Saat Allah Bertanya kepada Nabi Musa tentang Tongkatnya
Di lereng Bukit Thur, setelah Allah memperkenalkan Diri-Nya sebagai Rabb semesta alam dan menetapkan Musa sebagai rasul-Nya, terjadi sebuah percakapan yang tampak sederhana, tetapi menyimpan makna yang sangat dalam. Allah mengajukan sebuah pertanyaan yang, sekilas, tidak diperlukan.
Bukankah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?
Lalu mengapa Allah bertanya kepada Musa tentang tongkat yang berada di tangan kanannya?
Al-Qur'an mengabadikan dialog tersebut sebagai salah satu momen penting sebelum dimulainya misi besar menghadapi Fir'aun.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَمَا تِلْكَ بِيَمِيْنِكَ يٰمُوْسٰى
"Apakah yang ada di tangan kananmu itu, wahai Musa?" (QS. Ṭāhā [20]: 17)
Pengetahuan Musa Masih Sebatas Fungsi Sehari-hari
Musa menjawab sesuai dengan pengetahuannya sebagai seorang penggembala.
قَالَ هِيَ عَصَايَۚ اَتَوَكَّؤُا عَلَيْهَا وَاَهُشُّ بِهَا عَلٰى غَنَمِيْ وَلِيَ فِيْهَا مَاٰرِبُ اُخْرٰى
"(Musa) berkata, 'Ini adalah tongkatku. Aku bersandar kepadanya, merontokkan daun-daun untuk kambingku dengannya, dan masih banyak lagi kegunaan lainnya.'" (QS. Ṭāhā [20]: 18)
Jawaban Musa menunjukkan bahwa ia hanya memahami tongkat itu berdasarkan pengalaman hidupnya. Tongkat tersebut digunakan untuk menopang tubuh ketika berjalan, menggiring ternak, merontokkan dedaunan sebagai pakan kambing, mengusir binatang buas, membawa bekal, dan berbagai kebutuhan praktis lainnya.
Menurut Tafsir Tahlili Kementerian Agama, Musa bahkan memperpanjang penjelasannya karena ingin percakapannya dengan Allah berlangsung lebih lama. Ungkapan, "dan masih banyak lagi kegunaan lainnya," menunjukkan adab dan kerinduan seorang hamba untuk terus berdialog dengan Tuhannya.
Allah Menyingkap Fungsi yang Tidak Pernah Terbayangkan
Di sinilah arah dialog berubah secara dramatis.
Allah tidak bertanya karena tidak mengetahui. Sebaliknya, pertanyaan itu menjadi pengantar untuk memperlihatkan bahwa benda yang selama ini dianggap biasa akan menjadi sarana luar biasa melalui kehendak-Nya.
Allah berfirman,
قَالَ اَلْقِهَا يٰمُوْسٰى
"(Allah) berfirman, 'Lemparkanlah tongkat itu, wahai Musa!'" (QS. Ṭāhā [20]: 19)
Begitu Musa melaksanakan perintah tersebut, terjadi sesuatu yang sama sekali tidak pernah masuk dalam pengetahuannya.
فَاَلْقٰىهَا فَاِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعٰى
"Maka dia melemparkannya. Tiba-tiba tongkat itu menjadi seekor ular yang bergerak cepat." (QS. Ṭāhā [20]: 20)
Menurut Tafsir Tahlili, tongkat yang semula hanyalah alat bantu penggembala berubah menjadi mukjizat yang kelak menjadi bukti kerasulan Musa. Dengan tongkat yang sama, Allah akan memperlihatkan berbagai tanda kebesaran-Nya: berubah menjadi ular, membelah Laut Merah, dan memancarkan mata air dari batu, semuanya atas izin Allah.
Ketakutan Musa dan Jaminan dari Allah
Melihat tongkatnya berubah menjadi ular besar, Musa secara naluriah merasa takut.
Allah segera menenangkannya.
قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْۗ سَنُعِيْدُهَا سِيْرَتَهَا الْاُوْلٰى
"Ambillah dan jangan takut. Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula." (QS. Ṭāhā [20]: 21)
Peristiwa ini bukan sekadar demonstrasi mukjizat. Allah sedang membangun keberanian Musa sebelum menghadapi penguasa paling zalim pada masanya.
Mukjizat Kedua
Setelah mukjizat tongkat, Allah memperlihatkan tanda yang lain.
وَاضْمُمْ يَدَكَ اِلٰى جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاۤءَ مِنْ غَيْرِ سُوْۤءٍ اٰيَةً اُخْرٰى
"Kepitlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia akan keluar putih bercahaya tanpa cacat sebagai mukjizat yang lain." (QS. Ṭāhā [20]: 22)
Mukjizat tangan yang bercahaya menjadi penguat kedua bagi kerasulan Musa. Kedua tanda ini diberikan sebagai bekal menghadapi Fir'aun dan para pembesarnya.
Allah menegaskan tujuan semua peristiwa tersebut.
لِنُرِيَكَ مِنْ اٰيٰتِنَا الْكُبْرٰى
"(Kami lakukan itu) agar Kami memperlihatkan kepadamu sebagian tanda-tanda kebesaran Kami yang terbesar." (QS. Ṭāhā [20]: 23)
Dari Tongkat Penggembala Menjadi Senjata Dakwah
Setelah menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah, Musa menerima perintah yang menjadi puncak seluruh peristiwa itu.
اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰى
"Pergilah kepada Fir'aun. Sesungguhnya dia telah melampaui batas." (QS. Ṭāhā [20]: 24)
Tafsir Tahlili meriwayatkan bahwa Musa sempat terdiam beberapa hari, merenungkan beratnya amanah tersebut. Ia akan berhadapan dengan seorang raja yang memiliki kekuasaan terbesar, tentara yang sangat kuat, serta kesombongan yang telah mencapai puncaknya hingga berani mengaku sebagai tuhan.
Namun sebelum mengutus Musa menghadapi Fir'aun, Allah terlebih dahulu mengajarkannya sebuah pelajaran mendasar: keterbatasan manusia bukan terletak pada alat yang dimilikinya, tetapi pada cara memandangnya.
Di tangan seorang penggembala, tongkat hanyalah alat bantu. Namun di tangan seorang nabi yang menjalankan perintah Allah, tongkat yang sama berubah menjadi mukjizat yang mengguncang sebuah imperium.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah sering memulai perubahan besar bukan dengan menghadirkan sesuatu yang baru, melainkan dengan mengubah fungsi dan makna dari sesuatu yang telah lama berada di tangan hamba-Nya. Ketika iman, amanah, dan ketaatan bertemu dengan kehendak Allah, sesuatu yang biasa dapat menjadi sarana lahirnya peristiwa-peristiwa yang luar biasa.
0 komentar: