Yahudi Madinah Ditinggalkan Sekutunya?
Di medan perang, benteng yang kokoh tidak selalu menjamin keselamatan. Aliansi yang tampak kuat pun tidak selalu bertahan ketika kepentingan mulai berubah.
Peristiwa setelah Perang Ahzab menjadi salah satu contoh penting dalam sejarah Madinah. Koalisi besar yang dibangun untuk menghancurkan kaum Muslimin justru berakhir dengan saling meninggalkan di antara para sekutunya.
Koalisi Terbesar untuk Menghancurkan Madinah
Perang Ahzab (Khandaq) merupakan puncak konsolidasi kekuatan anti-Muslim. Quraisy Mekah, kabilah Ghathafan, beberapa kabilah Arab lainnya, kelompok munafik di Madinah, serta Bani Quraizhah membentuk jaringan kepentingan yang memiliki tujuan yang sama: mengakhiri kekuatan kaum Muslimin.
Ketika pasukan sekutu mengepung Madinah dari luar, Bani Quraizhah dituduh melanggar perjanjian dengan kaum Muslimin dan diharapkan membuka ancaman dari dalam kota. Namun, rencana besar itu gagal.
Allah berfirman:
«"Allah menghalau orang-orang kafir itu dalam keadaan hati mereka penuh kejengkelan. Mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Cukuplah Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan." (QS. Al-Ahzab: 25)»
Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa seluruh pasukan sekutu akhirnya kembali tanpa memperoleh tujuan mereka. Badai yang Allah kirimkan menghancurkan moral pasukan sehingga pengepungan berakhir tanpa kemenangan.
Retaknya Kepercayaan Antar Sekutu
Riwayat sirah menyebutkan bahwa Abu Sufyan memutuskan mengakhiri pengepungan seraya mengatakan bahwa kondisi mereka telah memburuk, ternak banyak yang mati, dan Bani Quraizhah telah mengecewakan harapan mereka.
Perang Ahzab menjadi titik balik. Setelah peristiwa itu, Quraisy tidak lagi melancarkan ekspedisi besar menyerang Madinah. Sebaliknya, sebagaimana sabda Nabi ï·º yang disebut dalam Tafsir Kemenag, kaum Muslimin kemudian mengambil inisiatif dalam berbagai ekspedisi hingga akhirnya terjadi Fathu Mekah.
Janji yang Tidak Pernah Datang
Fenomena serupa juga terjadi pada hubungan Bani Nadhir dengan kaum munafik.
Ketika Bani Nadhir dikepung, Abdullah bin Ubay dan kelompoknya menjanjikan bantuan. Mereka berikrar akan keluar bersama Bani Nadhir dan ikut berperang apabila diperlukan.
Namun Al-Qur'an mengungkap kenyataan yang berbeda.
«"Jika mereka benar-benar diusir, orang-orang munafik itu tidak akan keluar bersama mereka. Jika mereka benar-benar diperangi, mereka tidak akan menolongnya." (QS. Al-Hasyr: 12)»
Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa janji tersebut benar-benar tidak ditepati. Bantuan yang dijanjikan tidak pernah datang hingga akhirnya Bani Nadhir menyerah.
Al-Qur'an bahkan menyebut janji itu sebagai kebohongan sejak awal.
Aliansi yang Tampak Kokoh, Tetapi Rapuh
Allah kemudian mengungkap karakter koalisi tersebut.
«"Kamu mengira mereka itu bersatu, padahal hati mereka terpecah belah." (QS. Al-Hasyr: 14)»
Secara lahiriah mereka tampak memiliki kekuatan besar.
Namun, di balik itu terdapat kepentingan yang berbeda-beda, rasa saling curiga, dan keberanian yang tidak sama ketika menghadapi risiko.
Al-Qur'an juga menjelaskan bahwa rasa takut kepada kaum beriman telah menguasai hati mereka sehingga janji-janji politik yang diucapkan pada masa aman berubah menjadi pengunduran diri ketika peperangan benar-benar terjadi.
Khaibar: Sekutu Kembali Menghilang
Pola yang hampir sama kembali terlihat dalam Perang Khaibar.
Tokoh-tokoh Yahudi berusaha memperoleh bantuan dari Ghathafan dengan imbalan sebagian hasil panen Khaibar. Namun bantuan tersebut tidak memberikan hasil yang menentukan.
Khaibar akhirnya jatuh ke tangan kaum Muslimin meskipun memiliki benteng-benteng yang dikenal sangat kuat pada zamannya.
Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan benteng dan banyaknya sekutu tidak selalu mampu mempertahankan suatu kekuatan apabila fondasi aliansinya telah rapuh.
Pelajaran Sejarah
Peristiwa-peristiwa ini memperlihatkan satu pola yang berulang.
Aliansi yang dibangun semata-mata atas dasar kepentingan bersama sering kali bertahan hanya selama manfaat itu masih ada. Ketika biaya politik, ekonomi, atau militer menjadi semakin besar, masing-masing pihak mulai menghitung keselamatan dirinya sendiri.
Karena itu, Al-Qur'an tidak hanya menceritakan kemenangan kaum Muslimin, tetapi juga membongkar psikologi sebuah koalisi yang kehilangan kepercayaan di antara para anggotanya.
Membaca Realitas Kontemporer
Apakah pola sejarah tersebut memiliki kemiripan dengan dinamika geopolitik masa kini?
Pertanyaan ini merupakan wilayah analisis sejarah, bukan kepastian.
Perubahan sikap negara-negara, bergesernya kepentingan strategis, munculnya tekanan politik domestik, perubahan opini publik internasional, maupun perubahan konfigurasi aliansi merupakan fakta yang dapat diamati dalam berbagai periode sejarah.
Namun, apakah seluruh dinamika tersebut akan menghasilkan pola yang sama seperti pada masa Madinah hanya dapat diketahui seiring perjalanan waktu.
Yang pasti, Al-Qur'an memberikan satu pelajaran yang bersifat universal: koalisi yang tampak besar belum tentu memiliki persatuan yang kokoh. Sebaliknya, kekuatan yang dibangun di atas keimanan, kesabaran, dan persatuan memiliki daya tahan yang jauh lebih besar daripada sekadar kesamaan kepentingan sesaat.
Sejarah Madinah bukan sekadar catatan masa lalu. Ia merupakan pelajaran tentang bagaimana sebuah koalisi dapat runtuh dari dalam ketika fondasi kepercayaannya telah hilang, sementara sebuah komunitas yang memiliki persatuan dan keteguhan justru mampu bertahan melewati gelombang krisis yang paling besar.
0 komentar: