Jamaah Satu Hati
Rasulullah ï·º menggambarkan satu keadaan yang sangat agung tentang sebuah jamaah beriman:
> “Tidak ada pertikaian dan kebencian di antara mereka, karena sesungguhnya mereka satu hati.”
Inilah gambaran ideal jamaah para juru dakwah—jamaah yang dibangun bukan di atas kepentingan, tetapi di atas iman dan kesadaran.
Di dalam jamaah ini terdapat sejumlah janji yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Janji-janji itu bukan formalitas, melainkan ikatan ruhani yang diikrarkan sejak langkah pertama seseorang memasuki barisan para juru dakwah. Ia menyerupai syair yang dihidupkan oleh amal:
Tangan berpegang tangan.
Saksikan perjanjian kami.
Teguh dalam satu barisan.
Maju atau hancur bersama.
Inilah janji setia—janji untuk melangkah bersama dalam perjuangan yang terencana, matang, dan disadari risikonya. Sebuah komitmen untuk tidak berjalan sendiri, tidak meninggalkan barisan, dan tidak mencari keselamatan pribadi di atas keruntuhan jamaah.
Janji setia ini melahirkan ketaatan. Namun ketaatan yang lahir bukan dari paksaan, melainkan dari kesadaran. Ia tumbuh dari pemahaman, diperkuat oleh iman, dan dijaga oleh keteguhan hati. Karena itu, di dalam barisan ini tidak tumbuh pembicaraan sia-sia, tidak subur bisikan perpecahan, dan tidak diberi ruang ambisi pribadi.
Sebagaimana iman kepada surga mendorong mereka berlomba-lomba dalam jihad dan pengorbanan, janji setia ini pun mendorong perlombaan lain yang tidak kalah berat: perlombaan dalam ketaatan, cinta persaudaraan, dan kejernihan hati sesama anggota jamaah. Masing-masing ingin berada di barisan terdepan—bukan untuk menonjolkan diri, tetapi karena ingin menjadi bagian dari golongan pertama yang dipanggil menuju surga melalui pintu persatuan.
Karena itulah Rasulullah ï·º kembali menggambarkan mereka dengan kalimat yang sama:
> “Tidak ada pertikaian dan kebencian di antara mereka, karena sesungguhnya mereka sehati.”
Ketaatan yang menjaga kejernihan hati inilah yang mengantarkan mereka masuk ke dalam kelompok pemenang. Ketaatan yang bertolak dari iman, dipandu oleh kaidah iman, dan selalu kembali kepada iman. Ia bukan ketaatan yang membutakan akal, tetapi juga bukan pembangkangan yang dibungkus dalih kebebasan.
Ketaatan ini sama sekali bukan sikap pasrah yang lemah dan pengecut. Ia juga bukan basa-basi orang yang tamak, oportunis, atau egois. Ia adalah ketaatan Islami yang khas—ketaatan yang dipahami sebagai pilar keimanan. Tanpanya, iman menjadi timpang. Kehilangannya membuat bangunan jamaah rapuh dari dalam.
Karena itu, para juru dakwah memandang berkhidmat kepada pemimpin sebagai bagian dari kebenaran, dan memandang ketaatan kepada perintah yang sah sebagai bagian dari iman. Dalam bingkai ini, akal boleh digunakan ketika terjadi perbedaan ijtihad, tetapi hati harus ditahan ketika kepentingan pribadi mulai menyelinap. Semua itu dilakukan demi menjaga agar iman kolektif jamaah tidak terusik.
Sebab jamaah yang satu hati tidak dibangun oleh keseragaman pendapat, melainkan oleh kejujuran iman, kejernihan niat, dan kesediaan untuk menundukkan ego demi kemenangan bersama.
0 komentar: