Ratu Elizabeth Anggap Semua Orang Israel Adalah Teroris? Pangeran Charles Anggap Presiden Amerika tidak Berani Hadapi Lobi Yahudi
Mendiang Ratu Elizabeth II disebut meyakini bahwa semua orang Israel adalah "teroris atau putra teroris". Pernyataan tersebut diungkapkan oleh mantan Presiden Israel, Reuven Rivlin, dan memicu reaksi luas.
Menurut British Jewish News, Rivlin menyampaikan pernyataan itu dalam sebuah acara gala di London yang memperingati 100 tahun Institut Teknologi Technion Haifa. Ia mengatakan bahwa pandangan Ratu Elizabeth terhadap Israel membuat hubungan sang ratu dengan negara tersebut menjadi tegang.
"Dalam praktiknya, ia menolak menerima pejabat Israel di Istana Buckingham, kecuali dalam acara-acara internasional," ujar Rivlin, sebagaimana dikutip The New Arab.
Rivlin juga mengatakan bahwa Raja Charles III, berbeda dengan ibunya, selalu bersikap "sangat ramah" terhadap Israel.
Tidak Pernah Mengunjungi Israel
Selama 70 tahun bertakhta, Ratu Elizabeth II melakukan kunjungan resmi ke lebih dari 120 negara dan menempuh perjalanan lebih dari satu juta mil. Namun, ia tidak pernah melakukan kunjungan resmi ke Israel hingga wafat pada 8 September 2022.
Bahkan, selama bertahun-tahun tidak ada anggota keluarga kerajaan Inggris yang mengunjungi Israel dalam kapasitas resmi. Situasi itu baru berubah pada 2018 ketika Pangeran William, cucu Ratu Elizabeth, melakukan kunjungan resmi ke Israel dalam rangka peringatan 70 tahun berdirinya negara tersebut. Kunjungan itu juga menuai kritik dari banyak warga Palestina dan para aktivis.
Menurut berbagai laporan, Ratu Elizabeth juga enggan menerima pejabat Israel di Istana Buckingham, kecuali dalam acara atau kegiatan internasional.
Dugaan Alasan di Balik Sikap Ratu
Berbagai spekulasi muncul mengenai alasan Ratu Elizabeth tidak pernah mengunjungi Israel.
Sebagian pihak berpendapat bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan keinginan Inggris untuk menjaga hubungan baik dengan negara-negara Teluk Arab.
Sementara itu, pendapat lain mengaitkannya dengan sejarah pemberontakan kelompok-kelompok bersenjata Zionis terhadap pemerintahan Mandat Inggris di Palestina sebelum berdirinya negara Israel pada 1948.
Perhatian khusus juga tertuju pada pengeboman Hotel King David pada Juli 1946 yang menewaskan 91 orang dan melukai 45 lainnya, termasuk banyak pejabat dan personel Inggris.
Kunjungan ke Yordania
Pada 1984, Ratu Elizabeth melakukan kunjungan resmi ke Yordania dan bertemu Raja Hussein I.
Dalam kunjungan tersebut, ketika melihat Tepi Barat dari kejauhan dan jet tempur Israel melintas di langit, Ratu dilaporkan berkata, "Betapa menakutkannya."
Ratu Noor, istri Raja Hussein, disebut menjawab, "Mengerikan."
Dalam kesempatan lain, setelah melihat peta yang menunjukkan lokasi permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki, Ratu Elizabeth dikutip mengatakan, "Sungguh peta yang menyedihkan."
Sikap Raja Charles III
Berbeda dengan ibunya, Raja Charles III telah melakukan kunjungan resmi ke Israel dan Tepi Barat pada Januari 2020 saat masih menjabat sebagai Pangeran Wales.
Di Yerusalem, ia menghadiri Forum Holocaust Dunia untuk memperingati 75 tahun pembebasan kamp konsentrasi Auschwitz. Dalam pidatonya, Charles mengingatkan bahwa pelajaran Holocaust tetap relevan dan mengajak para pemimpin dunia untuk berani melawan kebencian, kepalsuan, dan kekerasan.
Dalam perjalanan yang sama, ia juga mengunjungi Betlehem dan menyampaikan harapan akan perdamaian yang adil dan abadi di Timur Tengah. Charles memuji energi, keramahan, dan kemurahan hati masyarakat Palestina.
Namun, Charles juga pernah menuai kritik setelah isi surat pribadinya pada 1986 dipublikasikan pada 2017. Dalam surat tersebut, ia menyinggung bahwa masuknya orang-orang Yahudi Eropa ke Israel menjadi salah satu penyebab konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Ia juga mengungkapkan kekecewaannya karena Presiden Amerika Serikat, menurutnya, tidak berani menghadapi lobi Yahudi di negaranya.
Menanggapi polemik itu, juru bicara Charles menjelaskan bahwa surat tersebut tidak mencerminkan pandangan pribadinya, melainkan rangkuman pandangan yang ia dengar selama kunjungannya ke Arab Saudi, Qatar, dan Bahrain. Juru bicara itu juga menegaskan bahwa Charles selama bertahun-tahun aktif mendorong dialog antaragama serta membangun hubungan baik dengan komunitas Yahudi maupun Arab.
Perdebatan Mengenai Sikap Ratu
Pada 2012, mantan pemimpin redaksi Haaretz, David Landau, menulis bahwa jika Ratu Elizabeth benar-benar menghendaki kunjungan ke Israel, ia memiliki kewenangan moral untuk mewujudkannya.
Menurut Landau, keputusan untuk tidak berkunjung menunjukkan bahwa sang ratu ikut mempertahankan kebijakan Inggris yang dinilainya sebagai bentuk penolakan diplomatik terhadap Israel.
Namun, pandangan tersebut dibantah oleh pihak-pihak yang menilai Ratu Elizabeth tidak bersikap anti-Israel.
Selama masa pemerintahannya, Ratu menerima beberapa Presiden Israel yang berkunjung ke Inggris, di antaranya Ephraim Katzir, Chaim Herzog, dan Ezer Weizman. Ia juga menganugerahkan gelar kehormatan kepada mantan Presiden Israel Shimon Peres.
Ratu Elizabeth juga dikenal memiliki hubungan yang baik dengan komunitas Yahudi di Inggris. Ia memberikan gelar bangsawan kepada Kepala Rabbi Immanuel Jakobovits, Jonathan Sacks, serta sejumlah tokoh Yahudi Inggris lainnya.
Selain itu, suaminya, Pangeran Philip, Duke of Edinburgh, mengunjungi Israel pada 1994 untuk menghadiri upacara penghormatan kepada ibunya, Putri Alice, yang dimakamkan di Gereja Maria Magdalena di Yerusalem.
Putri Alice diakui oleh Yad Vashem sebagai "Righteous Among the Nations" karena menyelamatkan sebuah keluarga Yahudi saat Perang Dunia II di Athena yang diduduki Nazi.
Reaksi Publik
Pernyataan Reuven Rivlin memicu beragam tanggapan di media sosial.
Sebagian pengguna memuji sikap Ratu Elizabeth yang tidak pernah mengunjungi Israel. Sebagian lainnya berpendapat bahwa keputusan tersebut lebih dipengaruhi oleh sejarah konflik antara kelompok bersenjata Zionis dan pemerintahan Inggris daripada persoalan pendudukan Palestina.
Di sisi lain, ada pula yang menilai hubungan Ratu Elizabeth dengan Israel jauh lebih kompleks, mengingat rekam jejak hubungan diplomatiknya dengan para pemimpin Israel dan komunitas Yahudi Inggris.
Pernyataan Rivlin kembali menjadi sorotan ketika Israel terus melancarkan operasi militer di Jalur Gaza yang memicu krisis kemanusiaan dan menarik perhatian dunia internasional.
0 komentar: