Mengapa Nabi Muhammad SAW, yang diutus membawa risalah tauhid, memberikan perhatian besar kepada pertanian?
Sekilas, pertanian tampak sebagai urusan ekonomi. Namun ketika menelusuri Al-Qur'an, hadis, dan perjalanan hidup Rasulullah SAW di Madinah, muncul gambaran yang jauh lebih besar. Pertanian ternyata bukan sekadar aktivitas menghasilkan makanan, melainkan fondasi kemandirian ekonomi, stabilitas sosial, dan keberlanjutan sebuah peradaban.
Selama sekitar sepuluh tahun di Madinah, Rasulullah hidup di lingkungan yang berbeda dengan Makkah. Jika Makkah dikenal sebagai lembah tandus dengan sumber air terbatas, Madinah memiliki banyak mata air, kebun kurma, dan lahan pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat. Di kota inilah Rasulullah tidak hanya memimpin negara, tetapi juga membangun fondasi ekonomi umat, termasuk melalui sektor pertanian.
Pertanian: Amal yang Terus Berbuah
Salah satu pesan Rasulullah yang paling terkenal tentang pertanian adalah sabdanya:
«"Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman atau menabur benih, lalu hasilnya dimakan manusia, burung, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya." (HR. Bukhari dan Ahmad)»
Hadis ini mengubah cara pandang terhadap profesi petani.
Menanam bukan hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga menjadi amal yang terus mengalir selama tanaman tersebut memberi manfaat kepada makhluk hidup. Burung yang memakan buah, hewan yang berteduh di bawah pohon, hingga manusia yang menikmati hasil panen, semuanya menjadi bagian dari pahala yang terus mengalir bagi penanamnya.
Dengan demikian, Islam menempatkan pertanian sebagai bentuk sedekah jariyah yang menyatu dengan pelestarian lingkungan.
Ketika Rasulullah Turun Langsung Menanam Pohon
Perhatian Rasulullah tidak berhenti pada anjuran.
Beliau sendiri terlibat dalam kegiatan menanam.
Salah satu kisah paling menarik adalah ketika membantu Salman al-Farisi memperoleh kemerdekaannya.
Majikan Salman menetapkan syarat yang sangat berat: menanam 300 pohon kurma tanpa ada satu pun yang mati, disertai pembayaran sejumlah harta.
Rasulullah mengajak para sahabat mengumpulkan bibit kurma. Setelah Salman menyiapkan lubang tanam, Rasulullah bersama para sahabat menanamnya satu per satu hingga syarat tersebut terpenuhi.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi dalam Islam tidak hanya dilakukan melalui kebijakan, tetapi juga melalui gotong royong dan keterlibatan langsung pemimpin.
Pohon-pohon kurma itu bukan sekadar alat pembebasan seorang budak, melainkan simbol bahwa tanaman mampu melahirkan kemerdekaan, kesejahteraan, dan masa depan.
Pelajaran Besar dari Gagal Panen
Ada satu peristiwa yang sangat penting dalam sejarah ilmu pengetahuan Islam.
Suatu hari Rasulullah melihat para petani Madinah melakukan penyerbukan buatan pada pohon kurma.
Beliau berpendapat bahwa mungkin penyerbukan itu tidak perlu dilakukan.
Para petani mengikuti pendapat tersebut.
Hasilnya justru mengecewakan.
Panen menurun dan banyak buah menjadi rusak.
Ketika mengetahui hal itu, Rasulullah tidak mempertahankan pendapatnya.
Beliau justru menjelaskan:
«"Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian."»
Pernyataan ini menjadi salah satu fondasi penting dalam peradaban Islam.
Rasulullah membedakan secara jelas antara wahyu yang wajib diikuti dengan pendapat manusia dalam urusan teknis yang dapat diuji melalui pengalaman, observasi, dan eksperimen.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Islam memberikan ruang yang luas bagi ilmu pengetahuan, penelitian, dan inovasi.
Dalam bidang pertanian, keberhasilan tidak cukup hanya dengan niat baik, tetapi juga memerlukan keahlian dan pembelajaran yang terus berkembang.
Menghidupkan Tanah Mati
Perhatian Rasulullah terhadap pertanian juga terlihat melalui prinsip Ihya' al-Mawat, yaitu menghidupkan tanah yang tidak dimanfaatkan.
Beliau bersabda:
«"Barang siapa menghidupkan tanah mati, maka tanah itu menjadi miliknya." (HR. Abu Dawud)»
Kebijakan ini memberikan insentif bagi masyarakat untuk membuka lahan tidur menjadi lahan produktif.
Dalam perspektif pembangunan, kebijakan tersebut mendorong bertambahnya produksi pangan, memperluas kawasan hijau, membuka lapangan pekerjaan, sekaligus mengurangi tanah yang terbengkalai.
Dalam bahasa modern, prinsip ini sejalan dengan pembangunan berbasis produktivitas dan konservasi sumber daya.
Menjaga Hasil Panen
Rasulullah memahami bahwa menghasilkan panen saja belum cukup.
Hasil panen juga harus dilindungi.
Karena itu beliau memberikan keringanan memelihara anjing sebagai penjaga kebun dan ternak.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa keamanan aset pertanian merupakan bagian dari manajemen usaha.
Tanaman yang telah dirawat selama bertahun-tahun harus dijaga dari pencurian maupun gangguan hewan liar agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal.
Membangun Pasar Pertanian yang Adil
Perhatian Rasulullah juga menjangkau proses perdagangan hasil pertanian.
Beliau melarang menjual buah sebelum jelas kematangannya.
Beliau juga melarang berbagai bentuk transaksi yang mengandung unsur ketidakjelasan (gharar) dan spekulasi, seperti muhaqalah, mukhadharah, dan muzabanah.
Tujuannya bukan mempersulit perdagangan.
Sebaliknya, aturan tersebut melindungi penjual maupun pembeli agar tidak terjadi penipuan, perselisihan, ataupun ketidakadilan.
Dengan demikian, keberhasilan pertanian tidak hanya ditentukan oleh panen yang melimpah, tetapi juga oleh sistem perdagangan yang jujur dan transparan.
Dari Kebun Menuju Peradaban
Jika seluruh kebijakan Rasulullah dirangkai, tampak bahwa beliau membangun pertanian melalui tiga tahapan besar.
Pertama, mendorong masyarakat membuka dan menghidupkan lahan.
Kedua, meningkatkan produktivitas melalui ilmu pengetahuan, pengalaman, dan kerja sama.
Ketiga, menjaga hasil panen melalui keamanan serta sistem perdagangan yang adil.
Inilah ekosistem pertanian yang utuh.
Bukan hanya menghasilkan makanan, tetapi juga melahirkan keadilan ekonomi, solidaritas sosial, dan keberlanjutan lingkungan.
Penutup: Pertanian sebagai Jalan Memakmurkan Bumi
Bagi Rasulullah SAW, pertanian bukan sekadar profesi.
Ia adalah amanah untuk memakmurkan bumi (imaratul ardh).
Petani bukan hanya penghasil pangan, tetapi penjaga kehidupan.
Melalui satu pohon yang ditanam, seorang Muslim dapat memberi makan manusia, burung, dan hewan, memperbaiki kualitas lingkungan, menggerakkan roda ekonomi, sekaligus menanam pahala yang terus mengalir setelah ia wafat.
Di tengah berbagai tantangan ketahanan pangan dan kerusakan lingkungan pada masa kini, sirah Rasulullah menghadirkan pelajaran yang tetap relevan: membangun peradaban dimulai dari menghidupkan tanah, menghargai ilmu, menegakkan kejujuran dalam perdagangan, dan memandang setiap pohon yang ditanam sebagai investasi bagi kehidupan dunia sekaligus bekal menuju akhirat.
0 komentar: