basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Anas bin Malik Kecil: Dididik dengan Budaya Melayani dan Tanggung Jawab Bagaimana karakter seorang anak dibentuk sejak kecil? Ki...

Anas bin Malik Kecil: Dididik dengan Budaya Melayani dan Tanggung Jawab


Bagaimana karakter seorang anak dibentuk sejak kecil? Kisah Anas bin Malik memberi jawaban yang jelas: melalui budaya melayani dan tanggung jawab yang ditanamkan secara langsung.

Saat Nabi Muhammad tiba di Madinah, Anas masih berusia sekitar sepuluh tahun. Ibunya, Ummu Sulaim, melihat peluang pendidikan yang tidak tergantikan. Ia membawa Anas menemui Nabi, sambil berkata, “Wahai Rasulullah, ini anakku Anas. Aku ingin ia melayanimu.”

Permintaan itu bukan sekadar penyerahan anak, tetapi strategi pendidikan. Nabi menerimanya dan mendoakan Anas: agar diberi keberkahan dalam harta dan keturunan. Sejak saat itu, Anas tumbuh dalam lingkungan kenabian selama kurang lebih sembilan tahun.

Menariknya, dalam seluruh masa pelayanan itu, Anas tidak pernah dimarahi. Ia sendiri bersaksi: Nabi tidak pernah berkata “mengapa kamu melakukan ini?” atau “seandainya kamu melakukan itu.” Namun, bukan berarti tidak ada pendidikan. Justru di situlah letak metode yang halus tetapi mendalam—membangun tanggung jawab tanpa merusak jiwa anak.

Suatu hari, Nabi meminta Anas menjalankan sebuah tugas. Dalam perjalanan, Anas melihat anak-anak seusianya bermain dan ia pun berhenti sejenak untuk memperhatikan. Tiba-tiba, seseorang memegang pundaknya dari belakang. Ia terkejut—ternyata Nabi, dengan senyum lembut, bertanya, “Anas, sudahkah engkau pergi ke tempat yang kuperintahkan?”

Tanpa bentakan, tanpa celaan. Anas segera tersadar dan menjawab, “Sekarang aku akan pergi.” Momen ini menunjukkan bagaimana tanggung jawab dibangun: bukan dengan tekanan, tetapi dengan kesadaran.

Dalam perspektif pendidikan modern, pendekatan ini sejalan dengan gagasan Maria Montessori yang menekankan pentingnya lingkungan dan pengalaman langsung dalam membentuk karakter anak.

Tujuh Manfaat Budaya Melayani dan Tanggung Jawab pada Anak:

1. Membangun empati sosial – anak belajar peduli terhadap kebutuhan orang lain.


2. Melatih kemandirian – terbiasa menyelesaikan tugas tanpa bergantung.


3. Meningkatkan disiplin diri – memahami kewajiban dan komitmen.


4. Menguatkan kepercayaan diri – merasa dirinya berguna dan dipercaya.


5. Membentuk etos kerja sejak dini – terbiasa aktif dan produktif.


6. Mengasah kontrol emosi – belajar menghadapi tugas tanpa mengeluh.


7. Menanamkan tanggung jawab moral – sadar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.



Dari kisah ini terlihat jelas: pendidikan terbaik bukan sekadar perintah, tetapi teladan dan pengalaman. Anas tidak hanya belajar melayani, tetapi tumbuh menjadi pribadi yang matang karena dilatih dengan cara yang penuh hikmah.

Sumber:
Adz-Dzahabi, Siyar A'lam An-Nubala, Pustaka Azzam, 2008
Mahmud Al-Misri, Ensiklopedia Sahabat, Pustaka Imam Syafi‘i, 2016

Al-Baqarah dan Ali 'Imran: Dua Cahaya yang Membangun dan Menjaga Peradaban Mengapa Allah menempatkan Surah Al-Baqarah dan Al...


Al-Baqarah dan Ali 'Imran: Dua Cahaya yang Membangun dan Menjaga Peradaban

Mengapa Allah menempatkan Surah Al-Baqarah dan Ali 'Imran secara berdampingan?

Keduanya merupakan dua surah terpanjang dalam Al-Qur'an. Rasulullah ﷺ menyebutnya Az-Zahrawain, dua surah yang bercahaya. Penyebutan ini mengisyaratkan bahwa keduanya bukan sekadar panjang, melainkan menjadi cahaya yang membimbing lahirnya sebuah umat sekaligus menjaga keberlangsungan peradabannya.

Jika ditelusuri secara tematik, keduanya membentuk satu rancangan pendidikan Ilahi yang utuh. Semakin diperhatikan susunannya, semakin tampak bahwa Al-Baqarah dan Ali 'Imran saling melengkapi.

Temuan Pertama: Keduanya Dibuka dan Dikuatkan dengan Pengenalan kepada Allah

Sebelum membangun peradaban, Al-Qur'an terlebih dahulu membangun pengenalan kepada Rabb semesta alam.

Di dalam Surah Al-Baqarah terdapat Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255), ayat yang disebut Rasulullah ﷺ sebagai ayat paling agung dalam Al-Qur'an. Di sana Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Al-Hayy dan Al-Qayyum, Dzat Yang Mahahidup dan terus-menerus mengurus seluruh makhluk.

Menariknya, Surah Ali 'Imran dibuka dengan kalimat yang sama:

«اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

"Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya." (QS. Ali 'Imran: 2)»

Seolah-olah Allah menegaskan bahwa peradaban tidak dibangun oleh kekuatan manusia semata, tetapi berdiri di atas pengenalan yang benar kepada-Nya.

Temuan Kedua: Keduanya Diakhiri dengan Doa

Al-Baqarah ditutup dengan doa yang sangat dikenal:

«"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah..." (QS. Al-Baqarah: 286).»

Doa ini hadir setelah surah tersebut membangun fondasi kehidupan Islam: akidah, ibadah, keluarga, ekonomi, jihad, kepemimpinan, hingga identitas umat.

Ali 'Imran pun berakhir dengan doa para ulul albab yang memohon ampunan, keteguhan iman, dan husnul khatimah (QS. Ali 'Imran: 191–194), kemudian ditutup dengan perintah:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (QS. Ali 'Imran: 200)»

Seluruh ilmu, hukum, dan perjuangan akhirnya bermuara pada doa dan ketergantungan kepada Allah.

Temuan Ketiga: Dua Dialog Besar dengan Ahlul Kitab

Al-Baqarah banyak berdialog dengan Bani Israil.

Allah mengungkap sejarah mereka, nikmat yang diingkari, perjanjian yang dilanggar, dan penyimpangan terhadap wahyu. Namun kritik tersebut selalu dikembalikan kepada kemuliaan leluhur mereka: Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, dan Nabi Ya'qub. Islam tidak memusuhi para nabi Bani Israil, bahkan memuliakan mereka sebagai pewaris tauhid.

Ali 'Imran bergerak pada medan dialog yang berbeda, yaitu komunitas Nasrani.

Karena itu Allah mengangkat keluarga Imran sebagai teladan. Istri Imran dipuji karena nazarnya, Maryam dimuliakan karena kesuciannya, dan Nabi Isa dijelaskan sebagai rasul Allah, bukan Tuhan ataupun anak Tuhan.

Dengan demikian, Al-Baqarah meluruskan penyimpangan Yahudi melalui kemuliaan Ibrahim dan keturunannya, sedangkan Ali 'Imran meluruskan penyimpangan Nasrani melalui kemuliaan keluarga Imran. Tokoh-tokoh yang mereka hormati justru dimuliakan pula oleh Islam.

Temuan Keempat: Nabi Ibrahim Menjadi Titik Temu

Di antara seluruh nabi, Ibrahim memperoleh posisi yang sangat istimewa dalam kedua surah.

Dalam Al-Baqarah, beliau tampil sebagai peletak fondasi umat. Allah mengangkatnya sebagai imam, memerintahkannya membangun Ka'bah bersama Ismail, serta mengabadikan doa beliau agar lahir seorang rasul dari keturunannya.

Dalam Ali 'Imran, Allah menjadikan Ibrahim sebagai tolok ukur kemurnian akidah:

«مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا

"Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi dia seorang yang hanif lagi berserah diri kepada Allah." (QS. Ali 'Imran: 67)»

Jika Al-Baqarah menunjukkan bagaimana Ibrahim membangun fondasi umat, maka Ali 'Imran menegaskan bahwa seluruh umat harus kembali kepada millah Ibrahim sebagai standar kemurnian tauhid.

Temuan Kelima: Dua Perang Pertama, Dua Pelajaran Kepemimpinan

Kedua surah juga sama-sama merekam peperangan pertama dalam sejarah masing-masing umat.

Al-Baqarah mengisahkan perang pertama Bani Israil di bawah kepemimpinan Thalut melawan Jalut. Kisah ini menanamkan prinsip bahwa kemenangan ditentukan oleh iman, kesabaran, dan ketaatan kepada pemimpin.

Ali 'Imran kemudian menghadirkan pengalaman nyata umat Muhammad ﷺ melalui Perang Badar dan Perang Uhud.

Tentang Badar Allah berfirman:

«وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Sungguh, Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Maka bertakwalah kepada Allah agar kamu bersyukur." (QS. Ali 'Imran: 123)»

Sedangkan setelah Uhud Allah menghibur kaum Muslimin:

«وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

"Janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati. Kamulah yang paling tinggi jika kamu benar-benar beriman." (QS. Ali 'Imran: 139)»

Badar mengajarkan syukur atas kemenangan, sedangkan Uhud mengajarkan evaluasi setelah kekalahan.

Temuan Keenam: Dari Membangun Menuju Menjaga Peradaban

Inilah puncak hubungan kedua surah tersebut.

Al-Baqarah membangun fondasi peradaban melalui syariat, akidah, keluarga, ekonomi, jihad, kepemimpinan, dan identitas umat.

Ali 'Imran memastikan fondasi itu tetap kokoh.

Karena itu Allah memperingatkan agar tidak menjadikan ayat-ayat mutasyabihat sebagai sumber fitnah (QS. Ali 'Imran: 7), memerintahkan umat berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak berpecah belah (QS. Ali 'Imran: 103), mengajarkan kepemimpinan yang lembut, pemaaf, penuh istighfar, dan mengedepankan musyawarah (QS. Ali 'Imran: 159).

Dengan demikian, Al-Baqarah mengajarkan bagaimana sebuah peradaban dibangun, sedangkan Ali 'Imran mengajarkan bagaimana peradaban itu dipelihara agar tidak runtuh oleh perpecahan dari dalam.

Kesimpulan

Urutan Al-Baqarah dan Ali 'Imran bukanlah kebetulan.

Al-Baqarah membangun fondasi peradaban: mengenalkan Allah, menegakkan syariat, menghidupkan tauhid melalui Nabi Ibrahim, membentuk identitas umat, dan menanamkan prinsip-prinsip kehidupan.

Ali 'Imran menjaga bangunan itu: memurnikan akidah, meluruskan dialog dengan Ahlul Kitab, mengambil pelajaran dari Badar dan Uhud, menguatkan persatuan, membangun kepemimpinan yang penuh kasih, serta menutup semuanya dengan doa, kesabaran, dan ketakwaan.

Inilah salah satu rahasia mengapa Rasulullah ﷺ menyebut keduanya Az-Zahrawain: dua cahaya yang membimbing umat sejak fondasi peradaban dibangun hingga peradaban itu tetap terjaga sepanjang zaman.


Nama-Nama Allah yang Paling Agung, Bagaimana Menyadarinya? Bagaimana cara mengenal Allah? Apakah cukup dengan menghafal Asmaul H...

Nama-Nama Allah yang Paling Agung, Bagaimana Menyadarinya?

Bagaimana cara mengenal Allah?

Apakah cukup dengan menghafal Asmaul Husna? Ataukah Allah sendiri mengajarkan jalan agar nama-nama-Nya benar-benar hidup dalam kesadaran manusia?

Menariknya, pada awal dua surah yang disebut Rasulullah ﷺ sebagai Az-Zahrawain, terdapat dua ayat yang memperkenalkan nama-nama Allah yang sangat agung.

Dalam Surah Al-Baqarah Allah berfirman,

«وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ

"Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 163)»

Sedangkan pada awal Surah Ali 'Imran Allah berfirman,

«اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ

"Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus (makhluk-Nya) secara terus-menerus." (QS. Ali 'Imran: 2)»

Kedua ayat ini memiliki pola yang hampir sama.

Keduanya diawali dengan kalimat tauhid:

"Lā ilāha illā Huwa" — Tidak ada tuhan selain Dia.

Setelah itu Allah memperkenalkan nama-nama-Nya.

Dalam Al-Baqarah: Ar-Rahman dan Ar-Rahim.

Dalam Ali 'Imran: Al-Hayy dan Al-Qayyum.

Mengapa setelah memperkenalkan nama-nama-Nya, Allah langsung melanjutkan dengan ayat berikutnya yang berbeda?

Al-Baqarah: Mengenal Allah melalui Tanda-Tanda Penciptaan

Sesudah memperkenalkan diri sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Allah tidak langsung memerintahkan manusia untuk berdebat atau berargumentasi.

Allah justru mengajak manusia melihat alam semesta.

«إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ... لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut, hujan yang menghidupkan bumi, berhembusnya angin, dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang menggunakan akalnya." (QS. Al-Baqarah: 164)»

Mengapa demikian?

Karena rahmat Allah bukan sekadar konsep yang diucapkan.

Rahmat itu dapat disaksikan.

Langit yang menaungi bumi.

Hujan yang menghidupkan tanah yang mati.

Pergantian malam dan siang.

Angin yang menggerakkan awan.

Kapal yang menghubungkan negeri-negeri.

Seluruh alam semesta merupakan manifestasi kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya.

Maka, jalan untuk menyadari bahwa Allah adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim adalah dengan merenungkan ayat-ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta.

Semakin dalam seseorang memahami ciptaan Allah, semakin kuat kesadarannya terhadap rahmat Allah.

Ali 'Imran: Mengenal Allah melalui Wahyu

Ali 'Imran mengambil jalan yang berbeda.

Setelah Allah memperkenalkan diri sebagai Al-Hayy dan Al-Qayyum, ayat berikutnya berbunyi,

«نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ

"Dialah yang menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dengan benar, membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Dia juga telah menurunkan Taurat dan Injil." (QS. Ali 'Imran: 3)»

Mengapa setelah menyebut Al-Hayy dan Al-Qayyum, Allah langsung berbicara tentang kitab-kitab wahyu?

Karena Allah Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus seluruh makhluk tidak membiarkan manusia berjalan tanpa petunjuk.

Pengaturan Allah bukan hanya tampak pada keteraturan alam semesta.

Pengaturan Allah juga tampak melalui wahyu yang membimbing kehidupan manusia.

Jika Al-Baqarah mengajak manusia membaca ayat-ayat Allah di alam, maka Ali 'Imran mengajak manusia membaca ayat-ayat Allah dalam wahyu.

Keduanya saling melengkapi.

Alam menunjukkan kekuasaan-Nya.

Wahyu menunjukkan kehendak-Nya.

Dua Jalan Menuju Pengenalan kepada Allah

Di sinilah tampak hubungan yang indah antara kedua surah tersebut.

Al-Baqarah mengajarkan bahwa mengenal Ar-Rahman dan Ar-Rahim dilakukan dengan memperhatikan ciptaan-Nya.

Ali 'Imran mengajarkan bahwa mengenal Al-Hayy dan Al-Qayyum dilakukan dengan menerima petunjuk wahyu-Nya.

Dengan kata lain, Allah mendidik manusia melalui dua "kitab".

Kitab yang terbentang di alam semesta.

Dan Kitab yang diturunkan sebagai wahyu.

Orang yang hanya membaca alam tetapi mengabaikan wahyu akan kehilangan arah.

Sebaliknya, orang yang membaca wahyu tanpa mau merenungkan ciptaan Allah akan kehilangan banyak tanda yang menguatkan imannya.

Karena itu, Al-Qur'an mengajak manusia menggabungkan keduanya.

Akal bekerja mengamati alam.

Hati tunduk menerima wahyu.

Refleksi

Mungkin inilah pelajaran yang ingin dibangun oleh Al-Baqarah dan Ali 'Imran sejak awal.

Allah tidak hanya memperkenalkan nama-nama-Nya.

Allah juga mengajarkan bagaimana menyadari nama-nama-Nya.

Rahmat-Nya disadari melalui ciptaan-Nya.

Keagungan-Nya sebagai Al-Hayy dan Al-Qayyum disadari melalui wahyu yang terus membimbing kehidupan manusia.

Ketika seseorang mampu membaca alam dan membaca wahyu secara bersamaan, ia tidak sekadar mengenal nama-nama Allah.

Ia mulai mengenal Rabb yang memperkenalkan diri-Nya melalui dua kitab: alam semesta dan Al-Qur'an.

Wahabi di Nusantara: Ketika Arus Pemurnian Bertemu Tradisi Apakah Nusantara hanya menjadi penerima pengaruh dari Timur Tengah? A...


Wahabi di Nusantara: Ketika Arus Pemurnian Bertemu Tradisi


Apakah Nusantara hanya menjadi penerima pengaruh dari Timur Tengah?

Ataukah Nusantara juga memberi warna terhadap gerakan-gerakan Islam yang datang dari luar?

Sejarah menunjukkan bahwa hubungan keduanya tidak pernah berjalan satu arah. Nusantara memang menerima pengaruh pemikiran dari Timur Tengah, tetapi pada saat yang sama juga mengolah, menyeleksi, dan membentuknya menjadi karakter Islam yang khas.

Salah satu contohnya adalah perjumpaan dengan gerakan yang kemudian dikenal sebagai Wahabi.

Sebelum Wahabi Lahir

Untuk memahami perjalanan ini, kita perlu mundur beberapa abad.

Ketika Imam Ibnu Taimiyah (1263–1328 M) mengemukakan gagasan pembaruan akidah dan pemurnian ajaran Islam di Damaskus, Nusantara sedang memasuki babak penting sejarahnya. Samudra Pasai berkembang sebagai kerajaan Islam, sementara Majapahit menjadi kekuatan besar di Jawa. Di belahan dunia lain, Eropa masih berada pada penghujung Abad Pertengahan.

Artinya, benih-benih pembaruan Islam di Timur Tengah telah muncul jauh sebelum gerakan Wahabi lahir pada abad ke-18.

Masuknya Pengaruh Wahabi ke Nusantara

Gerakan yang dipelopori oleh Muhammad bin 'Abd al-Wahhab (1703–1792 M) berkembang di Najd melalui kerja sama politik dengan keluarga Al Saud.

Menurut sejumlah sumber sejarah, menjelang akhir abad ke-18 mulai terdapat penyebar gagasan tersebut yang datang ke Nusantara. Buya Hamka dalam Dari Perbendaharaan Lama mencatat adanya orang-orang Arab yang membawa semangat pemurnian tauhid ke berbagai wilayah Jawa, seperti Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, Banten, dan Madura pada masa pemerintahan Paku Buwono IV.

Pada tahap awal, kehadiran mereka memperoleh sambutan yang cukup baik.

Mengapa?

Karena pesan utama yang mereka bawa adalah penguatan tauhid dan semangat kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

Namun, perkembangan itu segera menarik perhatian pemerintah kolonial Belanda.

Belanda melihat bahwa semangat keagamaan sering kali berubah menjadi semangat politik. Tauhid tidak hanya melahirkan pembaruan ibadah, tetapi juga keberanian menolak penjajahan.

Sebagian tokoh yang dicurigai menyebarkan pengaruh tersebut kemudian diawasi, ditangkap, bahkan diusir.

Dari Makkah ke Minangkabau

Gelombang berikutnya datang bukan melalui pedagang Arab, melainkan melalui ulama Nusantara sendiri.

Sekitar awal abad ke-19, tiga orang haji Minangkabau—Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang—kembali dari Makkah membawa semangat pembaruan yang mereka jumpai di Tanah Suci.

Di Minangkabau, gagasan itu bertemu dengan persoalan sosial yang telah lama berkembang.

Lahirlah Gerakan Padri.

Pada mulanya, gerakan ini berfokus pada reformasi moral dan keagamaan. Namun, setelah campur tangan Belanda, konflik berkembang menjadi perang melawan kolonialisme yang berlangsung selama lebih dari tiga dasawarsa.

Christine Dobbin dalam Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy menunjukkan bahwa Perang Padri tidak dapat dipahami hanya sebagai konflik keagamaan. Di dalamnya terdapat perubahan sosial, ekonomi, dan politik yang saling bertaut.

Dari Pemurnian Menuju Pembaruan

Memasuki awal abad ke-20, pengaruh pembaruan Islam tampil dalam wajah yang berbeda.

Di Minangkabau lahir Gerakan Kaum Muda.

Di Jawa muncul Muhammadiyah yang didirikan KH Ahmad Dahlan.

Di kalangan masyarakat Arab berkembang Al-Irsyad yang dipimpin Syekh Ahmad Surkati.

Meskipun sering dikaitkan dengan pengaruh pembaruan dari Timur Tengah, para sejarawan mengingatkan bahwa tidak tepat menyamakan seluruh gerakan pembaruan di Indonesia dengan Wahabisme.

Azyumardi Azra menjelaskan bahwa jaringan ulama Nusantara lebih banyak dipengaruhi tradisi reformisme yang luas di Haramain. Mereka menyerap gagasan pembaruan, tetapi tetap membawanya ke dalam konteks sosial dan budaya Nusantara.

Deliar Noer juga menunjukkan bahwa gerakan modernis Indonesia berkembang melalui pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, dan pembaruan pemikiran, bukan sekadar reproduksi gerakan Wahabi dari Najd.

Ketika Nusantara Memberi Warna

Di sinilah sejarah mengambil arah yang menarik.

Bukan hanya Timur Tengah yang memengaruhi Nusantara.

Nusantara pun mulai memengaruhi Timur Tengah.

Ketika Abdul Aziz Ibnu Saud menguasai Hijaz dan muncul kekhawatiran bahwa praktik empat mazhab akan dibatasi di Makkah dan Madinah, para ulama Nusantara mengambil langkah diplomasi.

Mereka membentuk Komite Hijaz.

Delegasi ini memohon agar umat Islam dari berbagai mazhab tetap diberi kebebasan menjalankan ajaran masing-masing di tanah suci.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu latar penting berdirinya Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926.

Peristiwa ini memperlihatkan sesuatu yang jarang disorot.

Ulama Nusantara tidak sekadar menerima pengaruh dari Timur Tengah.

Mereka juga membawa aspirasi umat Islam Asia Tenggara ke pusat dunia Islam.

Mengapa Berbeda dengan Salafi Arab Saudi?

Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa gerakan Salafi di Arab Saudi tampak berbeda dengan organisasi-organisasi Islam Indonesia yang pada awal sejarahnya sama-sama dipengaruhi arus pembaruan?

Jawabannya terletak pada proses transformasi.

Di Nusantara, setiap gagasan asing bertemu dengan tradisi pesantren, budaya musyawarah, pengalaman hidup dalam masyarakat majemuk, serta perjuangan panjang melawan kolonialisme.

Akibatnya, gagasan yang datang dari luar tidak diterima secara utuh.

Ia mengalami proses seleksi, penyesuaian, bahkan perubahan arah.

Muhammadiyah berkembang sebagai gerakan pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.

Nahdlatul Ulama mempertahankan tradisi fikih mazhab, tasawuf, dan pesantren sambil tetap terlibat dalam perjuangan kebangsaan.

Keduanya lahir dari konteks Indonesia, bukan sekadar perpanjangan tangan gerakan Timur Tengah.

Kesimpulan

Sejarah menunjukkan bahwa Nusantara bukan ruang kosong yang hanya menerima pengaruh.

Ia adalah ruang dialog.

Pemikiran dari Timur Tengah memang datang dan memberi warna.

Namun, ketika memasuki bumi Nusantara, pemikiran itu bertemu dengan tradisi lokal, pengalaman sejarah, dan kebutuhan masyarakat yang berbeda.

Hasilnya bukan salinan, melainkan transformasi.

Karena itu, lebih tepat mengatakan bahwa Nusantara bukan hanya diwarnai oleh arus pembaruan Islam, tetapi juga mewarnai perkembangan pemikiran Islam itu sendiri.

Di situlah letak kekhasan Islam Nusantara: terbuka terhadap pembaruan, tetapi tetap mampu mempertahankan identitasnya sendiri.

Mengobati Jiwa Saat Diejek dan Dihina Siapa yang tidak terluka ketika dihina? Siapa yang tidak sesak dadanya ketika menjadi baha...


Mengobati Jiwa Saat Diejek dan Dihina

Siapa yang tidak terluka ketika dihina?

Siapa yang tidak sesak dadanya ketika menjadi bahan olok-olok, difitnah, atau direndahkan di hadapan orang lain?

Perasaan itu sangat manusiawi. Bahkan Rasulullah ﷺ, manusia yang paling mulia, juga mengalaminya.

Ketika Rasulullah Menjadi Sasaran Ejekan

Pada fase awal dakwah di Mekah, Rasulullah ﷺ bukan hanya ditolak. Beliau dijadikan sasaran penghinaan.

Para pembesar Quraisy membentuk barisan yang dikenal sebagai al-mustahzi'un, yaitu orang-orang yang menjadikan ejekan sebagai senjata untuk menghentikan dakwah.

Di antara mereka ialah al-Walid bin Mughirah, al-'Ash bin Wa'il, al-'Adi bin Qais, Aswad bin Abdu Yaghuts, dan Aswad bin Muththalib.

Mereka tidak sekadar menolak ajaran Islam. Mereka berusaha menghancurkan kehormatan Rasulullah ﷺ.

Beliau dituduh sebagai penyihir, dukun, orang gila, bahkan pendusta. Al-Qur'an disebut sebagai dongeng orang-orang terdahulu. Ketika Rasulullah shalat di dekat Ka'bah, mereka mengganggu beliau. Ketika beliau berbicara kepada manusia, mereka menyebarkan fitnah agar tidak ada yang mau mendengarkan.

Mereka memahami bahwa jika pribadi Rasulullah berhasil diruntuhkan, dakwah pun akan ikut melemah.

Allah Lebih Dahulu Menenangkan Nabi

Lalu bagaimana Allah mengobati luka itu?

Yang menarik, Allah tidak langsung memerintahkan Rasulullah untuk membalas ejekan mereka.

Allah terlebih dahulu memberikan jaminan:

«اِنَّا كَفَيْنٰكَ الْمُسْتَهْزِءِيْنَ

"Sesungguhnya Kamilah yang akan memeliharamu dari orang-orang yang memperolok-olokkanmu." (QS. Al-Hijr: 95)»

Seolah Allah berfirman, "Wahai Muhammad, urusan mereka adalah urusan-Ku. Engkau tidak perlu membalas setiap ejekan. Aku sendiri yang akan mencukupimu."

Ini adalah terapi pertama bagi jiwa yang terluka: meyakini bahwa Allah mengetahui dan menjaga hamba-Nya.

Allah Mengakui Luka Itu

Namun Allah juga mengetahui bahwa jaminan itu tidak serta-merta menghilangkan rasa sakit.

Karena itu Allah berfirman:

«وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّكَ يَضِيْقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُوْلُوْنَ

"Sungguh, Kami benar-benar mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit karena apa yang mereka ucapkan." (QS. Al-Hijr: 97)»

Betapa indah ayat ini.

Allah tidak mengatakan, "Jangan bersedih."

Allah justru mengakui kesedihan Rasul-Nya.

Seakan-akan Allah berkata, "Aku mengetahui apa yang sedang engkau rasakan."

Inilah hiburan pertama. Seorang mukmin tidak pernah sendirian menghadapi luka batinnya.

Apa Obatnya?

Setelah mengakui kesedihan Rasulullah ﷺ, Allah tidak memerintahkan beliau membalas hinaan dengan hinaan.

Allah memberikan resep yang sangat berbeda.

«فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ السَّاجِدِيْنَ

"Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersujud." (QS. Al-Hijr: 98)»

Mengapa bertasbih?

Karena ketika manusia terlalu lama memikirkan perkataan manusia, jiwanya menjadi sempit.

Tetapi ketika ia memperbanyak mengingat Allah, ukuran persoalannya berubah. Yang semula terasa sangat besar menjadi kecil di hadapan kebesaran Allah.

Lalu Allah memerintahkan sujud.

Sujud adalah posisi paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya. Di tempat itulah luka-luka hati paling mudah disembuhkan.

Terus Beribadah, Jangan Berhenti Karena Hinaan

Allah kemudian menutup rangkaian ayat ini dengan pesan yang sangat kuat.

«وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ

"Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepastian (kematian)." (QS. Al-Hijr: 99)»

Jangan biarkan ejekan manusia menghentikan ibadahmu.

Jangan biarkan penghinaan membuatmu meninggalkan jalan yang benar.

Teruslah beribadah sampai akhir kehidupan.

Pelajaran bagi Kita

Rangkaian ayat ini mengajarkan urutan penyembuhan jiwa yang sangat indah.

Pertama, Allah memberikan rasa aman: "Kami akan mencukupimu."

Kedua, Allah mengakui rasa sakit hamba-Nya: "Kami mengetahui dadamu menjadi sempit."

Ketiga, Allah memberikan terapi ruhani: bertasbih, sujud, dan memperbanyak ibadah.

Keempat, Allah mengajarkan istiqamah: tetaplah beribadah hingga akhir hayat.

Ternyata obat bagi hati yang terluka bukanlah membalas setiap hinaan.

Obatnya adalah semakin dekat kepada Allah.

Semakin keras suara manusia merendahkan kita, semakin kuat pula alasan untuk memperbanyak tasbih, memperpanjang sujud, dan mengokohkan ibadah.

Karena pada akhirnya, bukan manusia yang menentukan kemuliaan seseorang.

Allah-lah yang menjaga kehormatan hamba-hamba-Nya yang tetap teguh di jalan-Nya.

Definisi Nikmat yang Salah? Setiap kebaikan, kelezatan, dan kebahagiaan, bahkan segala sesuatu yang dicari, diinginkan, dan diut...

Definisi Nikmat yang Salah?

Setiap kebaikan, kelezatan, dan kebahagiaan, bahkan segala sesuatu yang dicari, diinginkan, dan diutamakan manusia, sering disebut sebagai nikmat. Namun, bagaimana pandangan Imam Al-Ghazali tentang hal ini?

Menurut Imam Al-Ghazali, hakikat kenikmatan sejati adalah kebahagiaan akhirat. Karena itu, menamai selainnya sebagai nikmat hakiki merupakan kekeliruan, atau paling jauh hanya dapat dipahami sebagai kiasan.

Kebahagiaan duniawi yang tidak membantu seseorang menuju kebahagiaan akhirat sejatinya bukanlah nikmat yang sesungguhnya. Sebab, nikmat yang hakiki adalah segala sesuatu yang menjadi sebab seseorang sampai kepada kebahagiaan akhirat atau menolongnya menuju ke sana, baik secara langsung maupun melalui beberapa perantara.

Dengan demikian, ukuran sebuah nikmat bukan terletak pada seberapa besar kesenangan yang dirasakan di dunia, melainkan pada sejauh mana hal itu mengantarkan manusia kepada keselamatan dan kebahagiaan abadi di akhirat.

Sumber;
Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Republika Penerbit, 2016

Rasulullah saw Duduk Saat Shalat karena Lapar Suatu hari Abu Hurairah melihat Rasulullah saw shalat sambil duduk. Bukankah sehar...

Rasulullah saw Duduk Saat Shalat karena Lapar

Suatu hari Abu Hurairah melihat Rasulullah saw shalat sambil duduk. Bukankah seharusnya shalat sambil berdiri, kecuali bila sakit?

Setelah Rasulullah saw menyelesaikan shalatnya. Abu Hurairah mendekati Rasulullah saw, lalu bertanya,

"Wahai Rasulullah, aku melihatmu shalat sambil duduk, ada apa gerangan denganmu?"

Rasulullah saw bersabda,

"Lapar, wahai Abu Hurairah."

Abu Hurairah mendengar hal itu langsung menangis. 

Rasulullah saw pun menghibur Abu Hurairah,

"Jangan menangis wahai Abu Hurairah, sesungguhnya sulitnya hari Kiamat tidak menimpa orang-orang yang lapar di dunia tatkala sabar dan mengharapkan pahala dari Allah."

Sumber:
Ali Muhammad Jarisyah, Syarah Syiar Tarbiyah, Era Intermedia, 2021

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (44) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (8) Dakwah (2) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (19) Kecerdasan (313) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (51) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (101) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (5) Nusantara (266) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (656) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (299) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (247) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (171) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (31) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)