Cara Utbah bin Al-Ghulam Mengelola Hasil Penjualan Daun Kurma
Utbah bin Al-Ghulam dikenal sebagai sosok yang menjunjung tinggi kemandirian. Ia pernah berkata, “Aku tidak salut kepada orang yang tidak memiliki pekerjaan.”
Prinsip itu tidak berhenti pada ucapan, tetapi tercermin dalam cara ia menjalani kehidupan sehari-hari.
Seorang ulama, Abu Umar Al-Bashri, meriwayatkan bahwa modal usaha Utbah sangat sederhana—hanya satu peser. Dengan modal itu, ia membeli daun kurma, lalu menjualnya hingga memperoleh tiga peser.
Namun yang menarik bukan sekadar bagaimana ia berdagang, melainkan bagaimana ia mengelola hasilnya.
Setiap hari, tiga peser itu dibagi dengan disiplin:
Satu peser ia sedekahkan,
Satu peser ia gunakan untuk kebutuhan makan,
Dan satu peser ia putar kembali sebagai modal usaha.
Pola ini menunjukkan keseimbangan yang jarang: antara ibadah, kebutuhan hidup, dan keberlanjutan usaha. Tidak ada yang dihabiskan seluruhnya, tidak pula ditahan semuanya untuk diri sendiri.
Dari praktik sederhana ini, tampak bahwa kemandirian dalam Islam bukan hanya soal bekerja, tetapi juga tentang bagaimana mengelola hasilnya dengan penuh kesadaran—menghidupkan diri, membantu orang lain, dan menjaga kesinambungan usaha.
Sumber;
Adz-Dzahabi, Siyar A'lam An-Nubala, Pustaka Azzam, 2008
0 komentar: