Persoalan Mendasar Perjalanan Manusia
Mengapa manusia akhirnya binasa, padahal Allah menciptakannya dalam bentuk yang paling sempurna?
Surah As-Sajdah mengungkap akar persoalan itu. Setelah menjelaskan asal-usul penciptaan manusia, Allah justru menyoroti dua penyakit mendasar yang terus mengiringi perjalanan manusia sepanjang sejarah.
Pertama, sedikit bersyukur atas nikmat Allah.
Kedua, mengingkari pertemuan dengan Allah pada Hari Kiamat.
Dua sikap inilah yang menjadi pangkal kerusakan akidah, moral, dan peradaban manusia.
Manusia Diciptakan dengan Sempurna
Surah As-Sajdah memulai penjelasannya dengan mengajak manusia menelusuri asal-usul dirinya.
Allah menciptakan manusia pertama dari tanah. Kemudian keturunannya berasal dari sari pati air yang hina. Setelah itu Allah menyempurnakan penciptaannya, meniupkan ruh ciptaan-Nya, lalu menganugerahkan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani.
Seluruh perangkat itu diberikan agar manusia mengenal Penciptanya, memahami petunjuk-Nya, dan menjalani kehidupan dengan benar.
Namun, setelah menyebut seluruh nikmat tersebut, Al-Qur'an memberikan sebuah kesimpulan yang mengejutkan.
"Sedikit sekali kamu bersyukur." (QS. As-Sajdah: 9)
Menurut Tafsir Kementerian Agama, manusia dianugerahi berbagai potensi sejak dalam kandungan. Setelah lahir, seluruh kemampuan itu berkembang sehingga ia mampu melihat, mendengar, berpikir, dan merasakan. Akan tetapi, hanya sedikit manusia yang benar-benar mensyukuri nikmat tersebut.
Dengan kata lain, persoalan pertama manusia bukan kekurangan nikmat, melainkan kekurangan rasa syukur.
Mengingkari Pertemuan dengan Allah
Setelah membahas penciptaan manusia, Al-Qur'an langsung mengungkap persoalan kedua yang jauh lebih mendasar.
Orang-orang musyrik mempertanyakan kemungkinan hidup kembali setelah tubuh mereka hancur menjadi tanah.
"Apakah apabila kami telah lenyap di dalam tanah, kami akan kembali dalam ciptaan yang baru?" (QS. As-Sajdah: 10)
Lalu Allah mengungkap hakikat persoalannya.
"Bahkan mereka mengingkari pertemuan dengan Tuhan mereka." (QS. As-Sajdah: 10)
Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa persoalannya bukan sekadar keraguan terhadap proses kebangkitan, melainkan penolakan terhadap adanya hari ketika seluruh manusia harus mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Allah.
Padahal, Allah yang menciptakan manusia dari tiada tentu Mahakuasa untuk membangkitkannya kembali.
Kematian Bukan Akhir Perjalanan
Untuk membantah anggapan tersebut, Allah menegaskan bahwa kematian hanyalah perpindahan menuju kehidupan berikutnya.
"Malaikat maut yang diserahi tugas untukmu akan mematikanmu, kemudian kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan." (QS. As-Sajdah: 11)
Ayat ini mengubah cara pandang terhadap kematian. Kematian bukanlah akhir keberadaan manusia, melainkan awal dari fase pertanggungjawaban di hadapan Rabb semesta alam.
Tidak seorang pun mampu menghindari saat itu.
Penyesalan yang Datang Terlambat
Surah As-Sajdah kemudian membawa pembaca menyaksikan sebuah adegan pada Hari Kiamat.
Orang-orang yang dahulu mendustakan kebangkitan kini berdiri di hadapan Allah dengan kepala tertunduk.
Mereka berkata:
"Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar. Maka kembalikanlah kami ke dunia agar kami beramal saleh." (QS. As-Sajdah: 12)
Seluruh keraguan mereka telah lenyap.
Seluruh bukti yang dahulu mereka tuntut kini berada di hadapan mata.
Namun, pengakuan itu tidak lagi bermanfaat karena masa ujian telah berakhir.
Sunnatullah dalam Petunjuk dan Balasan
Allah kemudian menjelaskan bahwa Dia mampu memberi petunjuk kepada seluruh manusia apabila menghendaki.
Namun, Allah menetapkan sunnatullah bahwa manusia diberi kebebasan memilih jalan yang akan ditempuh.
"Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami menganugerahkan petunjuk kepada setiap jiwa." (QS. As-Sajdah: 13)
Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa ketetapan ini merupakan bagian dari sunnatullah yang berlaku di alam semesta. Sebagaimana seluruh ciptaan berjalan menurut hukum-hukum Allah, manusia pun diberi tanggung jawab untuk memilih antara petunjuk dan kesesatan, kemudian menerima akibat dari pilihannya.
Ketika Pertemuan Itu Benar-Benar Terjadi
Akhirnya datang keputusan yang tidak dapat dihindari.
Allah berfirman:
"Rasakanlah azab ini karena kamu telah melalaikan pertemuan dengan harimu ini." (QS. As-Sajdah: 14)
Mereka dahulu melupakan Hari Kiamat dalam kehidupan dunia.
Kini mereka merasakan akibat dari kelalaian tersebut.
Penyesalan tidak lagi mengubah keputusan Allah.
Pintu tobat telah tertutup.
Dua Akar Kehancuran Manusia
Jika seluruh rangkaian ayat ini dibaca secara utuh, Surah As-Sajdah menunjukkan bahwa kehancuran manusia berawal dari dua persoalan mendasar.
Pertama, manusia tidak mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Pendengaran, penglihatan, akal, dan hati yang seharusnya mengantarkan kepada keimanan justru digunakan untuk berpaling dari kebenaran.
Kedua, manusia tidak meyakini pertemuan dengan Allah. Ketika keyakinan terhadap Hari Pembalasan hilang, rasa tanggung jawab pun ikut hilang. Dari sinilah lahir kesombongan, kedurhakaan, kezaliman, dan berbagai bentuk kerusakan di muka bumi.
Karena itu, Surah As-Sajdah tidak hanya mengajarkan bagaimana manusia diciptakan, tetapi juga mengingatkan bagaimana manusia dapat menyelamatkan perjalanan hidupnya: dengan mensyukuri seluruh nikmat Allah dan senantiasa hidup dalam kesadaran bahwa setiap manusia akan kembali serta mempertanggungjawabkan seluruh amalnya di hadapan Allah.
0 komentar: