk menilai calon pasangan.

Ia menemukan seorang gadis yang cantik—namun dianggap memiliki sifat yang terlalu keras.

Pernikahan pun kembali batal.

Upaya berikutnya kembali mengarah ke Banten. Namun hingga tahun 1656, usaha kedua ini juga gagal.

Akhirnya, Amangkurat I mengambil langkah terakhir: mengadakan semacam sayembara untuk mencari calon istri dari kalangan bawahannya sendiri.

Ratusan perempuan disiapkan.

Namun siapa yang akhirnya terpilih tidak pernah benar-benar tercatat dengan jelas dalam sumber-sumber sejarah.

Menurut De Graaf, berdasarkan laporan pejabat Belanda, pernikahan Pangeran Anom terjadi sekitar awal 1657—dengan seorang perempuan yang identitasnya justru tidak diketahui.


---

Di Balik Sejarah yang Tak Pernah Selesai

Kisah ini bukan sekadar tentang pernikahan yang gagal.

Ia adalah potret tentang bagaimana kekuasaan bekerja dalam diam.

Tentang syarat yang tampak administratif, tetapi sejatinya politis.
Tentang keputusan yang terlihat personal, tetapi berdampak geopolitik.
Dan tentang kemungkinan intervensi kekuatan asing yang tidak pernah tertulis secara terang.

Jika pernikahan itu terjadi, sejarah Jawa mungkin berbeda.

Mataram dan Banten bisa berdiri dalam satu poros kekuatan.
Dan VOC mungkin menghadapi lawan yang jauh lebih solid.

Namun sejarah memilih jalan lain.

Sebuah pernikahan batal—dan dari kegagalan itu, keseimbangan kekuasaan tetap terjaga.

Setidaknya, bagi mereka yang berkepentingan.


Sumber:
Salim A Fillah, Kisah-Kisah Pahlawan Nusantara, Pro U Media, 2022
https://www.historia.id/article/petualangan-cinta-pangeran-mataram-vqmw8

Kapan Kekuatan Hebat yang Tak Berguna? Peradaban manusia hampir selalu mengukur kemenangan dengan satu ukuran: kekuatan. Siapa y...



Kapan Kekuatan Hebat yang Tak Berguna?


Peradaban manusia hampir selalu mengukur kemenangan dengan satu ukuran: kekuatan.

Siapa yang memiliki tentara terbesar, kekayaan paling melimpah, teknologi paling maju, atau pengaruh politik paling luas, dialah yang diperkirakan akan menentukan masa depan. Sejarah manusia pun sering ditulis dari sudut pandang para pemenang yang memiliki kekuatan.

Namun Al-Qur'an justru membongkar cara berpikir tersebut.

Menurut Al-Qur'an, kekuatan bukanlah penentu kemenangan. Kekuatan hanyalah alat. Yang menentukan hasil akhirnya adalah keputusan Allah. Sebesar apa pun kekuatan manusia, ia tidak mampu mengubah ketetapan-Nya.

Surah Ghafir membangun prinsip ini secara bertahap.

Allah terlebih dahulu menetapkan sebuah kaidah besar:

«"Allah memutuskan dengan hak (benar dan adil), sedangkan apa yang mereka sembah selain-Nya tidak mampu memutuskan sesuatu pun. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Ghafir: 20)»

Ayat ini memindahkan pusat kendali sejarah dari manusia kepada Allah. Keputusan akhir bukan berada di tangan raja, penguasa, panglima, hartawan, ataupun kekuatan militer. Tidak ada satu pun yang mampu menentukan hasil selain Allah.

Ketika Kekuatan Menjadi Sandaran

Setelah menetapkan prinsip tersebut, Al-Qur'an mengajak manusia meneliti sejarah.

«"Apakah mereka tidak berjalan di bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka? Mereka lebih kuat daripada mereka dan lebih banyak meninggalkan bekas-bekas peradaban di bumi. Tetapi Allah menghukum mereka karena dosa-dosa mereka, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat melindungi mereka dari azab Allah." (QS. Ghafir: 21)»

Ini bukan sekadar ajakan melihat reruntuhan bangunan kuno.

Al-Qur'an mengajak manusia menyelidiki sebab kehancuran sebuah peradaban.

Bangsa-bangsa terdahulu memiliki hampir seluruh indikator kejayaan yang selama ini dipuja manusia: kekuatan fisik, jumlah penduduk, teknologi pembangunan, pertanian, kemakmuran, dan peradaban yang maju.

Namun seluruh kekuatan itu tidak mampu menyelamatkan mereka.

Mengapa?

Penyebab Kehancuran yang Sebenarnya

Al-Qur'an langsung memberikan jawabannya.

«"Yang demikian itu karena rasul-rasul datang kepada mereka membawa bukti-bukti yang nyata, tetapi mereka mengingkarinya. Maka Allah menghukum mereka. Sesungguhnya Dia Mahakuat lagi Mahakeras hukuman-Nya." (QS. Ghafir: 22)»

Penyebab kehancuran mereka bukan lemahnya ekonomi.

Bukan pula kekalahan teknologi.

Bukan kekurangan sumber daya alam.

Sebab utamanya adalah sikap mereka terhadap para rasul.

Mereka menolak, mendustakan, melawan, bahkan sebagian membunuh utusan-utusan Allah.

Di sinilah Al-Qur'an mengubah cara membaca sejarah. Faktor spiritual bukan ditempatkan sebagai pelengkap, melainkan sebagai penentu arah perjalanan sebuah peradaban.

Studi Kasus: Tiga Pilar Kekuatan Mesir

Setelah menjelaskan kaidah umum, Surah Ghafir menghadirkan sebuah studi kasus yang sangat menarik: Mesir pada masa Nabi Musa.

Allah mengutus Musa dengan ayat-ayat dan mukjizat yang nyata.

Namun dakwah itu berhadapan dengan tiga pusat kekuasaan sekaligus.

«"Kepada Fir'aun, Haman, dan Qarun. Lalu mereka berkata, '(Musa) hanyalah seorang penyihir dan pendusta.'" (QS. Ghafir: 24)»

Ketiga tokoh ini bukan sekadar individu.

Mereka mewakili tiga pilar utama sebuah negara.

Fir'aun adalah simbol kekuasaan politik dan militer.

Haman melambangkan birokrasi, administrasi negara, serta mesin kekuasaan yang menopang pemerintahan.

Qarun mewakili kekuatan ekonomi, kekayaan, dan kendali finansial.

Dengan kata lain, seluruh instrumen kekuasaan berada di satu pihak, sedangkan Nabi Musa datang hanya membawa wahyu.

Secara perhitungan manusia, hasil pertarungan ini seharusnya sudah dapat ditebak.

Namun Al-Qur'an menunjukkan hasil yang berbeda.

Ketika Negara Menggunakan Seluruh Kekuatannya

Penolakan mereka tidak berhenti pada propaganda.

Mereka meningkatkan eskalasi dengan kebijakan represif.

«"Ketika Musa datang membawa kebenaran dari Kami, mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak laki-laki orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkan perempuan-perempuan mereka hidup.' Tetapi tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah sia-sia." (QS. Ghafir: 25)»

Seluruh instrumen negara digerakkan.

Kekuasaan politik.

Birokrasi.

Propaganda.

Teror.

Pembantaian.

Semuanya digunakan untuk mempertahankan kekuasaan dan menghentikan dakwah Nabi Musa.

Tetapi Al-Qur'an memberikan satu kalimat penutup yang menghancurkan seluruh strategi itu:

«"Tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah sia-sia."»

Inilah ironi terbesar dalam sejarah.

Mereka memiliki seluruh kekuatan.

Namun tidak memiliki keputusan.

Keputusan tetap berada di tangan Allah.

Pelajaran Besar Surah Ghafir

Surah Ghafir mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan bukanlah seberapa besar kekuatan yang dimiliki, melainkan kepada siapa kekuatan itu diabdikan.

Kekuatan yang digunakan untuk mendustakan para nabi berubah menjadi sebab kehancuran.

Sebaliknya, perjuangan yang berdiri bersama para rasul, meskipun tampak lemah menurut ukuran manusia, berada dalam pertolongan Allah.

Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah:

"Seberapa besar kekuatan yang kita miliki?"

Melainkan:

"Apakah kekuatan itu berada di jalan para nabi dan rasul, atau justru digunakan untuk menentang mereka?"

Sebab sejarah yang dipaparkan Al-Qur'an menunjukkan satu kesimpulan yang tidak pernah berubah:

Kekuatan tidak pernah menentukan kemenangan.

Yang menentukan kemenangan hanyalah keputusan Allah.

Pada Sisi Allah-lah Semua Perbendaharaan  Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:  وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا عِنْدَنَا خَزَاۤى...

Pada Sisi Allah-lah Semua Perbendaharaan 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 


وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا عِنْدَنَا خَزَاۤىِٕنُهٗ وَمَا نُنَزِّلُهٗٓ اِلَّا بِقَدَرٍ مَّعْلُوْمٍ

Tidak ada sesuatu pun melainkan di sisi Kamilah perbendaharaannya dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.
(Al-Ḥijr [15]:21)

Segala sesuatu tidak dapat diminta melainkan dari Allah semata. Karena Dialah Yang Maha Memiliki perbendaharaan dan di tangan-Nyalah kunci-kunci semua perbendaharaan itu.

Sehingga, meminta kepada selain-Nya berarti meminta kepada makhluk yang tidak punya kekayaan dan tidak mampu mewujudkan keinginan.

Sumber:
Ibnu Qayyim, Fawaidul Fawaid, Pustaka Imam Syafi‘i, 2024

Orientasi Cita-Cita, untuk Siapa? Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:  وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰىۙ bahwa sesungguhn...

Orientasi Cita-Cita, untuk Siapa?


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 


وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰىۙ

bahwa sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),
(An-Najm [53]:42)

Segala keinginan dan cita-cita yang tidak ditujukan kepada Allah dan tidak berhubungan dengan-Nya adalah semu dan sia-sia. Sebab, keinginan seperti itu tidak memiliki tujuan sama sekali. 

Padahal, segala sesuatu pasti berujung kepada Allah. Semua urusan pasti berpulang kepada penciptaan-Nya, kehendak-Nya, hikmah-Nya, dan ilmu-Nya.

Allah adalah puncak segala tujuan dan seluruh keinginan hamba. Mencintai sesuatu bukan karena-Nya akan mengakibatkan keletihan dan siksa.

Setiap perbuatan yang tidak ditujukan untuk-Nya akan sia-sia dan percuma. Setiap hati yang tidak terkait dengan-Nya akan celaka, dan yang terparah ia terhalang dari mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan.

Sumber:
Ibnu Qayyim, Fawaidul Fawaid, Pustaka Imam Syafii, 2024

Dosa Terbesar: Buruk Sangka kepada Allah Orang yang berburuk sangka kepada Allah berarti telah melakukan hal yang berseberangan ...

Dosa Terbesar: Buruk Sangka kepada Allah

Orang yang berburuk sangka kepada Allah berarti telah melakukan hal yang berseberangan dengan kesempurnaan-Nya yang suci. Ia telah melakukan perkara-perkara yang berlawanan dengan nama-nama dan sifat-sifat-sifat-Nya.

Apakah masih menyangka terdapat kekurangan dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya?

Seharusnya kita meyakini bahwa Dialah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maha Kaya yang tidak membutuhkan sesuatu, sedangkan segala sesuatu membutuhkan-Nya.

Dia berbuat adil kepada para makhluk-Nya. Dia Esa dalam mengatur makhluk-Nya. Dia Maha Mengetahui segala rincian permasalahan, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.

Dia Esa dalam mencukupi makhluk, Dia tidak membutuhkan pembantu. Dia Dzat yang benar-benar Maha Pengasih. Mengasihi tanpa diminta belas kasihnya.

Masihkah berburuk sangka pada Allah?

Sumber:
Ibnu Qayyim, Ad-Daa' Wa Ad-Dawaa', Pustaka Imam Syafii, 2026

Pertarungan Doa dan Musibah  Saat bersanding dengan musibah, doa memiliki tiga kondisi: 1. Doa lebih kuat daripada musibah Maka ...

Pertarungan Doa dan Musibah 

Saat bersanding dengan musibah, doa memiliki tiga kondisi:

1. Doa lebih kuat daripada musibah
Maka dari itu, doa mampu mencegah terjadinya musibah 

2. Doa lebih lemah dari musibah 
Akibatnya, ia terkalahkan sehingga musibah pun menimpa orang bersangkutan. Tetapi, doa bisa meringankan musibah tersebut meski hanya sedikit.

3. Satu sama lain saling menyerang dan saling menghilangkan

Rasulullah saw bersabda,

"Sikap waspada tidak mampu menolak takdir. Doa itu memberikan manfaat kepada hal-hal yang telah terjadi dan belum terjadi. Pada saat musibah itu turun, doa segera menghadapinya. Keduanya saling bertarung hingga tiba hari Kiamat."

Sumber:
Ibnu Qayyim, Ad-Daa' Wa Ad-Dawaa', Pustaka Imam Syafi‘i, 2026

Kiai Wahid Hasyim di Kursus Perang Asia Timur Raya Kiai Wahid Hasyim berkisah saat  para ulama diharuskan ikut pelatihan perang ...

Kiai Wahid Hasyim di Kursus Perang Asia Timur Raya

Kiai Wahid Hasyim berkisah saat  para ulama diharuskan ikut pelatihan perang Asia Timur Raya yang dilaksanakan oleh penjajah Jepang. Saat itu, Jepang di puncak kemegahan dan kesombongan.

Salah satu sesi pelatihan adalah ceramah. Saat ceramah, opsir-opsir Jepang berdiri melingkari peserta dengan pedang samurainya. Saat itu, ayahnya Buya Hamka yang akan memberikan ceramah. 

Kiai Wahid Hasyim menanti apa yang akan dikatakannya dalam kondisi hidup dan iman dalam tekanan. Lalu, ayahnya Buya Hamka berdiri, berhenti sejenak, lalu beliau mengucapkan ayat,

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 


لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِى الْبِلَادِۗ

Jangan sekali-kali kamu teperdaya oleh bolak-balik perjalanan orang-orang yang kufur di seluruh negeri.
(Āli ‘Imrān [3]:196)

مَتَاعٌ قَلِيْلٌ  ۗ ثُمَّ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ ۗوَبِئْسَ الْمِهَادُ

(Semua itu hanyalah) kesenangan sementara, kemudian tempat kembali mereka ialah (neraka) Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.
(Āli ‘Imrān [3]:197)

Semua peserta yang mendengarkan ayat tersebut menangis. Semuanya terpaku mendengarkan ayat tersebut. Hatinya tergugah, apa pun keadaannya, kekuatan jiwa masih ada. Mereka tidak terpesona dan tidak silau oleh kekuasaan orang kafir yang sedang dapat angin.

Iman mereka meyakini bahwa semuanya tidak akan lama. Yang menang dan kekal hanya kebenaran jua.

Sumber:
Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar, GIP,   2021

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (44) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (8) Dakwah (2) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (19) Kecerdasan (313) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (51) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (101) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (5) Nusantara (266) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (656) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (299) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (247) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (171) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (30) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)