Maha Berkehendak Allah Siapakah yang menentukan akhir dari setiap perjalanan manusia? Siapakah yang mengubah tawa menjadi tangis...
Maha Berkehendak Allah
Bergembira dengan Hembusan Angin, Mengapa Tidak Bergembira dengan Diutusnya Rasul? Mengapa manusia begitu mudah bergembira ket...
Bergembira dengan Hembusan Angin, Mengapa Tidak Bergembira dengan Diutusnya Rasul?
Mengapa manusia begitu mudah bergembira ketika angin bertiup membawa awan hujan, tetapi banyak yang justru menolak ketika Allah mengutus seorang rasul?
Pertanyaan itu menjadi salah satu pola yang menarik dalam Surah Ar-Rūm. Di tengah pembahasan tentang tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, Al-Qur'an menyisipkan kisah para rasul. Sekilas tampak sebagai tema yang berbeda. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, keduanya justru disusun dalam satu alur yang saling menjelaskan.
Dua Utusan dari Langit
Allah memulai dengan menjelaskan bahwa angin merupakan salah satu tanda kekuasaan-Nya.
"Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira..." (QS. Ar-Rūm: 46)
Angin datang membawa kabar baik. Ia menggerakkan awan, menghadirkan hujan, menghidupkan pertanian, menggerakkan pelayaran, membuka perdagangan, dan menjadi jalan manusia mencari rezeki. Seluruh proses itu berakhir dengan satu tujuan: agar manusia bersyukur kepada Allah.
Namun, tepat setelah membahas angin, Al-Qur'an beralih kepada utusan yang lain.
"Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus sebelum engkau beberapa orang rasul kepada kaumnya..." (QS. Ar-Rūm: 47)
Perpindahan tema ini bukanlah kebetulan. Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa jika angin membawa manfaat besar bagi kehidupan dunia, maka para rasul membawa manfaat yang jauh lebih besar karena mereka membawa wahyu, petunjuk, dan keselamatan bagi kehidupan dunia sekaligus akhirat.
Dengan kata lain, Surah Ar-Rūm sedang memperlihatkan dua bentuk "pengutusan" dari Allah: pengutusan angin untuk menghidupkan bumi, dan pengutusan rasul untuk menghidupkan hati manusia.
Mengapa Angin Disambut, Rasul Ditolak?
Ketika angin menggiring awan dan hujan mulai turun, reaksi manusia digambarkan sangat spontan.
"...Apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, seketika itu pula mereka bergembira." (QS. Ar-Rūm: 48)
Padahal sebelumnya mereka hampir berputus asa karena kemarau panjang.
Mereka memahami bahwa hujan berarti kehidupan. Sawah kembali hijau, ternak terselamatkan, sungai kembali mengalir, dan roda ekonomi berputar lagi.
Namun ironisnya, kegembiraan yang sama tidak selalu muncul ketika Allah mengutus para rasul.
Padahal, jika hujan menghidupkan bumi yang mati, wahyu menghidupkan hati yang telah mati oleh kesyirikan, kezaliman, dan hawa nafsu.
Karena itu, manfaat diutusnya seorang rasul sesungguhnya jauh melampaui manfaat turunnya hujan.
Rahmat yang Terlihat dan Rahmat yang Tidak Terlihat
Allah kemudian mengajak manusia memperhatikan jejak rahmat-Nya.
"Perhatikanlah jejak-jejak rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering)." (QS. Ar-Rūm: 50)
Tanah yang sebelumnya tandus berubah menjadi subur. Bumi yang mati kembali dipenuhi kehidupan.
Perubahan itu menjadi bukti nyata bahwa Allah juga mampu menghidupkan manusia setelah kematian pada Hari Kebangkitan.
Sebagaimana hujan menghidupkan bumi, wahyu yang dibawa para rasul menghidupkan manusia dari kematian spiritual menuju kehidupan iman.
Rahmat Allah ternyata hadir dalam dua bentuk: rahmat yang tampak oleh mata melalui hujan, dan rahmat yang membimbing jiwa melalui wahyu.
Ketika Nikmat Berubah Menjadi Ujian
Surah Ar-Rūm tidak berhenti pada kisah turunnya hujan.
Allah mengingatkan bahwa angin yang sama juga dapat berubah menjadi sebab kehancuran.
"Sungguh, jika Kami mengirimkan angin, lalu mereka melihat tumbuh-tumbuhan itu menguning, niscaya setelah itu mereka tetap berbuat ingkar." (QS. Ar-Rūm: 51)
Angin yang sebelumnya membawa kabar gembira dapat berubah menjadi ujian. Tanaman mengering, hasil panen gagal, dan manusia kembali diuji: apakah mereka tetap bersyukur atau justru mengingkari nikmat Allah.
Demikian pula dengan risalah para rasul. Sebagian manusia menerima petunjuk sehingga memperoleh keselamatan. Sebagian lainnya menolak sehingga menerima akibat dari kedurhakaannya.
Karena itu Allah menegaskan bahwa para rasul datang membawa bukti-bukti yang nyata. Ketika kaumnya tetap membangkang, Allah menimpakan pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa, sedangkan orang-orang beriman memperoleh pertolongan-Nya.
Pelajaran Besar Surah Ar-Rūm
Rangkaian ayat ini memperlihatkan pola yang sangat menarik.
Angin diutus untuk menghidupkan bumi.
Rasul diutus untuk menghidupkan hati.
Hujan menghadirkan kehidupan jasmani.
Wahyu menghadirkan kehidupan ruhani.
Manusia bergembira ketika melihat awan mendung yang menjanjikan hujan. Namun, Al-Qur'an mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam: mengapa manusia tidak menyambut dengan kegembiraan yang sama ketika Allah mengutus para rasul yang membawa petunjuk menuju keselamatan dunia dan akhirat?
Jika hembusan angin saja layak disambut sebagai kabar gembira, maka diutusnya para nabi dan rasul adalah rahmat yang jauh lebih agung. Sebab melalui merekalah Allah tidak hanya menghidupkan bumi, tetapi juga membangunkan hati manusia menuju jalan yang lurus dan kemenangan yang hakiki.
Dua Model Pergantian Rezim Penguasa dalam Sirah Nabawiyah Bagaimana sebuah rezim berganti tanpa meninggalkan perang saudara ya...
Dua Model Pergantian Rezim Penguasa dalam Sirah Nabawiyah
Dua Model Pergantian Rezim Penguasa dalam Sirah Nabawiyah
Bagaimana sebuah rezim berganti tanpa meninggalkan perang saudara yang berkepanjangan?
Pertanyaan ini menjadi salah satu tema besar dalam sejarah politik manusia. Banyak pergantian kekuasaan berakhir dengan balas dendam, pembersihan politik, atau lahirnya konflik baru. Namun Sirah Nabawiyah memperlihatkan dua model transisi kekuasaan yang berbeda, tetapi sama-sama menghasilkan stabilitas.
Model pertama lahir ketika pemimpin berasal dari luar sistem kekuasaan yang ada. Model kedua muncul ketika rezim lama berhasil dikalahkan sepenuhnya. Menariknya, keduanya berakhir dengan konsolidasi masyarakat, bukan kekacauan.
Model Pertama: Hijrah ke Madinah
Ketika Rasulullah saw. berhijrah ke Madinah, beliau bukan berasal dari suku Aus maupun Khazraj. Beliau datang sebagai tokoh dari luar kota yang membawa risalah dan tata nilai yang baru.
Situasi politik Madinah saat itu sangat kompleks.
Aus dan Khazraj merupakan dua suku terbesar secara demografis, tetapi keduanya baru saja melewati konflik panjang yang melemahkan persatuan mereka. Di sisi lain, kelompok Yahudi memiliki pengaruh yang kuat dalam bidang ekonomi dan memiliki posisi penting dalam keseimbangan politik kota.
Bahkan, menjelang hijrah Rasulullah saw., Abdullah bin Ubay bin Salul hampir dinobatkan sebagai pemimpin Madinah.
Mengapa justru seorang tokoh dari luar yang akhirnya memperoleh legitimasi?
Para ahli sirah seperti Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam menunjukkan bahwa masyarakat Yatsrib membutuhkan sosok penengah yang tidak terikat dengan konflik lama. Rasulullah saw. diterima bukan melalui perebutan kekuasaan, tetapi melalui kesepakatan bersama yang kemudian diwujudkan dalam Piagam Madinah.
Menurut Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, Rasulullah saw. tidak menghapus identitas berbagai kelompok yang ada. Aus tetap Aus, Khazraj tetap Khazraj, dan komunitas Yahudi tetap memiliki hak-haknya sesuai perjanjian. Yang berubah adalah dasar hubungan politik mereka: dari loyalitas kesukuan menuju komitmen terhadap aturan bersama.
Piagam Madinah menjadi fondasi kontrak sosial yang mengikat seluruh komponen masyarakat. Rasulullah saw. mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, menetapkan mekanisme penyelesaian sengketa, mengatur pertahanan bersama, serta menegaskan hak dan kewajiban setiap kelompok.
Dengan demikian, pergantian kepemimpinan berlangsung melalui legitimasi sosial, bukan dominasi militer.
Model Kedua: Futuh Mekah
Model kedua muncul dalam situasi yang sepenuhnya berbeda.
Selama lebih dari dua puluh tahun, kaum Quraisy menjadi penguasa yang memusuhi dakwah Islam. Mereka melakukan pemboikotan, penyiksaan, pengusiran, hingga peperangan terhadap kaum muslimin.
Secara logika politik, kemenangan atas Mekah dapat menjadi momentum pembalasan besar-besaran.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Saat memasuki Mekah sebagai pemenang, Rasulullah saw. menundukkan kepala dengan penuh tawaduk. Beliau kemudian mengumumkan pengampunan umum kepada penduduk Mekah. Hanya segelintir orang yang tetap dikenai hukuman karena tindak kejahatan yang sangat berat.
Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq al-Makhtum menjelaskan bahwa kemenangan itu bukan sekadar penaklukan wilayah, melainkan kemenangan atas hati manusia. Sementara Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Buthi dalam Fiqh as-Sirah menilai kebijakan tersebut sebagai strategi rekonsiliasi yang menghilangkan akar dendam politik.
Rasulullah saw. tidak menghancurkan seluruh struktur sosial Mekah. Beliau justru mengintegrasikan mantan lawan ke dalam masyarakat Islam yang baru.
Hasilnya segera terlihat.
Pada Perang Hunain, banyak tokoh Quraisy yang sebelumnya menjadi musuh Islam ikut berjuang bersama Rasulullah saw. Sebagian memberikan pinjaman perlengkapan perang, sementara yang lain turut memperkuat barisan kaum muslimin.
Musuh berubah menjadi bagian dari kekuatan negara.
Dua Jalan, Satu Prinsip
Jika dibandingkan, kedua model tersebut menempuh jalan yang berbeda.
Model Hijrah membangun pemerintahan melalui kontrak sosial sebelum kekuasaan terbentuk.
Model Futuh Mekah membangun stabilitas melalui rekonsiliasi setelah kemenangan diraih.
Para ulama sirah melihat bahwa keberhasilan keduanya bertumpu pada tiga prinsip yang sama.
Pertama, tegaknya aturan yang adil. Rasulullah saw. memimpin berdasarkan ketentuan yang mengikat seluruh masyarakat, bukan berdasarkan kepentingan kelompok tertentu.
Kedua, pemutusan rantai dendam. Di Madinah, konflik Aus dan Khazraj diakhiri melalui persaudaraan. Di Mekah, permusuhan panjang dihentikan melalui pengampunan.
Ketiga, integrasi seluruh komponen masyarakat. Kelompok yang sebelumnya berada di luar kekuasaan tidak disingkirkan selama mereka menerima aturan yang berlaku dan berkomitmen menjaga ketertiban bersama.
Pelajaran Sirah
Sirah Nabawiyah memperlihatkan bahwa pergantian rezim tidak selalu identik dengan penghancuran rezim sebelumnya.
Dalam model Hijrah, Rasulullah saw. menunjukkan bahwa kepemimpinan dapat lahir melalui kepercayaan masyarakat dan kontrak sosial yang adil.
Dalam model Futuh Mekah, beliau memperlihatkan bahwa kemenangan yang paling kokoh bukanlah kemenangan yang melahirkan dendam baru, melainkan kemenangan yang mampu mengubah lawan menjadi mitra dalam membangun masyarakat.
Dua peristiwa besar ini menunjukkan bahwa stabilitas sebuah pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang berkuasa, tetapi juga oleh kemampuan pemimpinnya membangun kepercayaan, menegakkan keadilan, mengakhiri permusuhan, dan menyatukan berbagai kelompok dalam satu tatanan yang berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Persoalan Mendasar Perjalanan Manusia Mengapa manusia akhirnya binasa, padahal Allah menciptakannya dalam bentuk yang paling s...
Persoalan Mendasar Perjalanan Manusia
Persoalan Mendasar Perjalanan Manusia
Mengapa manusia akhirnya binasa, padahal Allah menciptakannya dalam bentuk yang paling sempurna?
Surah As-Sajdah mengungkap akar persoalan itu. Setelah menjelaskan asal-usul penciptaan manusia, Allah justru menyoroti dua penyakit mendasar yang terus mengiringi perjalanan manusia sepanjang sejarah.
Pertama, sedikit bersyukur atas nikmat Allah.
Kedua, mengingkari pertemuan dengan Allah pada Hari Kiamat.
Dua sikap inilah yang menjadi pangkal kerusakan akidah, moral, dan peradaban manusia.
Manusia Diciptakan dengan Sempurna
Surah As-Sajdah memulai penjelasannya dengan mengajak manusia menelusuri asal-usul dirinya.
Allah menciptakan manusia pertama dari tanah. Kemudian keturunannya berasal dari sari pati air yang hina. Setelah itu Allah menyempurnakan penciptaannya, meniupkan ruh ciptaan-Nya, lalu menganugerahkan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani.
Seluruh perangkat itu diberikan agar manusia mengenal Penciptanya, memahami petunjuk-Nya, dan menjalani kehidupan dengan benar.
Namun, setelah menyebut seluruh nikmat tersebut, Al-Qur'an memberikan sebuah kesimpulan yang mengejutkan.
"Sedikit sekali kamu bersyukur." (QS. As-Sajdah: 9)
Menurut Tafsir Kementerian Agama, manusia dianugerahi berbagai potensi sejak dalam kandungan. Setelah lahir, seluruh kemampuan itu berkembang sehingga ia mampu melihat, mendengar, berpikir, dan merasakan. Akan tetapi, hanya sedikit manusia yang benar-benar mensyukuri nikmat tersebut.
Dengan kata lain, persoalan pertama manusia bukan kekurangan nikmat, melainkan kekurangan rasa syukur.
Mengingkari Pertemuan dengan Allah
Setelah membahas penciptaan manusia, Al-Qur'an langsung mengungkap persoalan kedua yang jauh lebih mendasar.
Orang-orang musyrik mempertanyakan kemungkinan hidup kembali setelah tubuh mereka hancur menjadi tanah.
"Apakah apabila kami telah lenyap di dalam tanah, kami akan kembali dalam ciptaan yang baru?" (QS. As-Sajdah: 10)
Lalu Allah mengungkap hakikat persoalannya.
"Bahkan mereka mengingkari pertemuan dengan Tuhan mereka." (QS. As-Sajdah: 10)
Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa persoalannya bukan sekadar keraguan terhadap proses kebangkitan, melainkan penolakan terhadap adanya hari ketika seluruh manusia harus mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Allah.
Padahal, Allah yang menciptakan manusia dari tiada tentu Mahakuasa untuk membangkitkannya kembali.
Kematian Bukan Akhir Perjalanan
Untuk membantah anggapan tersebut, Allah menegaskan bahwa kematian hanyalah perpindahan menuju kehidupan berikutnya.
"Malaikat maut yang diserahi tugas untukmu akan mematikanmu, kemudian kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan." (QS. As-Sajdah: 11)
Ayat ini mengubah cara pandang terhadap kematian. Kematian bukanlah akhir keberadaan manusia, melainkan awal dari fase pertanggungjawaban di hadapan Rabb semesta alam.
Tidak seorang pun mampu menghindari saat itu.
Penyesalan yang Datang Terlambat
Surah As-Sajdah kemudian membawa pembaca menyaksikan sebuah adegan pada Hari Kiamat.
Orang-orang yang dahulu mendustakan kebangkitan kini berdiri di hadapan Allah dengan kepala tertunduk.
Mereka berkata:
"Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar. Maka kembalikanlah kami ke dunia agar kami beramal saleh." (QS. As-Sajdah: 12)
Seluruh keraguan mereka telah lenyap.
Seluruh bukti yang dahulu mereka tuntut kini berada di hadapan mata.
Namun, pengakuan itu tidak lagi bermanfaat karena masa ujian telah berakhir.
Sunnatullah dalam Petunjuk dan Balasan
Allah kemudian menjelaskan bahwa Dia mampu memberi petunjuk kepada seluruh manusia apabila menghendaki.
Namun, Allah menetapkan sunnatullah bahwa manusia diberi kebebasan memilih jalan yang akan ditempuh.
"Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami menganugerahkan petunjuk kepada setiap jiwa." (QS. As-Sajdah: 13)
Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa ketetapan ini merupakan bagian dari sunnatullah yang berlaku di alam semesta. Sebagaimana seluruh ciptaan berjalan menurut hukum-hukum Allah, manusia pun diberi tanggung jawab untuk memilih antara petunjuk dan kesesatan, kemudian menerima akibat dari pilihannya.
Ketika Pertemuan Itu Benar-Benar Terjadi
Akhirnya datang keputusan yang tidak dapat dihindari.
Allah berfirman:
"Rasakanlah azab ini karena kamu telah melalaikan pertemuan dengan harimu ini." (QS. As-Sajdah: 14)
Mereka dahulu melupakan Hari Kiamat dalam kehidupan dunia.
Kini mereka merasakan akibat dari kelalaian tersebut.
Penyesalan tidak lagi mengubah keputusan Allah.
Pintu tobat telah tertutup.
Dua Akar Kehancuran Manusia
Jika seluruh rangkaian ayat ini dibaca secara utuh, Surah As-Sajdah menunjukkan bahwa kehancuran manusia berawal dari dua persoalan mendasar.
Pertama, manusia tidak mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Pendengaran, penglihatan, akal, dan hati yang seharusnya mengantarkan kepada keimanan justru digunakan untuk berpaling dari kebenaran.
Kedua, manusia tidak meyakini pertemuan dengan Allah. Ketika keyakinan terhadap Hari Pembalasan hilang, rasa tanggung jawab pun ikut hilang. Dari sinilah lahir kesombongan, kedurhakaan, kezaliman, dan berbagai bentuk kerusakan di muka bumi.
Karena itu, Surah As-Sajdah tidak hanya mengajarkan bagaimana manusia diciptakan, tetapi juga mengingatkan bagaimana manusia dapat menyelamatkan perjalanan hidupnya: dengan mensyukuri seluruh nikmat Allah dan senantiasa hidup dalam kesadaran bahwa setiap manusia akan kembali serta mempertanggungjawabkan seluruh amalnya di hadapan Allah.
Asmaulhusna Allah dalam Pembagian Waris Mengapa Al-Qur'an menutup pembahasan hukum waris dengan menyebut Asmaulhusna Allah? ...
Asmaulhusna Allah dalam Pembagian Waris
Pertanyaan-Pertanyaan yang Menggugah Ketauhidan Bagaimana Al-Qur'an menghancurkan kesyirikan? Menariknya, Allah tidak memula...
Pertanyaan-Pertanyaan yang Menggugah Ketauhidan
Surat Al-Qamar: Ringkasan Kehancuran Kaum Durhaka Langit pernah menjadi saksi sebuah peristiwa yang mengguncang Makkah. Bulan te...
Surat Al-Qamar: Ringkasan Kehancuran Kaum Durhaka
Paling Banyak Dibaca
-
Bukan Muslim, Tapi Rakyatnya Minta Dinaungi Kekhalifahan Islam
-
Risalah Al-Matsurat Hasan Al Banna dan Syeikh Hasan Asy-Syadzali
-
Kisah Generasi Salaf yang Isi Hari-Harinya dengan Bertani
-
Saad bin Abi Waqqash, Aktor Interaksi Awal Islam dan Tiongkok
-
Kilas Balik Sejarah, Bisakah Palestina Dihapus dari Peta Dunia?
-
Pengaruh Islam dalam Penamaan Pulau di Nusantara
-
Manuskrip Nusantara Beraksara Arab Melayu di Eropa, Bukti Tingginya Peradaban Islam dan Kemakmurannya
Cari Artikel Ketik Lalu Enter
Artikel Lainnya
- ► 2021 (1014)
- ► 2022 (604)
- ► 2023 (330)
- ► 2024 (825)
- ► 2025 (821)
-
▼
2026
(394)
-
▼
Juli
(174)
-
▼
11 Jul
(8)
- Maha Berkehendak Allah
- Bisakah Meminta Pertolongan kepada Malaikat?
- Ratu Elizabeth Anggap Semua Orang Israel Adalah Te...
- Pertanyaan Pertama Fir'aun kepada Nabi Musa Saat T...
- Saat Allah Bertanya kepada Nabi Musa tentang Tongk...
- Memetakan Beragam Potensi Bencana di Era Modern?
- Udara Panas di Era Nabi Syu'aib dan Kecurangan Eko...
- Menelusuri Batas Rekayasa dan Kejeniusan Manusia
-
▼
11 Jul
(8)
-
▼
Juli
(174)
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif