Titik Tolak Dakwah untuk Para Pelanjut
Kembalilah ke titik tolak dakwah.
Bukan untuk berbicara kepada mereka yang berpaling, tetapi untuk menyapa para juru dakwah itu sendiri—mereka yang tekun menjaga shalat, bangga dengan agamanya, menghiasi hidup dengan akhlak orang-orang beriman, dan tetap setia pada kebenaran tanpa lengah dan tanpa ragu.
Sebab persoalan dunia Islam hari ini bukan semata kekurangan orang yang mengaku Islam. Masalah terbesar justru terletak pada mereka yang telah berada di dalam barisan iman, namun kelelahan, kehilangan arah, atau tidak lagi mengetahui ke mana langkah harus diarahkan.
Kebutuhan paling mendesak bukanlah menciptakan komunitas baru dari orang-orang yang menyimpang dan lalai, melainkan menyadarkan kembali mereka yang telah berkomitmen pada Islam—membangkitkan semangatnya, menguatkan hatinya, dan mengenalkan jalan amal serta fiqh dakwah yang benar.
Di tengah umat ini masih tersisa orang-orang beriman dalam jumlah yang tidak sedikit. Mereka menyimpan potensi besar untuk menghadirkan kebaikan yang dikehendaki Allah. Namun potensi itu menunggu pemurnian jiwa, pengendalian kecenderungan kepada dunia, keberanian menjauhi fitnah, kesabaran menghadapi ujian, dan pembekalan ilmu kepemimpinan umat.
Karena itu, kembali kepada titik tolak dakwah bukanlah kembali kepada perdebatan ideologis yang melelahkan. Ia tidak dimulai dengan membandingkan Islam dengan madzhab sosial atau ekonomi modern. Ia juga tidak diarahkan kepada mereka yang mencampuradukkan Islam dengan ideologi lain. Fokusnya lebih jujur dan lebih sunyi: berbicara kepada kaum Muslimin yang benar-benar beriman, bersih aqidahnya, dan hatinya resah melihat kenyataan umat hari ini.
Kepada merekalah dakwah diarahkan—bukan dengan teriakan, tetapi dengan ajakan yang menuntun. Dakwah menunjukkan jalan amal yang membuahkan hasil, jalan pembebasan yang berakar pada tarbiyah jiwa, serta jalan peningkatan derajat ruhani melalui disiplin, kesungguhan, dan pengorbanan.
Ia juga menyapa para juru dakwah yang telah mengenal medan amal, yang berusaha melepaskan diri dari egoisme individual, dan memilih amal jama‘i bersama golongan “kanan”—mereka yang bersungguh-sungguh melawan jahiliyah demi mengembalikan umat kepada Islam. Namun jalan ini bukan jalan ringan. Ia menuntut keteguhan, tenaga ekstra, dan kelembutan hati yang terus dipelihara.
Maka siapa pun yang mengabaikan tujuan ini, ia akan keliru memahami titik tolak dakwah. Ia akan ragu menggunakannya, atau salah mengarahkannya. Padahal dakwah tidak pernah dimulai dari keramaian ide, melainkan dari kesadaran orang-orang beriman yang bersedia kembali memperbaiki diri sebelum memperbaiki dunia.
0 komentar: