basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Suasana Kecemasan Batin Petinggi Yahudi Pasca Badai Al-Aqsa Akhir Sebuah Era: Mengapa "Keistimewaan" Yahudi di Amerika...

Suasana Kecemasan Batin Petinggi Yahudi Pasca Badai Al-Aqsa

Akhir Sebuah Era: Mengapa "Keistimewaan" Yahudi di Amerika Kini Tinggal Kenangan?

Apakah yang paling ditakutkan sebuah komunitas yang selama puluhan tahun merasa telah menemukan rumah permanennya?

Bukan semata meningkatnya ancaman fisik. Yang jauh lebih mengusik adalah runtuhnya sebuah keyakinan: keyakinan bahwa mereka akhirnya telah keluar dari siklus panjang sejarah diaspora.

Itulah kegelisahan yang digambarkan Andres Spokoiny.

Ia tumbuh di Argentina dengan pengalaman yang akrab bagi banyak komunitas Yahudi diaspora. Ia mencintai tanah kelahirannya. Ia mengagumi José de San Martín, mengidolakan Presiden Raúl Alfonsín, dan larut dalam euforia ketika tim nasional Argentina bertanding. Namun, di balik patriotisme itu, selalu tersimpan kesadaran bahwa kehidupan Yahudi di sana bersifat sementara. Stabilitas politik dapat berubah. Krisis ekonomi dapat datang. Dan sebuah negeri yang hari ini terasa sebagai rumah, esok dapat berubah menjadi tempat yang asing.

Lalu bagaimana dengan Amerika Serikat?

Selama beberapa generasi, Amerika dipandang sebagai pengecualian dalam sejarah diaspora Yahudi. Di sanalah mereka merasa tidak lagi sekadar "menumpang", melainkan menjadi bagian utuh dari bangsa itu sendiri.

Inilah yang disebut Spokoiny sebagai American Jewish exceptionalism—perasaan bahwa sejarah panjang pengasingan akhirnya telah berakhir.

Perasaan itu pernah dirumuskan secara indah oleh Will Herberg pada tahun 1955:

«"Orang Yahudi Amerika tidak hidup dalam pengasingan; ia hidup di tanah yang ia anggap sebagai miliknya sendiri, dan di dalam tanah itulah ia membentuk identitas Yahudi yang sukarela, percaya diri, dan sepenuhnya Amerika."»

Kalimat itu bukan hanya deskripsi sosiologis.

Ia adalah fondasi psikologis sebuah komunitas.

---

Namun, apakah fondasi itu masih berdiri?

Menurut Spokoiny, jawabannya tidak lagi.

Peristiwa 7 Oktober 2023 beserta dampak global sesudahnya menjadi titik balik yang mengguncang keyakinan tersebut.

Yang mengejutkan bukan hanya meningkatnya antisemitisme.

Yang lebih mengejutkan adalah tempat kemunculannya.

Universitas-universitas elite.

Lembaga kebudayaan.

Ruang-ruang intelektual.

Institusi-institusi yang selama ini dianggap sebagai benteng liberalisme dan pluralisme justru berubah menjadi arena konfrontasi terhadap komunitas Yahudi.

Di sinilah muncul ironi sejarah.

Bukankah banyak intelektual Yahudi turut berkontribusi dalam pengembangan gagasan hak asasi manusia universal, kebebasan sipil, serta konsep Diversity, Equity, and Inclusion (DEI)?

Namun kini, menurut Spokoiny, bahasa moral yang dahulu mereka bantu bangun justru digunakan untuk menyerang mereka sendiri.

Seolah-olah alat yang dahulu mereka ciptakan kini berbalik arah.

---

Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah perubahan lanskap politik Amerika.

Dahulu, antisemitisme dipandang sebagai penyimpangan yang segera dikoreksi oleh masyarakat luas.

Kini?

Ia mulai memperoleh ruang politik.

Ia mulai mendapatkan legitimasi elektoral.

Bagi banyak komunitas Yahudi, kemenangan tokoh-tokoh seperti Zohran Mamdani dipandang sebagai sinyal bahwa retorika yang selama ini dianggap berada di pinggiran kini mulai memasuki arus utama politik.

Jika dahulu antisemitisme dianggap sebagai "bug" dalam sistem demokrasi Amerika, kini sebagian orang mulai khawatir bahwa ia telah berubah menjadi salah satu "fitur" dalam kompetisi politik.

---

Ada pertanyaan yang lebih dalam lagi.

Siapa yang berhak mendefinisikan rasa sakit sebuah komunitas?

Spokoiny mengajukan analogi yang cukup provokatif.

Ketika komunitas kulit hitam menyatakan bahwa sebuah kata tertentu bersifat rasis, masyarakat umumnya menerima penilaian itu.

Tidak ada perdebatan panjang mengenai niat tersembunyi atau makna alternatif.

Mengapa?

Karena komunitas yang menjadi sasaran dianggap memiliki otoritas untuk menjelaskan pengalaman mereka sendiri.

Namun, mengapa ketika komunitas Yahudi mengatakan bahwa suatu slogan atau tindakan bersifat antisemitik, justru muncul perdebatan panjang mengenai apakah mereka "terlalu sensitif"?

Mengapa pihak luar—bahkan mereka yang memusuhi Yahudi—sering kali justru diberi ruang untuk menentukan apa yang boleh atau tidak boleh disebut antisemitisme?

Bagi Spokoiny, di sinilah berakhirnya mitos keistimewaan itu.

Mereka mulai menyadari bahwa perlindungan sosial ternyata tidak bersifat otomatis.

Ia sangat bergantung pada dinamika politik.

---

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Spokoiny menawarkan gagasan yang terdengar paradoksal.

Berhentilah mencari rumah politik yang permanen.

Ia menyebutnya sebagai political homelessness—gelandangan politik.

Istilah ini bukan berarti apatis terhadap politik.

Sebaliknya, ia adalah strategi untuk tidak menggantungkan keamanan komunitas pada satu kubu ideologi tertentu.

Mengapa?

Karena baik sayap kiri maupun kanan, menurut pengamatannya, sama-sama akan membela antisemitisme hanya ketika hal itu menguntungkan kepentingan politik mereka.

Jika demikian, mengapa harus menyerahkan loyalitas secara penuh kepada salah satu pihak?

Lebih baik bersikap independen.

Memberikan dukungan berdasarkan prinsip, bukan berdasarkan identitas partisan.

---

Namun, jika posisi eksternal menjadi semakin rapuh, dari mana kekuatan itu harus dibangun?

Jawaban Spokoiny sederhana.

Dari dalam.

Jika penerimaan sosial menjadi semakin bersyarat, maka identitas internal harus menjadi tanpa syarat.

Karena itu, pendidikan Yahudi, literatur, sejarah, tradisi, dan kebanggaan terhadap identitas dipandang sebagai benteng psikologis yang jauh lebih penting daripada sekadar perlindungan politik.

Tanpa jangkar identitas yang kuat, tekanan sosial dapat dengan mudah berubah menjadi krisis identitas.

---

Pada akhirnya, seluruh refleksi ini bermuara pada satu kesimpulan yang menurut Spokoiny tidak lagi dapat dihindari.

Amerika adalah proyek kebangsaan yang terbuka bagi semua warga negara.

Tetapi Israel?

Israel, menurutnya, adalah satu-satunya proyek kolektif bangsa Yahudi yang masih ada di dunia.

Karena itu, hubungan diaspora dengan Israel tidak lagi dipahami sekadar sebagai hubungan emosional.

Melainkan sebagai hubungan eksistensial.

Namun keterlibatan itu, menurutnya, tidak berarti menerima semua kebijakan pemerintah Israel tanpa kritik.

Justru karena Israel dipandang sebagai proyek kolektif bersama, komunitas Yahudi diaspora merasa memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga arah moralnya—membela demokrasi, memperkuat nilai-nilai liberal, sekaligus menolak berbagai kecenderungan yang mereka anggap dapat merusak masa depan negara tersebut.

Pada titik inilah kegelisahan Spokoiny menjadi jelas.

Yang sedang berakhir bukan hanya sebuah fase politik.

Yang sedang runtuh adalah keyakinan panjang bahwa Amerika merupakan pengecualian dalam sejarah diaspora Yahudi.

Dan ketika keyakinan itu runtuh, muncul kembali pertanyaan yang telah menghantui sejarah mereka selama berabad-abad:

Jika tidak ada lagi tempat yang benar-benar permanen, di manakah sebenarnya rumah itu berada?

Masa Depan Zionis Israel: Pergeseran Komposisi Imigran, Polarisasi Ideologi, dan Fenomena Brain Drain Pasca Perang Gaza Selama p...

Masa Depan Zionis Israel: Pergeseran Komposisi Imigran, Polarisasi Ideologi, dan Fenomena Brain Drain Pasca Perang Gaza




Selama puluhan tahun Israel dikenal sebagai Startup Nation—negara kecil yang mampu melahirkan ribuan perusahaan teknologi, pusat riset kelas dunia, dan inovasi militer yang mengubah keseimbangan geopolitik Timur Tengah. Namun, di balik citra tersebut, berlangsung perubahan besar yang jauh lebih mendasar: perubahan karakter masyarakat yang membangun negara itu sendiri.

Israel yang didirikan oleh para imigran Zionis awal tidak sepenuhnya sama dengan Israel yang berkembang saat ini. Pergeseran komposisi penduduk, perubahan orientasi pendidikan, menguatnya pengaruh Zionisme religius, hingga meningkatnya kekhawatiran terhadap emigrasi tenaga profesional menjadi dinamika yang dapat memengaruhi arah masa depan negara tersebut.

Dari Zionisme Sekuler Menuju Zionisme Religius

Gelombang Aliyah pada akhir abad ke-19 hingga berdirinya Israel pada 1948 didominasi oleh orang-orang Yahudi yang berasal dari Eropa Timur dan Tengah. Mereka datang dari Rusia, Polandia, Rumania, Jerman, dan Austria setelah mengalami diskriminasi, pogrom, hingga tragedi Holocaust.

Bagi generasi ini, Zionisme merupakan proyek nasional untuk membangun sebuah negara yang mampu menjamin keamanan bangsa Yahudi. Orientasinya bersifat politis dan relatif sekuler. Mereka membangun universitas, kibbutz, industri, pertanian, sistem pemerintahan, dan angkatan bersenjata sebagai fondasi negara modern.

Namun, setelah Israel berdiri, terutama pasca-1967, muncul arus Zionisme religius yang semakin kuat.

Bagi banyak kelompok pemukim di Tepi Barat, tujuan utama bukan lagi sekadar mempertahankan negara, melainkan menguasai wilayah yang mereka yakini sebagai bagian dari warisan Alkitab. Kehadiran mereka dipandang sebagai kewajiban keagamaan sekaligus bagian dari proses penebusan sejarah bangsa Yahudi.

Perubahan orientasi inilah yang menjadi salah satu titik balik penting dalam dinamika politik Israel.

Pergeseran Demografi

Jika dahulu mayoritas imigran berasal dari Eropa sebagai pengungsi, komposisi masyarakat Israel saat ini jauh lebih beragam.

Sebagian besar pemukim di Tepi Barat adalah warga Israel yang lahir di negara tersebut (Sabra), ditambah imigran dari Amerika Serikat, Prancis, Rusia, dan negara lainnya. Banyak di antara mereka datang bukan karena melarikan diri dari penganiayaan, melainkan karena dorongan ideologis atau memilih memanfaatkan kebijakan dan insentif yang mendukung pemukiman.

Dengan demikian, motivasi perpindahan mengalami perubahan mendasar.

Generasi pendiri datang untuk mencari perlindungan.

Sebagian generasi baru datang untuk memperkuat klaim atas wilayah yang mereka yakini memiliki legitimasi historis dan religius.

Perubahan Orientasi Pendidikan

Pergeseran tersebut juga terlihat dalam dunia pendidikan.

Para pendiri Israel memperoleh pendidikan yang dipengaruhi nasionalisme modern Eropa, sosialisme, dan sains. Sistem pendidikan kibbutz dirancang untuk membentuk "Yahudi Baru" yang produktif, kuat secara fisik, menguasai teknologi, bertani, dan siap mempertahankan negara.

Sebaliknya, sebagian kelompok Zionisme religius tumbuh melalui jaringan Yeshiva dan Yeshiva Hesder, yang memadukan studi Taurat dengan pengabdian militer.

Sains tidak ditolak, tetapi ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat keamanan nasional, pembangunan pemukiman, dan mempertahankan klaim atas tanah yang dipandang suci.

Perbedaan orientasi pendidikan ini kemudian melahirkan perbedaan cara pandang terhadap negara, hukum internasional, hingga masa depan Israel sendiri.

Negara Inovasi Berhadapan dengan Negara Ideologi

Selama beberapa dekade, sektor teknologi menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Israel.

Sebagian besar perusahaan rintisan, pusat penelitian, industri pertahanan, hingga universitas terbaik berkembang dari budaya akademik yang relatif terbuka dan berorientasi global.

Namun, meningkatnya polarisasi politik, perdebatan mengenai reformasi peradilan, serta perang berkepanjangan di Gaza telah memunculkan kekhawatiran mengenai meningkatnya fenomena brain drain.

Sejumlah laporan menunjukkan adanya peningkatan warga Israel—termasuk profesional di bidang teknologi, akademisi, dokter, dan pengusaha—yang memilih bekerja atau menetap di luar negeri. Motivasi mereka beragam, mulai dari alasan keamanan, ketidakpastian politik, peluang ekonomi, hingga kekhawatiran terhadap arah perkembangan sosial dan demokrasi Israel.

Fenomena ini belum tentu bersifat permanen, tetapi apabila berlangsung dalam jangka panjang, dapat mengurangi keunggulan Israel di bidang inovasi dan teknologi.

Dua Israel dalam Satu Negara

Saat ini tampak dua arus besar yang sama-sama memengaruhi masa depan Israel.

Arus pertama menempatkan inovasi, keterbukaan ekonomi, pendidikan tinggi, dan kolaborasi internasional sebagai fondasi utama kemajuan negara.

Arus kedua lebih menekankan identitas religius, penguasaan wilayah, serta pemenuhan cita-cita historis dan teologis sebagai prioritas nasional.

Kedua arus tersebut tidak selalu bertentangan, tetapi sering kali menghasilkan ketegangan dalam kebijakan publik, hubungan luar negeri, dan arah pembangunan nasional.

Masa Depan Israel

Masa depan Israel kemungkinan akan ditentukan oleh kemampuan menyeimbangkan dua kebutuhan yang berbeda.

Di satu sisi, Israel membutuhkan sektor teknologi, universitas, dan tenaga profesional untuk mempertahankan daya saing ekonominya.

Di sisi lain, meningkatnya pengaruh kelompok religius-nasionalis dapat mendorong kebijakan yang lebih berorientasi pada perluasan pemukiman dan agenda ideologis, yang berpotensi memperdalam polarisasi internal serta meningkatkan tekanan diplomatik dari masyarakat internasional.

Apabila fenomena emigrasi tenaga ahli terus berlanjut bersamaan dengan meningkatnya fragmentasi sosial, tantangan terbesar Israel mungkin bukan semata ancaman eksternal, melainkan kemampuannya mempertahankan modal manusia yang selama ini menjadi fondasi kekuatan ekonomi, teknologi, dan militernya.

Sejarah menunjukkan bahwa kejayaan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan senjata atau kemampuan mempertahankan wilayah, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga persatuan masyarakat, mempertahankan talenta terbaik, serta menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Apakah Israel mampu menjaga keseimbangan itu, atau justru memasuki fase polarisasi yang semakin dalam, akan menjadi salah satu pertanyaan geopolitik paling penting dalam dekade mendatang.

Menteri Al-Muhallabi Mendapatkan Pertolongan dari Allah Dalam singgasananya, Menteri Abu Muhammad Al-Hasan bin Muhammad Al-Muhal...

Menteri Al-Muhallabi Mendapatkan Pertolongan dari Allah


Dalam singgasananya, Menteri Abu Muhammad Al-Hasan bin Muhammad Al-Muhallabi berkata,

"Pada suatu masa, aku mendapati musibah berat. Aku sangat takut tidak mendapatkan cara untuk keluar dari situasi tersebut. Seharian aku diliputi kekalutan."

"Pada malamnya, aku tak bisa memejamkan mata. Aku pun menunaikan shalat dan berdoa kepada Allah. Dalam sujudku, aku menangis dan mengadu kepada Allah. Aku memohon kepada-Nya agar mensegerakan datangnya kemudahan."

"Keesokan paginya, kondisiku nyaris tak berubah. Hanya saja, aku tampak sedikit lebih tenang." 

"Namun, saat hari belum berganti, Allah telah menganugerahkan pertolongan-Nya kepadaku. Allah memberikan jalan keluar dari musibah yang aku alami. Apa yang diberikan-Nya jauh lebih baik daripada apa yang kuminta." 

Aku berkata:

"Kusampaikan surat kepada Tuhan Sang Pemurah

Dalam surat itu aku sampaikan permohonan

Maka, datanglah balasan yang berisi pengabulan doa

Hingga menjadi teranglah musibah yang selama ini menghimpitku"


Sumber:
At-Thanukhi, Setelah Kesulitan Ada Kemudahan, Pustaka Al-Kautsar, 2013, hal.72

Iman: Obat Paling Mujarab Psikiater terkenal, Dr. Carl Jung, pada halaman 264 dari bukunya yang berjudul The Modern Man In Searc...

Iman: Obat Paling Mujarab


Psikiater terkenal, Dr. Carl Jung, pada halaman 264 dari bukunya yang berjudul The Modern Man In Search of Spirit, menulis:

"Selama tiga puluh tahun, orang-orang dari berbagai negeri berperadaban datang menemui saya untuk melakukan konsultasi. Saya telah mengobati ratusan pasien dan sebagian mereka berusia setengah baya, yakni 35 tahun ke atas."

Dia pun melanjutkan,

"Dan, tak seorang pun di antara mereka yang tidak mengembalikan persoalannya kepada agama sebagai pandangan hidup. Maka, bisa saya katakan bahwa setiap dari mereka jatuh sakit karena kehilangan apa yang telah diberikan agama kepada orang-orang yang beriman.

Inti dari penyembuhannya,

"Dan, jika belum mampu mengembalikan keimanannya yang sejati, maka tidak akan bisa disembuhkan."

Allah berfirman berkaitan tentang hal ini:

"Dan, barangsiapa berpaling dari mengingat-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit."
(QS. Thâhâ: 123)


Sumber:
Aidh Al-Qarni, La Tahzan, Qisthi Press, 2005, hal.156

Caci Maki dan Cemoohan Tidak Akan Membahayakan Dirimu Mengapa kita begitu gelisah ketika dicela? Mengapa satu kalimat yang kelua...

Caci Maki dan Cemoohan Tidak Akan Membahayakan Dirimu



Mengapa kita begitu gelisah ketika dicela?

Mengapa satu kalimat yang keluar dari mulut orang lain mampu merampas ketenangan kita selama berhari-hari?

Bukankah yang paling merugi bukanlah orang yang mencela, melainkan orang yang membiarkan celaan itu menguasai pikirannya?

Renungkanlah.

Apakah setiap tuduhan harus dijawab?

Apakah setiap hinaan harus dibalas?

Apakah setiap cemoohan layak menghabiskan waktu dan energi kita?

Abraham Lincoln pernah berkata,

«"Saya tidak pernah membaca surat-surat cercaan yang ditujukan kepada saya, tidak pernah membuka amplopnya, apalagi membalasnya. Sebab jika saya sibuk mengurusi semua itu, saya akan kehabisan waktu untuk berbuat demi rakyat."»

Betapa banyak waktu manusia terbuang bukan karena besarnya masalah, tetapi karena terlalu sibuk memikirkan perkataan orang lain.

Al-Qur'an justru mengajarkan sikap yang berbeda.

Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk berpaling dari orang-orang yang gemar menyakiti, memaafkan mereka dengan cara yang baik, dan mengakhiri perdebatan yang tidak bermanfaat dengan ucapan yang penuh kedamaian. Sikap seorang mukmin bukanlah larut dalam celaan, tetapi tetap berjalan di jalan yang benar tanpa kehilangan ketenangan jiwanya.

Hassan bin Tsabit pernah mengungkapkan sikap itu dalam syairnya. Baginya, celaan orang-orang yang gemar merendahkan orang lain tidak lebih berarti daripada suara hewan liar yang berlalu begitu saja. Ia tidak pantas mengganggu hati seorang mukmin yang memiliki tujuan hidup yang besar.

Bukankah orang yang sibuk mencela biasanya justru tidak memiliki karya yang lebih baik untuk ditunjukkan?

Mengapa kita harus menghentikan langkah hanya karena suara-suara seperti itu?

Sejarah juga memberikan pelajaran.

Seorang pemimpin Angkatan Laut Amerika pada Perang Dunia II pernah mengalami begitu banyak hinaan, ejekan, dan perendahan dari orang-orang di sekitarnya. Namun setelah bertahun-tahun menghadapinya, ia berkata,

«"Kini aku memiliki kekebalan terhadap semua bentuk kritik. Aku tahu bahwa ucapan-ucapan seperti itu tidak akan mampu menghancurkan kemuliaanku dan tidak akan mampu merobohkan benteng yang kokoh."»

Benar adanya.

Hinaan tidak pernah melukai kehormatan seseorang.

Yang melukai adalah ketika kita memberikan izin kepada hinaan itu untuk tinggal di dalam hati.

Karena itu para penyair sering bertanya dengan nada heran,

«"Apa lagi yang mereka inginkan dariku, sedangkan usiaku telah berlalu dan pengalaman telah mengajariku?"»

Semakin dewasa seseorang, seharusnya semakin kecil pengaruh ucapan manusia terhadap ketenangan jiwanya.

Bukankah yang lebih penting adalah penilaian Allah daripada penilaian manusia?

Isa putra Maryam mengajarkan satu pelajaran yang sangat berat sekaligus sangat membebaskan,

«"Cintailah musuh-musuhmu."»

Bukan karena mereka layak dicintai, tetapi karena kebencian yang terus dipelihara hanya akan memenjarakan hati kita sendiri.

Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan.

Memaafkan adalah membebaskan diri dari beban dendam.

Karena itu Allah memuji orang-orang yang mampu menahan amarah, memaafkan kesalahan manusia, dan tetap berbuat baik. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Lihatlah Rasulullah ï·º ketika berhasil menaklukkan Makkah.

Padahal bertahun-tahun beliau dihina, diusir, disakiti, bahkan diperangi oleh kaumnya.

Namun ketika seluruh kekuasaan berada di tangan beliau, kalimat yang keluar bukanlah pembalasan.

Beliau hanya berkata,

«"Pergilah, kalian semua telah bebas."»

Kalimat itu mengubah musuh menjadi saudara.

Nabi Yusuf juga mengajarkan pelajaran yang sama ketika bertemu kembali dengan saudara-saudaranya yang dahulu membuangnya ke dalam sumur.

Beliau berkata,

«"Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian."»

Begitulah hati para nabi.

Mereka tidak membangun masa depan dengan bahan bakar kebencian.

Mereka membangunnya dengan maaf.

Allah pun berulang kali mengingatkan bahwa Dia Maha Pemaaf terhadap kesalahan-kesalahan yang telah berlalu bagi orang yang kembali kepada-Nya.

Jika Allah Yang Mahamulia saja mencintai ampunan, mengapa kita begitu sulit melepaskan dendam?

Karena itu, jangan habiskan umurmu untuk membalas setiap hinaan.

Jangan biarkan hidupmu dikendalikan oleh ucapan orang lain.

Teruslah melangkah.

Biarkan orang mencela jika memang itu pilihan mereka.

Tugasmu bukan membungkam setiap mulut, melainkan menjaga hatimu tetap bersih dan amalmu tetap lurus.

Sebab pada akhirnya, caci maki tidak akan membahayakan dirimu.

Yang benar-benar membahayakan adalah ketika kebencian dan keinginan membalas itu berhasil menguasai hatimu.


Sumber:
Aidh Al-Qarni, La Tahzan, Qisthi Press, 2005, hal.220-221

Cinta Kita Hanya kepada Allah Untuk apa sebenarnya kita hidup? Bukankah tujuan akhir seluruh perjalanan kita adalah Allah? Karen...

Cinta Kita Hanya kepada Allah


Untuk apa sebenarnya kita hidup?

Bukankah tujuan akhir seluruh perjalanan kita adalah Allah?

Karena itulah, cinta terbesar seorang mukmin bukanlah kepada dunia, bukan pula kepada manusia, melainkan kepada Rabb yang menciptakannya. Kita mencintai Allah melebihi rasa takut kita kepada-Nya. Namun cinta itu tidak membuat kita merasa aman dari murka-Nya. Sebaliknya, rasa takut kepada-Nya tidak pula menghilangkan cinta kita kepada-Nya.

Seorang mukmin hidup di antara cinta dan takut.

Mengapa kita mencintai Allah?

Karena kita mengenal-Nya.

Dan semakin dalam kita mengenal Allah, semakin besar pula rasa cinta kepada-Nya. Jalan untuk mengenal-Nya adalah dengan mentadabburi nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna.

Renungkanlah.

Jika kita mencintai seseorang karena kemurahan hatinya, bukankah Allah adalah Dzat Yang Mahamurah?

Jika kita mengagumi seseorang karena kasih sayangnya, bukankah kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu?

Jika kita menghormati seseorang karena kebijaksanaannya, bukankah Allah adalah Dzat Yang Mahabijaksana?

Kalau begitu, kepada siapakah cinta terbesar seharusnya diberikan?

Asmaul Husna Menunjukkan Kesempurnaan Allah

Semua nama dan sifat Allah bersifat mutlak, sedangkan seluruh sifat manusia hanyalah bayangan yang sangat terbatas.

Manusia dapat menyayangi, tetapi kasih sayangnya terbatas oleh waktu, tenaga, dan keadaan.

Adapun Allah, rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Allah menegaskan bahwa rahmat-Nya meliputi seluruh ciptaan, dan apabila Dia membuka pintu rahmat bagi seorang hamba, tidak ada seorang pun yang mampu menutupnya. Sebaliknya, jika Dia menahannya, tidak ada yang mampu memberikannya selain Dia. Demikian pula, apabila Allah menimpakan suatu kesulitan, tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan apabila Dia menghendaki kebaikan bagi seseorang, tidak ada yang mampu menolaknya.

Bukankah ini menunjukkan bahwa seluruh kebaikan hakikatnya berasal dari Allah?

Demikian pula dengan ampunan-Nya.

Manusia mungkin mampu memaafkan kesalahan orang lain. Sebagian bahkan mampu melupakan luka yang pernah diterimanya. Namun, adakah manusia yang menganggap kesalahan itu sebagai kebaikan?

Allah justru lebih agung daripada itu.

Dia membuka pintu ampunan bagi semua dosa selama seorang hamba bertobat. Bahkan Rasulullah ï·º menjelaskan bahwa Allah mencintai hamba yang berdosa kemudian kembali memohon ampun kepada-Nya. Lebih dari itu, Allah bukan hanya menghapus dosa-dosa mereka, tetapi juga menggantinya dengan pahala dan kebaikan.

Adakah kasih sayang yang lebih besar daripada itu?

Seluruh Kesempurnaan Berkumpul pada Dzat Allah

Keistimewaan lain dari Allah adalah seluruh sifat kesempurnaan berhimpun pada Dzat-Nya.

Pada manusia, sifat-sifat sering kali saling mengurangi. Orang yang sangat lembut kadang sulit bersikap tegas. Orang yang sangat tegas kadang kehilangan kelembutan.

Namun Allah tidak demikian.

Dia Maha Pengampun sekaligus keras siksa-Nya.

Dia Maha Penyayang sekaligus Mahaperkasa.

Dia Maha Lembut sekaligus Mahakuasa.

Tidak ada satu pun sifat kesempurnaan yang saling mengurangi pada diri-Nya. Semuanya sempurna pada waktu yang bersamaan.

Sebaliknya, ada banyak sifat yang sama sekali tidak mungkin dimiliki oleh manusia.

Manusia tidak mampu mencipta dari ketiadaan.

Tidak mampu memberi rezeki kepada seluruh makhluk.

Tidak mampu menghidupkan ataupun mematikan.

Semua itu adalah kekhususan Allah.

Karena itu, jika kita mengagumi manusia karena satu sifat baik yang dimilikinya, bukankah Allah memiliki seluruh sifat yang layak untuk dicintai dalam kesempurnaan yang tidak berbatas?

Lalu mengapa hati kita lebih mudah terpaut kepada makhluk daripada kepada Sang Pencipta?

Mengenal Allah Melalui Akhlak

Mengenal Asmaul Husna bukan sekadar untuk dihafal atau dibaca dalam zikir.

Nama-nama Allah juga menjadi inspirasi bagi akhlak seorang mukmin.

Rasulullah ï·º bersabda bahwa orang yang paling beliau cintai dan paling dekat tempat duduknya pada hari kiamat adalah mereka yang paling mulia akhlaknya.

Dalam hadis lain beliau menjelaskan bahwa seorang mukmin dapat mencapai derajat orang yang rajin berpuasa dan menghidupkan malam hanya dengan akhlak yang baik.

Bukankah ini kabar yang sangat menggembirakan?

Tidak semua orang mampu berpuasa sepanjang tahun.

Tidak semua orang mampu menghidupkan malam dengan salat.

Namun setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi penyayang, jujur, pemaaf, dermawan, sabar, dan rendah hati.

Semakin seseorang meneladani sifat-sifat yang Allah cintai, semakin dekat pula ia kepada Rabb-nya.

Setiap Nikmat Mengajak Kita Mencintai Allah

Renungkan kembali kehidupan kita.

Bukankah sejak kita belum ada, Allah telah menyiapkan segala sesuatu?

Dia memberi kita nikmat Islam.

Nikmat iman.

Nikmat persaudaraan.

Dia menciptakan kita dari ketiadaan, membentuk kita di dalam rahim, menyempurnakan rupa kita, memberi kita pendengaran, penglihatan, akal, dan hati.

Dia menundukkan bumi untuk kita pijak.

Laut sebagai sumber makanan.

Langit sebagai atap yang terjaga.

Burung dapat terbang di udara karena Dia yang menahannya.

Tanaman tumbuh dari air yang sama, tetapi menghasilkan rasa yang berbeda-beda.

Buah-buahan silih berganti pada setiap musim.

Laut, gunung, hewan ternak, hujan, udara, dan seluruh isi alam menjadi bukti kasih sayang-Nya.

Allah bahkan mengingatkan bahwa jika manusia berusaha menghitung nikmat-Nya, niscaya mereka tidak akan mampu menghitungnya.

Bukankah setiap tarikan napas adalah nikmat?

Bukankah setiap detak jantung adalah karunia?

Lalu mengapa hati kita sering lalai mencintai Dzat yang tidak pernah berhenti berbuat baik kepada kita?

Allah Lebih Berhak Dicintai

Jika kepada manusia saja kita mencintai karena satu atau dua kebaikan yang mereka lakukan, bukankah Allah lebih berhak mendapatkan seluruh cinta kita?

Kebaikan manusia mungkin berhenti.

Kasih sayang manusia dapat berubah.

Pertolongan manusia memiliki batas.

Namun kebaikan Allah tidak pernah terputus walau sedetik.

Bahkan ketika kita bermaksiat, Dia masih memberi udara untuk bernapas, makanan untuk dimakan, air untuk diminum, dan kesempatan untuk bertobat.

Siapakah yang lebih layak dicintai selain Dia?

Semakin Menyerupai Akhlak yang Dicintai Allah, Semakin Dekat kepada-Nya

Semakin mulia akhlak seseorang, semakin ia merasakan kedekatan dengan Allah.

Bukan karena ia menjadi seperti Allah—karena tidak ada satu pun makhluk yang menyerupai-Nya—melainkan karena ia menghiasi dirinya dengan akhlak yang Allah cintai.

Orang yang penyayang akan mencintai kasih sayang.

Orang yang jujur akan mencintai kejujuran.

Orang yang pemaaf akan mudah menerima keluasan ampunan Allah.

Rasulullah ï·º bersabda bahwa ruh-ruh manusia bagaikan pasukan yang saling mengenal. Ruh yang memiliki kecenderungan yang sama akan saling dekat, sedangkan yang saling bertolak belakang akan saling menjauh.

Demikian pula hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Semakin ia mencintai sifat-sifat yang Allah cintai, semakin tenteram hatinya ketika mengingat Allah, beribadah kepada-Nya, dan bermunajat kepada-Nya.

Karena itu, marilah kita terus mengenal Allah melalui nama-nama-Nya yang indah, mentadabburi nikmat-nikmat-Nya yang tak terhitung, lalu menjadikan seluruh cinta dalam hati kita bermuara kepada-Nya.

Sebab hanya Allah yang memiliki seluruh kesempurnaan.

Hanya Allah yang tidak pernah berhenti berbuat baik.

Dan hanya Allah yang benar-benar layak menjadi tujuan akhir seluruh cinta dan penghambaan kita.


Sumber;
Ali Muhammad Jarisyah, Syarah 5 Syiar Tarbiyah, Era Intermedia, 2021, hal.42-50

Saat Akal Manusia Merasa Lebih Hebat daripada Zat yang Memberinya Akal Salah satu sebab orang tersesat karena memandang takdir d...

Saat Akal Manusia Merasa Lebih Hebat daripada Zat yang Memberinya Akal


Salah satu sebab orang tersesat karena memandang takdir dengan kebencian. Sebagian masih memiliki sisa keimanan, tetapi mereka terus membantah dan mempertanyakan ketetapan Allah. Sebagian lainnya bahkan keluar dari lingkaran iman menuju kekufuran. Mereka berkata,

"Apa gunanya menciptakan sesuatu jika pada akhirnya dimusnahkan? Apa gunanya menimpakan musibah kepada manusia?"

Katakanlah kepada mereka,

"Jika engkau benar-benar ingin mencari kebenaran, hadirkan akalmu dan dengarkan baik-baik. Namun jika engkau hanya berbicara berdasarkan luka yang menimpamu, tanpa mau melihat lebih dalam dengan hati yang jujur, maka perdebatan ini hanya akan menghabiskan waktu."

Bukankah engkau mengakui bahwa Allah adalah Raja seluruh alam? Sebagai Pemilik mutlak, Dia berhak melakukan apa saja yang Dia kehendaki terhadap ciptaan-Nya. Namun kekuasaan-Nya tidak pernah terpisah dari hikmah-Nya. Dia Mahakuasa sekaligus Mahabijaksana. Tidak ada satu pun perbuatan-Nya yang sia-sia.

Lalu mengapa engkau ragu?

Bukankah keraguanmu sebenarnya muncul karena engkau melihat sesuatu yang telah sempurna kemudian dihancurkan oleh-Nya?

Namun renungkanlah. Mengapa engkau mengukur tindakan Allah dengan ukuran tindakan manusia?

Jika seorang manusia membangun sesuatu lalu menghancurkannya, mungkin itu menunjukkan kebodohan, penyesalan, atau kesia-siaan. Akan tetapi, apakah pantas Sang Pencipta disamakan dengan makhluk-Nya?

Bukankah Dia yang menciptakan akalmu?

Jika engkau menganggap akal yang Dia anugerahkan begitu menakjubkan, bagaimana mungkin engkau menyimpulkan bahwa Zat yang memberikannya justru kurang bijaksana daripada akal ciptaan-Nya sendiri?

Di sinilah letak kesalahan iblis.

Ia tidak mengingkari keberadaan Allah, tetapi ia menolak hikmah Allah. Ia menjadikan akalnya sebagai hakim atas keputusan Rabb-nya. Seandainya ia menyadari bahwa Pemberi akal jauh lebih tinggi daripada akal itu sendiri, tentu seluruh keraguannya akan lenyap.

Allah memberikan isyarat tentang kekeliruan cara berpikir seperti ini melalui firman-Nya,

«"Apakah untuk Allah anak-anak perempuan dan untukmu anak-anak laki-laki?" (QS. At-Thur: 39)»

Bagaimana mungkin manusia menuduh Allah menetapkan sesuatu yang tidak layak bagi diri-Nya, sementara mereka menganggap diri mereka lebih mengetahui kesempurnaan?

Bukankah seharusnya kita berkata,

"Inilah perbuatan Zat Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Jika hikmahnya belum tampak bagiku, maka keterbatasan itu ada pada diriku, bukan pada-Nya."

Bukankah Nabi Musa pernah mengalami pelajaran yang sama?

Beliau tidak mampu memahami mengapa sebuah perahu yang baik harus dilubangi, atau mengapa seorang anak kecil harus dibunuh. Selama hikmah itu belum dijelaskan, tindakan Khidhir tampak sulit diterima oleh akal. Namun setelah tabir itu disingkap, Musa pun mengetahui bahwa di balik setiap tindakan terdapat rahasia yang sebelumnya tidak mampu dijangkaunya.

Jika kepada seorang hamba saleh saja Musa harus bersabar hingga hikmahnya dijelaskan, lalu bagaimana mungkin kita tergesa-gesa menghakimi keputusan Allah Yang Mahatahu?

Perhatikan pula kehidupan kita sendiri.

Mengapa makanan yang segar dan indah justru kita potong-potong sebelum memakannya?

Bukankah kita "merusaknya" dengan tangan kita sendiri?

Mengapa?

Karena kita mengetahui hikmah yang tersembunyi di balik tindakan itu. Kita tahu bahwa makanan itu akan berubah menjadi tenaga yang menghidupkan tubuh.

Jika kita saja melakukan sesuatu yang tampak seperti "perusakan" karena mengetahui manfaat akhirnya, lalu mengapa kita menolak kemungkinan bahwa Allah melakukan sesuatu yang hikmahnya belum kita ketahui?

Sungguh bodoh seorang hamba yang menuntut agar seluruh rahasia Tuhannya dibukakan kepadanya. Tugas seorang hamba bukanlah mengadili keputusan Rabb-nya, melainkan berserah diri kepada-Nya.

Bahkan andaikata tidak ada hikmah lain di balik musibah selain agar manusia menyadari adanya Sang Pencipta, niscaya itu saja sudah cukup.

Bukankah kematian sendiri merupakan pelajaran terbesar?

Seandainya manusia tidak pernah mati, mungkin mereka akan membayangkan bahwa kehidupan berlangsung dengan sendirinya tanpa Pencipta.

Melalui kematian, Allah menunjukkan bahwa manusia hanyalah makhluk yang bergantung sepenuhnya kepada-Nya.

Kemudian ketika roh dikembalikan kepada jasad pada hari kebangkitan, manusia akan menyaksikan sendiri bahwa Dzat yang mampu menghidupkannya kembali adalah Dzat yang dahulu menciptakannya.

Pada saat itu tidak ada lagi keraguan.

Allah berfirman,

«"Sesungguhnya kami dahulu, ketika berada di tengah keluarga kami, merasa takut kepada Allah." (QS. At-Thur: 26)»

Ketika seluruh janji Allah telah menjadi kenyataan, keimanan berubah menjadi keyakinan yang sempurna. Orang-orang yang dahulu bersabar terhadap takdir, ridha terhadap keputusan-Nya, serta mengambil pelajaran dari setiap peristiwa, akan mendengar panggilan yang paling mereka rindukan,

«"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr: 28–30)»

Sebaliknya, orang-orang yang terus menentang Allah, meskipun telah melihat begitu banyak tanda dan bukti, tetap memilih kekufuran. Bahkan seandainya mereka dikembalikan lagi ke dunia, mereka akan mengulangi kesalahan yang sama.

Allah berfirman,

«"Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, niscaya mereka akan mengulangi apa yang telah dilarang bagi mereka." (QS. Al-An'am: 28)»

Masalah mereka bukanlah kurangnya bukti, melainkan hati yang tertutup oleh kesombongan.

Karena itu, marilah kita memohon kepada Allah agar dikaruniai akal yang tunduk kepada-Nya; akal yang mengetahui batas kemampuannya; akal yang tidak merasa lebih bijaksana daripada Zat yang menciptakannya.

Sungguh, pembangkangan kepada Sang Khalik tidak akan pernah mengubah takdir. Ia hanya akan melahirkan penyesalan yang tiada berkesudahan.

Semoga Allah melindungi kita dari kesombongan akal, dari hati yang menentang hikmah-Nya, dan dari kelalaian yang menjauhkan kita dari cahaya petunjuk-Nya.


Sumber:
Ibnu Jauzy, Shaidul Khathir, Maghfirah Pustaka, 2007, hal 322-325

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (49) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (8) Dakwah (2) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (19) Kecerdasan (319) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (51) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (101) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (5) Nusantara (266) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (661) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (299) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (171) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (33) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)