Mengapa Al-Qur'an begitu banyak berbicara tentang harta?
Mengapa kisah-kisah tentang Qarun, kaum Nabi Syuaib, pemilik kebun, kaum Saba, hingga Ashabul Sabt memenuhi lembaran-lembaran Al-Qur'an?
Mengapa Al-Qur'an tidak banyak mengajarkan teknik menjadi kaya, tetapi justru begitu rinci mengajarkan bagaimana mengelola kekayaan?
Barangkali karena persoalan terbesar manusia bukanlah bagaimana memperoleh harta, melainkan bagaimana tetap menjadi hamba Allah ketika harta telah berada di tangannya.
Al-Qur'an ingin membangun manusia sebelum membangun kekayaannya. Sebab sejarah membuktikan, bukan kekurangan harta yang paling sering menghancurkan suatu peradaban, melainkan kegagalan mengelola harta.
Harta Milik Siapa?
Pandangan Al-Qur'an dimulai dari sebuah pertanyaan mendasar.
Sebenarnya, siapakah pemilik harta?
Jawabannya sangat tegas. Pemilik seluruh harta adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Manusia hanyalah penerima amanah.
«"Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebagian dari harta yang Allah telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah)." (QS. Al-Hadid: 7)»
Perubahan cara pandang ini mengubah seluruh bangunan ekonomi Islam.
Jika harta adalah milik Allah, maka manusia tidak bebas memperlakukan harta sesuka hati. Cara memperoleh, mengembangkan, menggunakan, hingga mewariskannya akan dimintai pertanggungjawaban.
Karena itu, Al-Qur'an lebih banyak berbicara tentang amanah daripada kepemilikan, lebih banyak berbicara tentang tanggung jawab daripada hak.
Alam Semesta Diciptakan untuk Manusia
Lalu dari mana datangnya harta?
Al-Qur'an mengingatkan bahwa seluruh sumber daya berasal dari Allah.
«"Dialah Allah yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kamu." (QS. Al-Baqarah: 29)»
Bahkan Allah juga menundukkan apa yang ada di langit dan di bumi agar manusia dapat memanfaatkannya.
Ini menunjukkan bahwa alam semesta adalah karunia sekaligus ladang amanah.
Namun, apakah berarti sumber daya tidak terbatas?
Al-Qur'an mengajarkan sesuatu yang lebih dalam.
Karunia Allah memang sangat luas, tetapi nafsu manusia sering kali jauh lebih luas daripada kebutuhannya.
Bumi menjadi sempit bukan karena Allah pelit memberi rezeki, tetapi karena manusia serakah dalam mengelolanya.
Kerusakan lingkungan, ketimpangan ekonomi, krisis pangan, hingga peperangan sering kali bukan lahir dari kurangnya sumber daya, melainkan dari rusaknya karakter manusia.
Mengapa Al-Qur'an Lebih Banyak Mengajarkan Pengelolaan Harta?
Karena mendapatkan harta hanyalah permulaan.
Yang menentukan keselamatan seseorang adalah apa yang ia lakukan setelah harta itu berada di tangannya.
Al-Qur'an berulang kali mengingatkan:
«"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan." (QS. At-Taghabun: 15)»
Harta bukan tanda cinta Allah.
Harta bukan pula tanda kemurkaan Allah.
Harta adalah ujian.
Yang diuji bukan jumlah hartanya, melainkan hati pemiliknya.
Apakah ia tetap rendah hati?
Apakah ia tetap adil?
Apakah ia tetap bersyukur?
Apakah ia masih mengingat fakir miskin?
Ataukah harta perlahan menggantikan posisi Allah di dalam hatinya?
Di sinilah letak perhatian besar Al-Qur'an.
Prinsip-Prinsip Mengelola Harta dalam Al-Qur'an
Dari berbagai ayat, tampak bahwa Al-Qur'an membangun sebuah sistem pengelolaan harta yang utuh.
Pertama, harta harus diperoleh secara halal dan baik (halal dan thayyib).
Keberkahan tidak lahir dari kezaliman.
Kedua, harta harus produktif.
Harta tidak boleh menganggur, apalagi hanya ditumpuk sebagai simbol kekuasaan.
Ketiga, harta harus berputar.
Zakat, infak, sedekah, hibah, wakaf, dan warisan merupakan mekanisme agar kekayaan tidak berhenti pada segelintir orang.
Allah berfirman:
«"...agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." (QS. Al-Hasyr: 7)»
Keempat, harta tidak boleh dihamburkan.
Islam melarang israf (berlebihan) dan tabzir (pemborosan).
Kelima, harta harus membawa keberkahan.
Dalam logika Al-Qur'an, keberkahan bukan lahir dari penumpukan, melainkan dari penyucian melalui zakat, infak, sedekah, dan berbagai bentuk kemanfaatan sosial.
Kisah-Kisah Pengelolaan Harta dalam Al-Qur'an
Menariknya, hampir seluruh kisah ekonomi dalam Al-Qur'an bukan menceritakan bagaimana seseorang menjadi kaya.
Yang diceritakan justru bagaimana manusia gagal mengelola kekayaannya.
1. Qarun: Ketika Kekayaan Melahirkan Kesombongan
Qarun berkata bahwa seluruh kekayaannya diperoleh karena ilmunya sendiri.
Ia memutus hubungan antara nikmat dan Pemberi Nikmat.
Ia menumpuk harta, membanggakan diri, dan mengabaikan tanggung jawab sosial.
Akhirnya, Allah menenggelamkan dirinya bersama seluruh kekayaannya.
Bukan karena ia kaya.
Tetapi karena ia menjadikan kekayaan sebagai sesembahan baru.
2. Kaum Nabi Syuaib: Ketika Pasar Kehilangan Kejujuran
Masyarakat Madyan gemar mengurangi timbangan dan takaran.
Mereka memperoleh keuntungan dengan mengurangi hak orang lain.
Ekonomi mereka runtuh bukan karena gagal berdagang, melainkan karena kehilangan integritas.
Al-Qur'an mengajarkan bahwa pasar hanya akan bertahan jika dibangun di atas kejujuran.
3. Pemilik Kebun dalam Surah Al-Qalam: Ketika Orang Miskin Dikeluarkan dari Perhitungan
Mereka sepakat memanen hasil kebun tanpa memberi bagian kepada fakir miskin.
Mereka ingin menikmati seluruh keuntungan sendiri.
Namun sebelum sempat memanen, Allah menghancurkan kebun mereka.
Seolah-olah Al-Qur'an ingin berkata, ketika orang miskin dikeluarkan dari perencanaan ekonomi, keberkahan pun ikut keluar.
4. Pemilik Dua Kebun dalam Surah Al-Kahfi: Ketika Kekayaan Melahirkan Ilusi Keabadian
Ia merasa kebunnya tidak akan pernah musnah.
Ia lupa bahwa seluruh kenikmatan berada dalam genggaman Allah.
Dalam sekejap, kebunnya berubah menjadi tanah tandus.
Harta ternyata tidak mampu menjamin masa depan.
5. Kaum Saba: Ketika Infrastruktur Tidak Lagi Disertai Syukur
Kaum Saba memiliki bendungan yang luar biasa.
Pertanian maju.
Perdagangan berkembang.
Negeri mereka makmur.
Namun ketika syukur diganti dengan kesombongan, bendungan itu runtuh oleh banjir besar (Sail al-'Arim).
Peradaban mereka hancur.
Al-Qur'an menunjukkan bahwa teknologi tanpa rasa syukur tidak cukup menjaga sebuah peradaban.
6. Ashabul Sabt: Ketika Kepintaran Dipakai untuk Mengakali Aturan
Mereka tidak memancing pada hari Sabtu.
Namun mereka memasang perangkap sebelumnya dan mengambil hasilnya sesudahnya.
Secara formal mereka tampak patuh.
Secara substansi mereka sedang mempermainkan hukum Allah.
Kisah ini mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa integritas hanya melahirkan tipu daya.
Benang Merah Seluruh Kisah
Apabila seluruh kisah itu disatukan, tampak sebuah pola yang sangat jelas.
Qarun hancur karena kesombongan.
Kaum Madyan hancur karena kecurangan.
Pemilik kebun hancur karena kekikiran.
Pemilik dua kebun hancur karena keangkuhan.
Kaum Saba hancur karena kufur nikmat.
Ashabul Sabt hancur karena tipu daya.
Tidak satu pun dari mereka hancur karena kekurangan harta.
Mereka hancur karena rusaknya cara mengelola harta.
Penutup
Inilah sebabnya Al-Qur'an lebih banyak berbicara tentang pengelolaan daripada pencarian harta.
Mencari harta adalah aktivitas ekonomi.
Mengelola harta adalah aktivitas iman.
Mencari harta memerlukan kecerdasan.
Mengelola harta memerlukan kebijaksanaan.
Mencari harta dapat membangun kekayaan.
Mengelola harta menentukan apakah kekayaan itu menjadi jalan menuju keberkahan atau justru menjadi sebab kehancuran.
Pada akhirnya, Al-Qur'an sedang mengajarkan sebuah prinsip besar: yang menyelamatkan manusia bukanlah banyaknya harta yang dimiliki, melainkan bagaimana ia mempertanggungjawabkan amanah harta di hadapan Allah.
0 komentar: