Dari Calon Pastor hingga Pembela Islam: Menangisi Kepergian John Esposito (1940–2026)
Bagaimana mungkin seorang calon pastor Katolik justru dikenang sebagai salah satu pembela Islam paling berpengaruh di dunia Barat?
Bukankah perjalanan hidup seperti itu tampak paradoks? Ataukah justru di situlah letak keindahannya—bahwa kebenaran sering kali ditemukan ketika seseorang berani melampaui batas-batas prasangka yang diwariskan lingkungannya?
Pada 15 Juli 2026, dunia akademik kehilangan salah satu tokoh terbesarnya. John L. Esposito wafat pada usia 86 tahun akibat komplikasi operasi jantung. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang profesor, melainkan berpulangnya seorang jembatan yang selama puluhan tahun menghubungkan dua dunia yang sering dipertentangkan: Barat dan Islam.
Di balik puluhan buku, penghargaan internasional, dan ribuan mahasiswa yang pernah dididiknya, tersimpan kisah yang jauh lebih menarik daripada sekadar riwayat akademik. Kisah itu adalah perjalanan seorang pencari kebenaran yang membuktikan bahwa memahami tidak selalu berarti harus menjadi, tetapi selalu menuntut kerendahan hati untuk belajar.
Ketika Jalan Menuju Gereja Berbelok ke Dunia Islam
Siapa sangka, langkah awal Esposito bukanlah menuju pusat studi Islam.
Ia lahir dari keluarga Katolik Italia yang taat di Brooklyn, New York. Semasa muda, cita-citanya sederhana sekaligus mulia: menjadi seorang pastor Fransiskan. Ia bahkan sempat menjalani kehidupan di seminari, mempersiapkan diri menjadi misionaris dan pelayan gereja.
Namun, bukankah sejarah sering bergerak melalui peristiwa-peristiwa yang tampaknya kecil?
Titik balik itu hadir ketika ia menempuh studi doktoral teologi Katolik di Temple University. Kurikulum mewajibkannya mengambil mata kuliah agama-agama dunia. Sebuah mata kuliah yang mungkin hanya dianggap pelengkap, justru mengubah seluruh arah hidupnya.
Di sanalah ia bertemu Ismail al-Faruqi, cendekiawan Palestina-Amerika yang kelak menjadi mentor intelektualnya.
Dengan kejujuran yang mengagumkan Esposito pernah mengakui,
«"I knew nothing about Islam."»
Justru karena tidak membawa pengetahuan yang dipenuhi prasangka, ia datang dengan pikiran yang terbuka. Kanvasnya masih kosong. Dan dari ruang kosong itulah tumbuh salah satu pakar Islam paling berpengaruh di dunia Barat.
Ketika Salib dan Bulan Sabit Bertemu di Ruang Ilmu
Apakah perbedaan agama selalu harus melahirkan permusuhan?
Hubungan Esposito dengan Ismail al-Faruqi memberikan jawaban yang berbeda.
Faruqi bukan sekadar dosen pembimbing. Ia menjadi sosok yang mendorong Esposito untuk mengenal Islam secara langsung, bukan hanya melalui buku-buku orientalis. Ia memintanya belajar bahasa Arab, berdialog dengan masyarakat Muslim, dan mengalami sendiri kehidupan mereka.
Esposito pun menjalani proses imersi yang mendalam.
Ia pernah mengenang,
«"Sembilan puluh persen dari kelas saya adalah mahasiswa dari dunia Muslim, membentang dari Mesir hingga Malaysia dan Indonesia. Seolah-olah saya sedang tinggal di luar negeri. Itu adalah proses imersi, dan saya menjadi sangat terpesona dengan Islam."»
Pengalaman itu mengubah cara pandangnya.
Latar belakang Katolik tidak menjadi penghalang untuk memahami Islam. Justru dari sanalah lahir kemampuan menjembatani dua tradisi keagamaan yang selama berabad-abad sering diposisikan saling berhadapan.
Kelak ia turut membawa studi Islam memperoleh tempat yang lebih terhormat di American Academy of Religion, sebuah ruang akademik yang sebelumnya sangat didominasi tradisi Kristen.
Revolusi Iran dan Lahirnya Sebuah Tanggung Jawab
Apakah sejarah memilih orang-orang tertentu pada saat yang tepat?
Ketika Esposito meraih gelar doktor pada tahun 1974, studi Islam belum dianggap bidang yang menjanjikan. Hampir tidak ada penerbit yang tertarik, tidak banyak universitas yang membutuhkan pakar Islam, dan kesempatan akademik pun sangat terbatas.
Lima tahun kemudian segalanya berubah.
Revolusi Iran 1979 membuat dunia Barat tiba-tiba ingin memahami Islam.
Di tengah gelombang ketakutan itu, Esposito tampil bukan sebagai penyebar kecemasan, melainkan sebagai pemberi penjelasan.
Dengan selera humornya, ia pernah berkata,
«"Saya berutang karier, bahkan mobil Lexus pertama saya, kepada Revolusi Iran."»
Namun di balik candaan tersebut tersimpan kenyataan yang serius.
Ia sadar bahwa dunia sedang membutuhkan penjelasan yang jujur, bukan propaganda. Ia menolak menjadikan ketakutan publik sebagai komoditas akademik.
Melawan Prasangka dengan Data, Bukan Emosi
Bagaimana cara menghadapi kebencian yang dibangun oleh stereotip?
Esposito memilih jalan ilmu.
Melalui buku Who Speaks for Islam? What a Billion Muslims Really Think yang ditulis bersama Dalia Mogahed, ia menggunakan data survei Gallup berskala global untuk menguji berbagai anggapan tentang umat Islam pasca-11 September.
Alih-alih membangun opini, ia menghadirkan bukti.
Alih-alih memperkuat prasangka, ia mengajak dunia membaca kenyataan.
Nihad Awad, Direktur Eksekutif CAIR, mengenangnya dengan mengatakan,
«"Esposito mendedikasikan hidupnya untuk memajukan pemahaman yang akurat tentang Islam ketika informasi yang salah dan prasangka mendominasi diskursus publik."»
Sementara Jonathan Brown menggambarkannya sebagai seorang akademisi yang memandang ketidaktahuan dan bigotisme sebagai "monster" yang harus dilawan sepanjang hayat.
Membangun Jembatan, Bukan Sekadar Menulis Buku
Apakah warisan seorang ilmuwan hanya berupa karya tulis?
Dalam diri Esposito, jawabannya tidak.
Ia membangun institusi.
Pada tahun 1993 ia mendirikan Prince Alwaleed Center for Muslim-Christian Understanding di Georgetown University. Pusat kajian ini menjadi salah satu institusi paling berpengaruh dalam membangun dialog antara dunia Islam dan Barat.
Namun perannya tidak berhenti di ruang akademik.
Ia berbicara tentang Palestina, mengkritik diskriminasi terhadap komunitas Muslim di berbagai negara, menyuarakan pentingnya hak asasi manusia, dan terlibat dalam berbagai isu keadilan global.
Bagi Esposito, membela hak-hak umat Islam bukanlah tindakan partisan.
Itu adalah konsekuensi dari komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Obor yang Tidak Boleh Padam
Kini John Esposito telah tiada.
Namun pertanyaannya bukan lagi tentang siapa dirinya.
Pertanyaannya justru tertuju kepada kita.
Masih adakah orang-orang yang bersedia mendengarkan sebelum menghakimi?
Masih adakah akademisi yang berani melawan prasangka ketika opini publik memilih jalan yang lebih mudah?
Masih adakah jembatan ketika dunia semakin sibuk membangun tembok?
Barangkali itulah warisan terbesar John Esposito.
Ia membuktikan bahwa dialog antaragama tidak menuntut seseorang meninggalkan keyakinannya. Sebaliknya, iman yang matang justru melahirkan keberanian untuk memahami orang lain tanpa kehilangan jati dirinya sendiri.
Esposito telah menyalakan sebuah obor di tengah badai prasangka.
Kini, obor itu telah berpindah tangan.
Pertanyaannya, siapakah yang bersedia menjaganya agar tetap menyala?
0 komentar: