Cara Allah Menata Alam Semesta
Bagaimana Allah mengelola alam semesta yang nyaris tak terbayangkan besarnya?
Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan salah satu misteri terbesar yang pernah dihadapi manusia.
Berapa jumlah galaksi di alam semesta? Ilmu pengetahuan modern baru mampu memperkirakan jumlahnya mencapai ratusan miliar. Itu pun baru galaksi. Bagaimana dengan jumlah bintang di setiap galaksi? Bagaimana dengan planet, asteroid, debu kosmik, gunung, lautan, pepohonan, hewan, mikroorganisme, hingga butiran pasir di bumi?
Tidak ada manusia yang mampu menghitungnya.
Lebih menakjubkan lagi, seluruh makhluk itu memiliki bentuk, ukuran, karakter, fungsi, dan kedudukan yang berbeda-beda. Tidak ada dua makhluk yang benar-benar sama. Namun, semuanya bergerak dalam keteraturan yang luar biasa. Matahari tidak bertabrakan dengan bumi. Laut tidak melampaui batasnya. Atom-atom tetap stabil. Ekosistem saling menopang. Galaksi beredar pada lintasannya.
Pertanyaannya, bagaimana Allah menyinergikan seluruh makhluk-Nya yang tak terhingga jumlahnya tanpa menimbulkan kekacauan?
Apakah semuanya hanya terjadi karena firman "Kun fayakūn", lalu selesai begitu saja?
Al-Qur'an justru mengungkap sebagian ilmu tersebut kepada manusia. Allah tidak hanya memberitakan bahwa Dia menciptakan alam semesta, tetapi juga menjelaskan prinsip-prinsip dasar yang menjadi fondasi pengelolaannya.
Menariknya, prinsip itu dirangkum hanya dalam dua frasa.
Allah berfirman:
"Kami tidak menciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan benar (bil-ḥaqq) dan dalam waktu yang telah ditentukan (wa ajalin musamman). Namun orang-orang kafir berpaling dari peringatan yang diberikan kepada mereka."
(QS. Al-Aḥqāf [46]:3).
Di balik dua frasa tersebut tersimpan konsep besar mengenai tata kelola alam semesta.
Pilar Pertama: Al-Haq sebagai Tujuan dan Sistem
Frasa bil-ḥaqq berarti bahwa seluruh penciptaan berlangsung dengan tujuan yang benar, penuh hikmah, dan tidak ada yang sia-sia.
Tafsir Tahlili Kementerian Agama menjelaskan bahwa penciptaan langit dan bumi bukanlah permainan tanpa makna (bāṭilan), melainkan mengandung hikmah yang terus dapat digali manusia.
Karena itu, setiap makhluk memiliki fungsi yang telah ditetapkan Allah.
Planet memiliki tugasnya.
Air memiliki perannya.
Angin menjalankan fungsinya.
Mikroorganisme memiliki manfaatnya.
Manusia memiliki amanahnya.
Perbedaan bukanlah sumber konflik, melainkan fondasi sinergi.
Semakin beragam ciptaan Allah, semakin tampak kesempurnaan sistem-Nya.
Dengan demikian, Al-Haq bukan hanya berarti "kebenaran", tetapi juga merupakan prinsip universal yang menyatukan seluruh keragaman ciptaan ke dalam satu tujuan yang saling menopang.
Dalam perspektif Al-Qur'an, konsep ini juga berkaitan dengan keadilan Ilahi.
Allah berfirman:
"Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya dan mereka tidak dizalimi." (QS. Al-Jāṡiyah [45]:22).
Artinya, alam semesta bukan sekadar ruang fisik, tetapi juga panggung bagi tegaknya keadilan Allah.
Pilar Kedua: Ajal Musamma sebagai Sistem Batas
Namun, tujuan yang benar saja belum cukup.
Sebuah sistem memerlukan batas.
Di sinilah Al-Qur'an memperkenalkan konsep Ajal Musamma, yaitu waktu yang telah ditentukan.
Segala sesuatu memiliki:
- awal,
- masa berlangsung,
- dan akhir.
Planet memiliki periode orbit.
Bintang memiliki umur.
Manusia memiliki ajal.
Peradaban memiliki masa kejayaan dan keruntuhan.
Bahkan langit dan bumi sendiri memiliki batas waktu yang telah Allah tetapkan.
Dengan kata lain, Allah tidak hanya menentukan tujuan setiap makhluk, tetapi juga menetapkan ukuran, waktu, dan batas operasinya.
Tanpa batas tersebut, keteraturan tidak mungkin terwujud.
Dalam perspektif ilmu pengetahuan modern, kestabilan alam semesta bergantung pada parameter yang sangat presisi, seperti konstanta gravitasi, gaya elektromagnetik, massa partikel elementer, hingga keseimbangan ekspansi alam semesta. Dari sudut pandang keimanan, seluruh presisi itu merupakan bagian dari sunnatullah yang Allah tetapkan sejak awal penciptaan.
Ketika Al-Haq Bertemu Ajal
Di sinilah tampak keindahan sistem Allah.
Al-Haq menjawab pertanyaan:
"Untuk apa sesuatu diciptakan?"
Sedangkan Ajal Musamma menjawab:
"Sampai kapan dan dalam batas apa ia menjalankan tugasnya?"
Tujuan tanpa batas akan melahirkan kekacauan.
Sebaliknya, batas tanpa tujuan akan kehilangan makna.
Allah memadukan keduanya secara sempurna.
Setiap makhluk memiliki fungsi, ruang, ukuran, waktu, dan batas yang telah ditetapkan.
Dari sinilah lahir keseimbangan kosmik yang mengagumkan.
Mengapa Masih Ada yang Mengingkari?
Menariknya, setelah menjelaskan sistem yang begitu sempurna, Al-Qur'an justru menutup ayat ini dengan sebuah ironi.
Allah berfirman:
"...Namun orang-orang kafir berpaling dari peringatan yang diberikan kepada mereka."
Menurut Tafsir Tahlili, mereka bukan kekurangan bukti.
Mereka melihat langit.
Mereka melihat bumi.
Mereka menikmati seluruh nikmat Allah.
Namun mereka berpaling.
Mereka menolak membaca keteraturan alam sebagai tanda kebesaran Sang Pencipta.
Akibatnya, mereka digambarkan seperti orang yang tuli, bisu, dan buta; memiliki pancaindra, tetapi tidak menggunakan akalnya untuk memahami hakikat penciptaan.
Alam Semesta sebagai Laboratorium Hikmah
QS. Al-Aḥqāf ayat 3 bukan sekadar menjelaskan asal-usul alam semesta.
Ayat ini menawarkan paradigma tentang bagaimana sebuah sistem besar dapat dikelola.
Allah menunjukkan bahwa kerumitan yang tak terhingga dapat ditata melalui dua prinsip yang sederhana namun fundamental:
Tujuan yang benar (Al-Haq) dan batas yang tepat (Ajal Musamma).
Prinsip inilah yang semestinya menjadi inspirasi manusia dalam membangun peradaban.
Sebuah negara memerlukan tujuan yang benar.
Sebuah organisasi memerlukan pembagian fungsi yang jelas.
Sebuah kepemimpinan memerlukan batas kewenangan.
Sebuah masyarakat memerlukan keadilan.
Sebuah pembangunan memerlukan ketepatan waktu.
Semakin manusia menyelaraskan ilmu, kebijakan, hukum, dan teknologi dengan prinsip-prinsip yang Allah tetapkan, semakin dekat ia kepada harmoni yang menjadi ciri seluruh ciptaan-Nya.
Sebaliknya, ketika manusia mengabaikan Al-Haq dan melampaui batas-batas yang telah Allah tetapkan, kerusakan menjadi konsekuensi yang tak terelakkan.
Dengan demikian, ayat-ayat kauniyah yang terbentang di alam semesta dan ayat-ayat qauliyah yang termaktub dalam Al-Qur'an sesungguhnya berbicara dalam bahasa yang sama. Keduanya menjadi saksi bahwa seluruh alam bergerak menuju tujuan yang benar dalam batas waktu yang telah ditentukan oleh Allah Yang Maha Bijaksana.
0 komentar: