Apa yang Dilakukan Nabi Ibrahim di Irak Sebelum Hijrah ke Palestina?
Ketika nama Nabi Ibrahim disebut, banyak orang langsung membayangkan Ka'bah di Makkah atau tanah Palestina yang diberkahi. Padahal, fase yang paling menentukan dalam pembentukan kepribadian beliau justru terjadi jauh sebelumnya, di wilayah yang sekarang bernama Irak.
Di sanalah Ibrahim tumbuh, berpikir, berdakwah, berdebat, menghadapi penguasa, hingga akhirnya terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya.
Pertanyaannya, apa sebenarnya yang dilakukan Nabi Ibrahim di Irak sebelum akhirnya berhijrah ke Palestina?
Lahir di Jantung Peradaban Dunia
Nabi Ibrahim lahir di wilayah Ur Kasdim, sebuah kota besar di Mesopotamia bagian selatan yang kini berada di sekitar Nasiriyah, Irak.
Ur bukanlah daerah terpencil. Kota ini merupakan salah satu pusat peradaban paling maju pada masanya. Bangunan-bangunan megah menjulang. Sistem perdagangan berkembang. Ilmu astronomi dikenal luas. Administrasi pemerintahan tersusun rapi.
Namun di balik kemajuan tersebut terdapat masalah mendasar.
Masyarakat Ur tenggelam dalam penyembahan berhala.
Mereka menyembah patung-patung yang dibuat oleh tangan mereka sendiri. Sebagian memuja benda-benda langit seperti matahari, bulan, dan bintang. Kemajuan teknologi ternyata tidak otomatis melahirkan kejernihan akidah.
Di tengah lingkungan seperti itulah Ibrahim tumbuh.
Memulai Dakwah dengan Pertanyaan
Al-Qur'an tidak menggambarkan Ibrahim memulai dakwahnya dengan pidato panjang.
Beliau memulai dengan pertanyaan.
Pertanyaan sederhana, tetapi mengguncang fondasi keyakinan kaumnya.
"Apa yang kalian sembah?" (QS. Asy-Syu'ara: 70)
Kaumnya menjawab dengan jujur:
"Kami menyembah berhala-berhala dan senantiasa tekun beribadah kepadanya." (QS. Asy-Syu'ara: 71)
Di sinilah metode dakwah Ibrahim mulai terlihat.
Beliau tidak langsung menyerang. Beliau mengajak mereka berpikir.
"Apakah berhala-berhala itu mendengar ketika kalian berdoa?"
"Apakah mereka dapat memberi manfaat atau menimpakan mudarat?" (QS. Asy-Syu'ara: 72-73)
Pertanyaan demi pertanyaan itu memaksa masyarakat Ur menghadapi kenyataan yang selama ini mereka abaikan.
Jika sesembahan itu tidak dapat mendengar, tidak dapat menolong, dan tidak dapat melindungi, mengapa mereka tetap disembah?
Mengungkap Akar Kesesatan: Taklid kepada Tradisi
Jawaban kaumnya ternyata sangat menarik.
Mereka tidak memberikan argumen rasional.
Mereka tidak menunjukkan bukti bahwa berhala dapat menolong.
Mereka hanya berkata:
"Kami mendapati nenek moyang kami melakukan hal yang sama." (QS. Asy-Syu'ara: 74)
Di sinilah Ibrahim menemukan akar persoalan sebenarnya.
Masalah mereka bukan kurang informasi.
Masalah mereka adalah taklid buta kepada tradisi.
Karena itu Ibrahim menantang mereka untuk memeriksa ulang warisan yang selama ini diterima tanpa berpikir.
"Apakah kalian memperhatikan apa yang kalian sembah, kalian dan nenek moyang kalian dahulu?" (QS. Asy-Syu'ara: 75-76)
Dengan kata lain, Ibrahim sedang melakukan revolusi intelektual.
Beliau mengajarkan bahwa kebenaran tidak diukur dari banyaknya pengikut atau panjangnya tradisi, melainkan dari kesesuaiannya dengan akal sehat dan wahyu Allah.
Deklarasi Tauhid di Tengah Tekanan
Setelah membongkar kelemahan logika penyembahan berhala, Ibrahim mengambil langkah yang lebih tegas.
Beliau mendeklarasikan identitasnya.
"Sesungguhnya berhala-berhala itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam." (QS. Asy-Syu'ara: 77)
Ini bukan sekadar pernyataan teologis.
Ini adalah deklarasi perlawanan terhadap sistem sosial, ekonomi, dan keagamaan yang menguasai masyarakat saat itu.
Ibrahim tidak hanya menolak patung-patung.
Beliau menolak seluruh struktur keyakinan yang menopang peradaban syirik tersebut.
Sejak saat itu, benturan antara Ibrahim dan kaumnya tidak lagi dapat dihindari.
Dari Perdebatan Menuju Konfrontasi
Penolakan terhadap berhala berkembang menjadi konflik terbuka.
Menurut berbagai riwayat tafsir, Ibrahim menghancurkan patung-patung yang disembah kaumnya untuk menunjukkan kelemahan sesembahan tersebut.
Tindakan itu mengguncang masyarakat.
Bagi mereka, Ibrahim bukan sekadar pembangkang. Ia dianggap ancaman terhadap identitas kolektif bangsa.
Puncaknya adalah keputusan untuk menghukumnya dengan cara dibakar hidup-hidup.
Api besar dinyalakan.
Namun Al-Qur'an mengabadikan mukjizat yang mengubah sejarah itu.
Allah menyelamatkan Ibrahim dan menjadikan api tersebut dingin dan tidak membahayakannya.
Peristiwa itu bukan hanya kemenangan pribadi seorang nabi.
Itu adalah kekalahan simbolik bagi sistem syirik yang selama ini dianggap tak terkalahkan.
Hijrah: Ketika Dakwah Tidak Lagi Memungkinkan
Meski selamat dari hukuman mati, kondisi masyarakat tidak banyak berubah.
Mayoritas tetap menolak dakwah tauhid.
Di sinilah muncul salah satu keputusan terbesar dalam hidup Nabi Ibrahim.
Hijrah.
Beliau meninggalkan tanah kelahirannya demi mempertahankan iman dan melanjutkan misi dakwah.
Menurut riwayat sejarah, perjalanan hijrah itu berlangsung bertahap.
Dari Ur beliau bergerak menuju Harran, wilayah yang sekarang berada di sekitar perbatasan Turki dan Suriah.
Namun ternyata Harran juga merupakan pusat penyembahan benda-benda langit.
Ibrahim kembali berdakwah di sana.
Beliau kembali mengajak manusia menggunakan akal dan kembali kepada tauhid.
Setelah fase tersebut, beliau melanjutkan perjalanan menuju tanah Kanaan, wilayah yang kini dikenal sebagai Palestina.
Palestina: Awal Babak Baru Peradaban Tauhid
Jika Irak adalah tempat Ibrahim membongkar kesesatan, maka Palestina menjadi tempat beliau membangun fondasi peradaban tauhid.
Di sanalah beliau menetap bersama Sarah.
Di sanalah Nabi Luth berdakwah.
Dari kawasan itulah lahir mata rantai panjang para nabi yang kelak membimbing umat manusia.
Dengan demikian, fase Irak bukanlah sekadar latar belakang sejarah Nabi Ibrahim.
Irak adalah laboratorium pembentukan seorang rasul.
Di sana beliau belajar menghadapi tekanan keluarga, menentang tradisi yang salah, berhadapan dengan kekuasaan, serta mempertahankan kebenaran meskipun harus kehilangan tanah kelahiran.
Karena itu Al-Qur'an tidak sekadar menceritakan kisah Ibrahim sebagai catatan masa lalu.
Allah memerintahkan:
"Sungguh telah ada pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya suri teladan yang baik bagi kalian." (QS. Al-Mumtahanah: 4)
Teladan itu bukan hanya tentang keberanian menghancurkan berhala batu.
Tetapi juga keberanian menghancurkan berhala yang lebih berbahaya: kebiasaan mengikuti tradisi tanpa berpikir, tunduk kepada tekanan mayoritas, dan takut mempertahankan kebenaran ketika seluruh lingkungan menentangnya.
Di Irak, Ibrahim memulai perjuangannya sebagai pencari kebenaran.
Di Palestina, beliau memulai pembangunan peradaban tauhid.
0 komentar: