Dukungan Yahudi Amerika yang Terus Melemah terhadap Zionisme Israel
Apakah menjadi seorang Yahudi selalu berarti harus memberikan dukungan politik kepada negara Israel?
Pertanyaan ini semakin relevan setelah terbitnya hasil survei terbaru AP-NORC yang memperlihatkan adanya perubahan mendasar dalam cara generasi Yahudi Amerika memaknai identitas mereka. Yang berubah bukanlah identitas Yahudinya, melainkan pusat gravitasi identitas tersebut.
Jika generasi yang lebih tua memandang dukungan terhadap Israel sebagai salah satu unsur utama identitas Yahudi, maka generasi yang lebih muda mulai memandangnya secara berbeda. Bagi mereka, menjadi Yahudi semakin banyak dimaknai melalui kehidupan beragama, tradisi keluarga, dan nilai-nilai etika, bukan terutama melalui keterikatan politik terhadap sebuah negara.
Dari Israel-sentris menuju komunitas-sentris
Survei AP-NORC terhadap 1.022 orang dewasa Yahudi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sekitar 68 persen responden mengidentifikasi diri sebagai Yahudi secara religius. Di dalam kelompok ini, sekitar enam dari sepuluh responden—baik tua maupun muda—mengatakan bahwa identitas Yahudi merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan mereka.
Artinya, identitas Yahudi tidak sedang memudar.
Yang berubah adalah cara memaknainya.
Generasi berusia 45 tahun ke atas masih cenderung menjadikan dukungan terhadap Israel sebagai salah satu pilar utama identitas mereka. Sebaliknya, generasi di bawah 45 tahun lebih banyak menempatkan praktik keagamaan seperti merayakan hari raya, menjaga Shabbat, serta kehidupan komunitas sebagai pusat identitas mereka.
Dengan kata lain, orientasi identitas mengalami pergeseran dari politik menuju spiritualitas dan kehidupan komunal.
Dari geopolitik menuju ritual
Mengapa perubahan ini terjadi?
Salah satu temuan menarik survei tersebut adalah meningkatnya perhatian generasi muda terhadap praktik-praktik ritual yang bersifat personal dan domestik. Menjaga aturan makanan, merayakan Shabbat, dan memperkuat ikatan komunitas kini dipandang lebih penting daripada menjadikan dukungan terhadap Israel sebagai simbol utama identitas.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bagi sebagian Yahudi muda Amerika, Yudaisme semakin dipahami sebagai jalan hidup, bukan sebagai proyek politik.
Israel tidak lagi menjadi titik temu seluruh komunitas Yahudi, tetapi justru menjadi salah satu isu yang paling memecah pandangan.
Gaza sebagai titik balik
Apakah perang di Gaza mempercepat perubahan tersebut?
Survei ini mengindikasikan demikian.
Di kalangan Yahudi religius berusia di bawah 45 tahun, sekitar tiga dari sepuluh responden menilai tindakan militer Israel di Gaza sebagai bentuk genosida. Pada kelompok usia 45 tahun ke atas, angkanya lebih rendah, sekitar dua dari sepuluh responden.
Perbedaan ini menunjukkan adanya jurang generasi dalam memandang konflik Israel–Palestina.
Bagi sebagian generasi muda, kritik terhadap pemerintah Israel tidak lagi dianggap bertentangan dengan identitas Yahudi mereka.
Munculnya proses unlearning
Perubahan ini juga tercermin dalam pengalaman pribadi sejumlah anak muda Yahudi.
Ari Pollack, seorang penggalang dana seni berusia 30 tahun dari Wisconsin, menggambarkan pengalamannya sebagai proses unlearning—melepaskan kembali berbagai gagasan pro-Israel yang menurutnya diajarkan secara dogmatis sejak kecil.
Bagi sebagian generasi muda, kekecewaan terhadap narasi institusional tersebut bahkan berujung pada menjauhnya mereka dari sinagoga atau lembaga-lembaga Yahudi yang selama ini dianggap terlalu mengaitkan identitas keagamaan dengan dukungan politik kepada Israel.
Apakah Israel membuat diaspora lebih aman?
Pertanyaan lain yang mulai muncul adalah: apakah kebijakan Israel justru meningkatkan keamanan warga Yahudi diaspora?
Sebagian generasi muda menjawab tidak.
Mereka berpendapat bahwa operasi militer Israel justru menjadi bahan bakar bagi meningkatnya antisemitisme di berbagai negara. Dalam pandangan ini, tindakan negara Israel tidak selalu identik dengan kepentingan seluruh komunitas Yahudi dunia.
Pandangan tersebut tercermin dalam pernyataan Cameron Bernstein, mahasiswa kedokteran berusia 27 tahun dari New Orleans:
> "Saya berdoa untuk orang-orang di tanah Israel. Saya tidak perlu berdoa untuk negaranya. Israel tidak memainkan peran dalam hidup saya lebih dari negara lain yang di dalamnya ada orang-orang yang saya cintai."
Pernyataan ini mencerminkan upaya sebagian Yahudi muda untuk membedakan antara solidaritas terhadap sesama manusia dan loyalitas politik terhadap sebuah negara.
Sebuah transformasi, bukan kemunduran
Apakah semua ini berarti identitas Yahudi Amerika sedang melemah?
Survei AP-NORC justru menunjukkan sebaliknya.
Yang sedang terjadi bukanlah hilangnya identitas Yahudi, melainkan transformasi cara menghayatinya.
Pusat identitas itu perlahan bergeser dari Israel-sentris menuju komunitas-sentris, dari loyalitas geopolitik menuju kehidupan ritual, spiritualitas, dan nilai-nilai keadilan sosial.
Perubahan ini sekaligus menjadi tantangan bagi berbagai institusi Yahudi di Amerika. Jika ingin tetap relevan bagi generasi mendatang, mereka perlu memahami bahwa semakin banyak anak muda yang memandang Yudaisme bukan terutama melalui lensa negara-bangsa, melainkan melalui etika universal, kehidupan komunitas, dan praktik spiritual sehari-hari.
Dengan demikian, perdebatan di kalangan Yahudi Amerika hari ini bukan lagi sekadar tentang sikap terhadap Israel. Yang sedang dipertanyakan adalah sebuah persoalan yang jauh lebih mendasar: apa makna menjadi seorang Yahudi pada abad ke-21?
0 komentar: