Bila Sesuatu Pergi dan Hilang?
Kehilangan adalah salah satu pengalaman yang pasti dialami setiap manusia.
Ada yang kehilangan harta, jabatan, kesempatan, pasangan hidup, sahabat, kesehatan, bahkan masa-masa terbaik dalam hidupnya. Ketika itu terjadi, muncul pertanyaan yang sama di dalam hati banyak orang:
Apakah yang pergi akan benar-benar diganti oleh Allah?
Pertanyaan ini membawa kita kepada sebuah ayat yang pada awalnya berbicara tentang pergantian hukum syariat, namun menyimpan sebuah prinsip besar tentang cara Allah mengatur kehidupan manusia.
Allah berfirman:
«"Ayat yang Kami nasakh (batalkan) atau Kami jadikan manusia lupa kepadanya, pasti Kami datangkan yang lebih baik darinya atau yang sebanding dengannya."
(QS. Al-Baqarah: 106)»
Secara konteks, ayat ini menjelaskan tentang nasakh, yaitu pergantian suatu hukum syariat dengan hukum lain yang lebih sesuai dengan maslahat umat. Namun para ulama menjelaskan bahwa di balik ayat ini terdapat pola besar yang menunjukkan bagaimana Allah mengelola kehidupan: Allah tidak mengganti sesuatu secara sia-sia.
Setiap pergantian memiliki hikmah, tujuan, dan kemaslahatan yang lebih besar.
Menyelidiki Pola Pergantian dalam Al-Qur'an
Jika dicermati, ayat tersebut menggunakan dua kemungkinan:
- Allah mengganti dengan sesuatu yang lebih baik (khairun minha).
- Allah mengganti dengan sesuatu yang setara atau sebanding (mitsliha).
Artinya, dalam sunnatullah, kehilangan bukan sekadar pengurangan. Ia sering kali merupakan proses pertukaran.
Kadang manusia hanya melihat apa yang dicabut, tetapi tidak melihat apa yang sedang dipersiapkan.
Prinsip ini diperkuat oleh ayat berikutnya:
«"Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi? Dan tidak ada bagimu pelindung maupun penolong selain Allah."
(QS. Al-Baqarah: 107)»
Di sinilah letak akar persoalannya.
Manusia sering merasa hancur karena kehilangan sesuatu yang selama ini dijadikan sandaran hidup. Ketika sandaran itu hilang, ia merasa kehilangan segalanya.
Padahal Al-Qur'an mengingatkan bahwa pemilik sebenarnya dari segala sesuatu adalah Allah. Apa yang datang berasal dari-Nya, dan apa yang pergi pun kembali kepada-Nya.
Kasus Nyata: Ketika Ummu Salamah Kehilangan Segalanya
Salah satu contoh paling nyata dari prinsip ini adalah kisah Ummu Salamah ra.
Beliau kehilangan suaminya, Abu Salamah, salah seorang sahabat utama Rasulullah ï·º. Kesedihan yang dirasakannya sangat besar.
Dalam keadaan berduka, beliau mengingat doa yang diajarkan Nabi:
«"Ya Allah, berilah pahala atas musibahku dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya."»
Ummu Salamah mengaku sempat bertanya dalam hati:
"Siapa yang lebih baik daripada Abu Salamah?"
Pertanyaan itu sangat manusiawi.
Ketika kehilangan sesuatu yang sangat dicintai, kita sering tidak mampu membayangkan adanya pengganti yang lebih baik.
Namun beberapa waktu kemudian, Allah memberikan jawaban yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Ummu Salamah dipersunting oleh Rasulullah ï·º dan menjadi Ummul Mukminin.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa keterbatasan manusia bukanlah keterbatasan Allah.
Apa yang tampak sebagai akhir sering kali hanyalah awal dari ketetapan yang lebih besar.
Tidak Selalu Berupa Materi
Di sinilah banyak orang keliru memahami konsep penggantian dari Allah.
Mereka mengira bahwa jika kehilangan uang, maka penggantinya harus berupa uang yang lebih banyak.
Jika kehilangan pekerjaan, maka penggantinya harus berupa pekerjaan yang lebih tinggi.
Padahal para ulama menjelaskan bahwa penggantian Allah memiliki bentuk yang jauh lebih luas.
Terkadang Allah mengganti harta dengan ketenangan.
Terkadang Allah mengganti jabatan dengan keselamatan.
Terkadang Allah mengganti kehilangan seseorang dengan kedewasaan, hikmah, dan kedekatan kepada-Nya.
Bahkan ada kalanya penggantian itu tidak diberikan di dunia, tetapi disimpan sebagai pahala yang jauh lebih besar di akhirat.
Karena itu, ukuran "lebih baik" menurut Allah tidak selalu identik dengan ukuran "lebih menyenangkan" menurut manusia.
Ketika Kehilangan Ternyata Adalah Perlindungan
Al-Qur'an juga memberikan ilustrasi menarik dalam kisah Nabi Musa dan Khidir.
Khidir melubangi perahu milik orang-orang miskin.
Secara lahiriah, tindakan itu tampak merugikan.
Namun di balik kerusakan kecil tersebut terdapat penyelamatan yang lebih besar: perahu itu terhindar dari perampasan oleh raja yang zalim.
Kisah ini mengajarkan satu pelajaran penting:
Tidak semua kehilangan adalah hukuman.
Sebagian kehilangan justru merupakan bentuk perlindungan yang belum kita pahami.
Manusia hanya melihat peristiwa hari ini.
Allah melihat seluruh rangkaian kehidupan hingga akhir.
Mengapa Kehilangan Terasa Sangat Berat?
Jawabannya terdapat pada Al-Baqarah ayat 107.
Semakin besar ketergantungan hati kepada sesuatu selain Allah, semakin besar rasa sakit ketika sesuatu itu pergi.
Karena itu, terkadang Allah mencabut sesuatu bukan karena murka, melainkan karena kasih sayang.
Allah ingin mengembalikan posisi-Nya sebagai tempat bergantung yang utama dalam hati seorang hamba.
Apa yang hilang mungkin bukan tujuan akhir.
Yang sedang dibangun Allah adalah hubungan yang lebih kuat antara hamba dan Rabb-nya.
Kesimpulan: Kehilangan atau Pertukaran?
Ketika sesuatu pergi dari hidup kita, pertanyaan yang tepat mungkin bukan:
"Mengapa Allah mengambilnya?"
Tetapi:
"Apa yang sedang Allah siapkan sebagai gantinya?"
Al-Baqarah ayat 106 mengajarkan bahwa pergantian adalah bagian dari sunnatullah. Allah dapat mengganti dengan sesuatu yang lebih baik atau setidaknya sebanding. Sedangkan ayat 107 mengingatkan bahwa semua itu berada di bawah kekuasaan Pemilik langit dan bumi.
Karena itu, seorang mukmin tidak memandang kehilangan sebagai akhir perjalanan.
Ia memandangnya sebagai fase perpindahan dari satu ketetapan Allah menuju ketetapan Allah yang lain.
Sebab dalam pandangan tauhid, tidak ada sesuatu yang benar-benar hilang dari seorang hamba yang bersandar kepada Allah.
0 komentar: