Menelusuri Pola Ilahi Sebelum Vonis Sejarah
Mengapa Surah Al-Mu'minūn tidak langsung menceritakan kaum Nabi Nuh, kaum 'Ad, Fir'aun, dan umat-umat yang dibinasakan?
Mengapa sebelum membuka lembaran sejarah berbagai peradaban yang runtuh, Allah justru mengajak manusia menengok dirinya sendiri?
Ternyata susunan Surah Al-Mu'minūn bukanlah rangkaian ayat yang berdiri sendiri. Ia merupakan sebuah bangunan argumentasi yang sangat sistematis. Sebelum manusia diajak menyaksikan bagaimana sebuah peradaban hancur, Allah terlebih dahulu menjelaskan empat fondasi besar kehidupan.
Barulah setelah itu Al-Qur'an membawa pembaca memasuki ruang sidang sejarah, memperlihatkan mengapa satu demi satu umat para nabi berakhir dengan kehancuran.
Tahap Pertama: Siapa yang Sebenarnya Beruntung?
Surah ini dibuka dengan sebuah deklarasi yang sangat tegas:
«"Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin." (QS. Al-Mu'minÅ«n: 1)»
Ini bukan sekadar kalimat pembuka.
Allah terlebih dahulu menetapkan standar keberhasilan hidup.
Keberuntungan menurut Al-Qur'an bukan diukur oleh kekayaan, kekuasaan, kejayaan militer, atau kemajuan teknologi.
Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa keberuntungan sejati hanya dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Sebaliknya, sebesar apa pun amal seseorang, jika tidak dibangun di atas keimanan kepada Allah, seluruh amal itu tidak akan bernilai di akhirat.
Dengan demikian, sebelum berbicara tentang naik dan turunnya sebuah peradaban, Al-Qur'an terlebih dahulu mendefinisikan apa arti "berhasil" menurut Allah.
Tahap Kedua: Mengingatkan Asal-Usul Manusia
Setelah menetapkan siapa yang beruntung, Allah mengajak manusia menelusuri asal-usul dirinya.
«"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati yang berasal dari tanah." (QS. Al-Mu'minÅ«n: 12)»
Mengapa manusia harus diingatkan tentang tanah?
Karena hampir seluruh bentuk kesombongan lahir ketika manusia lupa dari mana ia berasal.
Al-Qur'an kemudian menggambarkan proses penciptaan manusia secara bertahap:
- sari pati tanah,
- nutfah,
- 'alaqah,
- mudghah,
- tulang,
- daging,
- kemudian ditiupkan ruh.
Tahapan ini bukan sekadar penjelasan biologis.
Ia merupakan pendidikan akidah.
Manusia yang kelak membangun kerajaan besar, menguasai teknologi, bahkan mengaku sebagai tuhan, pada hakikatnya berasal dari setetes air yang sangat lemah.
Di sinilah kesombongan mulai dipatahkan sejak awal.
Tahap Ketiga: Mengingatkan Akhir Perjalanan Manusia
Sesudah menjelaskan asal kehidupan, Allah langsung mengingatkan ujungnya.
«"Kemudian sesungguhnya kamu setelah itu benar-benar akan mati." (QS. Al-Mu'minÅ«n: 15)»
Kematian menjadi penyeimbang seluruh ambisi dunia.
Tidak ada kekuasaan yang mampu menolak ajal.
Tidak ada kerajaan yang mampu membeli tambahan umur.
Semua manusia akan kembali kepada Allah.
Inilah fondasi yang membuat seluruh kisah sejarah sesudahnya tidak dibaca hanya sebagai catatan politik, tetapi sebagai perjalanan menuju hari pembalasan.
Tahap Keempat: Memperlihatkan Siapa Pengatur Alam Semesta
Setelah manusia memahami dirinya, Allah mengajak manusia melihat alam raya.
Allah menjelaskan penciptaan tujuh lapis langit.
Allah menjelaskan turunnya hujan dengan ukuran yang tepat.
Allah menjelaskan penyimpanan air di bumi.
Allah menjelaskan tumbuhnya kebun-kebun kurma, anggur, zaitun, dan berbagai rezeki lainnya.
Semua ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia berlangsung di dalam sistem yang diatur dengan sangat teliti oleh Allah.
Tidak ada satu tetes air pun yang turun tanpa ukuran.
Tidak ada satu sistem kehidupan yang berjalan tanpa pengaturan-Nya.
Dengan demikian, manusia tidak hidup dalam alam yang berjalan sendiri, tetapi di bawah pengawasan Rabb semesta alam.
Barulah Allah Membuka Lembaran Sejarah Peradaban
Sesudah empat fondasi tersebut selesai dibangun, Al-Qur'an baru mulai mengisahkan umat-umat terdahulu.
Urutannya pun sangat menarik.
Kaum Nabi Nuh
Allah memperlihatkan bagaimana para pemuka kaumnya menolak dakwah tauhid.
Mereka tidak membantah dalil Nabi Nuh.
Mereka justru menyerang pribadi beliau.
"Dia hanyalah manusia seperti kalian."
Mereka lebih mempertahankan tradisi nenek moyang daripada menerima kebenaran.
Kaum Nabi Hud
Sesudah kaum Nuh binasa, muncul kaum 'Ad.
Mereka hidup dalam kemewahan dan kekuatan.
Namun justru kemewahan itu melahirkan kesombongan.
Mereka mendustakan hari akhir dan menganggap Nabi Hud tidak berbeda dengan manusia biasa.
Umat-Umat Setelahnya
Kemudian datang kaum Tsamud, Madyan, Aikah, dan kaum Nabi Luth.
Masing-masing memiliki bentuk penyimpangan yang berbeda.
Ada yang menyombongkan teknologi.
Ada yang curang dalam ekonomi.
Ada yang tenggelam dalam penyimpangan moral.
Namun akar persoalannya tetap sama: penolakan terhadap wahyu Allah.
Fir'aun dan Para Pemuka Mesir
Ketika Nabi Musa dan Nabi Harun diutus, pola yang sama kembali terulang.
Fir'aun dan para pembesarnya menolak bukan karena kurang bukti.
Mereka menolak karena kesombongan kekuasaan.
Menurut mereka, tidak pantas dua orang dari Bani Israil menjadi pembawa kebenaran sementara Bani Israil hanyalah bangsa yang mereka perbudak.
Status sosial dijadikan ukuran kebenaran.
Nabi Isa dan Maryam
Di penghujung rangkaian kisah itu, Allah mengingatkan kembali tentang Nabi Isa dan Maryam.
Kelahiran Isa tanpa ayah menjadi bukti bahwa Allah berkuasa melampaui seluruh hukum yang dikenal manusia.
Apa yang dianggap mustahil oleh manusia sangat mudah bagi Allah.
Benang Merah Seluruh Kisah
Jika seluruh rangkaian Surah Al-Mu'minūn dibaca secara utuh, tampak sebuah pola yang terus berulang.
Sebelum Allah memperlihatkan kehancuran suatu bangsa, Dia terlebih dahulu menjelaskan:
- siapa manusia sebenarnya,
- dari mana manusia berasal,
- ke mana manusia akan kembali,
- dan siapa yang mengatur alam semesta.
Barulah setelah fondasi itu dipahami, Allah mengisahkan bagaimana berbagai peradaban runtuh.
Penyebab kehancuran mereka ternyata bukan semata-mata kelemahan ekonomi, militer, atau politik.
Akar persoalannya adalah kesombongan yang membuat mereka menolak petunjuk Allah.
Pelajaran bagi Peradaban Masa Kini
Surah Al-Mu'minūn mengajarkan bahwa sejarah tidak boleh dibaca hanya sebagai kronologi peristiwa.
Sejarah adalah cermin sunnatullah.
Peradaban boleh berubah.
Teknologi boleh berkembang.
Kekuasaan boleh berganti tangan.
Namun hukum Allah terhadap kesombongan, penolakan terhadap kebenaran, dan pendustaan terhadap para rasul tidak pernah berubah.
Karena itu, sebelum menilai mengapa suatu bangsa runtuh, Al-Qur'an mengajak setiap manusia bertanya lebih dahulu:
Apakah fondasi keimanan, kesadaran akan asal-usul, keyakinan terhadap akhirat, dan pengakuan terhadap kekuasaan Allah masih menjadi dasar kehidupan kita?
Di situlah Surah Al-Mu'minūn menunjukkan bahwa kisah umat-umat terdahulu bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cermin yang selalu relevan bagi setiap generasi.
0 komentar: