Riset: Sebuah Cara Memahami Kehendak-Nya
Mengapa Al-Qur'an berulang kali memerintahkan manusia untuk memperhatikan langit, bumi, pergantian siang dan malam, bahkan dirinya sendiri? Apakah sekadar untuk dikagumi? Ataukah ada sebuah metode berpikir yang sedang diajarkan?
Al-Qur'an mengawali jawabannya dengan sebuah pernyataan yang sangat mendasar.
"Sesungguhnya bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak pula di langit."
(QS. Āli 'Imrān [3]: 5)
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang keluasan ilmu Allah, tetapi juga mengisyaratkan bahwa seluruh fenomena alam berjalan dalam pengetahuan, ukuran, dan ketetapan-Nya. Tidak ada proses yang berlangsung secara acak. Semuanya memiliki pola, hukum, dan tujuan.
Lalu Al-Qur'an membawa manusia memasuki laboratorium yang paling dekat dengannya: rahim.
"Dialah (Allah) yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana yang Dia kehendaki."
(QS. Āli 'Imrān [3]: 6)
Di sana berlangsung miliaran proses biologis yang tidak pernah dapat dikendalikan manusia. Manusia tidak menciptakan satu sel pun, tidak menentukan bentuk organ, tidak mengatur detak jantung pertama janin. Semua berlangsung mengikuti Kehendak Allah.
Yang mampu dilakukan manusia hanyalah mengamati, mencatat, meneliti, lalu memahami pola yang telah Allah tetapkan.
Di sinilah hakikat riset dimulai.
Riset Bukan Menciptakan Kehendak, tetapi Membacanya
Sering kali riset dipahami sebagai usaha menemukan sesuatu yang sama sekali baru. Padahal, dalam perspektif Al-Qur'an, riset lebih dahulu merupakan proses membaca hukum-hukum yang telah Allah letakkan di alam semesta.
Manusia tidak menciptakan gravitasi.
Tidak menciptakan fotosintesis.
Tidak menciptakan sistem kekebalan tubuh.
Tidak menciptakan pertumbuhan janin.
Yang dilakukan manusia hanyalah menemukan bagaimana semuanya bekerja.
Semakin jujur pengamatannya, semakin dekat ia memahami sunnatullah yang mengatur kehidupan.
Karena itu, riset menuntut kejujuran.
Data harus direkam sebagaimana adanya.
Proses harus dicatat apa adanya.
Kesimpulan harus lahir dari fakta, bukan dari keinginan peneliti.
Memanipulasi data berarti mengaburkan jejak-jejak Kehendak Allah yang sedang terbentang di hadapan manusia.
Mengapa Allah Memerintahkan Manusia Berpikir?
Al-Qur'an memberikan jawabannya dalam Surah Āli 'Imrān.
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal."
(QS. Āli 'Imrān [3]: 190)
Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa ayat ini merupakan tantangan bagi kaum intelektual agar menjelaskan fenomena alam secara akademik sehingga manusia menyimpulkan bahwa seluruh penciptaan tidak berlangsung sia-sia.
Artinya, penelitian ilmiah bukanlah aktivitas yang bertentangan dengan keimanan.
Justru penelitian yang jujur menjadi jalan untuk menemukan keteraturan ciptaan Allah.
Semakin dalam penelitian dilakukan, semakin tampak bahwa alam semesta bekerja dengan presisi yang luar biasa.
Ulul Albab: Menggabungkan Zikir dan Riset
Al-Qur'an tidak menggambarkan ilmuwan ideal sebagai orang yang hanya berpikir.
Mereka juga berdzikir.
"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring serta memikirkan penciptaan langit dan bumi."
(QS. Āli 'Imrān [3]: 191)
Di sinilah lahir konsep Ulul Albab.
Mereka menggabungkan dua aktivitas sekaligus:
- berdzikir kepada Allah;
- meneliti ciptaan-Nya.
Berpikir tanpa zikir mudah melahirkan kesombongan.
Zikir tanpa berpikir mudah berubah menjadi ritual yang kehilangan daya transformasi.
Al-Qur'an memadukan keduanya.
Apa yang Sebenarnya Diriset?
Jika riset adalah cara memahami sunnatullah, maka objek riset sesungguhnya jauh lebih luas daripada sekadar benda atau fenomena.
Yang diteliti adalah pola-pola Kehendak Allah.
Misalnya:
- Bagaimana proses-proses berlangsung?
- Mengapa setiap proses memiliki tahapan?
- Mengapa setiap makhluk memiliki ukuran yang sangat presisi?
- Bagaimana keseimbangan dipertahankan?
- Apa hikmah di balik setiap mekanisme?
- Kapan suatu proses berlangsung?
- Faktor apa saja yang menyebabkan perubahan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang melahirkan ilmu pengetahuan.
Dari sinilah lahir kedokteran, astronomi, pertanian, teknik sipil, fisika, kimia, hingga kecerdasan buatan.
Seluruh cabang ilmu pada hakikatnya merupakan usaha membaca pola-pola yang telah Allah tetapkan sejak awal penciptaan.
Dari Riset Menuju Teknologi
Setelah memahami pola, manusia mulai menyusun rencana.
Ia membuat desain.
Menyusun master plan.
Menyusun tahapan kerja.
Mengembangkan teknologi.
Membangun infrastruktur.
Semuanya lahir karena manusia berhasil membaca sebagian kecil hukum Allah yang bekerja di alam.
Pesawat terbang tidak melawan hukum aerodinamika.
Kapal tidak melawan hukum gaya apung.
Obat tidak melawan mekanisme biologis tubuh.
Teknologi yang berhasil justru selalu bekerja selaras dengan sunnatullah.
Semakin Banyak Meneliti, Semakin Rendah Hati
Ironisnya, semakin dalam seorang ilmuwan meneliti, semakin ia menyadari betapa sedikit ilmu yang dimilikinya.
Setiap jawaban melahirkan pertanyaan baru.
Setiap penemuan membuka misteri berikutnya.
Inilah sebabnya Rasulullah ﷺ sangat tersentuh ketika menerima ayat-ayat tentang penciptaan langit dan bumi. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Aisyah r.a., beliau menangis ketika membaca Surah Āli 'Imrān ayat 190–191, kemudian bersabda bahwa sungguh merugi orang yang membaca ayat-ayat tersebut tetapi tidak merenungkan kandungannya.
Riset yang benar akhirnya tidak berhenti pada laboratorium.
Ia berakhir pada pengakuan.
"Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia."
(QS. Āli 'Imrān [3]: 191)
Penutup: Riset sebagai Jalan Menuju Ketundukan
Hakikat riset bukanlah upaya menguasai Kehendak Allah.
Riset adalah usaha memahami sebagian kecil sunnatullah agar manusia mampu hidup selaras dengannya.
Semakin jujur seseorang mengamati ciptaan-Nya, semakin banyak ia menemukan kebijaksanaan.
Semakin banyak ia menemukan kebijaksanaan, semakin kecil egonya.
Pada akhirnya, ilmu pengetahuan tidak menjauhkan manusia dari Allah.
Sebaliknya, ilmu yang dibangun di atas observasi yang jujur justru mengantarkan manusia pada kesimpulan yang sama sebagaimana diucapkan oleh para Ulul Albab:
"Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Maka lindungilah kami dari azab neraka."
0 komentar: