Beberapa Nikmat Allah kepada Bani Israil: Mengapa Sejarah Harus Diingat?
Setelah mengingatkan Bani Israil tentang pentingnya pertanggungjawaban pribadi, Allah mulai mengajak mereka menelusuri kembali lembaran-lembaran sejarah mereka. Mengapa?
Karena manusia sering kali lebih mudah mengingat penderitaannya daripada mengingat siapa yang menyelamatkannya. Bahkan, tidak sedikit yang menikmati nikmat Allah, tetapi melupakan Sang Pemberi nikmat.
Allah berfirman,
«"Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari Fir'aun dan pengikut-pengikutnya. Mereka menimpakan kepadamu azab yang sangat berat; mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Pada yang demikian itu terdapat cobaan yang besar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami menyelamatkan kamu dan menenggelamkan Fir'aun beserta pengikut-pengikutnya, sedang kamu sendiri menyaksikannya."
(QS. Al-Baqarah [2]: 49–50).»
Mengapa nikmat pertama yang diingatkan adalah penyelamatan dari Fir'aun?
Karena kebebasan merupakan nikmat yang menjadi pintu bagi lahirnya seluruh nikmat lainnya. Selama seseorang berada dalam belenggu penindasan, ia sulit merasakan arti kemerdekaan, ibadah, dan kehormatan.
Allah seakan membawa Bani Israil kembali menyaksikan masa lalu mereka. Bukan sekadar mengingat sebuah cerita, tetapi menghadirkan kembali suasana yang pernah dialami oleh nenek moyang mereka. Al-Qur'an menghidupkan memori kolektif itu sehingga penderitaan dan pertolongan Allah terasa nyata dalam hati mereka.
Seperti apakah penindasan yang mereka alami?
Fir'aun dan para pengikutnya tidak sekadar menguasai Bani Israil secara politik. Mereka menjalankan sistem penindasan yang menghancurkan kehidupan sebuah bangsa. Anak-anak laki-laki disembelih agar generasi penerus mereka lenyap, sedangkan anak-anak perempuan dibiarkan hidup untuk memperlemah martabat dan masa depan mereka.
Bukankah ini bukan hanya pembunuhan?
Benar. Ini adalah upaya sistematis untuk mematahkan harapan suatu bangsa. Ketika generasi penerus dimusnahkan, masa depan sebuah masyarakat ikut dihancurkan.
Karena itu Al-Qur'an tidak hanya menceritakan peristiwa tersebut, tetapi juga mengingatkan bahwa semua itu adalah "bala' 'azhim", yaitu ujian yang sangat besar dari Allah.
Mengapa penderitaan disebut sebagai ujian?
Karena dari sudut pandang manusia, penderitaan tampak sebagai musibah semata. Namun dari sudut pandang keimanan, setiap ujian merupakan sarana pendidikan yang membentuk jiwa, menguatkan kesabaran, dan mendekatkan seorang hamba kepada Rabbnya.
Bukankah penderitaan terasa sangat berat?
Ya. Akan tetapi, beban itu menjadi lebih ringan ketika seseorang memahami bahwa ujian bukanlah akhir perjalanan, melainkan fase yang sedang dilaluinya. Kesadaran inilah yang melahirkan ketabahan.
Orang yang memahami hakikat ujian akan memperoleh dua bekal sekaligus.
Bekal untuk kehidupan dunia, berupa pengalaman, kedewasaan, keteguhan, dan kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai persoalan.
Dan bekal untuk kehidupan akhirat, berupa pahala kesabaran, kedekatan kepada Allah, harapan akan pertolongan-Nya, serta keyakinan bahwa rahmat Allah tidak pernah terputus bagi hamba yang tetap berharap kepada-Nya.
Karena itulah Al-Qur'an terlebih dahulu memberi komentar,
«"Pada yang demikian itu terdapat cobaan yang besar dari Tuhanmu."»
Barulah setelah itu Allah memperlihatkan pemandangan yang sangat kontras.
Sesudah malam panjang penindasan, datanglah fajar pertolongan.
Allah berfirman,
«"Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami menyelamatkan kamu dan menenggelamkan Fir'aun beserta pengikut-pengikutnya, sedangkan kamu sendiri menyaksikannya."»
Mengapa Al-Qur'an menggambarkan peristiwa ini secara visual?
Karena Al-Qur'an tidak sekadar menyampaikan informasi sejarah. Al-Qur'an mengajak pembacanya ikut menyaksikan peristiwa itu dengan mata hati. Seolah-olah Bani Israil kembali berdiri di tepi Laut Merah, menyaksikan air terbelah, menyeberang dengan selamat, lalu melihat Fir'aun beserta seluruh tentaranya tenggelam di hadapan mereka.
Inilah salah satu keistimewaan gaya bahasa Al-Qur'an. Sejarah tidak dibiarkan menjadi kisah yang mati, tetapi dihidupkan kembali dalam imajinasi sehingga mampu menggugah kesadaran dan membangkitkan keimanan.
Mengapa kisah ini diulang, padahal mereka telah mengetahuinya?
Karena mengetahui sebuah peristiwa tidak selalu berarti menghayati maknanya. Manusia sering hafal sejarah, tetapi gagal menangkap pelajarannya. Al-Qur'an mengulang kisah-kisah besar bukan untuk memperbanyak informasi, melainkan untuk memperdalam kesadaran.
Melalui pengulangan ini, Allah mengajarkan bahwa pertolongan-Nya selalu datang setelah kesabaran, bahwa penindasan bukanlah akhir dari sejarah, dan bahwa tidak ada kekuasaan sebesar apa pun yang mampu bertahan apabila telah berhadapan dengan kehendak Allah.
Dengan demikian, nikmat terbesar yang diingatkan kepada Bani Israil bukan hanya keselamatan fisik dari Fir'aun, tetapi juga pelajaran abadi bahwa Allah adalah Penolong orang-orang yang beriman, Pengangkat kaum yang tertindas, dan Penggugur setiap kekuasaan yang dibangun di atas kezaliman.
0 komentar: