basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Pertanyaan Pertama Fir'aun kepada Nabi Musa Saat Tiba di Istana Di balik kemegahan istana Mesir, tersimpan salah satu dialo...



Pertanyaan Pertama Fir'aun kepada Nabi Musa Saat Tiba di Istana

Di balik kemegahan istana Mesir, tersimpan salah satu dialog paling penting dalam sejarah dakwah para nabi. Atas perintah Allah, Nabi Musa dan Nabi Harun mendatangi Fir'aun, penguasa yang mengaku sebagai tuhan bagi rakyatnya. Misi mereka bukan sekadar menyampaikan pesan, melainkan menantang fondasi kekuasaan yang dibangun di atas kesombongan dan penyembahan kepada selain Allah.

Menurut riwayat yang dikutip dalam Tafsir Tahlili Kementerian Agama, Musa dan Harun harus menunggu cukup lama di depan istana karena penjagaan yang sangat ketat. Setelah akhirnya diizinkan masuk, keduanya berdiri di hadapan Fir'aun beserta para pembesar kerajaannya. Di sinilah dialog bersejarah itu dimulai.

Pertanyaan Pertama Fir'aun

Fir'aun tidak langsung membahas tuntutan pembebasan Bani Israil. Pertanyaan pertamanya justru menyentuh inti dakwah yang dibawa Musa.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قَالَ فَمَنْ رَّبُّكُمَا يٰمُوْسٰى

"Dia (Fir'aun) berkata, 'Siapakah Tuhanmu berdua, wahai Musa?'" (QS. Ṭāhā [20]: 49)

Pertanyaan itu ditujukan kepada Musa, meskipun Harun juga hadir. Tafsir menjelaskan bahwa Musa menjadi juru bicara utama, sedangkan Harun berperan sebagai pendamping dalam menyampaikan risalah.

Jawaban Nabi Musa: Definisi Rabb yang Sangat Mendasar

Musa tidak menjawab dengan menyebut nama Allah semata. Ia menjelaskan sifat Rabb melalui bukti penciptaan dan pemeliharaan seluruh alam.

Allah berfirman:

قَالَ رَبُّنَا الَّذِيْٓ اَعْطٰى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهٗ ثُمَّ هَدٰى

"Tuhan kami ialah Tuhan yang telah menganugerahkan kepada segala sesuatu bentuk penciptaannya yang layak, kemudian memberinya petunjuk." (QS. Ṭāhā [20]: 50)

Jawaban ini mengandung dua prinsip besar.

Pertama, Allah menciptakan setiap makhluk dengan bentuk, susunan, dan perangkat yang paling sesuai dengan tugasnya. Mata diciptakan untuk melihat, telinga untuk mendengar, tangan untuk bekerja, dan seluruh anggota tubuh memiliki fungsi yang sempurna.

Kedua, Allah tidak hanya menciptakan, tetapi juga memberi petunjuk kepada setiap makhluk. Semua makhluk mengetahui fungsi dan jalan hidupnya sesuai ketetapan Allah. Manusia pun diberi petunjuk melalui fitrah, akal, dan wahyu agar mampu membedakan jalan kebenaran dan kesesatan.

Dengan satu kalimat yang singkat, Musa membongkar klaim ketuhanan Fir'aun. Seorang manusia mungkin mampu memerintah rakyatnya, tetapi tidak mampu menciptakan satu makhluk pun, apalagi memberi petunjuk kepada seluruh alam.

Fir'aun Mengalihkan Pembicaraan

Mendengar jawaban yang sulit dibantah, Fir'aun tidak membalas argumentasi Musa secara langsung. Ia justru mengubah arah pembicaraan.

Allah berfirman:

قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُوْنِ الْاُوْلٰى

"Dia (Fir'aun) bertanya, 'Bagaimana keadaan generasi-generasi terdahulu?'" (QS. Ṭāhā [20]: 51)

Tafsir Tahlili menjelaskan bahwa pertanyaan ini merupakan upaya Fir'aun mengalihkan perhatian dari pokok persoalan. Ia ingin membawa dialog kepada pembahasan tentang nasib umat-umat terdahulu agar Musa tidak lagi melanjutkan hujah yang dapat menggoyahkan keyakinan rakyat Mesir.

Strategi seperti ini sering digunakan oleh pihak yang tidak mampu membantah argumen utama. Alih-alih menjawab substansi, mereka menggeser pembahasan ke isu lain.

Nabi Musa Tidak Terjebak

Musa tidak mengikuti arah permainan Fir'aun. Ia menjawab secara singkat dan mengembalikan persoalan gaib kepada Allah.

Allah berfirman:

قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْ فِيْ كِتٰبٍۚ لَا يَضِلُّ رَبِّيْ وَلَا يَنْسَى

"Pengetahuan tentang itu ada pada Tuhanku di dalam sebuah Kitab. Tuhanku tidak akan salah dan tidak pula lupa." (QS. Ṭāhā [20]: 52)

Jawaban ini menegaskan bahwa nasib generasi terdahulu merupakan perkara gaib yang sepenuhnya berada dalam ilmu Allah. Semua amal manusia telah tercatat di Lauḥ Maḥfūẓ dan akan diadili secara sempurna. Tidak ada satu amal pun yang luput dari pengetahuan-Nya.

Bukti Ketuhanan Allah Melalui Alam Semesta

Setelah menjelaskan bahwa Allah Maha Mengetahui, Musa kembali mengarahkan pembicaraan kepada tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Allah berfirman:

الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ مَهْدًا...

"Dialah Tuhan yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, membuat jalan-jalan di atasnya, menurunkan air dari langit, lalu menumbuhkan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan." (QS. Ṭāhā [20]: 53)

Kemudian Allah berfirman:

كُلُوْا وَارْعَوْا اَنْعَامَكُمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى النُّهٰى

"Makanlah dan gembalakanlah ternakmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (QS. Ṭāhā [20]: 54)

Musa mengajak Fir'aun melihat bukti yang ada di hadapannya: bumi yang dapat dihuni, jalan-jalan yang memudahkan perjalanan, hujan yang menumbuhkan tanaman, serta rezeki bagi manusia dan hewan. Semua itu menjadi saksi bahwa Rabb yang sejati adalah Pencipta dan Pengatur alam semesta, bukan penguasa yang hanya menguasai sebuah kerajaan.

Pelajaran dari Dialog Istana Fir'aun

Dialog ini memperlihatkan beberapa pelajaran penting.

Pertama, dakwah selalu dimulai dari pengenalan terhadap Rabb, bukan dari persoalan-persoalan cabang.

Kedua, hujah yang kuat dibangun di atas fakta penciptaan, bukan sekadar retorika.

Ketiga, ketika lawan mengalihkan pembahasan dari pokok persoalan, seorang pendakwah tidak perlu larut mengikuti arah yang diinginkan, tetapi tetap fokus pada inti kebenaran.

Keempat, alam semesta merupakan bukti yang terus-menerus menunjukkan keesaan Allah. Siapa pun yang menggunakan akalnya dengan jujur akan menemukan bahwa seluruh ciptaan menunjuk kepada Rabb Yang Maha Mencipta, Maha Mengatur, dan Maha Memberi Petunjuk.

Dialog singkat di istana Fir'aun ini bukan sekadar catatan sejarah. Ia menjadi pelajaran sepanjang zaman tentang bagaimana kebenaran disampaikan dengan argumentasi yang jernih, tenang, dan berlandaskan wahyu.

Ratu Elizabeth Anggap Semua Orang Israel Adalah Teroris? Pangeran Charles Anggap Presiden Amerika tidak Berani Hadapi Lobi Yahud...



Ratu Elizabeth Anggap Semua Orang Israel Adalah Teroris? Pangeran Charles Anggap Presiden Amerika tidak Berani Hadapi Lobi Yahudi 


Mendiang Ratu Elizabeth II disebut meyakini bahwa semua orang Israel adalah "teroris atau putra teroris". Pernyataan tersebut diungkapkan oleh mantan Presiden Israel, Reuven Rivlin, dan memicu reaksi luas.

Menurut British Jewish News, Rivlin menyampaikan pernyataan itu dalam sebuah acara gala di London yang memperingati 100 tahun Institut Teknologi Technion Haifa. Ia mengatakan bahwa pandangan Ratu Elizabeth terhadap Israel membuat hubungan sang ratu dengan negara tersebut menjadi tegang.

"Dalam praktiknya, ia menolak menerima pejabat Israel di Istana Buckingham, kecuali dalam acara-acara internasional," ujar Rivlin, sebagaimana dikutip The New Arab.

Rivlin juga mengatakan bahwa Raja Charles III, berbeda dengan ibunya, selalu bersikap "sangat ramah" terhadap Israel.

Tidak Pernah Mengunjungi Israel

Selama 70 tahun bertakhta, Ratu Elizabeth II melakukan kunjungan resmi ke lebih dari 120 negara dan menempuh perjalanan lebih dari satu juta mil. Namun, ia tidak pernah melakukan kunjungan resmi ke Israel hingga wafat pada 8 September 2022.

Bahkan, selama bertahun-tahun tidak ada anggota keluarga kerajaan Inggris yang mengunjungi Israel dalam kapasitas resmi. Situasi itu baru berubah pada 2018 ketika Pangeran William, cucu Ratu Elizabeth, melakukan kunjungan resmi ke Israel dalam rangka peringatan 70 tahun berdirinya negara tersebut. Kunjungan itu juga menuai kritik dari banyak warga Palestina dan para aktivis.

Menurut berbagai laporan, Ratu Elizabeth juga enggan menerima pejabat Israel di Istana Buckingham, kecuali dalam acara atau kegiatan internasional.

Dugaan Alasan di Balik Sikap Ratu

Berbagai spekulasi muncul mengenai alasan Ratu Elizabeth tidak pernah mengunjungi Israel.

Sebagian pihak berpendapat bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan keinginan Inggris untuk menjaga hubungan baik dengan negara-negara Teluk Arab.

Sementara itu, pendapat lain mengaitkannya dengan sejarah pemberontakan kelompok-kelompok bersenjata Zionis terhadap pemerintahan Mandat Inggris di Palestina sebelum berdirinya negara Israel pada 1948.

Perhatian khusus juga tertuju pada pengeboman Hotel King David pada Juli 1946 yang menewaskan 91 orang dan melukai 45 lainnya, termasuk banyak pejabat dan personel Inggris.

Kunjungan ke Yordania

Pada 1984, Ratu Elizabeth melakukan kunjungan resmi ke Yordania dan bertemu Raja Hussein I.

Dalam kunjungan tersebut, ketika melihat Tepi Barat dari kejauhan dan jet tempur Israel melintas di langit, Ratu dilaporkan berkata, "Betapa menakutkannya."

Ratu Noor, istri Raja Hussein, disebut menjawab, "Mengerikan."

Dalam kesempatan lain, setelah melihat peta yang menunjukkan lokasi permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki, Ratu Elizabeth dikutip mengatakan, "Sungguh peta yang menyedihkan."

Sikap Raja Charles III

Berbeda dengan ibunya, Raja Charles III telah melakukan kunjungan resmi ke Israel dan Tepi Barat pada Januari 2020 saat masih menjabat sebagai Pangeran Wales.

Di Yerusalem, ia menghadiri Forum Holocaust Dunia untuk memperingati 75 tahun pembebasan kamp konsentrasi Auschwitz. Dalam pidatonya, Charles mengingatkan bahwa pelajaran Holocaust tetap relevan dan mengajak para pemimpin dunia untuk berani melawan kebencian, kepalsuan, dan kekerasan.

Dalam perjalanan yang sama, ia juga mengunjungi Betlehem dan menyampaikan harapan akan perdamaian yang adil dan abadi di Timur Tengah. Charles memuji energi, keramahan, dan kemurahan hati masyarakat Palestina.

Namun, Charles juga pernah menuai kritik setelah isi surat pribadinya pada 1986 dipublikasikan pada 2017. Dalam surat tersebut, ia menyinggung bahwa masuknya orang-orang Yahudi Eropa ke Israel menjadi salah satu penyebab konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Ia juga mengungkapkan kekecewaannya karena Presiden Amerika Serikat, menurutnya, tidak berani menghadapi lobi Yahudi di negaranya.

Menanggapi polemik itu, juru bicara Charles menjelaskan bahwa surat tersebut tidak mencerminkan pandangan pribadinya, melainkan rangkuman pandangan yang ia dengar selama kunjungannya ke Arab Saudi, Qatar, dan Bahrain. Juru bicara itu juga menegaskan bahwa Charles selama bertahun-tahun aktif mendorong dialog antaragama serta membangun hubungan baik dengan komunitas Yahudi maupun Arab.

Perdebatan Mengenai Sikap Ratu

Pada 2012, mantan pemimpin redaksi Haaretz, David Landau, menulis bahwa jika Ratu Elizabeth benar-benar menghendaki kunjungan ke Israel, ia memiliki kewenangan moral untuk mewujudkannya.

Menurut Landau, keputusan untuk tidak berkunjung menunjukkan bahwa sang ratu ikut mempertahankan kebijakan Inggris yang dinilainya sebagai bentuk penolakan diplomatik terhadap Israel.

Namun, pandangan tersebut dibantah oleh pihak-pihak yang menilai Ratu Elizabeth tidak bersikap anti-Israel.

Selama masa pemerintahannya, Ratu menerima beberapa Presiden Israel yang berkunjung ke Inggris, di antaranya Ephraim Katzir, Chaim Herzog, dan Ezer Weizman. Ia juga menganugerahkan gelar kehormatan kepada mantan Presiden Israel Shimon Peres.

Ratu Elizabeth juga dikenal memiliki hubungan yang baik dengan komunitas Yahudi di Inggris. Ia memberikan gelar bangsawan kepada Kepala Rabbi Immanuel Jakobovits, Jonathan Sacks, serta sejumlah tokoh Yahudi Inggris lainnya.

Selain itu, suaminya, Pangeran Philip, Duke of Edinburgh, mengunjungi Israel pada 1994 untuk menghadiri upacara penghormatan kepada ibunya, Putri Alice, yang dimakamkan di Gereja Maria Magdalena di Yerusalem.

Putri Alice diakui oleh Yad Vashem sebagai "Righteous Among the Nations" karena menyelamatkan sebuah keluarga Yahudi saat Perang Dunia II di Athena yang diduduki Nazi.

Reaksi Publik

Pernyataan Reuven Rivlin memicu beragam tanggapan di media sosial.

Sebagian pengguna memuji sikap Ratu Elizabeth yang tidak pernah mengunjungi Israel. Sebagian lainnya berpendapat bahwa keputusan tersebut lebih dipengaruhi oleh sejarah konflik antara kelompok bersenjata Zionis dan pemerintahan Inggris daripada persoalan pendudukan Palestina.

Di sisi lain, ada pula yang menilai hubungan Ratu Elizabeth dengan Israel jauh lebih kompleks, mengingat rekam jejak hubungan diplomatiknya dengan para pemimpin Israel dan komunitas Yahudi Inggris.

Pernyataan Rivlin kembali menjadi sorotan ketika Israel terus melancarkan operasi militer di Jalur Gaza yang memicu krisis kemanusiaan dan menarik perhatian dunia internasional.

Bisakah Meminta Pertolongan kepada Malaikat? Benarkah malaikat dapat dimintai pertolongan? Apakah kedekatan mereka dengan Allah ...

Bisakah Meminta Pertolongan kepada Malaikat?


Benarkah malaikat dapat dimintai pertolongan? Apakah kedekatan mereka dengan Allah menjadikan mereka memiliki kuasa untuk menyelamatkan manusia? Ataukah semua pertolongan tetap berada sepenuhnya di bawah kehendak Allah?

Surah An-Najm ayat 26–30 mengupas persoalan ini secara tegas. Al-Qur'an tidak hanya meluruskan keyakinan kaum musyrik Arab, tetapi juga menetapkan prinsip mendasar tentang tauhid: tidak ada satu pun makhluk, termasuk malaikat, yang dapat memberi syafaat atau pertolongan tanpa izin Allah.

Fakta Pertama: Malaikat Tidak Memiliki Kewenangan Mutlak

«وَكَمْ مِّنْ مَّلَكٍ فِي السَّمٰوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْـًٔا إِلَّا مِنْۢ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللّٰهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

"Betapa banyak malaikat di langit yang syafaat mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali setelah Allah mengizinkan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridai." (QS. An-Najm: 26)»

Ayat ini membongkar anggapan bahwa malaikat memiliki kekuasaan independen untuk menolong manusia.

Tafsir Tahlili Kementerian Agama menjelaskan bahwa malaikat yang begitu dekat dengan Allah pun tidak mampu memberikan pertolongan apa pun kecuali setelah memperoleh izin-Nya. Syafaat bukan hak yang melekat pada malaikat, melainkan hak yang sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah.

Logikanya menjadi sangat jelas. Jika malaikat yang mulia saja tidak memiliki kewenangan mutlak, maka berhala, patung, benda mati, atau makhluk lainnya tentu lebih tidak memiliki kemampuan sedikit pun untuk memberikan pertolongan.

Dengan demikian, ayat ini bukan sekadar berbicara tentang syafaat, tetapi juga menegakkan fondasi tauhid bahwa seluruh bentuk pertolongan hakikatnya berasal dari Allah.

Fakta Kedua: Keyakinan Harus Berdiri di Atas Ilmu, Bukan Dugaan

Al-Qur'an kemudian mengungkap akar kesalahan kaum musyrik.

«إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ لَيُسَمُّونَ الْمَلَائِكَةَ تَسْمِيَةَ الْأُنْثَى

"Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat benar-benar menamai para malaikat dengan nama perempuan." (QS. An-Najm: 27)»

Mereka mengklaim bahwa malaikat adalah "anak-anak perempuan Allah". Klaim ini sama sekali tidak memiliki dasar wahyu ataupun ilmu.

Allah membantahnya secara tegas.

«وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ ۖ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْـًٔا

"Mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Mereka hanyalah mengikuti dugaan, sedangkan dugaan tidak berguna sedikit pun terhadap kebenaran." (QS. An-Najm: 28)»

Tafsir Tahlili menerangkan bahwa keyakinan tersebut merupakan bentuk kebodohan yang melahirkan dua penyimpangan besar: menganggap Allah mempunyai anak dan menetapkan jenis kelamin bagi malaikat tanpa dasar ilmu.

Al-Qur'an mengajarkan bahwa akidah tidak boleh dibangun di atas tradisi, prasangka, atau cerita turun-temurun. Keimanan harus berdiri di atas ilmu yang benar.

Fakta Ketiga: Orientasi Dunia Menutup Jalan Hidayah

Mengapa mereka tetap bertahan dalam keyakinan yang keliru?

Allah mengungkap penyebabnya.

«فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

"Maka tinggalkanlah orang yang berpaling dari peringatan Kami dan hanya menginginkan kehidupan dunia." (QS. An-Najm: 29)»

Menurut Tafsir Tahlili, mereka menolak Al-Qur'an bukan karena kurangnya bukti, melainkan karena hati mereka telah dipenuhi orientasi dunia. Harta, kedudukan, dan kenikmatan dunia menjadi tujuan utama sehingga mereka tidak lagi memberi ruang bagi petunjuk Allah.

Allah bahkan menghibur Rasulullah ﷺ agar tidak larut dalam kesedihan menghadapi penolakan tersebut. Hidayah bukan berada di tangan manusia, melainkan di tangan Allah.

Fakta Keempat: Keterbatasan Ilmu Manusia

Rangkaian ayat ini ditutup dengan penegasan yang sangat mendasar.

«ذٰلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِّنَ الْعِلْمِ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَى

"Itulah kadar pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS. An-Najm: 30)»

Sebesar apa pun pengetahuan manusia, ia tetap memiliki batas. Allah-lah yang mengetahui siapa yang benar-benar mencari petunjuk dan siapa yang memilih kesesatan.

Karena itu, manusia tidak layak menghakimi perkara-perkara gaib berdasarkan dugaan. Allah adalah Pemilik ilmu yang sempurna, sedangkan manusia hanya mengetahui apa yang Dia ajarkan.

Kesimpulan: Kepada Siapa Pertolongan Diminta?

Surah An-Najm ayat 26–30 memberikan jawaban yang sangat tegas.

Malaikat adalah makhluk Allah yang mulia, tetapi mereka tidak memiliki kekuasaan mandiri untuk memberi syafaat atau pertolongan. Semua syafaat hanya terjadi apabila Allah mengizinkan dan meridai orang yang menerimanya.

Oleh sebab itu, seorang mukmin menjadikan Allah sebagai tempat bergantung dan memohon pertolongan. Malaikat dihormati sebagai hamba-hamba Allah yang taat, bukan sebagai pihak yang memiliki kuasa sendiri untuk mengabulkan permohonan manusia.

Rangkaian ayat ini sekaligus mengingatkan bahwa penyimpangan akidah selalu berawal dari dugaan yang menggantikan ilmu, hawa nafsu yang mengalahkan wahyu, serta orientasi dunia yang menutupi hati dari petunjuk Allah. Sebaliknya, tauhid yang murni dibangun di atas keyakinan bahwa seluruh pertolongan, syafaat, dan keputusan mutlak berada di tangan Allah semata.

Maha Berkehendak Allah Siapakah yang menentukan akhir dari setiap perjalanan manusia? Siapakah yang mengubah tawa menjadi tangis...


Maha Berkehendak Allah



Siapakah yang menentukan akhir dari setiap perjalanan manusia? Siapakah yang mengubah tawa menjadi tangis, kehidupan menjadi kematian, kemiskinan menjadi kecukupan, bahkan membinasakan sebuah peradaban yang tampak tak terkalahkan?

Surah An-Najm ayat 42–50 menghadirkan rangkaian pernyataan yang sangat kuat. Setiap ayat diawali dengan penegasan "wa annahu" (dan sesungguhnya Dialah...), seakan-akan Allah sedang membangun sebuah berkas bukti tentang kemahakuasaan-Nya. Tidak ada satu pun aspek kehidupan yang berada di luar kehendak-Nya.

1. Seluruh Perjalanan Berakhir kepada Allah

«وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰى

"Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahan segala sesuatu." (QS. An-Najm: 42)»

Ayat ini menjadi fondasi seluruh rangkaian berikutnya. Setiap perjalanan manusia, setiap kekuasaan, setiap peradaban, bahkan seluruh alam semesta, pada akhirnya kembali kepada Allah.

Tafsir Tahlili Kementerian Agama menjelaskan bahwa Allah adalah tempat kembali seluruh makhluk pada Hari Kiamat. Di sanalah seluruh amal diperhitungkan tanpa ada yang terlewat, baik yang kecil maupun yang besar. Ayat ini menjadi ancaman bagi pelaku kezaliman sekaligus kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh.

Bagi Rasulullah ﷺ, ayat ini juga menjadi penghibur. Penolakan, hinaan, dan kedustaan kaum musyrik bukanlah akhir dari perjuangan. Allah mengetahui seluruh rahasia dan akan memberikan keputusan yang paling adil.

2. Allah Menguasai Emosi Manusia

«وَاَنَّهٗ هُوَ اَضْحَكَ وَاَبْكٰى

"Dialah yang menjadikan manusia tertawa dan menangis." (QS. An-Najm: 43)»

Tawa dan tangis bukan sekadar reaksi biologis. Keduanya berada dalam kekuasaan Allah.

Allah menciptakan sebab-sebab yang menghadirkan kegembiraan maupun kesedihan. Keberhasilan, kegagalan, kemenangan, kehilangan, kelahiran, hingga kematian semuanya menjadi bagian dari ketetapan-Nya.

Karena itu, seorang mukmin tidak larut dalam kegembiraan dan tidak pula tenggelam dalam kesedihan. Ia memahami bahwa seluruh keadaan berada dalam pengaturan Rabb semesta alam.

3. Allah Pemilik Kehidupan dan Kematian

«وَاَنَّهٗ هُوَ اَمَاتَ وَاَحْيَا

"Dialah yang mematikan dan menghidupkan." (QS. An-Najm: 44)»

Tidak ada makhluk yang mampu memperpanjang hidup seseorang apabila ajal telah tiba. Sebaliknya, tidak ada kekuatan yang mampu menghalangi kehidupan ketika Allah menghendakinya.

Sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Mulk ayat 2, Allah menciptakan kehidupan dan kematian sebagai ujian untuk mengetahui siapa yang paling baik amalnya.

Kematian bukan akhir perjalanan, melainkan pintu menuju kehidupan berikutnya.

4. Dari Setetes Mani Menjadi Manusia

«وَاَنَّهٗ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰى • مِنْ نُّطْفَةٍ اِذَا تُمْنٰى

"Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan dari setetes mani yang dipancarkan." (QS. An-Najm: 45–46)»

Allah mengingatkan manusia tentang asal-usulnya yang sangat sederhana.

Dari setetes air mani, Allah membentuk embrio, menyempurnakan penciptaan, meniupkan ruh, lalu menentukan jenis kelamin, karakter, dan seluruh potensi kehidupan.

Tafsir Tahlili mengaitkan ayat ini dengan berbagai ayat lain yang menjelaskan tahapan penciptaan manusia secara bertahap, sekaligus menjadi bukti kekuasaan Allah yang tidak mungkin ditandingi oleh siapa pun.

5. Kebangkitan Setelah Kematian

«وَاَنَّ عَلَيْهِ النَّشْاَةَ الْاُخْرٰى

"Dan sesungguhnya Dialah yang menetapkan penciptaan yang lain (kebangkitan setelah mati)." (QS. An-Najm: 47)»

Apabila Allah mampu menciptakan manusia dari ketiadaan, maka membangkitkan manusia setelah kematian tentu jauh lebih mudah bagi-Nya.

Ayat ini menjadi bantahan terhadap mereka yang mengingkari Hari Kebangkitan. Seluruh manusia akan dihidupkan kembali untuk mempertanggungjawabkan seluruh amalnya.

6. Kekayaan dan Kecukupan Berasal dari Allah

«وَاَنَّهٗ هُوَ اَغْنٰى وَاَقْنٰى

"Dialah yang menganugerahkan kekayaan dan kecukupan." (QS. An-Najm: 48)»

Harta bukan semata hasil kecerdasan, jabatan, atau kekuatan ekonomi.

Allah-lah yang melapangkan rezeki dan Allah pula yang menyempitkannya sesuai hikmah-Nya.

Karena itu, kekayaan bukan ukuran kemuliaan, sebagaimana kemiskinan bukan tanda kehinaan. Yang menjadi ukuran di sisi Allah adalah ketakwaan.

7. Bahkan Bintang yang Disembah Pun Milik Allah

«وَاَنَّهٗ هُوَ رَبُّ الشِّعْرٰى

"Dan sesungguhnya Dialah Tuhan yang memiliki bintang Syi'ra." (QS. An-Najm: 49)»

Mengapa Allah menyebut satu bintang secara khusus?

Pada masa jahiliah, sebagian bangsa Arab menjadikan bintang Syi'ra sebagai sesembahan dan meyakini bahwa bintang tersebut memiliki kekuatan gaib yang memengaruhi kehidupan manusia.

Al-Qur'an membongkar keyakinan itu secara tegas. Bintang yang mereka sembah hanyalah ciptaan Allah. Ia tidak memiliki kekuasaan sedikit pun selain apa yang Allah tetapkan.

Dengan demikian, runtuhlah seluruh bentuk penyembahan kepada selain Allah.

8. Bukti Akhir: Allah Menghancurkan Peradaban yang Sombong

«وَاَنَّهٗٓ اَهْلَكَ عَادًا الْاُوْلٰى

"Dan sesungguhnya Dialah yang telah membinasakan kaum 'Ad yang terdahulu." (QS. An-Najm: 50)»

Rangkaian ayat ini ditutup dengan fakta sejarah.

Kaum 'Ad pernah menjadi salah satu peradaban paling kuat pada zamannya. Mereka memiliki kekuatan fisik, teknologi bangunan, dan pengaruh politik yang besar. Namun ketika kesombongan menguasai mereka dan mereka menolak para rasul, seluruh kejayaan itu berakhir dalam sekejap atas kehendak Allah.

Sejarah ini menjadi bukti bahwa tidak ada kekuasaan yang abadi. Sebesar apa pun sebuah peradaban, apabila membangkang kepada Allah, maka kehancurannya hanya menunggu waktu.

Penutup: Sebuah Berkas Bukti tentang Kemahakuasaan Allah

Surah An-Najm ayat 42–50 menyusun sebuah rangkaian argumentasi yang sangat sistematis.

Allah menunjukkan bahwa:

- kepada-Nya seluruh perjalanan berakhir;
- Dia menguasai tawa dan tangis;
- Dia menghidupkan dan mematikan;
- Dia menciptakan manusia dari setetes mani;
- Dia membangkitkan manusia setelah mati;
- Dia memberi kekayaan dan kecukupan;
- Dia menguasai seluruh benda langit, termasuk bintang yang dahulu disembah manusia; dan
- Dia menghancurkan peradaban yang sombong.

Semua itu mengarah pada satu kesimpulan besar: seluruh alam semesta berada di bawah kehendak Allah. Tidak ada satu pun kekuatan yang mampu menandingi keputusan-Nya. Dialah awal, pengatur, sekaligus tujuan akhir dari segala sesuatu.



Bergembira dengan Hembusan Angin, Mengapa Tidak Bergembira dengan Diutusnya Rasul? Mengapa manusia begitu mudah bergembira ket...

Bergembira dengan Hembusan Angin, Mengapa Tidak Bergembira dengan Diutusnya Rasul?


Mengapa manusia begitu mudah bergembira ketika angin bertiup membawa awan hujan, tetapi banyak yang justru menolak ketika Allah mengutus seorang rasul?

Pertanyaan itu menjadi salah satu pola yang menarik dalam Surah Ar-Rūm. Di tengah pembahasan tentang tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, Al-Qur'an menyisipkan kisah para rasul. Sekilas tampak sebagai tema yang berbeda. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, keduanya justru disusun dalam satu alur yang saling menjelaskan.

Dua Utusan dari Langit

Allah memulai dengan menjelaskan bahwa angin merupakan salah satu tanda kekuasaan-Nya.

"Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira..." (QS. Ar-Rūm: 46)

Angin datang membawa kabar baik. Ia menggerakkan awan, menghadirkan hujan, menghidupkan pertanian, menggerakkan pelayaran, membuka perdagangan, dan menjadi jalan manusia mencari rezeki. Seluruh proses itu berakhir dengan satu tujuan: agar manusia bersyukur kepada Allah.

Namun, tepat setelah membahas angin, Al-Qur'an beralih kepada utusan yang lain.

"Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus sebelum engkau beberapa orang rasul kepada kaumnya..." (QS. Ar-Rūm: 47)

Perpindahan tema ini bukanlah kebetulan. Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa jika angin membawa manfaat besar bagi kehidupan dunia, maka para rasul membawa manfaat yang jauh lebih besar karena mereka membawa wahyu, petunjuk, dan keselamatan bagi kehidupan dunia sekaligus akhirat.

Dengan kata lain, Surah Ar-Rūm sedang memperlihatkan dua bentuk "pengutusan" dari Allah: pengutusan angin untuk menghidupkan bumi, dan pengutusan rasul untuk menghidupkan hati manusia.

Mengapa Angin Disambut, Rasul Ditolak?

Ketika angin menggiring awan dan hujan mulai turun, reaksi manusia digambarkan sangat spontan.

"...Apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, seketika itu pula mereka bergembira." (QS. Ar-Rūm: 48)

Padahal sebelumnya mereka hampir berputus asa karena kemarau panjang.

Mereka memahami bahwa hujan berarti kehidupan. Sawah kembali hijau, ternak terselamatkan, sungai kembali mengalir, dan roda ekonomi berputar lagi.

Namun ironisnya, kegembiraan yang sama tidak selalu muncul ketika Allah mengutus para rasul.

Padahal, jika hujan menghidupkan bumi yang mati, wahyu menghidupkan hati yang telah mati oleh kesyirikan, kezaliman, dan hawa nafsu.

Karena itu, manfaat diutusnya seorang rasul sesungguhnya jauh melampaui manfaat turunnya hujan.

Rahmat yang Terlihat dan Rahmat yang Tidak Terlihat

Allah kemudian mengajak manusia memperhatikan jejak rahmat-Nya.

"Perhatikanlah jejak-jejak rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering)." (QS. Ar-Rūm: 50)

Tanah yang sebelumnya tandus berubah menjadi subur. Bumi yang mati kembali dipenuhi kehidupan.

Perubahan itu menjadi bukti nyata bahwa Allah juga mampu menghidupkan manusia setelah kematian pada Hari Kebangkitan.

Sebagaimana hujan menghidupkan bumi, wahyu yang dibawa para rasul menghidupkan manusia dari kematian spiritual menuju kehidupan iman.

Rahmat Allah ternyata hadir dalam dua bentuk: rahmat yang tampak oleh mata melalui hujan, dan rahmat yang membimbing jiwa melalui wahyu.

Ketika Nikmat Berubah Menjadi Ujian

Surah Ar-Rūm tidak berhenti pada kisah turunnya hujan.

Allah mengingatkan bahwa angin yang sama juga dapat berubah menjadi sebab kehancuran.

"Sungguh, jika Kami mengirimkan angin, lalu mereka melihat tumbuh-tumbuhan itu menguning, niscaya setelah itu mereka tetap berbuat ingkar." (QS. Ar-Rūm: 51)

Angin yang sebelumnya membawa kabar gembira dapat berubah menjadi ujian. Tanaman mengering, hasil panen gagal, dan manusia kembali diuji: apakah mereka tetap bersyukur atau justru mengingkari nikmat Allah.

Demikian pula dengan risalah para rasul. Sebagian manusia menerima petunjuk sehingga memperoleh keselamatan. Sebagian lainnya menolak sehingga menerima akibat dari kedurhakaannya.

Karena itu Allah menegaskan bahwa para rasul datang membawa bukti-bukti yang nyata. Ketika kaumnya tetap membangkang, Allah menimpakan pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa, sedangkan orang-orang beriman memperoleh pertolongan-Nya.

Pelajaran Besar Surah Ar-Rūm

Rangkaian ayat ini memperlihatkan pola yang sangat menarik.

Angin diutus untuk menghidupkan bumi.

Rasul diutus untuk menghidupkan hati.

Hujan menghadirkan kehidupan jasmani.

Wahyu menghadirkan kehidupan ruhani.

Manusia bergembira ketika melihat awan mendung yang menjanjikan hujan. Namun, Al-Qur'an mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam: mengapa manusia tidak menyambut dengan kegembiraan yang sama ketika Allah mengutus para rasul yang membawa petunjuk menuju keselamatan dunia dan akhirat?

Jika hembusan angin saja layak disambut sebagai kabar gembira, maka diutusnya para nabi dan rasul adalah rahmat yang jauh lebih agung. Sebab melalui merekalah Allah tidak hanya menghidupkan bumi, tetapi juga membangunkan hati manusia menuju jalan yang lurus dan kemenangan yang hakiki.

Dua Model Pergantian Rezim Penguasa dalam Sirah Nabawiyah Bagaimana sebuah rezim berganti tanpa meninggalkan perang saudara ya...





Dua Model Pergantian Rezim Penguasa dalam Sirah Nabawiyah


Bagaimana sebuah rezim berganti tanpa meninggalkan perang saudara yang berkepanjangan?

Pertanyaan ini menjadi salah satu tema besar dalam sejarah politik manusia. Banyak pergantian kekuasaan berakhir dengan balas dendam, pembersihan politik, atau lahirnya konflik baru. Namun Sirah Nabawiyah memperlihatkan dua model transisi kekuasaan yang berbeda, tetapi sama-sama menghasilkan stabilitas.

Model pertama lahir ketika pemimpin berasal dari luar sistem kekuasaan yang ada. Model kedua muncul ketika rezim lama berhasil dikalahkan sepenuhnya. Menariknya, keduanya berakhir dengan konsolidasi masyarakat, bukan kekacauan.

Model Pertama: Hijrah ke Madinah

Ketika Rasulullah saw. berhijrah ke Madinah, beliau bukan berasal dari suku Aus maupun Khazraj. Beliau datang sebagai tokoh dari luar kota yang membawa risalah dan tata nilai yang baru.

Situasi politik Madinah saat itu sangat kompleks.

Aus dan Khazraj merupakan dua suku terbesar secara demografis, tetapi keduanya baru saja melewati konflik panjang yang melemahkan persatuan mereka. Di sisi lain, kelompok Yahudi memiliki pengaruh yang kuat dalam bidang ekonomi dan memiliki posisi penting dalam keseimbangan politik kota.

Bahkan, menjelang hijrah Rasulullah saw., Abdullah bin Ubay bin Salul hampir dinobatkan sebagai pemimpin Madinah.

Mengapa justru seorang tokoh dari luar yang akhirnya memperoleh legitimasi?

Para ahli sirah seperti Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam menunjukkan bahwa masyarakat Yatsrib membutuhkan sosok penengah yang tidak terikat dengan konflik lama. Rasulullah saw. diterima bukan melalui perebutan kekuasaan, tetapi melalui kesepakatan bersama yang kemudian diwujudkan dalam Piagam Madinah.

Menurut Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, Rasulullah saw. tidak menghapus identitas berbagai kelompok yang ada. Aus tetap Aus, Khazraj tetap Khazraj, dan komunitas Yahudi tetap memiliki hak-haknya sesuai perjanjian. Yang berubah adalah dasar hubungan politik mereka: dari loyalitas kesukuan menuju komitmen terhadap aturan bersama.

Piagam Madinah menjadi fondasi kontrak sosial yang mengikat seluruh komponen masyarakat. Rasulullah saw. mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, menetapkan mekanisme penyelesaian sengketa, mengatur pertahanan bersama, serta menegaskan hak dan kewajiban setiap kelompok.

Dengan demikian, pergantian kepemimpinan berlangsung melalui legitimasi sosial, bukan dominasi militer.

Model Kedua: Futuh Mekah

Model kedua muncul dalam situasi yang sepenuhnya berbeda.

Selama lebih dari dua puluh tahun, kaum Quraisy menjadi penguasa yang memusuhi dakwah Islam. Mereka melakukan pemboikotan, penyiksaan, pengusiran, hingga peperangan terhadap kaum muslimin.

Secara logika politik, kemenangan atas Mekah dapat menjadi momentum pembalasan besar-besaran.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Saat memasuki Mekah sebagai pemenang, Rasulullah saw. menundukkan kepala dengan penuh tawaduk. Beliau kemudian mengumumkan pengampunan umum kepada penduduk Mekah. Hanya segelintir orang yang tetap dikenai hukuman karena tindak kejahatan yang sangat berat.

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq al-Makhtum menjelaskan bahwa kemenangan itu bukan sekadar penaklukan wilayah, melainkan kemenangan atas hati manusia. Sementara Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Buthi dalam Fiqh as-Sirah menilai kebijakan tersebut sebagai strategi rekonsiliasi yang menghilangkan akar dendam politik.

Rasulullah saw. tidak menghancurkan seluruh struktur sosial Mekah. Beliau justru mengintegrasikan mantan lawan ke dalam masyarakat Islam yang baru.

Hasilnya segera terlihat.

Pada Perang Hunain, banyak tokoh Quraisy yang sebelumnya menjadi musuh Islam ikut berjuang bersama Rasulullah saw. Sebagian memberikan pinjaman perlengkapan perang, sementara yang lain turut memperkuat barisan kaum muslimin.

Musuh berubah menjadi bagian dari kekuatan negara.

Dua Jalan, Satu Prinsip

Jika dibandingkan, kedua model tersebut menempuh jalan yang berbeda.

Model Hijrah membangun pemerintahan melalui kontrak sosial sebelum kekuasaan terbentuk.

Model Futuh Mekah membangun stabilitas melalui rekonsiliasi setelah kemenangan diraih.

Para ulama sirah melihat bahwa keberhasilan keduanya bertumpu pada tiga prinsip yang sama.

Pertama, tegaknya aturan yang adil. Rasulullah saw. memimpin berdasarkan ketentuan yang mengikat seluruh masyarakat, bukan berdasarkan kepentingan kelompok tertentu.

Kedua, pemutusan rantai dendam. Di Madinah, konflik Aus dan Khazraj diakhiri melalui persaudaraan. Di Mekah, permusuhan panjang dihentikan melalui pengampunan.

Ketiga, integrasi seluruh komponen masyarakat. Kelompok yang sebelumnya berada di luar kekuasaan tidak disingkirkan selama mereka menerima aturan yang berlaku dan berkomitmen menjaga ketertiban bersama.

Pelajaran Sirah

Sirah Nabawiyah memperlihatkan bahwa pergantian rezim tidak selalu identik dengan penghancuran rezim sebelumnya.

Dalam model Hijrah, Rasulullah saw. menunjukkan bahwa kepemimpinan dapat lahir melalui kepercayaan masyarakat dan kontrak sosial yang adil.

Dalam model Futuh Mekah, beliau memperlihatkan bahwa kemenangan yang paling kokoh bukanlah kemenangan yang melahirkan dendam baru, melainkan kemenangan yang mampu mengubah lawan menjadi mitra dalam membangun masyarakat.

Dua peristiwa besar ini menunjukkan bahwa stabilitas sebuah pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang berkuasa, tetapi juga oleh kemampuan pemimpinnya membangun kepercayaan, menegakkan keadilan, mengakhiri permusuhan, dan menyatukan berbagai kelompok dalam satu tatanan yang berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Persoalan Mendasar Perjalanan Manusia Mengapa manusia akhirnya binasa, padahal Allah menciptakannya dalam bentuk yang paling s...


Persoalan Mendasar Perjalanan Manusia


Mengapa manusia akhirnya binasa, padahal Allah menciptakannya dalam bentuk yang paling sempurna?

Surah As-Sajdah mengungkap akar persoalan itu. Setelah menjelaskan asal-usul penciptaan manusia, Allah justru menyoroti dua penyakit mendasar yang terus mengiringi perjalanan manusia sepanjang sejarah.

Pertama, sedikit bersyukur atas nikmat Allah.

Kedua, mengingkari pertemuan dengan Allah pada Hari Kiamat.

Dua sikap inilah yang menjadi pangkal kerusakan akidah, moral, dan peradaban manusia.

Manusia Diciptakan dengan Sempurna

Surah As-Sajdah memulai penjelasannya dengan mengajak manusia menelusuri asal-usul dirinya.

Allah menciptakan manusia pertama dari tanah. Kemudian keturunannya berasal dari sari pati air yang hina. Setelah itu Allah menyempurnakan penciptaannya, meniupkan ruh ciptaan-Nya, lalu menganugerahkan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani.

Seluruh perangkat itu diberikan agar manusia mengenal Penciptanya, memahami petunjuk-Nya, dan menjalani kehidupan dengan benar.

Namun, setelah menyebut seluruh nikmat tersebut, Al-Qur'an memberikan sebuah kesimpulan yang mengejutkan.

"Sedikit sekali kamu bersyukur." (QS. As-Sajdah: 9)

Menurut Tafsir Kementerian Agama, manusia dianugerahi berbagai potensi sejak dalam kandungan. Setelah lahir, seluruh kemampuan itu berkembang sehingga ia mampu melihat, mendengar, berpikir, dan merasakan. Akan tetapi, hanya sedikit manusia yang benar-benar mensyukuri nikmat tersebut.

Dengan kata lain, persoalan pertama manusia bukan kekurangan nikmat, melainkan kekurangan rasa syukur.

Mengingkari Pertemuan dengan Allah

Setelah membahas penciptaan manusia, Al-Qur'an langsung mengungkap persoalan kedua yang jauh lebih mendasar.

Orang-orang musyrik mempertanyakan kemungkinan hidup kembali setelah tubuh mereka hancur menjadi tanah.

"Apakah apabila kami telah lenyap di dalam tanah, kami akan kembali dalam ciptaan yang baru?" (QS. As-Sajdah: 10)

Lalu Allah mengungkap hakikat persoalannya.

"Bahkan mereka mengingkari pertemuan dengan Tuhan mereka." (QS. As-Sajdah: 10)

Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa persoalannya bukan sekadar keraguan terhadap proses kebangkitan, melainkan penolakan terhadap adanya hari ketika seluruh manusia harus mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Allah.

Padahal, Allah yang menciptakan manusia dari tiada tentu Mahakuasa untuk membangkitkannya kembali.

Kematian Bukan Akhir Perjalanan

Untuk membantah anggapan tersebut, Allah menegaskan bahwa kematian hanyalah perpindahan menuju kehidupan berikutnya.

"Malaikat maut yang diserahi tugas untukmu akan mematikanmu, kemudian kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan." (QS. As-Sajdah: 11)

Ayat ini mengubah cara pandang terhadap kematian. Kematian bukanlah akhir keberadaan manusia, melainkan awal dari fase pertanggungjawaban di hadapan Rabb semesta alam.

Tidak seorang pun mampu menghindari saat itu.

Penyesalan yang Datang Terlambat

Surah As-Sajdah kemudian membawa pembaca menyaksikan sebuah adegan pada Hari Kiamat.

Orang-orang yang dahulu mendustakan kebangkitan kini berdiri di hadapan Allah dengan kepala tertunduk.

Mereka berkata:

"Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar. Maka kembalikanlah kami ke dunia agar kami beramal saleh." (QS. As-Sajdah: 12)

Seluruh keraguan mereka telah lenyap.

Seluruh bukti yang dahulu mereka tuntut kini berada di hadapan mata.

Namun, pengakuan itu tidak lagi bermanfaat karena masa ujian telah berakhir.

Sunnatullah dalam Petunjuk dan Balasan

Allah kemudian menjelaskan bahwa Dia mampu memberi petunjuk kepada seluruh manusia apabila menghendaki.

Namun, Allah menetapkan sunnatullah bahwa manusia diberi kebebasan memilih jalan yang akan ditempuh.

"Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami menganugerahkan petunjuk kepada setiap jiwa." (QS. As-Sajdah: 13)

Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa ketetapan ini merupakan bagian dari sunnatullah yang berlaku di alam semesta. Sebagaimana seluruh ciptaan berjalan menurut hukum-hukum Allah, manusia pun diberi tanggung jawab untuk memilih antara petunjuk dan kesesatan, kemudian menerima akibat dari pilihannya.

Ketika Pertemuan Itu Benar-Benar Terjadi

Akhirnya datang keputusan yang tidak dapat dihindari.

Allah berfirman:

"Rasakanlah azab ini karena kamu telah melalaikan pertemuan dengan harimu ini." (QS. As-Sajdah: 14)

Mereka dahulu melupakan Hari Kiamat dalam kehidupan dunia.

Kini mereka merasakan akibat dari kelalaian tersebut.

Penyesalan tidak lagi mengubah keputusan Allah.

Pintu tobat telah tertutup.

Dua Akar Kehancuran Manusia

Jika seluruh rangkaian ayat ini dibaca secara utuh, Surah As-Sajdah menunjukkan bahwa kehancuran manusia berawal dari dua persoalan mendasar.

Pertama, manusia tidak mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Pendengaran, penglihatan, akal, dan hati yang seharusnya mengantarkan kepada keimanan justru digunakan untuk berpaling dari kebenaran.

Kedua, manusia tidak meyakini pertemuan dengan Allah. Ketika keyakinan terhadap Hari Pembalasan hilang, rasa tanggung jawab pun ikut hilang. Dari sinilah lahir kesombongan, kedurhakaan, kezaliman, dan berbagai bentuk kerusakan di muka bumi.

Karena itu, Surah As-Sajdah tidak hanya mengajarkan bagaimana manusia diciptakan, tetapi juga mengingatkan bagaimana manusia dapat menyelamatkan perjalanan hidupnya: dengan mensyukuri seluruh nikmat Allah dan senantiasa hidup dalam kesadaran bahwa setiap manusia akan kembali serta mempertanggungjawabkan seluruh amalnya di hadapan Allah.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (46) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (8) Dakwah (2) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (19) Kecerdasan (319) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (51) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (101) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (5) Nusantara (266) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (661) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (299) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (247) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (171) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (33) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)