Maha Berkehendak Allah
Siapakah yang menentukan akhir dari setiap perjalanan manusia? Siapakah yang mengubah tawa menjadi tangis, kehidupan menjadi kematian, kemiskinan menjadi kecukupan, bahkan membinasakan sebuah peradaban yang tampak tak terkalahkan?
Surah An-Najm ayat 42–50 menghadirkan rangkaian pernyataan yang sangat kuat. Setiap ayat diawali dengan penegasan "wa annahu" (dan sesungguhnya Dialah...), seakan-akan Allah sedang membangun sebuah berkas bukti tentang kemahakuasaan-Nya. Tidak ada satu pun aspek kehidupan yang berada di luar kehendak-Nya.
1. Seluruh Perjalanan Berakhir kepada Allah
«وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰى
"Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahan segala sesuatu." (QS. An-Najm: 42)»
Ayat ini menjadi fondasi seluruh rangkaian berikutnya. Setiap perjalanan manusia, setiap kekuasaan, setiap peradaban, bahkan seluruh alam semesta, pada akhirnya kembali kepada Allah.
Tafsir Tahlili Kementerian Agama menjelaskan bahwa Allah adalah tempat kembali seluruh makhluk pada Hari Kiamat. Di sanalah seluruh amal diperhitungkan tanpa ada yang terlewat, baik yang kecil maupun yang besar. Ayat ini menjadi ancaman bagi pelaku kezaliman sekaligus kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh.
Bagi Rasulullah ﷺ, ayat ini juga menjadi penghibur. Penolakan, hinaan, dan kedustaan kaum musyrik bukanlah akhir dari perjuangan. Allah mengetahui seluruh rahasia dan akan memberikan keputusan yang paling adil.
2. Allah Menguasai Emosi Manusia
«وَاَنَّهٗ هُوَ اَضْحَكَ وَاَبْكٰى
"Dialah yang menjadikan manusia tertawa dan menangis." (QS. An-Najm: 43)»
Tawa dan tangis bukan sekadar reaksi biologis. Keduanya berada dalam kekuasaan Allah.
Allah menciptakan sebab-sebab yang menghadirkan kegembiraan maupun kesedihan. Keberhasilan, kegagalan, kemenangan, kehilangan, kelahiran, hingga kematian semuanya menjadi bagian dari ketetapan-Nya.
Karena itu, seorang mukmin tidak larut dalam kegembiraan dan tidak pula tenggelam dalam kesedihan. Ia memahami bahwa seluruh keadaan berada dalam pengaturan Rabb semesta alam.
3. Allah Pemilik Kehidupan dan Kematian
«وَاَنَّهٗ هُوَ اَمَاتَ وَاَحْيَا
"Dialah yang mematikan dan menghidupkan." (QS. An-Najm: 44)»
Tidak ada makhluk yang mampu memperpanjang hidup seseorang apabila ajal telah tiba. Sebaliknya, tidak ada kekuatan yang mampu menghalangi kehidupan ketika Allah menghendakinya.
Sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Mulk ayat 2, Allah menciptakan kehidupan dan kematian sebagai ujian untuk mengetahui siapa yang paling baik amalnya.
Kematian bukan akhir perjalanan, melainkan pintu menuju kehidupan berikutnya.
4. Dari Setetes Mani Menjadi Manusia
«وَاَنَّهٗ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰى • مِنْ نُّطْفَةٍ اِذَا تُمْنٰى
"Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan dari setetes mani yang dipancarkan." (QS. An-Najm: 45–46)»
Allah mengingatkan manusia tentang asal-usulnya yang sangat sederhana.
Dari setetes air mani, Allah membentuk embrio, menyempurnakan penciptaan, meniupkan ruh, lalu menentukan jenis kelamin, karakter, dan seluruh potensi kehidupan.
Tafsir Tahlili mengaitkan ayat ini dengan berbagai ayat lain yang menjelaskan tahapan penciptaan manusia secara bertahap, sekaligus menjadi bukti kekuasaan Allah yang tidak mungkin ditandingi oleh siapa pun.
5. Kebangkitan Setelah Kematian
«وَاَنَّ عَلَيْهِ النَّشْاَةَ الْاُخْرٰى
"Dan sesungguhnya Dialah yang menetapkan penciptaan yang lain (kebangkitan setelah mati)." (QS. An-Najm: 47)»
Apabila Allah mampu menciptakan manusia dari ketiadaan, maka membangkitkan manusia setelah kematian tentu jauh lebih mudah bagi-Nya.
Ayat ini menjadi bantahan terhadap mereka yang mengingkari Hari Kebangkitan. Seluruh manusia akan dihidupkan kembali untuk mempertanggungjawabkan seluruh amalnya.
6. Kekayaan dan Kecukupan Berasal dari Allah
«وَاَنَّهٗ هُوَ اَغْنٰى وَاَقْنٰى
"Dialah yang menganugerahkan kekayaan dan kecukupan." (QS. An-Najm: 48)»
Harta bukan semata hasil kecerdasan, jabatan, atau kekuatan ekonomi.
Allah-lah yang melapangkan rezeki dan Allah pula yang menyempitkannya sesuai hikmah-Nya.
Karena itu, kekayaan bukan ukuran kemuliaan, sebagaimana kemiskinan bukan tanda kehinaan. Yang menjadi ukuran di sisi Allah adalah ketakwaan.
7. Bahkan Bintang yang Disembah Pun Milik Allah
«وَاَنَّهٗ هُوَ رَبُّ الشِّعْرٰى
"Dan sesungguhnya Dialah Tuhan yang memiliki bintang Syi'ra." (QS. An-Najm: 49)»
Mengapa Allah menyebut satu bintang secara khusus?
Pada masa jahiliah, sebagian bangsa Arab menjadikan bintang Syi'ra sebagai sesembahan dan meyakini bahwa bintang tersebut memiliki kekuatan gaib yang memengaruhi kehidupan manusia.
Al-Qur'an membongkar keyakinan itu secara tegas. Bintang yang mereka sembah hanyalah ciptaan Allah. Ia tidak memiliki kekuasaan sedikit pun selain apa yang Allah tetapkan.
Dengan demikian, runtuhlah seluruh bentuk penyembahan kepada selain Allah.
8. Bukti Akhir: Allah Menghancurkan Peradaban yang Sombong
«وَاَنَّهٗٓ اَهْلَكَ عَادًا الْاُوْلٰى
"Dan sesungguhnya Dialah yang telah membinasakan kaum 'Ad yang terdahulu." (QS. An-Najm: 50)»
Rangkaian ayat ini ditutup dengan fakta sejarah.
Kaum 'Ad pernah menjadi salah satu peradaban paling kuat pada zamannya. Mereka memiliki kekuatan fisik, teknologi bangunan, dan pengaruh politik yang besar. Namun ketika kesombongan menguasai mereka dan mereka menolak para rasul, seluruh kejayaan itu berakhir dalam sekejap atas kehendak Allah.
Sejarah ini menjadi bukti bahwa tidak ada kekuasaan yang abadi. Sebesar apa pun sebuah peradaban, apabila membangkang kepada Allah, maka kehancurannya hanya menunggu waktu.
Penutup: Sebuah Berkas Bukti tentang Kemahakuasaan Allah
Surah An-Najm ayat 42–50 menyusun sebuah rangkaian argumentasi yang sangat sistematis.
Allah menunjukkan bahwa:
- kepada-Nya seluruh perjalanan berakhir;
- Dia menguasai tawa dan tangis;
- Dia menghidupkan dan mematikan;
- Dia menciptakan manusia dari setetes mani;
- Dia membangkitkan manusia setelah mati;
- Dia memberi kekayaan dan kecukupan;
- Dia menguasai seluruh benda langit, termasuk bintang yang dahulu disembah manusia; dan
- Dia menghancurkan peradaban yang sombong.
Semua itu mengarah pada satu kesimpulan besar: seluruh alam semesta berada di bawah kehendak Allah. Tidak ada satu pun kekuatan yang mampu menandingi keputusan-Nya. Dialah awal, pengatur, sekaligus tujuan akhir dari segala sesuatu.
0 komentar: