Pertanyaan-Pertanyaan yang Menggugah Ketauhidan
Bagaimana Al-Qur'an menghancurkan kesyirikan?
Menariknya, Allah tidak memulai dengan vonis, melainkan dengan serangkaian pertanyaan. Satu demi satu, pertanyaan itu membongkar seluruh fondasi keyakinan orang-orang musyrik hingga mereka tidak lagi memiliki tempat untuk bersembunyi di balik tradisi, prasangka, maupun hawa nafsu.
Surah Aá¹-Ṭūr menghadirkan salah satu rangkaian pertanyaan paling tajam dalam Al-Qur'an. Setiap pertanyaan memaksa manusia berpikir, sementara setiap jawaban yang jujur justru mengantarkan kepada pengakuan akan keesaan Allah.
Tantangan Pertama: Mampukah Menandingi Al-Qur'an?
Interogasi itu diawali dengan sebuah tantangan.
«"Cobalah mereka membuat yang semisal dengannya (Al-Qur'an), jika mereka orang-orang benar." (QS. Aá¹-Ṭūr: 34)»
Jika mereka menuduh Al-Qur'an hanyalah karangan manusia, mengapa mereka tidak mampu menghadirkan satu kitab yang sebanding dengannya?
Tantangan ini menjadi pintu masuk untuk menguji kejujuran mereka sebelum Al-Qur'an menguji cara berpikir mereka.
Siapa Pencipta Manusia?
Setelah itu, Allah mengajukan pertanyaan yang menyentuh akar keberadaan manusia.
«"Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri?" (QS. Aá¹-Ṭūr: 35)»
Menurut Tafsir Kementerian Agama, pertanyaan ini menggugurkan dua kemungkinan yang sama-sama mustahil menurut akal sehat: manusia muncul tanpa pencipta atau manusia menciptakan dirinya sendiri.
Jika kedua kemungkinan itu gugur, maka hanya tersisa satu kesimpulan: manusia memiliki Pencipta.
Siapa Pencipta Alam Semesta?
Pertanyaan berikutnya memperluas cakupan pembuktian.
«"Apakah mereka menciptakan langit dan bumi?" (QS. Aá¹-Ṭūr: 36)»
Tidak ada seorang pun yang berani mengaku menciptakan langit dan bumi. Bahkan orang-orang musyrik Arab sendiri mengakui bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta.
Masalah mereka bukan kurang bukti, tetapi kurang keyakinan untuk menerima konsekuensi dari pengakuan tersebut.
Siapa yang Menguasai Segala Urusan?
Jika bukan pencipta, apakah mereka pemilik seluruh kekuasaan?
«"Apakah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu ataukah mereka yang berkuasa?" (QS. Aá¹-Ṭūr: 37)»
Allah membongkar anggapan bahwa manusia dapat menentukan siapa yang layak menjadi nabi, mengatur rezeki, atau mengendalikan alam semesta. Semua perbendaharaan dan seluruh kekuasaan berada di tangan Allah semata.
Dalam riwayat yang disebutkan Tafsir Kementerian Agama, ayat-ayat ini mengguncang hati Jubair bin Muá¹'im ketika ia masih musyrik hingga akhirnya menjadi salah satu sebab hidayah yang mengantarkannya kepada Islam.
Dari Mana Mereka Mendapat Pengetahuan Gaib?
Interogasi berlanjut.
«"Apakah mereka mempunyai tangga ke langit untuk mendengarkan hal-hal yang gaib?" (QS. Aá¹-Ṭūr: 38)»
«"Apakah mereka mempunyai pengetahuan tentang yang gaib, lalu mereka menuliskannya?" (QS. Aá¹-Ṭūr: 41)»
Jika benar mereka mengetahui perkara gaib, Allah menantang mereka agar menghadirkan bukti yang nyata.
Kenyataannya, mereka hanya mengikuti dugaan, tradisi, dan hawa nafsu.
Mengapa Standar Ganda?
Allah kemudian membongkar kontradiksi cara berpikir mereka.
«"Apakah pantas bagi-Nya anak-anak perempuan, sedangkan untuk kamu anak-anak laki-laki?" (QS. Aá¹-Ṭūr: 39)»
Orang-orang musyrik menganggap anak laki-laki lebih mulia, tetapi justru menisbatkan anak perempuan kepada Allah dengan menyebut malaikat sebagai putri-putri Allah.
Al-Qur'an menunjukkan bahwa keyakinan itu bukan hanya bertentangan dengan wahyu, tetapi juga bertentangan dengan logika mereka sendiri.
Apa Kepentingan Nabi Muhammad?
Selanjutnya Allah membantah tuduhan terhadap Rasulullah saw.
«"Apakah engkau meminta imbalan kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan utang?" (QS. Aá¹-Ṭūr: 40)»
Dakwah Nabi Muhammad saw tidak didorong oleh kepentingan materi. Beliau tidak meminta bayaran, tidak mencari keuntungan, dan tidak membebani manusia dengan kewajiban finansial.
Karena itu, penolakan kaum musyrik tidak dapat dijelaskan oleh alasan ekonomi.
Siapa yang Terkena Tipu Daya?
Allah lalu membongkar strategi mereka.
«"Apakah mereka hendak melakukan tipu daya? Justru orang-orang yang kufur itulah yang terkena tipu daya." (QS. Aá¹-Ṭūr: 42)»
Mereka merancang berbagai makar untuk menghentikan dakwah Rasulullah. Namun sejarah membuktikan bahwa tipu daya itu justru berbalik menghancurkan mereka sendiri.
Pertanyaan Penutup
Rangkaian interogasi itu ditutup dengan satu pertanyaan yang menjadi inti seluruh pembahasan.
«"Apakah mereka mempunyai tuhan selain Allah?" (QS. Aá¹-Ṭūr: 43)»
Setelah seluruh kemungkinan dibongkar—mereka bukan pencipta manusia, bukan pencipta alam semesta, bukan pemilik perbendaharaan Allah, bukan penguasa alam, bukan pemilik ilmu gaib, dan bukan pihak yang mampu menggagalkan kehendak Allah—maka tidak ada lagi alasan logis untuk menyembah selain Allah.
Karena itu ayat tersebut ditutup dengan deklarasi tauhid:
«"Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan."»
Interogasi yang Menuntun kepada Tauhid
Surah Aá¹-Ṭūr menunjukkan bahwa Al-Qur'an tidak sekadar menyampaikan doktrin keimanan. Ia mengajak manusia berpikir melalui pertanyaan-pertanyaan yang menggugah akal sehat.
Setiap pertanyaan menyingkirkan satu demi satu fondasi kesyirikan hingga akhirnya hanya tersisa satu kesimpulan yang tidak dapat dibantah: Allah semata adalah Pencipta, Pengatur, Penguasa, Pemilik ilmu gaib, dan satu-satunya yang berhak disembah.
Inilah metode Al-Qur'an dalam membangun tauhid—bukan dengan mematikan akal, tetapi dengan menghidupkannya melalui pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya telah Allah tanamkan dalam fitrah setiap manusia.
0 komentar: