Menangkal Berita Hoaks dari Istana Fir'aun
Ketika Kekuasaan Mengendalikan Informasi
Setiap rezim membutuhkan legitimasi untuk mempertahankan kekuasaannya. Sebagian memperolehnya melalui keadilan, tetapi sebagian lain membangunnya melalui penguasaan informasi.
Al-Qur'an memperlihatkan bagaimana Fir'aun tidak hanya mengandalkan istana, pasukan, Haman, dan Qarun. Ia juga membangun kekuasaan melalui narasi yang mampu memengaruhi cara rakyat memandang kenyataan.
Ketika Nabi Musa datang membawa risalah tauhid, Fir'aun tidak terlebih dahulu menjawabnya dengan hujah. Ia membangun opini.
Dakwah Nabi Musa diubah menjadi ancaman bagi Mesir.
Menciptakan Musuh Bersama
Isi dakwah Nabi Musa sesungguhnya sederhana.
Beliau mengajak Fir'aun dan rakyat Mesir menyembah Allah semata serta menuntut agar Bani Israil dibebaskan dari penindasan dan diizinkan meninggalkan Mesir.
Namun, pesan itu diputarbalikkan.
Fir'aun membangun narasi bahwa Musa dan Harun datang untuk mengusir penduduk Mesir dari negeri mereka serta menghancurkan tatanan yang selama ini mereka yakini.
Allah mengabadikan narasi tersebut:
«"Mereka berkata, 'Kedua orang ini benar-benar dua orang pesihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihir mereka dan melenyapkan adat kebiasaanmu yang utama.'"
(QS. Thaha [20]: 63)»
Dengan cara itu, Fir'aun menciptakan satu musuh bersama.
Ketika masyarakat diyakinkan bahwa ada ancaman besar di depan mereka, perhatian terhadap kezaliman penguasa pun beralih kepada rasa takut terhadap musuh yang diciptakan.
Ketika Hoaks Menjangkau Kaum Intelektual
Narasi yang dibangun istana tidak hanya ditujukan kepada masyarakat umum.
Fir'aun mengumpulkan para ahli sihir terbaik Mesir. Mereka dijanjikan hadiah besar dan kedudukan yang dekat dengan istana apabila berhasil mengalahkan Nabi Musa.
Dengan demikian, propaganda memperoleh dukungan dari kelompok yang dipandang memiliki keahlian dan otoritas.
Bagi masyarakat, dukungan para ahli sihir itu semakin menguatkan keyakinan bahwa tuduhan terhadap Musa memang benar.
Namun, keadaan berubah ketika mereka menyaksikan langsung mukjizat Nabi Musa.
Para ahli sihir yang semula datang untuk membela Fir'aun justru menjadi saksi pertama yang mengakui kebenaran risalah Musa.
Membalikkan Penyebab dan Akibat
Strategi propaganda Fir'aun terus berlanjut ketika Allah menurunkan berbagai peringatan kepada Mesir berupa musim paceklik, banjir, belalang, kutu, katak, dan air yang berubah menjadi darah.
Setiap kali azab datang, Fir'aun meminta Nabi Musa berdoa agar bencana diangkat.
Allah berfirman:
«"Ketika azab itu menimpa mereka, mereka berkata, 'Wahai Musa, mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami sesuai dengan janji-Nya kepadamu. Jika engkau dapat menghilangkan azab itu dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan akan kami lepaskan Bani Israil bersamamu.'"
(QS. Al-A'raf [7]: 134)»
Namun setelah azab diangkat, janji itu diingkari.
Dalam logika propaganda, penyebab dan akibat dibalik.
Mukjizat yang menjadi bukti pertolongan Allah justru dijadikan alasan untuk menyalahkan Nabi Musa.
Bagaimana Nabi Musa Menjawab?
Al-Qur'an tidak menunjukkan bahwa Nabi Musa membalas propaganda dengan propaganda.
Beliau menjawabnya dengan hujah, mukjizat, kesabaran, dan keteguhan menjalankan perintah Allah.
Di tengah tekanan yang semakin berat, Allah memberikan petunjuk yang tampak sederhana tetapi sangat strategis.
«"Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, 'Ambillah beberapa rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu, jadikanlah rumah-rumahmu itu sebagai tempat ibadah, laksanakanlah salat, dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.'"
(QS. Yunus [10]: 87)»
Perintah ini menunjukkan bahwa menghadapi tekanan bukan hanya dengan konfrontasi terbuka.
Keimanan juga diperkuat melalui pembinaan komunitas.
Rumah-rumah dijadikan pusat ibadah, pendidikan, dan penguatan spiritual.
Di sanalah identitas orang-orang beriman dipelihara ketika propaganda terus diproduksi oleh istana.
Mengapa Propaganda Fir'aun Akhirnya Gagal?
Fir'aun memiliki kekuasaan, harta, aparat, dan kemampuan membentuk opini.
Namun ia tidak memiliki kebenaran.
Sebaliknya, Nabi Musa tidak menguasai istana maupun media kekuasaan, tetapi membawa wahyu dari Allah.
Ketika para ahli sihir menyaksikan mukjizat Musa, propaganda yang selama ini mereka dengar runtuh oleh kenyataan yang mereka lihat sendiri.
Hujah mengalahkan fitnah.
Fakta mengalahkan tuduhan.
Kebenaran mengalahkan propaganda.
Pelajaran Al-Qur'an
Kisah Fir'aun menunjukkan bahwa berita bohong dapat menjadi alat untuk mempertahankan kekuasaan.
Ia dapat membentuk rasa takut, menciptakan musuh bersama, bahkan memengaruhi kelompok terpelajar.
Namun Al-Qur'an juga menunjukkan cara menghadapinya.
Bukan dengan memproduksi kebohongan tandingan, melainkan dengan memperkuat keimanan, membangun komunitas yang kokoh, menyampaikan hujah secara konsisten, dan menjaga integritas.
Karena pada akhirnya, sebagaimana ditegaskan Allah:
«"Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil, lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu yang batil lenyap."
(QS. Al-Anbiya' [21]: 18)»
Sejarah Fir'aun menjadi pengingat bahwa propaganda dapat bertahan selama masih dipercaya. Namun ketika kebenaran tampak nyata, seluruh bangunan kebohongan itu akan runtuh oleh dirinya sendiri.
0 komentar: