Keterusterangan dan Kesucian Dakwah
Kami ingin berterus terang kepada manusia tentang tujuan dakwah. Kami ingin mengungkapkan manhaj dakwah di hadapan manusia dan menyampaikan seruannya tanpa kehancuran dan tanpa kesamaran. Dakwah harus tampil jelas, lebih terang dari sinar matahari, lebih cerah dari cahaya fajar, dan lebih cemerlang dari terangnya siang hari.
Kami juga ingin agar seluruh manusia mengetahui bahwa dakwah itu bersih dan suci. Kebersihannya benar-benar mulia, karena ia melampaui ambisi pribadi, menganggap kecil keuntungan materi, serta meninggalkan hawa nafsu dan kesenangan sementara. Dakwah tidak berjalan mengikuti keinginan manusia, tetapi terus melaju di jalan yang telah digariskan Allah bagi para dai.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
Ù‚ُÙ„ْ Ù‡ٰذِÙ‡ٖ سَبِÙŠْÙ„ِÙŠْٓ اَدْعُÙˆْٓا اِÙ„َÙ‰ اللّٰÙ‡ِ ۗعَÙ„ٰÙ‰ بَصِÙŠْرَØ©ٍ اَÙ†َا۠ ÙˆَÙ…َÙ†ِ اتَّبَعَÙ†ِÙŠْ ۗÙˆَسُبْØٰÙ†َ اللّٰÙ‡ِ ÙˆَÙ…َآ اَÙ†َا۠ Ù…ِÙ†َ الْÙ…ُØ´ْرِÙƒِÙŠْÙ†َ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (seluruh manusia) kepada Allah dengan bukti yang nyata. Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk golongan orang-orang musyrik.”
(Yusuf [12]: 108)
Ayat ini menegaskan bahwa dakwah memiliki jalan yang jelas, tujuan yang terang, dan dasar yang kokoh. Ia dilakukan dengan bashirah—kesadaran, ilmu, dan kejujuran—tanpa penyimpangan dan tanpa kepentingan tersembunyi.
Karena itu, dakwah tidak meminta sesuatu pun dari manusia. Ia tidak mengharapkan harta, tidak menuntut balasan, tidak menginginkan popularitas, dan tidak pula menunggu ucapan terima kasih. Dakwah hanya berjalan untuk menyampaikan amanah.
Sungguh, pahala amal seluruhnya hanyalah dari Dzat yang telah menciptakan kami.
0 komentar: