Pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, mengapa setahun terdiri atas dua belas bulan? Mengapa satu pekan terdiri atas tujuh hari? Apakah pembagian waktu itu sekadar hasil kesepakatan manusia, ataukah ia telah ditetapkan sejak awal penciptaan alam semesta?
Pertanyaan itu tampak sederhana. Namun semakin dalam ditelusuri, semakin terlihat bahwa waktu bukanlah ciptaan manusia. Manusialah yang hidup di dalam waktu, bukan sebaliknya.
Seorang muslim yang mengimani firman Allah,
«"Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu." (QS. Az-Zumar: 62)»
meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang ada dengan sendirinya. Ruang diciptakan. Langit dan bumi diciptakan. Matahari dan bulan diciptakan. Bahkan waktu pun merupakan makhluk Allah.
Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika menjelaskan hadis tentang penulisan takdir dalam Fath al-Bari menegaskan bahwa keberadaan waktu adalah sesuatu yang diciptakan setelah sebelumnya tidak ada. Dengan kata lain, waktu bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri bersama Allah, tetapi bagian dari ciptaan-Nya.
Lalu, apakah sebenarnya waktu itu?
Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa waktu adalah ukuran pergerakan. Kita mengenal hari karena adanya pergantian malam dan siang. Kita mengenal bulan karena perjalanan bulan pada orbitnya. Kita mengenal tahun karena keteraturan peredaran benda-benda langit yang Allah tetapkan.
Karena itulah Al-Qur'an berulang kali mengaitkan waktu dengan penciptaan langit dan bumi.
Allah berfirman,
«"Dialah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya." (QS. Al-Anbiya': 33)»
Dalam ayat lain Allah berfirman,
«"Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (QS. Ali Imran: 190)»
Ayat-ayat ini seakan mengajak manusia bertanya:
Apakah waktu berjalan sendiri? Ataukah ia bergerak mengikuti hukum yang Allah tetapkan?
Waktu Telah Ada Sebelum Alam Semesta yang Kita Kenal
Rasulullah ï·º bersabda,
«"Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi, sedangkan Arasy-Nya berada di atas air." (HR. Muslim)»
Hadis ini membuka cakrawala baru.
Sebelum langit dan bumi yang sekarang kita lihat diciptakan, Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk. Ini menunjukkan bahwa seluruh ukuran waktu berada dalam ilmu dan ketetapan Allah sejak awal penciptaan.
Kemudian Allah mengabarkan bahwa penciptaan langit dan bumi berlangsung dalam enam hari.
Mengapa enam hari?
Apakah Allah membutuhkan waktu?
Tentu tidak.
Allah Mahakuasa menciptakan segala sesuatu hanya dengan firman "Kun fayakun."
Maka enam hari bukanlah karena Allah memerlukan proses, melainkan karena Allah hendak mengajarkan keteraturan, tahapan, dan sunnatullah kepada makhluk-Nya.
Bahkan para ulama menjelaskan bahwa enam hari penciptaan itu tidak harus sama dengan ukuran dua puluh empat jam sebagaimana hari yang kita kenal sekarang. Ibnu Abbas menafsirkan bahwa sebagian "hari-hari Allah" memiliki ukuran yang berbeda dengan hari dunia.
Dengan demikian, sejak awal Al-Qur'an telah memperlihatkan bahwa ukuran waktu berada sepenuhnya di bawah kekuasaan Allah.
Mengapa Satu Pekan Terdiri atas Tujuh Hari?
Jika Allah menciptakan alam dalam enam hari, mengapa manusia hidup dalam siklus tujuh hari?
Di sinilah menariknya.
Riwayat-riwayat para ulama menjelaskan bahwa penciptaan berlangsung dari Ahad hingga Jumat. Pada hari Jumat penciptaan Adam disempurnakan, sedangkan Sabtu menjadi hari setelah selesainya penciptaan.
Karena itu siklus kehidupan manusia berjalan dalam irama tujuh hari.
Islam kemudian menjadikan hari Jumat sebagai hari terbaik dalam satu pekan. Setiap tujuh hari kaum muslimin dikumpulkan untuk shalat Jumat, mendengarkan nasihat, memperbarui iman, dan mengevaluasi perjalanan hidupnya.
Seolah-olah Allah sedang mengajarkan bahwa manusia tidak boleh tenggelam terus dalam kesibukan dunia tanpa berhenti untuk kembali mengingat-Nya.
Mengapa Setahun Terdiri atas Dua Belas Bulan?
Jika pekan ditetapkan dalam siklus tujuh hari, bagaimana dengan satu tahun?
Allah sendiri yang menjawabnya.
«"Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi." (QS. At-Taubah: 36)»
Perhatikan redaksi ayat tersebut.
Allah tidak mengatakan bahwa manusia menetapkan dua belas bulan.
Allah menegaskan bahwa jumlah itu telah ditetapkan sejak hari penciptaan langit dan bumi.
Artinya, dua belas bulan bukan hasil keputusan suatu bangsa, bukan pula warisan sebuah kerajaan, melainkan bagian dari sunnatullah yang mengatur perjalanan alam.
Empat di antaranya dijadikan sebagai bulan-bulan haram: Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Dalam Haji Wada', Rasulullah ï·º menegaskan kembali ketetapan ini:
«"Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun terdiri atas dua belas bulan, dan empat di antaranya adalah bulan haram...." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)»
Kalimat "waktu telah berputar sebagaimana keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi" merupakan penegasan bahwa kalender telah kembali kepada susunan aslinya setelah praktik penyisipan dan penggeseran bulan (nasî') yang dilakukan masyarakat Arab Jahiliyah.
Ketika Allah Menguasai Waktu
Masihkah manusia menganggap waktu sebagai sesuatu yang mutlak?
Peristiwa Isra dan Mi'raj memberikan jawaban yang menakjubkan.
Dalam satu malam Rasulullah ï·º diperjalankan dari Makkah ke Baitul Maqdis, naik menembus tujuh langit, menyaksikan berbagai tanda kebesaran Allah, menerima kewajiban shalat, lalu kembali sebelum fajar menyingsing.
Bagi manusia, perjalanan itu tampak mustahil.
Namun bagi Allah yang menciptakan waktu, mempercepat atau memperlambat perjalanan bukanlah sesuatu yang sulit.
Karena itulah Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak ragu membenarkan berita Isra Mi'raj. Baginya, jika wahyu yang turun dari langit ke bumi dapat dipercaya, maka perjalanan luar biasa itu pun pasti benar.
Renungan
Mungkin selama ini kita mengira sedang mengatur waktu.
Padahal sesungguhnya kitalah yang diatur oleh waktu.
Hari berganti tanpa pernah terlambat.
Pekan berulang tanpa pernah keliru.
Bulan terus beredar tanpa pernah keluar dari orbitnya.
Tahun terus berganti sebagaimana ketetapan yang Allah tetapkan sejak penciptaan langit dan bumi.
Semua berjalan dalam keteraturan yang sempurna.
Pertanyaannya bukan lagi mengapa setahun dua belas bulan dan sepekan tujuh hari.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Sudahkah kita mengisi waktu yang Allah ciptakan itu dengan amal yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya?
0 komentar: