Yang Allah Siapkan Sebelum Penciptaan Manusia
Mengapa kisah Nabi Adam dalam Surat Al-Baqarah baru dimulai pada ayat 30?
Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi jawabannya membuka cara pandang yang berbeda dalam membaca Al-Qur'an. Sebab, Al-Qur'an bukan kumpulan ayat yang berdiri sendiri-sendiri. Setiap ayat terhubung dengan ayat sebelumnya dan menjadi pengantar bagi ayat setelahnya.
Karena itu para ulama tafsir selalu memberi perhatian besar pada ilmu munasabah, yaitu hubungan dan keterkaitan antar ayat maupun antar surat. Mereka meyakini bahwa memahami sebuah kisah dalam Al-Qur'an tidak cukup hanya dengan membaca kisah itu sendiri, tetapi juga harus memahami konteks yang mengantarkannya.
Prinsip inilah yang mengantar kita pada sebuah pertanyaan penting:
Apa sebenarnya tema Surat Al-Baqarah ayat 1-29 sebelum kisah Nabi Adam dimulai?
Menelusuri Jejak Sebelum Adam
Jika diperhatikan, dua puluh sembilan ayat pertama Surat Al-Baqarah tidak berbicara tentang Adam, malaikat, ataupun Iblis.
Ayat-ayat tersebut justru berbicara tentang manusia secara umum.
Allah memperkenalkan tiga kelompok manusia yang akan menghuni bumi: orang-orang beriman, orang-orang kafir, dan orang-orang munafik.
Kemudian Allah mengajak manusia merenungkan penciptaan langit dan bumi, pergantian hidup dan mati, serta berbagai nikmat yang disediakan untuk kehidupan mereka.
Seakan-akan Al-Qur'an sedang membangun sebuah panggung besar sebelum memperkenalkan tokoh utamanya.
Quraish Shihab: Panggung Kehidupan Manusia
Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, ayat-ayat sebelum kisah Adam berbicara tentang perjalanan hidup manusia secara umum.
Manusia diciptakan, hidup di dunia, lalu kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan amalnya.
Dalam konteks itu pula Allah menjelaskan penciptaan langit dan bumi beserta berbagai sarana kehidupan yang telah disiapkan sebelum manusia hadir.
Dengan kata lain, sebelum memperkenalkan Adam sebagai manusia pertama, Al-Qur'an terlebih dahulu memperkenalkan panggung tempat manusia akan menjalani kehidupannya.
Buya Hamka: Mengapa Manusia Kufur?
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar melihat tema tersebut dari sudut yang berbeda.
Menurutnya, ayat-ayat sebelum kisah Adam merupakan teguran keras kepada manusia yang kufur kepada Allah.
Padahal manusia berasal dari ketiadaan, lalu dihidupkan Allah. Setelah itu dimatikan, kemudian akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan seluruh amalnya.
Lebih jauh lagi, Allah telah menyediakan segala kebutuhan hidup di bumi sebelum manusia hadir.
Jika seluruh alam semesta telah dipersiapkan untuk manusia, maka muncul pertanyaan mendasar:
Siapakah sebenarnya manusia itu?
Untuk tujuan apa ia diciptakan?
Pertanyaan inilah yang kemudian dijawab melalui kisah Nabi Adam.
Sayyid Qutb: Parade Alam Semesta
Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur'an menggambarkan ayat-ayat awal Al-Baqarah sebagai sebuah parade besar kehidupan dan alam semesta.
Pembaca diajak melihat bumi, langit, dan berbagai nikmat yang Allah bentangkan untuk manusia.
Setelah suasana itu dibangun, barulah Allah memperkenalkan manusia pertama yang akan menerima amanah mengelola bumi.
Dalam perspektif ini, kisah Adam bukan sekadar cerita tentang asal-usul manusia, melainkan pengumuman resmi tentang pengangkatan pengelola bumi.
Karena sebelumnya Allah telah menjelaskan bahwa bumi beserta seluruh isinya memang disiapkan untuk manusia.
Amr Khaled: Siapa yang Layak Memimpin?
Amr Khaled menyoroti hal yang menarik.
Menurutnya, pada bagian awal Surat Al-Baqarah Allah terlebih dahulu mengelompokkan manusia menjadi tiga kategori besar: mukmin, kafir, dan munafik.
Pengelompokan ini bukan tanpa tujuan.
Sebab setelah itu Al-Qur'an berbicara tentang kepemimpinan manusia di bumi melalui kisah Adam.
Seakan-akan Allah sedang menjelaskan bahwa manusia memang diberi amanah sebagai khalifah, tetapi kualitas kepemimpinannya sangat bergantung pada sikapnya terhadap petunjuk Allah.
Tidak semua manusia layak memimpin dengan benar. Ada yang mengikuti petunjuk Allah, ada yang menolaknya, dan ada pula yang berpura-pura menerimanya.
Dari Fasilitas Menuju Amanah
Ada satu pola menarik yang tampak ketika seluruh pendapat para mufasir tersebut disatukan.
Sebelum mengangkat Adam sebagai khalifah, Allah terlebih dahulu menjelaskan fasilitas yang telah disediakan.
Bumi telah dipersiapkan.
Langit telah ditata.
Sarana kehidupan telah disempurnakan.
Barulah setelah itu Allah berfirman kepada para malaikat:
> "Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi." (QS. Al-Baqarah: 30)
Urutannya sangat logis.
Allah tidak mengangkat seorang pengelola sebelum menyediakan wilayah yang akan dikelolanya.
Allah tidak memberi amanah sebelum menyiapkan sarana untuk menjalankan amanah tersebut.
Karena itu ayat 29 sebenarnya menjadi jembatan yang sangat penting menuju ayat 30.
Kisah Adam Sebagai Jawaban
Ketika seluruh rangkaian ayat 1-29 dibaca secara utuh, tampak bahwa Al-Qur'an sedang mengantar pembaca kepada sebuah pertanyaan besar:
Siapakah manusia yang diberi semua fasilitas ini?
Apa tugasnya di bumi?
Bagaimana cara ia menjalankan amanah tersebut?
Jawaban atas pertanyaan itulah yang dimulai pada ayat 30 melalui kisah Nabi Adam.
Karena itu, kisah Adam bukanlah kisah yang berdiri sendiri.
Ia merupakan jawaban atas seluruh pertanyaan yang dibangun sejak awal Surat Al-Baqarah.
Ayat-ayat sebelum kisah Adam berbicara tentang bumi, kehidupan, hidayah, dan manusia secara umum. Lalu kisah Adam hadir sebagai contoh pertama manusia yang menerima amanah itu.
Dengan demikian, kisah Adam bukan sekadar cerita penciptaan manusia pertama, melainkan deklarasi pertama tentang misi manusia sebagai khalifah di bumi.
Dan seluruh ayat sebelum kisah itu merupakan pengantar yang sengaja disusun Allah untuk mempersiapkan pembaca memahami besarnya amanah tersebut.
0 komentar: