basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Apakah Perang Gaza Mengubah Pengaruh Lobi Israel di Amerika Serikat? Apakah perang di Gaza h...

Apakah Perang Gaza Mengubah Pengaruh Lobi Israel di Amerika Serikat?


Apakah perang di Gaza hanya mengubah medan perang di Timur Tengah, atau juga mengguncang pusat kekuatan politik di Washington?

Selama puluhan tahun, hubungan Amerika Serikat dan Israel sering dipandang sebagai salah satu kemitraan paling kokoh dalam politik internasional. Dukungan terhadap Israel hampir selalu bersifat bipartisan. Pergantian presiden, perubahan mayoritas di Kongres, bahkan pergeseran kebijakan luar negeri, jarang mengubah fondasi hubungan tersebut.

Namun, setelah perang Gaza, muncul pertanyaan yang semakin sulit diabaikan.

Apakah posisi politik Israel di Amerika Serikat masih sekuat dahulu? Ataukah sedang memasuki fase perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya?

Dari Konsensus Menuju Kontestasi

Selama beberapa dekade, dukungan terhadap Israel cenderung menjadi bagian dari konsensus politik di Washington. Kritik memang ada, tetapi umumnya berada di pinggiran perdebatan.

Kini situasinya mulai berubah.

Perang Gaza memunculkan perdebatan yang jauh lebih terbuka mengenai bantuan militer, kebijakan luar negeri Amerika Serikat, hingga hubungan antara pemerintah AS dan Israel. Isu yang sebelumnya relatif sensitif kini menjadi bagian dari diskusi publik, kampanye politik, bahkan perdebatan di dalam Kongres.

Lalu, apakah perubahan ini berarti pengaruh lobi Israel telah runtuh?

Belum tentu.

Yang tampak justru sebuah kontradiksi strategis.

Di satu sisi, citra Israel di mata sebagian publik Amerika mengalami tekanan yang signifikan. Di sisi lain, jaringan institusional dan politik yang selama puluhan tahun dibangun tetap menunjukkan daya tahan yang kuat.

Mengapa Persepsi Publik Berubah?

Sejumlah analis menilai perubahan terbesar justru terjadi pada ruang informasi.

Jika pada konflik-konflik sebelumnya narasi banyak dibentuk oleh media arus utama, perang Gaza berlangsung di era media sosial yang memungkinkan gambar, video, dan kesaksian dari lapangan tersebar hampir secara langsung.

Menurut analis Timur Tengah Dov Waxman dan Daniel Levy, perubahan lingkungan informasi inilah yang mempercepat perubahan persepsi publik.

Daniel Levy menggambarkan situasi tersebut sebagai "transparansi tanpa preseden", ketika berbagai dokumentasi mengenai dampak perang terhadap warga sipil beredar luas dan sulit dikendalikan hanya melalui strategi hubungan masyarakat.

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih mendasar.

Apakah perubahan persepsi ini sekadar persoalan komunikasi? Ataukah masyarakat memang sedang mengevaluasi kembali substansi kebijakan yang selama ini didukung?

Dov Waxman berpendapat bahwa persoalannya bukan semata kegagalan komunikasi.

Menurutnya, jika akar persoalannya adalah kebijakan, maka memperbaiki citra saja tidak akan cukup tanpa adanya perubahan kebijakan itu sendiri.

Generasi Muda Mulai Berbeda Pandangan

Perubahan lain terlihat pada dinamika demografi politik Amerika.

Dukungan terhadap Israel yang dahulu relatif stabil kini menunjukkan variasi yang lebih besar, terutama di kalangan generasi muda.

Di basis Partai Demokrat, kritik terhadap kebijakan pemerintah Israel semakin banyak muncul, khususnya dari kelompok progresif.

Sementara itu, beberapa pengamat juga mencatat adanya kecenderungan berkurangnya dukungan otomatis di sebagian pemilih muda Partai Republik.

Apakah ini berarti hubungan Amerika-Israel akan segera berubah drastis?

Belum tentu.

Namun tren tersebut menunjukkan bahwa dukungan lintas generasi tidak lagi dapat diasumsikan akan berlangsung secara otomatis.

Kongres Memasuki Babak Baru

Perubahan opini publik mulai tercermin dalam dinamika legislatif.

Kini semakin banyak anggota Kongres yang secara terbuka mempertanyakan bantuan militer tanpa syarat kepada Israel.

Beberapa legislator mengajukan berbagai usulan yang mengaitkan bantuan dengan kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional.

Pada saat yang sama, kritik terhadap peran organisasi lobi seperti AIPAC juga semakin sering muncul dalam ruang publik.

Dahulu kritik semacam ini relatif terbatas.

Kini ia menjadi bagian dari perdebatan politik yang lebih luas mengenai transparansi pendanaan kampanye dan pengaruh kelompok kepentingan dalam proses demokrasi Amerika.

Apakah Lobi Israel Masih Kuat?

Pertanyaan ini sering dijawab secara terlalu sederhana.

Sebagian mengatakan pengaruhnya telah berakhir.

Sebagian lagi mengatakan tidak ada yang berubah.

Kenyataannya tampaknya berada di antara keduanya.

Lobi Israel masih memiliki sejumlah kekuatan yang signifikan, antara lain jaringan pendanaan politik yang luas, hubungan institusional yang telah dibangun selama puluhan tahun, akses kepada para pembuat kebijakan lintas partai, serta pengalaman panjang dalam memengaruhi proses legislasi.

Namun, kekuatan tersebut kini berhadapan dengan tantangan baru.

Muncul gerakan akar rumput yang semakin aktif, perubahan pola konsumsi informasi, meningkatnya tuntutan akuntabilitas publik, serta perubahan sikap sebagian generasi muda terhadap isu Timur Tengah.

Dengan kata lain, kekuatan institusional masih bertahan, tetapi lingkungan politik tempat kekuatan itu bekerja telah berubah.

"Game On"

Daniel Levy menggambarkan perubahan ini dengan istilah yang sederhana namun kuat.

"Game On."

Maksudnya bukan bahwa pengaruh Israel telah hilang.

Melainkan bahwa setiap kebijakan yang berkaitan dengan Israel kini menjadi arena kontestasi politik yang jauh lebih terbuka dibandingkan sebelumnya.

Jika dahulu banyak keputusan berlangsung dalam suasana konsensus, kini hampir setiap kebijakan menjadi objek perdebatan publik, media, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan anggota Kongres.

Apa Artinya bagi Masa Depan?

Apakah hubungan Amerika Serikat dan Israel akan berakhir?

Belum ada bukti yang mengarah ke sana.

Hubungan strategis kedua negara masih memiliki fondasi militer, intelijen, ekonomi, dan diplomatik yang sangat kuat.

Namun pertanyaan pentingnya bukan lagi apakah hubungan itu masih ada.

Melainkan, bagaimana bentuk hubungan itu pada dekade mendatang?

Akankah tetap menjadi isu bipartisan seperti selama ini?

Ataukah perlahan berubah menjadi isu yang semakin dipengaruhi dinamika partisan, perubahan demografi pemilih, serta tekanan opini publik?

Jawaban atas pertanyaan itu masih terus ditulis oleh sejarah.

Penutup

Perang Gaza tampaknya tidak langsung mengakhiri pengaruh lobi Israel di Washington.

Namun perang tersebut telah mengubah medan tempat pengaruh itu bekerja.

Jika sebelumnya dukungan terhadap Israel relatif berada di luar perdebatan, kini ia menjadi salah satu isu kebijakan luar negeri yang paling diperdebatkan di Amerika Serikat.

Dengan demikian, perubahan terbesar mungkin bukan terletak pada hilangnya kekuatan institusional lobi Israel, melainkan pada lahirnya lingkungan politik baru yang lebih transparan, lebih kompetitif, dan lebih terbuka terhadap perbedaan pandangan.

Dalam konteks itulah, masa depan hubungan Amerika Serikat dan Israel kemungkinan akan semakin ditentukan bukan hanya oleh jaringan kekuasaan di Washington, tetapi juga oleh perubahan opini publik, dinamika generasi baru, serta perkembangan situasi di Timur Tengah sendiri.

Analisis Geopolitik Final Piala Dunia 2026: Ketika Lapangan Hijau Menjadi Proksi Konflik Israel–Palestina ...

Analisis Geopolitik Final Piala Dunia 2026: Ketika Lapangan Hijau Menjadi Proksi Konflik Israel–Palestina



Apakah sebuah pertandingan sepak bola dapat dipisahkan sepenuhnya dari politik? Ataukah, ketika dua negara membawa sejarah, identitas, dan orientasi diplomatik yang berbeda, lapangan hijau dengan sendirinya berubah menjadi panggung geopolitik?

Final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol memperlihatkan bagaimana olahraga modern tidak lagi berdiri dalam ruang hampa. Pertandingan yang seharusnya menjadi puncak kompetisi atletik itu berkembang menjadi arena soft power, simbol identitas, sekaligus proyeksi narasi global mengenai konflik Israel–Palestina.

Fenomena ini bukan semata-mata lahir dari sepak bola, melainkan dari dunia yang semakin terhubung oleh media sosial, politik internasional, dan opini publik. Akibatnya, setiap simbol, setiap gestur, bahkan setiap tokoh di dalam pertandingan, dibaca melalui lensa geopolitik.

Beberapa kecenderungan yang tampak antara lain:

- Divergensi diplomatik yang semakin tajam, dengan Argentina di bawah Javier Milei mengambil posisi pro-Israel secara terbuka, sementara Spanyol di bawah Pedro Sánchez tampil sebagai salah satu pendukung paling vokal bagi pengakuan Negara Palestina di Eropa.
- Personifikasi konflik melalui figur para pemain, ketika Lionel Messi dan Lamine Yamal dipersepsikan publik sebagai simbol dari narasi politik yang lebih besar daripada diri mereka sendiri.
- Politisasi ruang digital, ketika influencer, aktivis, hingga tokoh politik memanfaatkan momentum final Piala Dunia untuk memperkuat narasi ideologis masing-masing.

Pertanyaannya kemudian, apakah pertandingan ini masih sekadar final sepak bola? Ataukah ia telah berubah menjadi cermin dari polarisasi politik dunia?

Argentina dan Spanyol: Dua Kutub Diplomasi

Perbedaan tersebut paling jelas terlihat dari arah kebijakan luar negeri kedua negara.

Di bawah Presiden Javier Milei, Argentina mengalami perubahan orientasi yang sangat drastis. Jika sebelumnya Buenos Aires cenderung menjaga posisi yang lebih seimbang dalam isu Timur Tengah, kini pemerintahannya secara terbuka menempatkan Israel sebagai mitra strategis utama.

Bagi Milei, dukungan kepada Israel bukan sekadar pilihan diplomatik, melainkan bagian dari komitmen terhadap apa yang ia sebut sebagai nilai-nilai Barat dan tradisi Yahudi-Kristen. Kunjungan ke Tembok Ratapan, pertemuan dengan Benjamin Netanyahu, hingga rencana pemindahan Kedutaan Besar Argentina ke Yerusalem memperkuat arah kebijakan tersebut.

Sebaliknya, Spanyol mengambil jalur yang hampir berlawanan.

Di bawah kepemimpinan Pedro Sánchez, Madrid menjadi salah satu pemerintah Eropa yang paling keras mengkritik operasi militer Israel di Gaza. Pengakuan resmi terhadap Negara Palestina pada Mei 2024 dipandang sebagai bagian dari upaya mempertahankan solusi dua negara berdasarkan hukum internasional.

Dengan demikian, ketika Argentina dan Spanyol bertemu di final Piala Dunia, publik tidak hanya melihat dua kekuatan sepak bola. Mereka juga melihat dua orientasi diplomatik yang saling bertolak belakang.

Ketika Pemain Menjadi Simbol

Namun, apakah para pemain benar-benar sedang membawa agenda politik?

Belum tentu.

Meski demikian, dalam dunia yang sarat simbol, publik sering kali memberikan makna politik kepada sosok yang sebenarnya tidak sedang berbicara mengenai politik.

Lionel Messi, misalnya, selama bertahun-tahun berusaha menjaga citranya sebagai atlet profesional yang menghindari perdebatan politik. Akan tetapi, kunjungannya ke Israel pada masa lalu serta berbagai hubungan bisnisnya membuat sebagian kalangan melabelinya sebagai figur yang dekat dengan Israel. Bahkan muncul narasi yang menyebut Argentina sebagai "Israel-nya Amerika Selatan."

Di sisi lain, Lamine Yamal memperoleh makna simbolik yang berbeda.

Ketika ia mengibarkan bendera Palestina dalam perayaan gelar Barcelona, tindakan tersebut dipahami oleh banyak pihak sebagai ekspresi solidaritas terhadap rakyat Palestina. Dukungan terbuka dari Pedro Sánchez semakin memperkuat persepsi bahwa Yamal telah menjadi ikon baru bagi narasi tersebut.

Apakah kedua pemain itu memang ingin menjadi simbol politik?

Atau justru publiklah yang menjadikan mereka simbol bagi pertarungan identitas global?

Simbol Tidak Lagi Berhenti di Lapangan

Narasi ini semakin kuat karena hadirnya tokoh-tokoh publik di luar pertandingan.

Aktor Javier Bardem, misalnya, tampil membawa bendera Palestina sambil menyampaikan kalimat, "Existence is resistance." Di sisi lain, memori publik Argentina masih menyimpan warisan Diego Maradona yang sejak lama dikenal mendukung perjuangan Palestina.

Akibatnya, perhatian publik tidak lagi hanya tertuju pada skor pertandingan. Gestur para pemain, atribut para penonton, hingga komentar tokoh publik ikut menjadi bagian dari percakapan global.

Final Piala Dunia pun berubah menjadi ruang tempat identitas, solidaritas, dan politik saling berkelindan.

Sepak Bola dan Geopolitik

Lalu, apa pelajaran yang dapat diambil?

Barangkali inilah kenyataan olahraga modern. Semakin besar sebuah panggung olahraga, semakin besar pula kemungkinan ia menjadi arena pertarungan makna.

Final Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa sepak bola tidak selalu mampu berdiri terpisah dari dinamika politik internasional. Ketika konflik global telah membentuk persepsi publik, maka pertandingan olahraga pun dapat dibaca sebagai representasi dari pertarungan identitas, nilai, dan orientasi geopolitik.

Pada akhirnya, yang diperebutkan bukan hanya trofi juara dunia. Yang ikut diperebutkan adalah narasi: siapa yang memperoleh simpati publik, siapa yang berhasil membangun legitimasi moral, dan bagaimana dunia memaknai sebuah pertandingan yang berlangsung hanya sembilan puluh menit, tetapi bergema jauh melampaui batas stadion.

Simbolisme dan Kontroversi Bendera Palestina di Piala Dunia 2026 Mengapa selembar bendera dapat memicu b...

Simbolisme dan Kontroversi Bendera Palestina di Piala Dunia 2026



Mengapa selembar bendera dapat memicu begitu banyak perdebatan di panggung olahraga terbesar di dunia?

Bukankah Piala Dunia selalu dipromosikan sebagai ruang yang menyatukan manusia, melampaui batas bangsa, agama, dan politik?

Namun, Piala Dunia 2026 justru memperlihatkan pertanyaan yang lebih mendalam. Ketika berbagai bendera nasional berkibar bebas di tribun stadion, mengapa bendera Palestina berulang kali menjadi objek pemeriksaan, penyitaan, bahkan intimidasi?

Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang tidak mudah dijawab.

Apakah yang dipersoalkan benar-benar selembar kain? Ataukah makna yang melekat pada simbol tersebut?

Antara Regulasi dan Implementasi

Di atas kertas, regulasi FIFA pada prinsipnya memperbolehkan pengibaran bendera nasional selama memenuhi ketentuan penyelenggaraan pertandingan.

Namun apakah ketentuan itu diterapkan secara konsisten?

Berbagai laporan dari stadion-stadion di Amerika Serikat menunjukkan kenyataan yang berbeda. Sejumlah suporter Palestina mengaku mengalami pemeriksaan berulang, diminta menurunkan bendera, bahkan kehilangan atribut mereka setelah disita petugas keamanan.

Di sinilah muncul persoalan mendasar.

Jika aturannya sama, mengapa implementasinya berbeda?

Ketika Ambiguitas Melahirkan Penafsiran

Salah satu persoalan yang banyak disoroti adalah ketidakjelasan komunikasi dari FIFA sebelum turnamen berlangsung.

Tidak adanya panduan operasional yang tegas menciptakan ruang bagi petugas keamanan untuk menafsirkan aturan secara berbeda-beda.

Akibatnya, keputusan di lapangan sering bergantung pada penilaian masing-masing petugas.

Dalam kondisi seperti itu, simbol-simbol yang dianggap sensitif secara politik lebih rentan menjadi sasaran pembatasan.

Apakah ini merupakan kebijakan resmi?

Ataukah konsekuensi dari regulasi yang tidak cukup jelas?

Pertanyaan itu terus menjadi bahan perdebatan.

Ketika Stadion Menjadi Ruang Solidaritas

Piala Dunia 2026 juga memperlihatkan fenomena lain yang menarik.

Bendera Palestina tidak hanya dikibarkan oleh warga Palestina.

Ia juga dibawa oleh pendukung dari berbagai negara Arab bahkan oleh suporter yang tidak memiliki hubungan kebangsaan dengan Palestina.

Bagi sebagian orang, simbol tersebut telah berkembang menjadi lambang solidaritas terhadap krisis kemanusiaan di Gaza.

Aktivis Palestina-Amerika, Maisa Morrar, menggambarkan pengalaman itu dengan penuh haru.

«"Sangat penting bagi saya untuk berada di sana pada masa bersejarah ini—berada di stadion besar yang berbasis di AS, dan melihatnya dipenuhi dengan keffiyeh dan bendera Palestina, Yordania, dan Aljazair. Sangat penting bagi saya untuk melihat persahabatan dan solidaritas, bukan hanya untuk pertandingan sepak bola tetapi juga bagi kami sebagai warga Palestina."»

Ungkapan tersebut memperlihatkan bahwa bagi banyak orang, bendera Palestina telah melampaui fungsi sebagai simbol negara.

Ia menjadi simbol pengalaman bersama.

Studi Kasus di Levi's Stadium

Salah satu peristiwa yang paling banyak dibicarakan terjadi di Levi's Stadium.

Omar Dreidi, seorang agen pemain NBA sekaligus lulusan FIFA Masters, datang ke stadion dengan mengenakan bendera Palestina di bahunya.

Tidak lama kemudian, seorang petugas keamanan menghampirinya.

Menurut Dreidi, petugas menyatakan bahwa bendera tersebut tidak diperbolehkan.

Dreidi kemudian mempertanyakan keputusan itu.

Ia merujuk langsung pada regulasi FIFA dan menunjukkan bahwa banyak suporter lain mengenakan atribut nasional maupun budaya tanpa mengalami perlakuan serupa.

Situasi sempat memanas.

Namun beberapa suporter lain ikut melakukan intervensi.

Seorang penggemar yang mengenakan keffiyeh membela hak Dreidi. Dua suporter asal Aljazair kemudian mendokumentasikan peristiwa tersebut.

Setelah koordinasi cukup panjang melalui radio dengan atasannya, petugas akhirnya mengizinkan Dreidi tetap mengenakan bendera Palestina.

Meski demikian, Dreidi mengaku menyaksikan banyak suporter lain memilih menyerahkan bendera mereka karena tidak mengetahui hak-hak yang dimiliki berdasarkan regulasi FIFA.

Apakah Ini Sekadar Insiden Terpisah?

Pertanyaan berikutnya pun muncul.

Apakah peristiwa tersebut hanyalah kesalahpahaman sesaat?

Ataukah bagian dari pola yang lebih luas?

Sejumlah laporan menunjukkan adanya kemiripan pengalaman di beberapa stadion.

Hal itu membuat sebagian pengamat menilai bahwa persoalannya bukan semata tindakan individu petugas keamanan, melainkan lemahnya koordinasi dan kejelasan kebijakan di tingkat penyelenggara.

Tanpa arahan yang jelas, ruang interpretasi menjadi sangat besar.

Konsistensi Netralitas FIFA

Kontroversi tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan yang lebih luas mengenai konsistensi FIFA.

Sebagian pengamat membandingkan respons organisasi tersebut terhadap berbagai konflik internasional.

Mereka menunjuk pada keputusan FIFA yang dengan cepat menangguhkan Rusia dari kompetisi internasional setelah invasi ke Ukraina pada tahun 2022.

Sementara itu, hingga kini FIFA belum menjatuhkan penangguhan terhadap Israel meskipun Persatuan Sepak Bola Palestina (PFA) telah berulang kali mengajukan permohonan terkait perang di Gaza.

Perbandingan tersebut memunculkan pertanyaan.

Apakah prinsip netralitas diterapkan secara seragam kepada semua pihak?

Ataukah setiap konflik diperlakukan melalui pertimbangan yang berbeda?

Perdebatan mengenai hal itu masih terus berlangsung.

Persepsi terhadap Independensi FIFA

Sorotan juga mengarah pada hubungan pimpinan FIFA dengan sejumlah tokoh politik dunia.

Kehadiran Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam beberapa agenda resmi turnamen ikut memunculkan berbagai interpretasi mengenai independensi organisasi tersebut.

Apakah hubungan tersebut memengaruhi pengambilan keputusan FIFA?

Belum ada bukti yang menunjukkan hubungan sebab-akibat secara langsung.

Namun persepsi publik mengenai independensi sebuah organisasi internasional sering kali sama pentingnya dengan keputusan organisasi itu sendiri.

Solidaritas yang Melintasi Batas Negara

Yang menarik, dukungan terhadap Palestina di tribun tidak datang hanya dari warga Palestina.

Pendukung Aljazair, Yordania, dan berbagai negara lainnya beberapa kali tampil memberikan perlindungan moral ketika terjadi perselisihan antara suporter Palestina dan petugas keamanan.

Solidaritas tersebut tampak dalam berbagai bentuk.

Keffiyeh dikenakan sebagai simbol identitas bersama.

Nyanyian solidaritas menggema dari berbagai sudut stadion.

Telepon genggam digunakan untuk merekam setiap interaksi sebagai bentuk pengawasan publik terhadap tindakan aparat keamanan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa solidaritas terhadap Palestina telah berkembang menjadi gerakan lintas negara.

Dari Simbol Nasional Menjadi Simbol Kemanusiaan

Maisa Morrar menilai bahwa perang di Gaza telah mengubah cara banyak orang memandang bendera Palestina.

Jika sebelumnya ia lebih sering dipahami sebagai simbol nasional, kini bagi sebagian masyarakat internasional bendera tersebut juga dipandang sebagai lambang perjuangan kemanusiaan, keadilan, dan pembebasan.

Benar atau tidaknya persepsi tersebut tentu menjadi ruang diskusi tersendiri.

Namun satu hal tampak jelas.

Perdebatan mengenai bendera Palestina di Piala Dunia 2026 tidak lagi sekadar berbicara tentang atribut suporter.

Ia telah berkembang menjadi cerminan hubungan yang semakin kompleks antara olahraga, identitas, politik, dan hak berekspresi di ruang publik global.

Dan mungkin pertanyaan terbesarnya justru bukan lagi, "Mengapa bendera itu dipersoalkan?"

Melainkan,

"Mampukah olahraga internasional benar-benar menjadi ruang yang memperlakukan semua simbol dan semua pendukung secara setara di hadapan aturan yang sama?"

Mengapa Setahun Itu 12 Bulan dan Sepekan Itu 7 Hari? Pernahkah kita berhenti sejenak untuk b...

Mengapa Setahun Itu 12 Bulan dan Sepekan Itu 7 Hari?



Pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, mengapa setahun terdiri atas dua belas bulan? Mengapa satu pekan terdiri atas tujuh hari? Apakah pembagian waktu itu sekadar hasil kesepakatan manusia, ataukah ia telah ditetapkan sejak awal penciptaan alam semesta?

Pertanyaan itu tampak sederhana. Namun semakin dalam ditelusuri, semakin terlihat bahwa waktu bukanlah ciptaan manusia. Manusialah yang hidup di dalam waktu, bukan sebaliknya.

Seorang muslim yang mengimani firman Allah,

«"Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu." (QS. Az-Zumar: 62)»

meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang ada dengan sendirinya. Ruang diciptakan. Langit dan bumi diciptakan. Matahari dan bulan diciptakan. Bahkan waktu pun merupakan makhluk Allah.

Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika menjelaskan hadis tentang penulisan takdir dalam Fath al-Bari menegaskan bahwa keberadaan waktu adalah sesuatu yang diciptakan setelah sebelumnya tidak ada. Dengan kata lain, waktu bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri bersama Allah, tetapi bagian dari ciptaan-Nya.

Lalu, apakah sebenarnya waktu itu?

Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa waktu adalah ukuran pergerakan. Kita mengenal hari karena adanya pergantian malam dan siang. Kita mengenal bulan karena perjalanan bulan pada orbitnya. Kita mengenal tahun karena keteraturan peredaran benda-benda langit yang Allah tetapkan.

Karena itulah Al-Qur'an berulang kali mengaitkan waktu dengan penciptaan langit dan bumi.

Allah berfirman,

«"Dialah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya." (QS. Al-Anbiya': 33)»

Dalam ayat lain Allah berfirman,

«"Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (QS. Ali Imran: 190)»

Ayat-ayat ini seakan mengajak manusia bertanya:

Apakah waktu berjalan sendiri? Ataukah ia bergerak mengikuti hukum yang Allah tetapkan?

Waktu Telah Ada Sebelum Alam Semesta yang Kita Kenal

Rasulullah ï·º bersabda,

«"Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi, sedangkan Arasy-Nya berada di atas air." (HR. Muslim)»

Hadis ini membuka cakrawala baru.

Sebelum langit dan bumi yang sekarang kita lihat diciptakan, Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk. Ini menunjukkan bahwa seluruh ukuran waktu berada dalam ilmu dan ketetapan Allah sejak awal penciptaan.

Kemudian Allah mengabarkan bahwa penciptaan langit dan bumi berlangsung dalam enam hari.

Mengapa enam hari?

Apakah Allah membutuhkan waktu?

Tentu tidak.

Allah Mahakuasa menciptakan segala sesuatu hanya dengan firman "Kun fayakun."

Maka enam hari bukanlah karena Allah memerlukan proses, melainkan karena Allah hendak mengajarkan keteraturan, tahapan, dan sunnatullah kepada makhluk-Nya.

Bahkan para ulama menjelaskan bahwa enam hari penciptaan itu tidak harus sama dengan ukuran dua puluh empat jam sebagaimana hari yang kita kenal sekarang. Ibnu Abbas menafsirkan bahwa sebagian "hari-hari Allah" memiliki ukuran yang berbeda dengan hari dunia.

Dengan demikian, sejak awal Al-Qur'an telah memperlihatkan bahwa ukuran waktu berada sepenuhnya di bawah kekuasaan Allah.

Mengapa Satu Pekan Terdiri atas Tujuh Hari?

Jika Allah menciptakan alam dalam enam hari, mengapa manusia hidup dalam siklus tujuh hari?

Di sinilah menariknya.

Riwayat-riwayat para ulama menjelaskan bahwa penciptaan berlangsung dari Ahad hingga Jumat. Pada hari Jumat penciptaan Adam disempurnakan, sedangkan Sabtu menjadi hari setelah selesainya penciptaan.

Karena itu siklus kehidupan manusia berjalan dalam irama tujuh hari.

Islam kemudian menjadikan hari Jumat sebagai hari terbaik dalam satu pekan. Setiap tujuh hari kaum muslimin dikumpulkan untuk shalat Jumat, mendengarkan nasihat, memperbarui iman, dan mengevaluasi perjalanan hidupnya.

Seolah-olah Allah sedang mengajarkan bahwa manusia tidak boleh tenggelam terus dalam kesibukan dunia tanpa berhenti untuk kembali mengingat-Nya.

Mengapa Setahun Terdiri atas Dua Belas Bulan?

Jika pekan ditetapkan dalam siklus tujuh hari, bagaimana dengan satu tahun?

Allah sendiri yang menjawabnya.

«"Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi." (QS. At-Taubah: 36)»

Perhatikan redaksi ayat tersebut.

Allah tidak mengatakan bahwa manusia menetapkan dua belas bulan.

Allah menegaskan bahwa jumlah itu telah ditetapkan sejak hari penciptaan langit dan bumi.

Artinya, dua belas bulan bukan hasil keputusan suatu bangsa, bukan pula warisan sebuah kerajaan, melainkan bagian dari sunnatullah yang mengatur perjalanan alam.

Empat di antaranya dijadikan sebagai bulan-bulan haram: Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Dalam Haji Wada', Rasulullah ï·º menegaskan kembali ketetapan ini:

«"Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun terdiri atas dua belas bulan, dan empat di antaranya adalah bulan haram...." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)»

Kalimat "waktu telah berputar sebagaimana keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi" merupakan penegasan bahwa kalender telah kembali kepada susunan aslinya setelah praktik penyisipan dan penggeseran bulan (nasî') yang dilakukan masyarakat Arab Jahiliyah.

Ketika Allah Menguasai Waktu

Masihkah manusia menganggap waktu sebagai sesuatu yang mutlak?

Peristiwa Isra dan Mi'raj memberikan jawaban yang menakjubkan.

Dalam satu malam Rasulullah ï·º diperjalankan dari Makkah ke Baitul Maqdis, naik menembus tujuh langit, menyaksikan berbagai tanda kebesaran Allah, menerima kewajiban shalat, lalu kembali sebelum fajar menyingsing.

Bagi manusia, perjalanan itu tampak mustahil.

Namun bagi Allah yang menciptakan waktu, mempercepat atau memperlambat perjalanan bukanlah sesuatu yang sulit.

Karena itulah Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak ragu membenarkan berita Isra Mi'raj. Baginya, jika wahyu yang turun dari langit ke bumi dapat dipercaya, maka perjalanan luar biasa itu pun pasti benar.

Renungan

Mungkin selama ini kita mengira sedang mengatur waktu.

Padahal sesungguhnya kitalah yang diatur oleh waktu.

Hari berganti tanpa pernah terlambat.

Pekan berulang tanpa pernah keliru.

Bulan terus beredar tanpa pernah keluar dari orbitnya.

Tahun terus berganti sebagaimana ketetapan yang Allah tetapkan sejak penciptaan langit dan bumi.

Semua berjalan dalam keteraturan yang sempurna.

Pertanyaannya bukan lagi mengapa setahun dua belas bulan dan sepekan tujuh hari.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Sudahkah kita mengisi waktu yang Allah ciptakan itu dengan amal yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya?

Tafakur Bayangan Setiap hari kita berjalan bersama bayangan. Ia mengikuti langkah kita sejak matahari terbit hingga tenggelam. K...

Tafakur Bayangan

Setiap hari kita berjalan bersama bayangan.

Ia mengikuti langkah kita sejak matahari terbit hingga tenggelam. Kadang memanjang, kadang memendek, lalu menghilang tanpa pernah menarik perhatian. Padahal, Al-Qur'an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan makhluk yang tampak sederhana ini.

Mengapa Al-Qur'an berbicara tentang bayangan?

Mengapa Allah menjadikannya sebagai salah satu tanda kekuasaan-Nya?

Semakin dalam pertanyaan itu ditelusuri, semakin tampak bahwa bayangan bukan sekadar gejala optik, melainkan salah satu "ayat kauniyah" yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta.

Bayangan: Nikmat yang Sering Terlupakan

Ketika Al-Qur'an menyebut nikmat Allah, perhatian manusia biasanya tertuju pada air, makanan, atau udara. Namun, di antara nikmat yang jarang disadari adalah bayangan.

Allah berfirman,

«"Dan Allah menjadikan tempat bernaung bagimu dari apa yang telah Dia ciptakan. Dia menjadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung dan Dia menjadikan pakaian bagimu yang memeliharamu dari panas serta pakaian (baju besi) yang memeliharamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu agar kamu berserah diri."
(QS. An-Nahl: 81)»

Menurut Imam Al-Qurthubi, kata azh-zhilal (bayangan) dalam ayat ini mencakup seluruh bentuk naungan, baik yang berasal dari pepohonan, bangunan, maupun segala sesuatu yang Allah ciptakan sebagai pelindung manusia dari sengatan matahari.

Bayangan menjadi selimut yang meneduhkan bumi. Ia menurunkan suhu, memberikan kenyamanan, dan memungkinkan manusia beraktivitas di tengah panas yang menyengat.

Namun fungsi bayangan tidak berhenti sebagai pelindung.

Sejak ribuan tahun lalu, manusia menjadikannya sebagai penunjuk waktu. Pergeseran panjang bayangan membantu menentukan waktu siang, pergantian musim, hingga menjadi dasar penentuan waktu salat Zuhur, Asar, Dhuha, dan waktu-waktu larangan salat.

Makhluk yang tampak diam itu ternyata menjadi jam alam yang bekerja tanpa pernah berhenti.

Sebuah Fenomena yang Mengundang Penyelidikan

Lalu muncul pertanyaan yang lebih mendalam.

Siapakah yang menggerakkan bayangan?

Mengapa ia memanjang pada pagi hari, memendek saat matahari meninggi, lalu kembali memanjang menjelang senja?

Mengapa ia selalu bergerak dengan keteraturan yang tidak pernah terlambat sedetik pun?

Al-Qur'an mengajak manusia menyelidiki fenomena ini.

Allah berfirman,

«"Tidakkah engkau memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang? Sekiranya Dia menghendaki, niscaya Dia menjadikannya tetap. Kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk tentangnya. Kemudian Kami menariknya kepada Kami sedikit demi sedikit."
(QS. Al-Furqan: 45–46)»

Ayat ini menggambarkan sebuah proses yang berlangsung setiap hari tetapi hampir tidak pernah disadari manusia.

Bayangan bergerak perlahan.

Tidak melompat.

Tidak berubah secara tiba-tiba.

Ia berpindah sedikit demi sedikit mengikuti hukum yang telah Allah tetapkan bagi matahari dan bumi.

Bagaimana Jika Bayangan Tidak Pernah Bergerak?

Al-Qur'an mengajukan sebuah kemungkinan yang menggugah akal.

"Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikannya tetap."

Bayangkan apabila bayangan tidak pernah berubah.

Keadaan itu hanya mungkin terjadi apabila sistem pergerakan bumi dan matahari berhenti sebagaimana yang kita kenal sekarang.

Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa jika penyinaran matahari berlangsung terus-menerus pada satu sisi bumi, suhu akan meningkat secara ekstrem. Laut dapat menguap, kehidupan terancam, sedangkan sisi bumi lainnya mengalami pendinginan luar biasa hingga membeku.

Dengan kata lain, bergeraknya bayangan adalah bagian dari mekanisme yang menopang kehidupan.

Apa yang tampak sederhana ternyata berkaitan dengan keseimbangan kosmos.

Bayangan yang Bersujud

Al-Qur'an tidak hanya berbicara tentang fungsi bayangan.

Lebih jauh, Allah menjelaskan bahwa bayangan merupakan makhluk yang tunduk kepada-Nya.

Allah berfirman,

«"Hanya kepada Allah bersujud siapa pun yang berada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa. Demikian pula bayang-bayang mereka pada waktu pagi dan petang."
(QS. Ar-Ra'd: 15)»

Dalam ayat lain Allah berfirman,

«"Apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang diciptakan Allah, yang bayang-bayangnya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan bersujud kepada Allah, sedang semuanya tunduk?"
(QS. An-Nahl: 48)»

Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa perubahan arah bayangan ke timur, barat, utara, dan selatan merupakan bentuk ketundukan seluruh alam terhadap hukum Allah.

Bayangan tidak pernah melawan.

Ia bergerak sesuai ketetapan yang telah digariskan Sang Pencipta.

Setiap pagi dan petang, seluruh alam memperlihatkan "sujud" yang terus berlangsung tanpa suara.

Bayangan Menjadi Saksi Keteraturan Alam

Ilmu astronomi modern menunjukkan bahwa perubahan panjang bayangan terjadi karena perubahan sudut datang sinar matahari akibat rotasi bumi serta peredaran benda-benda langit.

Rotasi bumi yang berlangsung sekitar 24 jam menghasilkan pergantian siang dan malam.

Revolusi bumi mengelilingi matahari menyebabkan perubahan posisi matahari semu sepanjang tahun sehingga arah bayangan berubah mengikuti musim.

Semua proses itu berlangsung dengan presisi yang luar biasa.

Sedikit saja terjadi penyimpangan pada rotasi atau orbit bumi, keseimbangan suhu bumi akan terganggu dan kehidupan menjadi mustahil.

Fenomena sederhana berupa bayangan ternyata merupakan bukti bahwa alam semesta berjalan di bawah hukum yang sangat teliti.

Tafakur di Balik Bayangan

Bayangan mengajarkan bahwa seluruh alam hidup dalam kepatuhan kepada Allah.

Ia tidak pernah membangkang.

Tidak pernah terlambat.

Tidak pernah keluar dari garis edarnya.

Sementara manusia, makhluk yang diberi akal dan kehendak, justru sering melawan aturan Penciptanya.

Karena itu, ketika Al-Qur'an mengajak manusia memperhatikan bayangan, sesungguhnya yang sedang diajarkan bukan hanya ilmu tentang cahaya.

Al-Qur'an sedang mengajak manusia melihat bahwa di balik setiap gerakan alam terdapat keteraturan, hikmah, dan kekuasaan Allah.

Bayangan yang setiap hari menemani langkah manusia sesungguhnya adalah makhluk yang diam-diam sedang bertasbih, bersujud, dan menjadi saksi bahwa seluruh alam semesta tunduk kepada Rabb semesta alam.


Sumber:
Ali Muhammad Ash-Shallabi, Alam Semesta Sebelum Adam, Pustaka Al-Kautsar, 2023

Kita Tidak Akan Kembali pada Kegelapan Apakah dunia Islam akan kembali memasuki era ketika agama disingkirkan dari ruang publik,...

Kita Tidak Akan Kembali pada Kegelapan

Apakah dunia Islam akan kembali memasuki era ketika agama disingkirkan dari ruang publik, syariat dipandang sebagai penghalang kemajuan, dan peradaban Barat dijadikan ukuran tunggal bagi segala aspek kehidupan?

Pertanyaan itu bukan sekadar wacana intelektual. Ia lahir dari pengalaman panjang negeri-negeri Muslim yang pernah mengalami gelombang kolonialisme, sekularisasi, sosialisme, hingga berbagai proyek modernisasi yang sering kali menempatkan Islam di pinggir kehidupan.

Bagi banyak pemikir Islam, termasuk Imam Hasan Al-Banna, pengalaman tersebut bukanlah perjalanan menuju kemajuan, melainkan sebuah fase kegelapan yang meninggalkan jejak sosial, moral, dan politik yang panjang.

Ketika Kegelapan Datang dengan Nama Kemajuan

Gelombang pemikiran yang datang dari Timur yang ateis maupun Barat yang sekuler pernah menyapu banyak negeri Muslim. Bersamaan dengan itu muncul propaganda bahwa kemajuan hanya dapat diraih jika Islam dipisahkan dari kehidupan publik.

Nilai-nilai agama diposisikan sebagai simbol keterbelakangan. Sebaliknya, segala sesuatu yang berasal dari Barat dipandang sebagai standar peradaban yang harus ditiru, tanpa membedakan antara ilmu yang bermanfaat dan budaya yang merusak.

Dalam situasi demikian, berbagai praktik yang sebelumnya dianggap menyimpang mulai memperoleh legitimasi sosial. Pergaulan bebas dipromosikan sebagai kebebasan, perjudian dan pelacuran memperoleh ruang, industri hiburan yang mengeksploitasi syahwat berkembang, sementara seruan untuk menerapkan syariat justru dicurigai sebagai ancaman terhadap kemajuan.

Di saat yang sama, agama didorong agar hanya menjadi urusan pribadi. Negara dan masyarakat diarahkan untuk melepaskan diri dari nilai-nilai wahyu.

Cahaya yang Perlahan Kembali Menyala

Namun sejarah tidak berhenti pada satu titik.

Di tengah gelombang sekularisasi itu, muncul kebangkitan kesadaran Islam di berbagai negeri. Para dai, ulama, intelektual, dan aktivis mulai mengingatkan masyarakat tentang akar persoalan yang mereka hadapi.

Sedikit demi sedikit terjadi perubahan.

Kesadaran beragama tumbuh di kalangan generasi muda. Hijab dikenakan kembali atas dasar keyakinan, bukan paksaan. Tuntutan agar syariat mendapat tempat dalam kehidupan publik semakin terdengar. Islam kembali dipahami sebagai agama yang membawa keadilan, keamanan, perdamaian, dan kemuliaan manusia.

Pengalaman pahit berbagai ideologi juga ikut membentuk kesadaran tersebut. Di banyak negara, eksperimen sosialisme yang pernah dipaksakan justru meninggalkan kerusakan ekonomi dan politik. Runtuhnya Uni Soviet menjadi salah satu penanda bahwa tidak semua proyek ideologi mampu menjawab kebutuhan manusia.

Hasan Al-Banna Membaca Akar Krisis

Imam Hasan Al-Banna menggambarkan kondisi umat Islam sebagai sebuah gelombang besar yang menyerbu akal, hati, dan cara berpikir kaum Muslim.

Menurut beliau, berbagai ideologi, filsafat, dan sistem asing tidak sekadar memasuki negeri-negeri Islam, tetapi juga berusaha membentuk cara pandang umat terhadap dirinya sendiri. Akibatnya lahirlah generasi yang secara budaya, politik, dan intelektual lebih dekat kepada nilai-nilai di luar Islam daripada kepada agamanya sendiri.

Yang paling berbahaya, proses itu sering berlangsung tanpa disadari.

Masyarakat merasa sedang bergerak menuju kemajuan, padahal perlahan kehilangan fondasi akidah dan identitasnya.

Islam Tidak Menolak Kemajuan

Al-Banna menegaskan bahwa persoalannya bukanlah ilmu pengetahuan atau kemajuan teknologi.

Islam justru mendorong umat mengambil hikmah dan ilmu yang bermanfaat dari mana pun datangnya.

Yang ditolak adalah taklid buta, yaitu menerima seluruh cara hidup suatu peradaban tanpa proses penyaringan berdasarkan akidah dan syariat.

Karena itu, kemajuan material semata tidak cukup menjadi ukuran keberhasilan sebuah peradaban.

Pertanyaannya adalah:

Apakah manusia menjadi lebih tenteram?

Apakah keadilan semakin merata?

Apakah kemiskinan berkurang?

Apakah masyarakat merasa lebih aman?

Apakah penganiayaan terhadap manusia berhenti?

Jika berbagai kemajuan itu tidak menghadirkan ketenangan dan keadilan, maka manusia berhak mempertanyakan arah peradaban yang sedang dibangun.

Pengalaman Sejarah Menjadi Pelajaran

Selama lebih dari satu abad, dunia telah menyaksikan berbagai sistem politik, ekonomi, dan ideologi saling bergantian menawarkan solusi.

Namun sejarah juga memperlihatkan perang yang terus berulang, ketimpangan ekonomi yang melebar, eksploitasi manusia, serta krisis moral yang tidak kunjung selesai.

Bagi Al-Banna, kenyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan manusia tidak dapat diselesaikan hanya dengan pembangunan material.

Peradaban memerlukan fondasi ruhani.

Tanpa itu, kemajuan justru berpotensi melahirkan kehancuran dalam bentuk yang lebih canggih.

Tugas Umat Islam

Setelah menguraikan diagnosis tersebut, Hasan Al-Banna mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar:

"Lalu apakah tugas kita?"

Jawabannya bukan sekadar bertahan, tetapi menghidupkan kembali nilai-nilai Islam sehingga mampu menjadi rahmat bagi seluruh manusia.

Yang dimaksud bukan dominasi melalui pemaksaan, melainkan menghadirkan kembali kepemimpinan moral yang bersumber dari Al-Qur'an dan teladan Nabi Muhammad ï·º, sehingga manusia mengenal Islam sebagai jalan menuju keadilan, keamanan, dan kemuliaan.

Semangat itu sejalan dengan firman Allah:

«"Milik Allah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."
(QS. Ar-Rum: 4–5)»

Cahaya yang Tidak Akan Padam

Optimisme kaum Muslim bukan bertumpu pada kekuatan politik semata, tetapi pada janji Allah.

Al-Qur'an menggambarkan dirinya sebagai cahaya yang mengeluarkan manusia dari berbagai bentuk kegelapan menuju jalan keselamatan.

Allah berfirman:

«"Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus."
(QS. Al-Ma'idah: 15–16)»

Allah juga menegaskan:

«"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan Kamilah yang akan menjaganya."
(QS. Al-Hijr: 9)»

Karena itu, upaya memadamkan cahaya Islam tidak akan berhasil.

Sebagaimana firman-Nya:

«"Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya."
(QS. At-Taubah: 32)»

Pelajaran dari Berbagai Negeri

Sejarah modern memperlihatkan bahwa identitas Islam tidak mudah dihapus.

Beberapa wilayah yang selama puluhan tahun berada di bawah sistem sekuler atau ateistik justru mengalami kebangkitan kembali kehidupan keagamaannya setelah tekanan politik berakhir. Fenomena di Turki maupun sejumlah negara Asia Tengah sering dijadikan contoh bahwa keyakinan masyarakat dapat hidup kembali ketika ruang kebebasan terbuka.

Bagi banyak pengamat, hal ini menunjukkan bahwa agama tetap menjadi kebutuhan mendasar manusia, bahkan setelah melewati proses sekularisasi yang panjang.

Menjawab Tuduhan terhadap Islam

Di tingkat global, Islam sering menghadapi berbagai tuduhan, mulai dari ekstremisme hingga terorisme.

Dalam membahas persoalan ini, penting membedakan antara ajaran suatu agama dan tindakan individu atau kelompok yang mengatasnamakan agama tersebut.

Sepanjang sejarah modern, kekerasan, perang, pelanggaran hak asasi manusia, dan ekstremisme dilakukan oleh pelaku yang berasal dari beragam latar belakang agama, etnis, maupun ideologi. Karena itu, menilai Islam semata-mata berdasarkan tindakan sebagian orang merupakan penyederhanaan yang tidak adil.

Al-Qur'an justru menggambarkan Islam sebagai jalan keselamatan, keadilan, dan rahmat bagi manusia.

Penutup

Pertanyaan terbesar bagi dunia Islam hari ini bukanlah apakah peradaban modern akan terus berkembang.

Pertanyaannya adalah: nilai apa yang akan menjadi fondasi peradaban tersebut?

Bila pengalaman sejarah menunjukkan bahwa kemajuan material saja tidak mampu menghadirkan keadilan, ketenteraman, dan kemuliaan manusia, maka pencarian terhadap nilai-nilai wahyu akan terus menemukan relevansinya.

Karena itulah, bagi orang-orang yang meyakini Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup, perjalanan bukanlah kembali kepada kegelapan, melainkan terus bergerak menuju cahaya yang dijanjikan Allah—cahaya yang membimbing manusia keluar dari berbagai bentuk krisis menuju jalan yang lurus.

Hasan Al-Banna tentang Kepemimpinan Islam Apakah dominasi peradaban dunia selalu berpindah dari satu bangsa ke bangsa lain? Apak...

Hasan Al-Banna tentang Kepemimpinan Islam



Apakah dominasi peradaban dunia selalu berpindah dari satu bangsa ke bangsa lain?

Apakah kebangkitan dan kemunduran sebuah peradaban merupakan sekadar hasil kekuatan militer dan ekonomi, ataukah bagian dari sunnatullah yang mengatur perjalanan sejarah manusia?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi titik tolak pemikiran Imam Hasan Al-Banna dalam Risalah An-Nur.

Menurut pendiri Ikhwanul Muslimin tersebut, sejarah dunia menunjukkan bahwa kepemimpinan peradaban tidak pernah bersifat abadi. Ia selalu berpindah dari satu pusat kekuatan ke pusat kekuatan lainnya sesuai dengan kehendak Allah dan hukum-hukum sejarah yang telah ditetapkan-Nya.

Hasan Al-Banna menulis:

«"Sesungguhnya kepemimpinan dunia pada suatu masa berada di tangan Timur. Kemudian berpindah ke Barat setelah munculnya Yunani dan Romawi. Setelah itu dipindahkan kembali oleh kenabian Musa, Isa, dan Muhammad kepada Timur. Kemudian Timur tertidur lelap, sedangkan Barat bangkit pada era modern. Semua itu berlangsung sesuai sunnatullah yang tidak pernah berubah."»

Bagi Hasan Al-Banna, kebangkitan Barat bukanlah sebuah kecelakaan sejarah.

Demikian pula, kemundurannya kelak bukanlah sesuatu yang mustahil.

Ia melihat bahwa setiap peradaban memiliki masa kejayaan, kemudian mengalami kemunduran ketika kezaliman, kesombongan, dan penyimpangan moral mulai mendominasi.

Karena itu, menurutnya, dominasi Barat bukanlah akhir sejarah.

Ia meyakini akan datang suatu masa ketika kepemimpinan dunia kembali berada di bawah nilai-nilai Al-Qur'an.

Hasan Al-Banna menggambarkan harapan tersebut dengan kalimat yang sangat optimistis:

«"Yang tersisa adalah kekuatan Timur di bawah panji Allah, dipimpin oleh bendera Al-Qur'an dan didukung pasukan kaum mukmin yang kokoh."»

Dalam pandangannya, apabila kepemimpinan dunia kembali dibangun di atas petunjuk Allah, maka yang lahir bukan sekadar pergantian kekuasaan, melainkan lahirnya peradaban yang menghadirkan keadilan dan ketenteraman.

Karena itulah ia mengutip doa penghuni surga yang diabadikan dalam Surah Al-A'raf ayat 43:

«"Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada kami. Kami tidak akan memperoleh petunjuk sekiranya Allah tidak memberi petunjuk kepada kami."»

Mengapa Hasan Al-Banna mengutip ayat yang berbicara tentang penghuni surga ketika membahas kepemimpinan dunia?

Jawabannya menarik.

Ayat tersebut sesungguhnya berbicara tentang keadaan penghuni surga yang telah dibersihkan dari segala rasa dengki, kebencian, dan permusuhan. Mereka memuji Allah karena menyadari bahwa seluruh keberhasilan mereka bukan semata hasil usaha pribadi, melainkan karena petunjuk dan rahmat Allah.

Tafsir Tahlili Kementerian Agama menjelaskan bahwa penghuni surga mengakui satu kenyataan penting: tanpa petunjuk Allah, mereka tidak akan sampai kepada keselamatan. Bahkan masuk surga sendiri bukan semata-mata karena amal, tetapi karena rahmat Allah yang menyempurnakan amal tersebut.

Karena itu, kutipan Hasan Al-Banna dapat dipahami sebagai penegasan bahwa kemenangan sebuah peradaban Islam—jika benar-benar terjadi—bukanlah hasil keunggulan manusia semata, melainkan buah dari petunjuk dan pertolongan Allah.

Namun Hasan Al-Banna juga menegaskan bahwa harapan tersebut bukanlah angan-angan kosong.

Ia mendasarkan optimisme itu pada firman Allah dalam Surah Al-Ma'idah ayat 54:

«"Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya..."»

Ayat ini turun dalam konteks peringatan kepada kaum Muslimin agar tidak berpaling dari agama. Allah menegaskan bahwa jika ada orang-orang yang meninggalkan Islam, agama ini tidak akan runtuh. Allah akan mengganti mereka dengan generasi lain yang lebih layak memikul amanah.

Menurut Tafsir Tahlili, sejarah membuktikan kebenaran ayat tersebut.

Setelah wafatnya Rasulullah ï·º, sebagian kabilah Arab murtad dan menolak membayar zakat. Namun Allah menghadirkan generasi yang tetap teguh mempertahankan agama melalui kepemimpinan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq. Berbagai pemberontakan berhasil dipadamkan sehingga persatuan umat tetap terjaga.

Al-Qur'an kemudian menyebut enam karakter utama generasi pengganti tersebut.

Pertama, mereka dicintai Allah.

Kedua, mereka mencintai Allah.

Ketiga, mereka rendah hati terhadap sesama orang beriman.

Keempat, mereka tegas dalam menghadapi pihak yang memusuhi agama.

Kelima, mereka bersungguh-sungguh berjihad di jalan Allah.

Keenam, mereka tidak takut terhadap celaan manusia ketika mempertahankan kebenaran.

Bagi Hasan Al-Banna, enam karakter inilah fondasi kepemimpinan Islam.

Kebangkitan umat tidak dimulai dari kekuatan ekonomi ataupun teknologi semata.

Ia dimulai dari pembentukan manusia yang memiliki hubungan kuat dengan Allah, kasih sayang kepada sesama mukmin, keberanian menegakkan kebenaran, serta keteguhan dalam menghadapi tekanan.

Karena itu, cita-cita kebangkitan Islam menurut Hasan Al-Banna bukanlah sekadar pergantian pusat kekuasaan dunia.

Yang lebih penting adalah lahirnya generasi yang pantas menerima amanah tersebut.

Jika generasi seperti itu belum hadir, maka pergantian kepemimpinan hanyalah perubahan penguasa tanpa perubahan peradaban.

Sebaliknya, apabila sifat-sifat yang disebutkan dalam Surah Al-Ma'idah ayat 54 benar-benar terwujud dalam diri kaum Muslimin, maka mereka telah mempersiapkan diri menjadi bagian dari sunnatullah kebangkitan yang dijanjikan Allah.

Pada akhirnya, pesan Hasan Al-Banna bukan mengajak umat sibuk menebak kapan perubahan itu akan datang.

Ia justru mengajak setiap Muslim bertanya kepada dirinya sendiri:

Apakah aku sedang menjadi bagian dari generasi yang akan diganti, atau justru bagian dari generasi yang Allah cintai dan dipilih untuk memikul amanah kebangkitan Islam?

Sumber:
Ali Muhammad Jarisyah, Syarah Syiar Tarbiyah, Era Intermedia, 2021, Hal. 154-155

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (49) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (8) Dakwah (2) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (19) Kecerdasan (319) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (51) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (101) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (5) Nusantara (266) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (661) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (299) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (171) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (33) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)