Hati Menjadi Keras, Seperti Tanah yang Dibakar Api
Kisah Nabi Adam menjelaskan asal penciptaan dua makhluk yang akan terus berinteraksi hingga hari kiamat: manusia dan iblis. Manusia diciptakan dari tanah liat yang kering dan hitam, sedangkan iblis diciptakan dari api.
Dari sini muncul sebuah pertanyaan sederhana: apa yang terjadi jika tanah liat terus-menerus terkena api?
Tanah yang semula lembut, lentur, dan mudah dibentuk akan berubah menjadi keras. Semakin tinggi suhu api yang membakarnya, semakin keras pula tanah itu hingga menjadi batu bata yang kokoh dan sulit dihancurkan.
Gambaran ini mengingatkan kita pada sebuah peristiwa dalam dakwah Nabi Musa kepada Fir'aun. Ketika Musa mengajak Fir'aun beriman kepada Allah, ia justru merespons dengan kesombongan.
Allah berfirman:
«"Dan Fir'aun berkata, 'Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarkanlah tanah liat untukku wahai Haman, lalu buatkanlah bangunan yang tinggi agar aku dapat melihat Tuhan Musa. Dan sungguh, aku yakin dia termasuk para pendusta.'" (QS. Al-Qashash: 38)»
Dalam ayat ini, Fir'aun memerintahkan tanah liat dibakar untuk dijadikan batu bata yang keras. Tanah yang awalnya gembur dan lunak berubah menjadi keras karena terus-menerus terkena api.
Begitulah perumpamaan hati manusia.
Inti manusia adalah hatinya. Rasulullah ï·º menjelaskan bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging; jika ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasad. Hati adalah raja yang menentukan arah kehidupan manusia.
Karena itu, salah satu hukuman paling berat bagi seorang hamba adalah ketika hatinya menjadi keras.
Muhammad Ath-Thahir Ibn 'Asyur dalam At-Tahrir wa At-Tanwir menyebutkan:
«"Seorang hamba tidaklah dihukum dengan hukuman yang lebih besar daripada dijadikannya hati itu keras. Tidaklah Allah murka kepada suatu kaum kecuali Dia mencabut kasih sayang-Nya dari mereka."»
Lalu apa yang menyebabkan hati menjadi keras?
Sebagaimana tanah liat mengeras karena dibakar api, hati manusia mengeras ketika terus-menerus berada dalam pengaruh setan, hawa nafsu, dan dosa. Setiap kali seseorang mengikuti bisikan setan, sedikit demi sedikit kelembutan hatinya berkurang. Jika hal itu berlangsung terus-menerus, hatinya menjadi keras sebagaimana batu bata yang dibakar tanpa henti.
Allah berfirman:
«"Dia (Allah) hendak menjadikan godaan yang ditimbulkan setan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang yang berhati keras. Dan sungguh orang-orang yang zalim itu benar-benar berada dalam permusuhan yang jauh." (QS. Al-Hajj: 53)»
Hati yang keras memiliki banyak tanda. Salah satu tanda utamanya adalah hilangnya dzikir kepada Allah. Hati tidak lagi merasa tenang ketika mengingat-Nya, tidak tersentuh oleh ayat-ayat-Nya, dan tidak tergerak oleh nasihat.
Allah berfirman:
«"Maka celakalah orang-orang yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu berada dalam kesesatan yang nyata." (QS. Az-Zumar: 22)»
Sejarah juga memberikan banyak contoh tentang keras dan lunaknya hati manusia.
Bal'am bin Ba'ura memiliki ilmu yang tinggi, tetapi ketika hatinya dibakar oleh kecintaan kepada dunia, ilmunya tidak mampu menyelamatkannya. Sebaliknya, Umar bin Khattab yang terkenal keras sebelum Islam justru luluh ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur'an. Sementara Bani Israil menyaksikan berbagai mukjizat secara langsung, namun pembangkangan yang terus-menerus membuat hati mereka tetap keras dan sulit menerima kebenaran.
Semua kisah itu menunjukkan bahwa masalah utama manusia bukanlah kurangnya bukti, melainkan keadaan hati.
Jika api dosa mengeraskan hati, maka dzikir adalah air yang melembutkannya. Jika maksiat meninggalkan kerak-kerak hitam pada hati, maka istighfar adalah sarana untuk membersihkannya.
Tanah yang terus disiram air akan tetap subur dan siap menumbuhkan berbagai tanaman. Demikian pula hati yang senantiasa dibasahi dengan dzikir, tilawah Al-Qur'an, istighfar, dan amal saleh akan tetap lembut, hidup, serta siap menerima petunjuk Allah.
Tanah dan api adalah perumpamaan yang sangat sederhana, tetapi sangat dalam maknanya. Tanah yang dibakar terus-menerus akan menjadi keras. Hati yang terus-menerus terpapar godaan setan dan dosa juga akan mengeras. Sebaliknya, hati yang selalu disirami dengan mengingat Allah akan tetap hidup, lembut, dan subur dengan keimanan.
0 komentar: