basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Sikap Para Pemikir Prancis terhadap Kaum Yahudi Bagaimana para pemikir Prancis m...

Sikap Para Pemikir Prancis terhadap Kaum Yahudi


Bagaimana para pemikir Prancis memandang persoalan Yahudi pada abad ke-18 dan ke-19?

Apakah mereka berbicara dengan suara yang sama, ataukah masing-masing memiliki sudut pandang yang berbeda?

Memasuki abad ke-18 hingga ke-19, Eropa mengalami perubahan besar di bidang politik, ekonomi, dan pemikiran. Di tengah perubahan itu, muncul berbagai penulis yang berusaha menjelaskan persoalan sosial yang mereka hadapi. Salah satu tema yang sering muncul adalah kedudukan dan pengaruh komunitas Yahudi dalam kehidupan Eropa.

Sebagian penulis memandang persoalan tersebut terutama dari sisi ekonomi.

Pada tahun 1845, Alphonse Toussenel menerbitkan buku Les Juifs, Rois de l'Époque ("Kaum Yahudi, Raja-Raja Zaman Ini"). Dalam karya itu ia mengkritik apa yang menurutnya merupakan dominasi kelompok-kelompok keuangan terhadap perekonomian Prancis. Ia juga mengaitkan praktik-praktik ekonomi tersebut dengan ajaran Talmud. Pandangan semacam ini kemudian menjadi bagian dari arus pemikiran anti-Yahudi yang berkembang pada masa itu.

Namun, persoalan itu tidak berhenti pada bidang ekonomi.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1854, penulis Prancis Arthur de Gobineau menerbitkan Essai sur l'inégalité des races humaines ("Esai tentang Ketidaksetaraan Ras Manusia"). Dalam karyanya, Gobineau mengembangkan teori tentang perbedaan ras yang membedakan bangsa Arya dan bangsa Semit. Gagasan tersebut kemudian memberi pengaruh besar terhadap berkembangnya teori-teori rasial di Eropa, meskipun kini telah ditolak oleh ilmu pengetahuan modern.

Selain ekonomi dan ras, ada pula penulis yang memandang persoalan Yahudi dari sudut agama dan kebudayaan.

Beberapa rohaniwan Katolik menulis karya-karya yang mengkritik ajaran Talmud dan menuduhnya bertentangan dengan nilai-nilai Kristen. Bersamaan dengan itu, berbagai tulisan dari Jerman mengenai Talmud, termasuk karya Johann Andreas Eisenmenger, kembali dibaca dan dijadikan rujukan oleh kelompok-kelompok yang bersikap anti-Yahudi.

Tulisan-tulisan para mualaf dari kalangan Yahudi yang memeluk agama Kristen juga ikut dimanfaatkan untuk memperkuat kritik terhadap tradisi Yahudi.

Apakah berbagai tulisan itu hanya menjadi perdebatan ilmiah?

Ternyata tidak.

Seiring berjalannya waktu, gagasan-gagasan tersebut mulai memengaruhi kehidupan politik. Di berbagai negara Eropa muncul gerakan yang menjadikan penolakan terhadap kaum Yahudi sebagai bagian dari agenda politik mereka.

Gelombang itu tampak di Jerman, Prancis, Austria, Hungaria, Polandia, Rumania, hingga Rusia pada penghujung abad ke-19.

Di Jerman, wartawan Wilhelm Marr menerbitkan risalah Der Sieg des Judenthums über das Germanenthum ("Kemenangan Yahudi atas Bangsa Jerman") pada tahun 1879. Dalam tulisannya, ia memperkenalkan istilah anti-Semitisme sebagai sebutan bagi gerakan yang menentang pengaruh kaum Yahudi.

Pada masa yang sama, Jerman juga diguncang sejumlah skandal keuangan yang melibatkan individu keturunan Yahudi. Peristiwa-peristiwa tersebut dimanfaatkan oleh berbagai kelompok politik untuk memperkuat sentimen anti-Yahudi. Kanselir Otto von Bismarck sendiri menghadapi pertarungan politik yang keras dengan tokoh-tokoh Partai Liberal, di antaranya Eduard Lasker dan Ludwig Bamberger, yang berasal dari keluarga Yahudi.

Perdebatan kemudian berkembang ke dunia akademik.

Sejarawan Heinrich von Treitschke mengemukakan semboyan terkenal, "Die Juden sind unser Unglück" ("Kaum Yahudi adalah kemalangan kita"), yang kemudian menyebar luas di kalangan masyarakat Jerman.

Sementara itu, teori ras juga memperoleh pengaruh dari karya Houston Stewart Chamberlain melalui bukunya The Foundations of the Nineteenth Century (1899). Buku ini kelak menjadi salah satu bacaan yang banyak dikutip oleh kalangan nasionalis radikal Jerman, termasuk sebagian tokoh yang kemudian mendukung ideologi Nazi.

Lalu bagaimana keadaan di Prancis?

Prancis juga mengalami perkembangan yang serupa.

Sebagian penulis Prancis menilai bahwa pengaruh kaum Yahudi telah meluas ke bidang politik, ekonomi, dan kehidupan sosial. Mereka menuangkan pandangan tersebut melalui buku, artikel, surat kabar, dan berbagai forum intelektual.

Salah seorang yang sering disebut adalah Édouard Drumont. Melalui bukunya La France Juive ("Prancis Yahudi") dan surat kabar La Libre Parole, ia mengampanyekan gagasan anti-Yahudi secara luas. Tulisan-tulisannya memperoleh perhatian besar masyarakat Prancis pada akhir abad ke-19 dan memberi pengaruh terhadap berkembangnya gerakan politik anti-Semit pada masa itu.

Jika ditarik lebih jauh, apa yang dapat dipahami dari seluruh rangkaian peristiwa tersebut?

Terlihat bahwa persoalan Yahudi di Eropa pada abad ke-19 tidak lagi dipandang semata-mata sebagai isu keagamaan. Ia berkembang menjadi persoalan ekonomi, politik, nasionalisme, bahkan teori ras. Berbagai penulis, politikus, rohaniwan, dan akademisi ikut membentuk opini publik melalui karya-karya mereka.

Dalam suasana seperti itulah, lahir berbagai organisasi dan gerakan politik yang menjadikan anti-Semitisme sebagai bagian dari identitas perjuangan mereka. Sebagian gagasan tersebut kemudian memengaruhi perkembangan politik Eropa pada awal abad ke-20 dan akhirnya dimanfaatkan oleh rezim Nazi di Jerman.

Sejarah ini menunjukkan bahwa ide-ide yang mula-mula lahir dalam buku, pidato, atau perdebatan intelektual dapat berkembang menjadi gerakan politik yang memengaruhi arah perjalanan sebuah bangsa. Karena itu, memahami sejarah menuntut ketelitian untuk membedakan antara deskripsi mengenai pandangan para tokoh pada zamannya dan penilaian sejarah yang didasarkan pada bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sikap Inggris, Austria, dan Hungaria terhadap Kaum Yahudi Apakah penolakan terhadap kaum Yah...

Sikap Inggris, Austria, dan Hungaria terhadap Kaum Yahudi


Apakah penolakan terhadap kaum Yahudi hanya terjadi di negeri-negeri Katolik?

Ternyata tidak.

Di wilayah-wilayah Protestan pun, hubungan antara masyarakat dengan komunitas Yahudi sering kali diwarnai ketegangan. Perbedaan mazhab Kristen tidak serta-merta mengubah sikap terhadap kaum Yahudi. Yang berbeda hanyalah bentuk dan intensitas kebijakannya.

Di Inggris dan sejumlah wilayah Jerman yang menganut Protestan, keadaan kaum Yahudi pada abad ke-16 tidak jauh lebih baik dibandingkan dengan mereka yang hidup di negeri-negeri Katolik.

Di Sachsen (Saxonia), misalnya, pemerintah daerah mengambil kebijakan yang membatasi keberadaan kaum Yahudi. Mereka pernah diusir dari wilayah tersebut, kemudian hanya diizinkan melintas tanpa menetap, dan beberapa tahun berikutnya izin itu kembali dicabut. Kebijakan-kebijakan tersebut dikaitkan dengan pengaruh pemikiran Martin Luther yang pada masa akhir hidupnya mengemukakan pandangan sangat keras terhadap kaum Yahudi.

Mengapa kebijakan seperti itu muncul?

Pada masa itu berkembang anggapan di sebagian kalangan Eropa bahwa komunitas Yahudi memiliki kepentingan yang berbeda, bahkan bertentangan, dengan masyarakat Kristen tempat mereka hidup. Pandangan tersebut semakin menguat karena adanya perbedaan agama, aktivitas ekonomi, serta berbagai prasangka yang berkembang di tengah masyarakat.

Akibatnya, banyak pemikir dan tokoh politik Eropa mulai memandang persoalan Yahudi bukan lagi sekadar masalah keagamaan, melainkan juga persoalan sosial, ekonomi, dan politik.

Mereka menulis berbagai karya yang berusaha menjelaskan apa yang mereka anggap sebagai pengaruh negatif kaum Yahudi dalam bidang perdagangan, keuangan, dan praktik pemberian pinjaman berbunga. Di mata para penulis tersebut, pengaruh ekonomi komunitas Yahudi dipandang sebagai ancaman terhadap masyarakat Eropa.

Perlu dicatat bahwa pandangan-pandangan tersebut lahir dalam suasana persaingan politik, konflik agama, dan ketegangan sosial pada zamannya. Karena itu, banyak di antaranya merupakan penilaian yang diperdebatkan dan tidak dapat dipandang sebagai fakta yang berlaku umum bagi seluruh komunitas Yahudi.

Bagaimana keadaan di Austria dan Hungaria?

Di kawasan Kekaisaran Austria-Hungaria, persoalan ini berkembang semakin kompleks karena bertemunya sentimen keagamaan dengan gerakan politik.

Di Hungaria, seorang pastor Katolik bernama Rohling menerbitkan buku Der Talmudjude ("Yahudi Talmud") pada tahun 1871. Dalam buku tersebut ia mengkritik ajaran-ajaran yang menurut penafsirannya terdapat dalam Talmud dan menganggapnya bertentangan dengan masyarakat Kristen.

Setelah diangkat sebagai dosen teologi Katolik di Universitas Praha, namanya semakin dikenal. Gagasan-gagasannya memperoleh sambutan dari kelompok-kelompok politik yang memang telah memiliki sikap anti-Yahudi.

Sementara itu, di Wina, ibu kota Austria, sentimen serupa juga berkembang.

Sebagian masyarakat menilai bahwa kaum Yahudi memiliki pengaruh yang terlalu besar dalam bidang ekonomi dan kehidupan publik. Atas dasar itulah muncul berbagai gerakan politik yang menjadikan penolakan terhadap kaum Yahudi sebagai salah satu program utamanya.

Salah satu tokoh yang paling menonjol ialah Karl Lueger. Partai yang dipimpinnya memperoleh dukungan luas masyarakat. Pada tahun 1895 ia terpilih sebagai calon wali kota Wina. Namun, pengangkatannya sempat ditolak oleh Kaisar dan baru disetujui setelah pemilihan diulang beberapa kali.

Apa yang dapat dipahami dari peristiwa tersebut?

Peristiwa itu menunjukkan bahwa sentimen anti-Yahudi pada masa itu tidak hanya berasal dari kalangan elite politik atau pemuka agama. Di beberapa wilayah, sentimen tersebut juga memperoleh dukungan yang cukup kuat dari sebagian masyarakat.

Keadaan semakin memanas ketika muncul sejumlah skandal politik dan keuangan yang melibatkan tokoh-tokoh Yahudi. Berbagai peristiwa tersebut semakin memperkuat keyakinan kelompok anti-Yahudi bahwa tuduhan mereka selama ini benar.

Di akhir abad ke-19, muncul pula kasus-kasus spionase yang melibatkan individu keturunan Yahudi. Salah satu kasus yang paling terkenal adalah perkara Alfred Dreyfus di Prancis, seorang perwira yang dituduh membocorkan rahasia militer kepada Jerman. Kasus ini memicu perpecahan besar di masyarakat Prancis dan semakin memperkuat sentimen anti-Semit di berbagai wilayah Eropa, meskipun kemudian terbukti bahwa Dreyfus tidak bersalah.

Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa sikap terhadap kaum Yahudi di Eropa tidak dibentuk oleh satu faktor saja. Persaingan ekonomi, konflik politik, perbedaan agama, nasionalisme, serta berbagai prasangka sosial saling berkelindan dan membentuk dinamika hubungan yang sangat kompleks. Dalam situasi seperti itulah, kebijakan-kebijakan terhadap komunitas Yahudi terus berubah mengikuti arah perkembangan politik dan sosial di masing-masing negara.

Sikap Raja-Raja Jerman terhadap Kaum Yahudi Bagaimana sebenarnya sikap para peng...

Sikap Raja-Raja Jerman terhadap Kaum Yahudi

Bagaimana sebenarnya sikap para penguasa Jerman terhadap kaum Yahudi pada Abad Pertengahan? Apakah mereka selalu menjadi pelindung, atau justru menjadi bagian dari gelombang penindasan yang berulang?

Jika menelusuri sejarah, tampak bahwa kebijakan terhadap kaum Yahudi terus berubah mengikuti kepentingan politik, ekonomi, dan tekanan keagamaan pada zamannya.

Pada Agustus 1401 M, Raja Robercht mengeluarkan keputusan untuk mengusir seluruh kaum Yahudi dari wilayah Rhein dan Bavaria. Selain itu, mereka diwajibkan mengenakan pakaian khusus sebagaimana model yang pernah ditetapkan oleh Paus Innocent III pada awal abad ke-13. Kebijakan semacam ini kemudian meluas ke berbagai wilayah Eropa dan menjadi salah satu simbol diskriminasi terhadap komunitas Yahudi.

Sejak saat itu, kehidupan kaum Yahudi di banyak daerah Eropa diwarnai ketidakpastian. Mereka hidup di bawah ancaman pengusiran, pengucilan, bahkan pembunuhan. Perubahan penguasa sering kali diikuti perubahan kebijakan, sehingga nasib mereka bergantung pada siapa yang sedang memegang kekuasaan.

Namun, apakah semua penguasa mengambil sikap yang sama?

Tidak selalu.

Pada masa pemerintahan Kaisar Friedrich III, keadaan sempat mengalami perubahan. Beban keuangan negara yang berat, ditambah berbagai ikatan ekonomi yang diberlakukan gereja, kaum bangsawan, dan para tuan tanah terhadap penduduk, mendorong kaisar mengambil langkah berbeda. Ia memberikan perlindungan kepada kaum Yahudi, bukan semata-mata karena pertimbangan keagamaan, tetapi juga karena kepentingan ekonomi dan administrasi negara.

Akan tetapi, perlindungan tersebut tidak mampu menghentikan gelombang sentimen anti-Yahudi.

Peristiwa di Taranto, Italia, ketika ditemukan jenazah seorang anak kecil, memicu tuduhan bahwa kaum Yahudilah pelakunya. Tuduhan yang tidak terbukti itu menyulut kemarahan massa dan berkembang menjadi pembantaian terhadap orang-orang Yahudi di berbagai wilayah Eropa. Gelombang kekerasan itu bahkan menjalar hingga Nürnberg, Jerman, tempat mereka mengalami perlakuan yang sangat keras.

Lalu, apakah perlindungan kaisar mampu bertahan?

Ternyata tidak.

Pada tahun 1473, Dewan Kota Nürnberg mengajukan tuntutan kepada Kaisar Friedrich III agar seluruh kaum Yahudi diusir dari kota tersebut. Permintaan itu semula ditolak. Namun, ketika Kaisar Maximilian I naik takhta pada 1493, kebijakan berubah. Lima tahun kemudian, tepatnya pada 1498, ia memenuhi tuntutan itu dengan memerintahkan pengusiran seluruh laki-laki dan perempuan Yahudi dari Nürnberg.

Kebijakan tersebut menjadi contoh bagi kota-kota lain. Pengusiran terhadap kaum Yahudi pun semakin meluas, seolah-olah setiap kota berlomba membersihkan wilayahnya dari komunitas tersebut.

Permusuhan terhadap kaum Yahudi tidak hanya berlangsung melalui kebijakan politik. Persaingan juga terjadi di bidang ilmu pengetahuan dan keagamaan.

Pada 1509, seorang mualaf Kristen berdarah Yahudi bernama Johannes Pfefferkorn, yang bekerja sebagai pemotong hewan, mengajukan permohonan kepada Kaisar Maximilian agar seluruh kitab Yahudi yang dianggap menghina ajaran Kristen disita dan dimusnahkan.

Untuk memperkuat usulnya, ia berusaha memperoleh dukungan dari cendekiawan humanis Johannes Reuchlin. Namun, Reuchlin menolak. Baginya, naskah-naskah Ibrani memiliki nilai ilmiah dan layak dipelajari, bukan dimusnahkan. Ia bahkan mendorong kajian bahasa Ibrani sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan.

Penolakan itu memicu perselisihan sengit dengan kelompok Dominikan di Köln yang mendukung gagasan Pfefferkorn. Reuchlin menjadi sasaran fitnah dan serangan, tetapi tetap mempertahankan pandangannya. Dalam mempelajari bahasa Ibrani, ia juga memperoleh bantuan dari seorang sarjana Yahudi, sementara perselisihan itu akhirnya melibatkan dokter pribadi Paus untuk membantu meredakan konflik.

Di tengah perdebatan tersebut, Paus Leo X kemudian memberikan izin kepada penerbit Kristen Daniel Bomberg untuk mencetak Talmud. Keputusan ini dipandang sebagai kemenangan penting bagi pelestarian literatur Yahudi, meskipun penolakan terhadap Reuchlin tidak sepenuhnya berhenti.

Bagaimana dengan Martin Luther?

Pada awal gerakan Reformasi, Luther berharap kaum Yahudi akan menerima ajaran Kristen Protestan. Menurutnya, karena Isa Al-Masih berasal dari keturunan Yahudi, semestinya bangsa Yahudi lebih mudah menerima ajarannya.

Namun, harapan itu tidak terwujud. Kaum Yahudi tetap menolak keyakinan Kristen mengenai ketuhanan Al-Masih. Kekecewaan tersebut kemudian memengaruhi sikap Luther pada masa-masa berikutnya. Sejumlah tulisannya yang bernada keras terhadap kaum Yahudi kelak dijadikan salah satu rujukan oleh kelompok anti-Yahudi di kemudian hari.

Berabad-abad sesudahnya, ketika Adolf Hitler dan rezim Nazi berkuasa di Jerman (1933–1945), propaganda anti-Semit berkembang dengan memadukan berbagai unsur, termasuk teori ras, nasionalisme ekstrem, serta pemanfaatan sebagian warisan pemikiran anti-Yahudi dari masa sebelumnya. Dalam konteks inilah, kaum Yahudi menjadi sasaran diskriminasi sistematis, penangkapan, penyiksaan, hingga pembunuhan massal dengan tuduhan bahwa mereka bersekongkol menghancurkan Jerman.

Sejarah ini memperlihatkan bahwa kebijakan terhadap kaum Yahudi di Eropa tidak pernah bersifat tunggal. Ada masa perlindungan, ada pula masa pengusiran dan penganiayaan. Pergantian penguasa, kepentingan politik, tekanan ekonomi, serta konflik keagamaan silih berganti membentuk perjalanan panjang hubungan antara negara dan komunitas Yahudi di kawasan tersebut.

Kalah Perang Enam Hari 1967: Yang Lebih Berbahaya daripada Kekalahan Itu Sendiri ...

Kalah Perang Enam Hari 1967: Yang Lebih Berbahaya daripada Kekalahan Itu Sendiri

Mana yang Lebih Berbahaya: Kekalahan atau Cara Kita Memahaminya?

Mengapa sebuah bangsa kalah?

Apakah semata-mata karena strategi yang keliru?

Karena persenjataannya kalah canggih?

Karena ada pengkhianatan?

Atau justru karena sebab yang jauh lebih dalam daripada semua itu?

Seusai Perang Juni 1967, Dunia Islam dipenuhi berbagai analisis. Ada yang menyalahkan strategi militer. Ada yang menunjuk keterbelakangan ilmu pengetahuan. Ada pula yang bahkan menjadikan agama sebagai kambing hitam.

Namun, benarkah agama penyebab kekalahan itu?

Seorang penulis Muslim terkemuka justru mengingatkan bahwa cara memahami kekalahan bisa lebih berbahaya daripada kekalahan itu sendiri.

Mengapa?

Karena penyakit yang salah didiagnosis tidak akan pernah sembuh. Bahkan ia akan terus berkembang hingga menghancurkan tubuh yang mengidapnya.

Jika penyebab sesungguhnya tidak pernah dicari, maka yang terjadi bukan sekadar kekalahan, melainkan kematian sebuah peradaban.

Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah, "Mengapa kita kalah?" melainkan, "Apa akar yang melahirkan kekalahan itu?"

---

Apa Akar Kekalahan Itu?

Jika bukan semata-mata strategi...

Jika bukan hanya pengkhianatan...

Jika bukan sekadar keterbelakangan teknologi...

Lalu apa penyebab utamanya?

Menurut penulis, seluruh sebab itu hanyalah cabang. Akar utamanya jauh lebih mendasar.

Umat Islam telah melupakan jati dirinya.

Mereka kehilangan kepribadian karena kehilangan hubungan dengan Allah, kehilangan manhaj-Nya, dan kehilangan ruh yang selama ini menghidupkan peradaban.

Sebagaimana tubuh tanpa ruh hanyalah jasad yang tak bernyawa, demikian pula sebuah umat.

Sebuah umat mungkin memiliki jumlah besar, wilayah luas, bahkan kekuatan material yang mengagumkan. Namun apabila ruhnya padam, ia hanya menjadi kumpulan manusia tanpa daya hidup.

Apakah ruh umat Islam itu?

Bukan nasionalisme.

Bukan ras.

Bukan bahasa.

Melainkan iman.

Ketika iman melemah, umat berubah dari api yang menyala menjadi abu yang mudah diterbangkan angin.

Karena itu, menurut penulis, kekalahan tahun 1967 bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan buah dari proses panjang yang telah dimulai jauh sebelumnya, sebagaimana kekalahan tahun 1948, bahkan sebagaimana kemunduran panjang yang pernah dialami Andalusia dan Palestina.

---

Islam yang Dimaksud Bukan Sekadar Ritual

Ketika penulis mengatakan umat kosong dari Islam, ia tidak sedang berbicara tentang hilangnya simbol-simbol agama.

Islam yang dimaksud adalah Islam sebagai satu kesatuan utuh.

Islam yang mencakup akidah.

Ibadah.

Syariat.

Akhlak.

Ilmu pengetahuan.

Sistem kehidupan.

Motivasi perjuangan.

Dan seluruh nilai yang membentuk sebuah peradaban.

Islam tidak dipandang sebagai bagian kecil dari kehidupan, melainkan fondasi yang menyatukan seluruh aspek kehidupan.

---

Apa Akibat Ketika Ruh Itu Hilang?

Menurut penulis, dampaknya muncul dalam banyak bentuk.

1. Hilangnya Semangat Berkorban

Ketika iman melemah, yang tumbuh bukan keberanian, melainkan al-wahan.

Rasulullah ï·º telah memperingatkan penyakit ini.

Para sahabat pernah bertanya mengapa suatu saat umat akan menjadi rebutan berbagai bangsa.

Apakah karena jumlah mereka sedikit?

Beliau menjawab bahwa jumlah mereka justru banyak, tetapi seperti buih di atas arus.

Lalu beliau menjelaskan penyakit itu:

Cinta dunia dan takut mati.

Dalam pandangan penulis, penyakit inilah yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan senjata modern, latihan militer, atau strategi perang.

---

2. Putusnya Persaudaraan Dunia Islam

Akibat berikutnya adalah terlepasnya hubungan umat Islam Arab dengan saudara-saudaranya di berbagai negeri.

Ketika nasionalisme sekuler dijadikan identitas utama, ikatan akidah semakin melemah.

Akibatnya, solidaritas dunia Islam ikut terkikis.

Padahal dahulu, persaudaraan iman merupakan sumber kekuatan yang melampaui batas negara dan bangsa.

---

3. Perpecahan di Dunia Arab

Ketika Al-Qur'an tidak lagi menjadi rujukan bersama, setiap kelompok mencari kiblatnya sendiri.

Ada yang condong ke Barat.

Ada yang condong ke Timur.

Ada yang mengikuti Washington.

Ada yang mengikuti Moskow.

Ada yang mengikuti ideologi lain.

Akibatnya, bangsa Arab tidak lagi dipersatukan oleh satu manhaj, tetapi tercerai-berai oleh berbagai ideologi.

Penulis mengingatkan firman Allah agar mengikuti satu jalan yang lurus dan tidak mengikuti jalan-jalan lain yang menyebabkan perpecahan.

---

4. Jarak antara Penguasa dan Rakyat

Menurut penulis, kekosongan nilai Islam juga menciptakan jurang antara pemerintah dan masyarakat.

Penguasa sibuk mempertahankan kekuasaan.

Sementara rakyat sibuk mencari keamanan dan penghidupan.

Kepercayaan pun memudar.

Bahkan ketika perang datang, sebagian rakyat tidak lagi yakin bahwa para pemimpin benar-benar berjuang demi kepentingan umat.

---

5. Perpecahan Sosial

Perpecahan tidak berhenti pada tingkat negara.

Ia masuk ke dalam masyarakat.

Masuk ke dalam keluarga.

Ayah berbeda kubu dengan anak.

Saudara saling bermusuhan.

Ideologi menjadi identitas yang lebih kuat daripada persaudaraan.

Padahal Islam pernah mempersatukan mereka seperti satu bangunan yang saling menguatkan.

---

6. Kemerosotan Moral

Menurut penulis, hilangnya ruh Islam juga melahirkan perubahan standar nilai.

Kesucian dianggap keterbelakangan.

Kesederhanaan dianggap kuno.

Sebaliknya, budaya hedonisme, pornografi, hiburan yang membangkitkan syahwat, dan gaya hidup bebas dipandang sebagai simbol kemajuan.

Dalam suasana seperti itulah, masyarakat kehilangan fondasi moralnya.

---

7. Perang Tanpa Kesadaran Spiritual

Inilah puncak kritik penulis.

Menurutnya, umat memasuki perang dengan mengandalkan manusia, senjata, dan kekuatan politik, tetapi melupakan Allah.

Pidato-pidato dipenuhi nama tokoh.

Media dipenuhi slogan.

Artis dan selebritas dijadikan penyemangat.

Namun nama Allah hampir tidak terdengar.

Padahal Al-Qur'an telah memberikan syarat kemenangan:

- teguh menghadapi musuh,
- banyak mengingat Allah,
- taat kepada Allah dan Rasul,
- tidak saling berselisih,
- bersabar.

Pertanyaan yang diajukan penulis sangat menggugah:

Apakah syarat-syarat itu telah dipenuhi?

Jawabannya, menurutnya, adalah belum.

Karena itu, kekalahan bukanlah sesuatu yang mengejutkan.

Ia merupakan konsekuensi dari sebab-sebab yang telah lama ditanam.

---

Setelah Kalah, Mengapa Baru Mengingat Allah?

Penulis kemudian mengajukan kritik yang tajam.

Mengapa ketika kemenangan seolah sudah di depan mata, Allah hampir tidak disebut?

Namun setelah kalah, tiba-tiba muncul pertanyaan:

"Di mana Allah?"

Bukankah pertanyaan itu justru menunjukkan bahwa sebelumnya manusia lebih percaya kepada kekuatan selain Allah?

Jika menang, mungkin kemenangan akan dikaitkan dengan senjata, strategi, atau dukungan negara besar.

Tetapi ketika kalah, agama justru dipersalahkan.

Menurut penulis, cara berpikir seperti inilah yang lebih berbahaya daripada kekalahan itu sendiri.

---

"Islam Tidak Pernah Kalah"

Beberapa waktu setelah perang, penulis berkunjung ke Turki.

Di sana muncul pertanyaan yang sangat menyentuh.

"Bagaimana mungkin Islam kalah menghadapi Yahudi?"

Jawabannya singkat tetapi tajam.

"Islam tidak kalah."

Islam, menurutnya, bahkan tidak pernah benar-benar memasuki peperangan itu.

Yang berperang adalah bangsa Arab dengan identitas politik dan ideologi zamannya, bukan dengan karakter generasi mukmin sebagaimana para sahabat.

Andaikan mereka memasuki medan perang dengan ruh yang pernah dimiliki oleh Khalid bin Walid, Abu Ubaidah, dan Sa'd bin Abi Waqqash, maka—menurut keyakinan penulis—jalannya sejarah akan berbeda.

---

Penutup: Kemenangan Tidak Lahir di Medan Perang

Pesan utama tulisan ini bukanlah menolak pentingnya strategi, teknologi, organisasi, atau kekuatan militer.

Semua itu tetap bagian dari sunnatullah.

Namun, penulis mengingatkan bahwa kemenangan tidak hanya dibangun di garis depan pertempuran.

Ia dibangun jauh sebelumnya.

Di ruang pendidikan.

Di dalam keluarga.

Di masjid.

Di sekolah.

Di pemerintahan.

Di akhlak masyarakat.

Dan terutama, di dalam hati manusia.

Karena perang hanyalah saat memanen.

Adapun benih kemenangan atau kekalahan telah ditanam jauh sebelum dentuman pertama terdengar.


Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Agama Penyebabnya? Di antara berbaga...

Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Agama Penyebabnya?


Di antara berbagai penjelasan yang muncul setelah kekalahan tahun 1967, barangkali tidak ada yang lebih mengundang perdebatan daripada pendapat yang menyatakan:

"Penyebab kekalahan itu adalah agama."

Benarkah demikian?

Apakah agama memang menjadi penghalang kemajuan?

Apakah keyakinan kepada Tuhan membuat sebuah bangsa tidak mampu memenangkan peperangan?

Ataukah persoalannya justru terletak pada cara manusia memahami dan mengamalkan agamanya?

Sebuah Pandangan yang Mengundang Perdebatan

Pandangan tersebut pernah dikemukakan oleh sastrawan Michael Na'imah dalam sebuah wawancara yang dimuat Majalah Al-Adab di Beirut setelah kekalahan Perang Juni 1967.

Ketika ditanya tentang pelajaran terbesar yang harus dipetik bangsa Arab dari kekalahan itu, ia menjawab kurang lebih demikian:

"Dunia tidak diatur oleh agama. Agama berada di langit, sedangkan urusan kehidupan berada di bumi."

Ia kemudian melanjutkan dengan gagasan yang lebih tegas.

Jika hak suatu bangsa hanya dapat dipertahankan dengan kekuatan militer, jika kekuatan militer hanya dapat dibangun dengan ilmu pengetahuan dan kekayaan, maka—menurutnya—bangsa Arab seharusnya "mengabdi" kepada ilmu dan harta, bukan kepada agama.

Pernyataan itu terdengar provokatif.

Namun benarkah demikian?

Agama atau Cara Beragama?

Pandangan tersebut tampaknya berangkat dari sebuah asumsi bahwa masyarakat Muslim kalah karena terlalu sibuk dengan urusan ibadah dan mengabaikan urusan dunia.

Tetapi, benarkah keadaan ketika itu seperti itu?

Apakah negara-negara Arab yang berperang pada tahun 1967 adalah negara-negara teokratis yang menjadikan agama sebagai pusat kebijakan?

Justru kenyataannya berbeda.

Sebagian besar negara yang terlibat dalam perang saat itu menganut sistem negara modern yang bersifat sekuler.

Militer mereka dibangun dengan doktrin modern.

Persenjataan mereka berasal dari teknologi mutakhir.

Perencanaan perang mereka mengikuti pendekatan militer kontemporer.

Bahkan, di sejumlah tempat, kehidupan keagamaan justru dipinggirkan dari ruang publik.

Kalau demikian, bagaimana mungkin agama dijadikan penyebab utama kekalahan?

Kalaupun ada yang patut dikritik, barangkali bukan agama itu sendiri, melainkan bentuk keberagamaan yang kehilangan semangat perubahan, kerja keras, dan tanggung jawab.

Itu adalah persoalan yang berbeda.

Kritik dari Dalam Dunia Sastra

Penyair lain, Nazar al-Qabbani, juga menulis puisi terkenal Hawamisy 'ala Daftar an-Naksah sebagai respons terhadap kekalahan tersebut.

Dalam puisinya, ia mengkritik berbagai kelemahan masyarakat Arab.

Ia mempertanyakan hilangnya daya juang, matinya kepekaan moral, dan pudarnya keberanian.

Melalui ungkapan-ungkapannya yang tajam, ia seakan bertanya:

Apakah kita masih layak menyebut diri sebagai umat terbaik?

Pertanyaan itu sesungguhnya mengingatkan kita kepada firman Allah:

«"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah."»

Ayat ini tidak menjanjikan keunggulan hanya karena identitas.

Keutamaan itu terkait dengan syarat-syarat tertentu.

Selama amar makruf, nahi mungkar, dan keimanan tetap hidup, kemuliaan itu tetap terjaga.

Tetapi apabila syarat-syarat itu ditinggalkan, maka gelar tersebut kehilangan maknanya.

Ketika Agama Hanya Menjadi Ritual

Dalam kritiknya, Nazar al-Qabbani juga menyindir bentuk keberagamaan yang hanya berhenti pada simbol-simbol.

Ia menggambarkan masyarakat yang sibuk berdebat, menulis syair, dan melantunkan doa kemenangan, tetapi lalai membangun kekuatan nyata.

Kritik seperti ini layak direnungkan.

Sebab Islam memang tidak mengajarkan keberagamaan yang pasif.

Namun di sisi lain, kritik terhadap praktik keberagamaan tidak otomatis berarti bahwa agama itu sendiri menjadi penyebab kekalahan.

Keduanya adalah hal yang berbeda.

Benarkah Agama Memimpin Medan Perang Saat Itu?

Faktanya, menjelang Perang Juni 1967, agama justru tidak menjadi kekuatan utama yang menggerakkan kebijakan negara.

Bahkan di beberapa tempat, unsur-unsur keagamaan dijauhkan dari urusan militer dan pemerintahan.

Yang lebih sering terdengar adalah slogan-slogan ideologi, nasionalisme, dan sosialisme.

Dalam salah satu media resmi bahkan pernah dimuat gagasan yang menyerukan lahirnya manusia Arab baru yang melepaskan diri dari agama dan nilai-nilai masa lalu.

Di tengah suasana seperti itulah muncul keyakinan bahwa kemajuan hanya dapat dicapai dengan meninggalkan agama.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa yang dipersalahkan bukan lagi cara beragama, melainkan agama itu sendiri.

Sebuah Pengalaman di Lapangan

Penulis bahkan mengisahkan sebuah pengalaman yang disaksikannya sendiri.

Ketika sejumlah sukarelawan sedang dipersiapkan untuk berangkat ke medan perang, seorang ulama mengingatkan mereka agar bertakwa kepada Allah dan berpegang teguh kepada agama-Nya.

Harapannya sederhana.

Semoga Allah memberikan pertolongan.

Namun sebagian pemuda yang telah terpengaruh oleh kultus terhadap tokoh politik tertentu segera menyahut:

"Kami tidak mempunyai agama selain senjata."

Ungkapan itu menunjukkan suasana batin yang berkembang ketika itu.

Agama bukan dijadikan sumber kekuatan.

Sebaliknya, ia justru dipandang sebagai penghalang.

Kalau demikian, bagaimana mungkin agama masih dituduh sebagai penyebab kekalahan?

Apa yang Sebenarnya Diajarkan Islam?

Pertanyaan berikutnya menjadi sangat penting.

Agama yang manakah yang sebenarnya dipersalahkan?

Kalau yang dimaksud adalah Islam, maka tuduhan tersebut sulit dipertahankan.

Sebab Al-Qur'an justru memerintahkan umatnya agar mempersiapkan seluruh kekuatan yang mampu mereka bangun.

Allah memerintahkan kaum beriman untuk selalu bersiap siaga.

Allah memperingatkan agar mereka tidak lengah terhadap senjata dan perlengkapan.

Allah memerintahkan mereka maju dengan teratur dan penuh kesiapsiagaan.

Adakah ajaran itu mengarah kepada kemalasan?

Tentu tidak.

Sunnah Nabi: Iman dan Ikhtiar Berjalan Bersama

Demikian pula Rasulullah ï·º.

Beliau mendorong umatnya menguasai keterampilan militer.

Beliau memuji orang yang membuat senjata.

Beliau memuji orang yang menggunakannya.

Beliau menganjurkan memanah, berenang, dan berbagai kemampuan yang memperkuat kesiapan umat.

Beliau bahkan mengingatkan bahwa meninggalkan keterampilan yang telah dipelajari merupakan sikap yang tercela.

Islam juga menjadikan jihad sebagai bagian dari tanggung jawab seorang Muslim, bukan sekadar slogan, tetapi kesiapan berkorban demi mempertahankan kebenaran.

Tawakal Bukan Berarti Pasrah

Lebih jauh lagi, Islam tidak pernah mengajarkan fatalisme.

Keimanan kepada takdir bukan alasan untuk meninggalkan sebab-sebab.

Ketika Rasulullah ï·º ditanya tentang usaha manusia dalam menghadapi takdir, beliau menjelaskan bahwa ikhtiar juga merupakan bagian dari takdir Allah.

Karena itu beliau menegur orang yang membiarkan untanya tanpa diikat dengan alasan bertawakal.

Sabda beliau sangat terkenal:

"Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah kepada Allah."

Di situlah keseimbangan Islam.

Usaha dilakukan semaksimal mungkin.

Tawakal datang setelah ikhtiar dijalankan.

Pelajaran yang Perlu Diambil

Karena itu, sulit menerima anggapan bahwa agama merupakan penyebab kekalahan tahun 1967.

Yang mungkin menjadi persoalan adalah ketika agama dipahami secara keliru, direduksi menjadi sekadar ritual, atau bahkan disingkirkan sama sekali dari pembentukan karakter, etos kerja, disiplin, dan tanggung jawab.

Islam yang diajarkan Al-Qur'an dan dicontohkan Rasulullah ï·º justru memadukan iman, ilmu, ikhtiar, kesiapsiagaan, dan tanggung jawab.

Agama seperti itulah yang membentuk generasi-generasi awal Islam.

Dan agama seperti itu pula mustahil menjadi penyebab sebuah kekalahan.

Jika kekalahan terjadi, maka yang perlu dikoreksi bukanlah ajaran agamanya, melainkan sejauh mana umat benar-benar menghayati dan mengamalkan ajaran tersebut dalam kehidupan dan perjuangan mereka.

Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Karena Ketertinggalan Peradaban? ...


Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Karena Ketertinggalan Peradaban?

Ada lagi penjelasan yang cukup populer setelah kekalahan tahun 1967.

Menurut pandangan ini, penyebab utama kekalahan adalah ketertinggalan bangsa Arab dalam bidang peradaban, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Logikanya sederhana.

Apabila bangsa yang lebih maju secara teknologi berhadapan dengan bangsa yang lebih tertinggal, maka kemenangan hampir pasti berada di pihak yang lebih maju.

Benarkah sesederhana itu?

Apakah sejarah memang selalu berjalan menurut rumus tersebut?

Teknologi Memang Penting, Tetapi...

Pandangan seperti ini dikemukakan oleh sejumlah cendekiawan, baik dari dunia Arab maupun dari kalangan negara-negara maju.

Namun sebagian pemikir Muslim mengingatkan agar kesimpulan tersebut tidak diterima begitu saja.

Di antara mereka, Muhammad Jalal Kisyk menilai bahwa bahaya terbesar dari penjelasan semacam ini bukan terletak pada pengakuan akan pentingnya ilmu pengetahuan, melainkan pada kecenderungannya mengalihkan perhatian dari persoalan yang lebih mendasar, yaitu persoalan akidah, karakter, dan kualitas manusia.

Haruskah kita memilih antara iman atau teknologi?

Tentu tidak.

Islam tidak pernah mengajarkan pertentangan antara keduanya.

Tidak ada bangsa yang ingin hidup tertinggal.

Tidak ada masyarakat yang sengaja menolak kemajuan.

Setiap bangsa yang menyadari pentingnya ilmu pengetahuan pasti akan berusaha menguasainya.

Al-Qur'an sendiri memerintahkan kaum beriman untuk mempersiapkan kekuatan semaksimal mungkin.

Karena itu, perlengkapan perang, teknologi, dan penguasaan ilmu pengetahuan merupakan bagian penting dari ikhtiar.

Tidak ada perbedaan pendapat mengenai hal tersebut.

Lalu, Mengapa Kita Masih Berdebat?

Kalau semua sepakat bahwa ilmu pengetahuan penting, mengapa penjelasan itu masih terasa belum memadai?

Karena pertanyaannya bukan lagi:

"Apakah teknologi itu penting?"

Melainkan:

"Mengapa kita tertinggal dalam teknologi?"

Apa yang menyebabkan kita terlambat memasuki era modern?

Mengapa selama bertahun-tahun energi bangsa justru habis pada perdebatan-perdebatan yang tidak menyentuh akar persoalan?

Apakah modernitas hanya dipahami sebatas perubahan gaya hidup?

Apakah kemajuan hanya diukur dari perubahan sosial tertentu, sementara penguasaan ilmu, riset, dan inovasi justru diabaikan?

Kalau demikian, bukankah persoalan sebenarnya jauh lebih dalam daripada sekadar kalah perang?

Pelajaran dari Sejarah Islam

Muhammad Jalal Kisyk kemudian mengajukan pertanyaan yang menggugah.

Bagaimana mungkin kita melupakan sejarah kita sendiri?

Ketika kaum Muslimin generasi pertama keluar dari Jazirah Arab, mereka bukanlah bangsa yang unggul dalam teknologi.

Mereka bukan bangsa yang memiliki industri persenjataan paling maju.

Mereka juga bukan pewaris peradaban besar seperti Persia ataupun Romawi.

Bahkan kehidupan mereka sangat sederhana.

Mereka pernah mengira angka seribu adalah bilangan terbesar yang mungkin ada.

Mereka pernah tidak dapat membedakan kapur dengan garam.

Mereka bahkan belum mengenal berbagai jenis pakaian yang lazim dipakai bangsa-bangsa besar ketika itu.

Namun pertanyaannya ialah:

Apakah semua keterbatasan itu menghalangi mereka meraih kemenangan?

Ternyata tidak.

Mereka justru berhasil mengalahkan dua imperium terbesar pada zamannya.

Mereka memasuki wilayah Persia.

Mereka mengguncang kekaisaran Romawi.

Mereka membangun sebuah peradaban yang kelak membentang dari Laut Tengah hingga Asia Tengah.

Kalau demikian, apakah kemenangan mereka lahir karena keunggulan teknologi?

Ataukah ada faktor lain yang lebih mendasar?

Ketika Gajah Menjadi "Senjata Rahasia"

Sejarah bahkan mencatat sebuah kisah yang menarik.

Ketika berhadapan dengan pasukan Persia, sebagian kaum Muslimin untuk pertama kalinya melihat gajah perang.

Bagi mereka, pemandangan itu begitu asing.

Sebagian bahkan mengira gajah adalah senjata buatan Persia, bukan makhluk ciptaan Allah.

Mereka belum pernah menyaksikan binatang sebesar itu digunakan di medan perang.

Namun apakah ketidaktahuan tersebut membuat mereka kehilangan keberanian?

Tidak.

Mereka tidak membiarkan rasa asing berubah menjadi rasa takut.

Sa'd bin Abi Waqqash mencari informasi kepada orang-orang Persia yang telah memeluk Islam.

Ia bertanya bagaimana menghadapi gajah-gajah itu.

Jawabannya sederhana.

Lumpuhkan penglihatannya.

Kemudian Al-Qa'qa' dan Ashim memimpin serangan.

Mereka mengepung gajah utama, mencari celah, lalu secara serempak menghujamkan tombak ke kedua matanya hingga gajah itu roboh.

Setelah gajah utama tumbang, formasi pasukan Persia pun menjadi kacau.

Apa Pelajaran dari Kisah Itu?

Apakah kisah tersebut hendak mengajarkan bahwa teknologi tidak penting?

Sama sekali tidak.

Yang ingin ditunjukkan justru sebaliknya.

Teknologi memang memiliki peranan.

Tetapi teknologi tidak pernah berdiri sendiri.

Di balik peralatan perang tetap ada manusia yang menggunakannya.

Di balik senjata tetap ada keberanian.

Di balik strategi tetap ada kepemimpinan.

Di balik kemenangan tetap ada disiplin, keyakinan, dan kesiapan berkorban.

Karena itu, sejarah Islam memperlihatkan bahwa kemenangan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat, tetapi juga oleh kualitas orang yang memegang alat tersebut.

Pelajaran untuk Kekalahan 1967

Lalu bagaimana kita memahami kekalahan tahun 1967?

Apakah semata-mata karena Israel lebih maju dalam teknologi?

Ataukah ketertinggalan teknologi hanyalah salah satu gejala dari persoalan yang lebih mendasar?

Barangkali persoalan yang sesungguhnya bukan sekadar kurangnya senjata, melainkan kurangnya manusia yang mampu membangun ilmu, menjaga amanah, memimpin dengan benar, dan memanfaatkan teknologi secara optimal.

Sebab teknologi dapat dibeli.

Persenjataan dapat diimpor.

Namun karakter, integritas, disiplin, kepemimpinan, dan kekuatan moral tidak dapat dibeli dari bangsa mana pun.

Di situlah letak pelajaran terbesar.

Peradaban tidak hanya dibangun oleh mesin-mesin yang canggih.

Peradaban dibangun oleh manusia yang mampu memadukan ilmu, akhlak, tanggung jawab, dan keyakinan dalam setiap langkahnya.

Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Karena Pengkhianatan? Ada pula penjelasan lain y...

Kalah dalam Perang Enam Hari 1967: Benarkah Karena Pengkhianatan?



Ada pula penjelasan lain yang sering dikemukakan untuk menjawab pertanyaan tentang kekalahan tahun 1967.

Jawabannya singkat.

"Semua ini terjadi karena pengkhianatan."

Benarkah demikian?

Apakah sebuah bangsa dapat runtuh hanya karena dikhianati oleh segelintir orang?

Ataukah pengkhianatan hanyalah salah satu gejala dari persoalan yang jauh lebih dalam?

Memang, kemungkinan adanya pengkhianatan tidak dapat begitu saja disangkal.

Sejarah setiap bangsa memperlihatkan bahwa selalu ada orang yang rela menjual negeri, kehormatan, bahkan bangsanya sendiri demi kepentingan pribadi, kelompok, atau kekuasaan.

Orang yang kehilangan iman akan mudah kehilangan amanah.

Orang yang terbiasa mengkhianati Allah dan Rasul-Nya tidak akan merasa berat mengkhianati tanah airnya sendiri.

Karena itu, kemungkinan adanya individu-individu yang berkhianat tetap harus diakui.

Namun pertanyaannya adalah:

Apakah pengkhianatan segelintir orang cukup menjelaskan kehancuran seluruh bangsa?

Seberapa Jauh Pengkhianatan Menjelaskan Kekalahan?

Mari kita berpikir lebih jernih.

Kalau benar ada sebagian pemimpin yang berkhianat, mengapa dampaknya begitu menyeluruh?

Mengapa hampir seluruh sistem pertahanan ikut runtuh?

Mengapa para komandan di berbagai lini mengalami kegagalan pada waktu yang hampir bersamaan?

Mengapa kekalahan menjalar ke seluruh medan perang?

Bukankah pengkhianatan pada umumnya dilakukan oleh individu atau kelompok kecil?

Bukankah sangat sulit membayangkan seluruh bangsa melakukan pengkhianatan secara serempak?

Terlebih lagi, dalam masyarakat Muslim, pengkhianatan terhadap agama dan bangsa bukanlah sesuatu yang mudah diterima. Kalau pun ada, jumlahnya tentu terbatas pada individu-individu yang telah melepaskan nilai-nilai yang mereka yakini.

Karena itu, jika memang terdapat pengkhianatan, kemungkinan besar ia hanya menjelaskan sebagian peristiwa.

Ia tidak cukup menjelaskan keseluruhan kehancuran.

Mengapa Penjelasan Ini Begitu Populer?

Lalu mengapa tuduhan pengkhianatan begitu mudah diterima?

Barangkali karena penjelasan ini terasa sederhana.

Ia menyediakan seorang "tersangka" yang dapat disalahkan.

Dengan menunjuk beberapa orang sebagai pengkhianat, perhatian masyarakat pun dialihkan dari persoalan yang lebih mendasar.

Sistem tidak lagi dipertanyakan.

Cara memimpin tidak lagi dievaluasi.

Budaya politik tidak lagi dikritisi.

Yang dipersoalkan hanyalah siapa yang mengkhianati.

Padahal, jika akar persoalan sebenarnya berada pada sistem yang rusak, maka mengganti beberapa orang saja tidak akan mengubah keadaan.

Wajah pemerintahan mungkin berubah.

Nama para pemimpin mungkin berganti.

Namun apabila cara berpikir, budaya kekuasaan, dan mekanisme yang melahirkan kegagalan tetap dipertahankan, maka hasil akhirnya pun tidak banyak berbeda.

Apa Hakikat Sebuah Pengkhianatan?

Sebuah pertanyaan penting perlu diajukan.

Kapan sebuah tindakan layak disebut sebagai pengkhianatan yang menjadi penyebab utama kehancuran bangsa?

Pengkhianatan memang dapat menjadi faktor penentu apabila sebuah negara sebenarnya telah memiliki sistem yang sehat, pemerintahan yang baik, dan kepemimpinan yang bertanggung jawab.

Dalam keadaan seperti itu, kerusakan memang bisa berasal dari pengkhianatan segelintir orang.

Namun bagaimana jika sistemnya sendiri telah dipenuhi berbagai kelemahan?

Bagaimana jika kesalahan telah berlangsung lama?

Bagaimana jika budaya yang berkembang justru membuka ruang bagi lahirnya pengkhianatan?

Dalam keadaan seperti itu, pengkhianatan bukan lagi sebab pertama.

Ia justru menjadi buah dari kerusakan yang telah lebih dahulu mengakar.

Bahaya Mengkultuskan Pemimpin

Ada bentuk pengkhianatan lain yang sering luput disadari.

Bukan pengkhianatan kepada musuh.

Melainkan pengkhianatan terhadap akal sehat.

Hal itu terjadi ketika seorang pemimpin ditempatkan di atas kritik.

Ia dianggap selalu benar.

Ia dipandang tidak mungkin keliru.

Setiap keberhasilan dinisbatkan kepadanya.

Setiap kegagalan selalu dibebankan kepada orang lain.

Dalam budaya seperti itu, pemimpin berubah menjadi sosok yang seolah-olah tidak pernah salah.

Ia dipuja layaknya pahlawan tanpa cela.

Selama kemenangan datang, semua pujian diarahkan kepadanya.

Namun ketika kekalahan terjadi, kesalahan segera dicari pada bawahan, rakyat, bahkan pada pengkhianatan orang lain.

Seolah-olah sang pemimpin kehilangan "keris pusaka" yang selama ini dianggap sebagai sumber seluruh kehebatannya.

Padahal, tidak ada manusia yang kebal dari kekeliruan.

Tidak ada kepemimpinan yang boleh diletakkan di atas evaluasi.

Bangsa yang menggantungkan nasibnya kepada kultus individu sedang membuka pintu bagi lahirnya kesalahan yang tidak lagi berani dikoreksi.

Dan ketika kesalahan tidak boleh dikoreksi, kekalahan sering kali hanya tinggal menunggu waktu.

Paling Banyak Dibaca

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (10) Dakwah (7) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (56) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (107) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (7) Nusantara (282) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (695) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (308) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (171) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)