Juru Dakwah: Penyambung Misi Masa Lalu dan Masa Depan
Islam hari ini membutuhkan jamaah para juru dakwah yang memiliki pandangan perubahan berkesinambungan. Para juru dakwah ini memahami dengan baik kewajiban mereka dalam memberi petunjuk kepada umat. Mereka sadar bahwa diri mereka berada di dalam gerbong dakwah yang terus bergerak, dan bahwa mereka adalah mata rantai yang menyambung masa lalu dengan masa depan.
Kesadaran ini pernah diekspresikan dalam sebuah syair yang menggambarkan ruh perjuangan mereka:
> Kami di dalam hidup ini adalah kafilah musafir, yang menyambung generasi mendatang dengan masa lalu kami. Para pendahulu kami telah menunjuki kami jalan, dan kami pun harus menunjuki para penerus kami.
Para pendahulu telah menunaikan tugas itu dengan penuh keletihan—semoga Allah merahmati mereka. Mereka menyampaikan akidah tauhid kepada kita, mendidik dan membimbing kita, serta mengentaskan kita dari berbagai bahaya yang mengintai. Dari tangan merekalah Islam sampai kepada kita dalam keadaan hidup.
Karena itu, kewajiban generasi hari ini bukan sekadar menikmati hasil perjuangan mereka, tetapi membalas jasa tersebut. Kita harus memenuhi janji yang pernah mereka ambil dari kita: berbuat sebagaimana mereka telah berbuat. Mereka menanam sehingga kita bisa memetik hasilnya; dan kita harus kembali menanam agar generasi setelah kita juga dapat memetik buahnya.
Proses penanaman ini menuntut keberanian untuk membaur dengan umat, bertatap muka dengan mereka, serta menyampaikan kebenaran secara terang-terangan. Dakwah tidak mungkin tumbuh dalam jarak dan keterasingan, tetapi dalam perjumpaan dan keterlibatan.
Karena itu, pilihan untuk berkhalwat dan meninggalkan perjuangan menghadapi pemikiran sekuler serta kerusakan etika tidak selalu merupakan kemuliaan. Mustafa Shadiq ar-Rafi‘i menggambarkan sikap ini dengan tajam dalam Wahyul Qalam. Ia menulis bahwa sebagian orang mengira uzlah adalah pelarian dari perkara-perkara hina menuju keutamaan, padahal pelarian dari perjuangan melawan kehinaan justru merupakan kehinaan itu sendiri bagi setiap klaim keutamaan.
Ar-Rafi‘i mempertanyakan makna nilai-nilai luhur seperti iffah, amanah, kejujuran, dan kebajikan apabila semua itu hanya dimiliki oleh seseorang yang memutuskan diri dari manusia—hidup sendirian di padang pasir atau di puncak gunung. Apa bedanya uzlah semacam itu dengan hidup di tengah manusia tetapi dalam keadaan bisu dan tak memberi pengaruh?
Problematika kaum Muslimin hari ini sejatinya bukan terletak pada jumlah mereka yang sedikit. Umat Islam banyak, tetapi yang berkomitmen pada keislamannya di tengah arus penelantaran shalat dan penetrasi pemikiran kufur jumlahnya terbatas. Krisis ini adalah krisis peran, bukan krisis populasi.
Di setiap kawasan Islam, masih terdapat banyak pemuda yang baik dan memiliki potensi besar. Namun persoalannya, mereka tidak mendeklarasikan keislamannya dalam ruang publik, tidak berdakwah, atau berdakwah tanpa koordinasi dan arah yang jelas. Energi mereka tercerai-berai dan tidak terkonsolidasi menjadi kekuatan perubahan.
Kondisi ini pernah diisyaratkan oleh seorang dai, Abdul Qadir Audah. Ia mengatakan bahwa di negeri-negeri Islam terdapat generasi yang memiliki wawasan Islam yang tinggi dan tekad untuk mengejar ketertinggalan umat. Dalam memperjuangkan kebenaran, mereka tidak gentar terhadap cacian. Secara pribadi, mereka tidak memiliki aib yang besar.
Namun, Abdul Qadir Audah menilai bahwa kelemahan mereka terletak pada orientasi perjuangan. Mereka sangat dipengaruhi oleh pola pendahulu dalam satu sisi: mengerahkan sebagian besar tenaga hanya pada ibadah individual dan nasihat moral semata.
Menurutnya, seandainya generasi ini mengerahkan sebagian besar usaha mereka untuk mengingatkan kaum Muslimin tentang syariat yang ditelantarkan, serta menentang hukum dan sistem yang bertentangan dengan Islam, niscaya hal itu akan jauh lebih bermanfaat—baik bagi mereka sendiri maupun bagi kebangkitan Islam secara keseluruhan.
Di sinilah posisi juru dakwah menjadi krusial: sebagai penyambung misi sejarah, penjaga amanah masa lalu, dan pembuka jalan bagi masa depan. Mereka bukan sekadar pewaris, tetapi juga penanam yang sadar bahwa hasilnya mungkin tidak mereka nikmati, namun akan menjadi kehidupan bagi generasi setelah mereka.
0 komentar: