Lidah Nabi Harun dan Hancurnya Narasi Fir'aun
Ketika Propaganda Menjadi Pilar Kekuasaan
Setiap kekuasaan yang zalim tidak hanya bertumpu pada kekuatan senjata. Ia juga membutuhkan narasi yang mampu membenarkan kezalimannya di hadapan rakyat.
Demikian pula Fir'aun.
Selama ini perhatian sering tertuju kepada Haman sebagai pelaksana pembangunan dan kebijakan negara, Qarun sebagai simbol kekuatan ekonomi, serta bala tentara Mesir sebagai alat pemaksa. Namun, ada satu kekuatan lain yang tidak kalah menentukan: kemampuan Fir'aun membangun opini publik.
Ia mampu meyakinkan rakyat bahwa dirinya adalah tuhan yang wajib ditaati. Ia berhasil membungkus penindasan sebagai upaya menjaga ketertiban. Bahkan, ia menampilkan dirinya sebagai pihak yang terancam, padahal seluruh instrumen kekuasaan berada di tangannya.
Di sinilah propaganda menjadi salah satu pilar utama kekuasaan Fir'aun.
Membalikkan Fakta Menjadi Kebohongan
Ketika Nabi Musa datang membawa mukjizat dari Allah, Fir'aun tidak membantahnya dengan hujah. Ia memilih membangun narasi tandingan.
Allah berfirman:
«"Ketika Musa mendatangi mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami yang nyata, mereka berkata, 'Ini hanyalah sihir yang dibuat-buat, dan kami tidak pernah mendengar ajaran seperti ini dari nenek moyang kami dahulu.'"
(QS. Al-Qashash [28]: 36)»
Mukjizat disebut sebagai sihir.
Kebenaran disebut sebagai kebohongan.
Tauhid disebut sebagai ajaran asing.
Padahal, sejarah Mesir sendiri mengenal Nabi Yusuf 'alaihissalam yang jauh sebelumnya telah mengajarkan tauhid dan mengabdikan hidupnya demi keselamatan negeri itu.
Fir'aun berusaha menghapus ingatan kolektif rakyat agar mereka hanya mengenal satu "kebenaran", yaitu narasi yang dibangun istana.
Menuduh Korban Sebagai Ancaman
Narasi Fir'aun tidak berhenti pada penolakan terhadap risalah Nabi Musa.
Ia juga membangun ketakutan di tengah masyarakat.
Dalam berbagai ayat Al-Qur'an, Fir'aun menuduh Musa hendak mengubah agama masyarakat dan mengacaukan negeri. Dengan cara itu, korban penindasan justru diposisikan sebagai ancaman bagi negara.
Padahal, selama bertahun-tahun Bani Israil hidup sebagai kaum yang diperbudak. Anak-anak laki-laki mereka dibunuh, sementara perempuan-perempuan mereka dibiarkan hidup untuk melayani kepentingan rezim.
Realitas diputarbalikkan.
Pelaku tampil sebagai pelindung.
Korban diposisikan sebagai sumber kerusuhan.
Mengapa Musa Memohon Kehadiran Harun?
Nabi Musa memahami bahwa menghadapi propaganda yang terorganisasi tidak cukup hanya dengan membawa mukjizat.
Kebenaran juga harus disampaikan dengan bahasa yang mampu dipahami masyarakat.
Karena itulah Musa berdoa kepada Allah:
«"Adapun saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripadaku. Maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan perkataanku. Sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku."
(QS. Al-Qashash [28]: 34)»
Permintaan ini menunjukkan kerendahan hati Nabi Musa.
Beliau tidak merasa harus menguasai seluruh peran.
Beliau menyadari bahwa setiap perjuangan memerlukan pembagian tugas sesuai keahlian masing-masing.
Musa membawa mukjizat.
Harun menguatkan penyampaian risalah.
Harun: Penjaga Hujah Kebenaran
Allah mengabulkan permohonan Nabi Musa.
«"Kami akan menguatkanmu dengan saudaramu dan Kami akan memberikan kepadamu berdua hujah. Maka mereka tidak akan dapat mencapaimu. Dengan membawa ayat-ayat Kami, kamu berdua dan orang-orang yang mengikutimu akan menjadi pemenang."
(QS. Al-Qashash [28]: 35)»
Ayat ini menunjukkan bahwa kemenangan dakwah bukan hanya ditopang oleh mukjizat, tetapi juga oleh hujah yang disampaikan dengan jelas.
Dalam berbagai kitab tafsir dijelaskan bahwa kefasihan Nabi Harun bukan sekadar kepiawaian berbicara. Ia merupakan kemampuan menjelaskan kebenaran secara jernih sehingga kebohongan kehilangan pijakannya.
Ketika Fir'aun membangun kebingungan, Harun menghadirkan kejelasan.
Ketika propaganda menutupi fakta, Harun menguatkan hujah Nabi Musa.
Perang Narasi dalam Sejarah
Kisah Nabi Musa memperlihatkan bahwa pertarungan antara kebenaran dan kebatilan tidak selalu dimulai di medan perang.
Sering kali, ia dimulai dari perebutan cara masyarakat memahami kenyataan.
Fir'aun berusaha menguasai persepsi rakyat.
Musa dan Harun mengembalikannya kepada kebenaran yang datang dari Allah.
Karena itu, Al-Qur'an tidak hanya menceritakan mukjizat tongkat, laut yang terbelah, atau tenggelamnya Fir'aun. Al-Qur'an juga mengabadikan bagaimana kebohongan dibangun, bagaimana propaganda dijalankan, dan bagaimana hujah mampu meruntuhkannya.
Pelajaran bagi Dakwah
Kisah ini memberikan pelajaran bahwa dakwah memerlukan keberanian sekaligus kemampuan komunikasi.
Kebenaran memang memiliki kekuatan pada dirinya sendiri. Namun, ia tetap memerlukan penyampaian yang jelas agar tidak tenggelam oleh derasnya propaganda.
Musa tidak menganggap kefasihan sebagai kelemahan yang harus disembunyikan.
Sebaliknya, beliau menjadikannya alasan untuk melibatkan Harun dalam perjuangan.
Dakwah akhirnya menjadi kerja bersama, bukan kerja seorang diri.
Penutup
Lidah Nabi Harun bukanlah senjata untuk memenangkan perdebatan, melainkan sarana untuk menegakkan hujah.
Fir'aun memiliki istana, tentara, harta, dan propaganda.
Musa dan Harun hanya membawa wahyu, mukjizat, dan kebenaran.
Namun sejarah membuktikan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas propaganda dapat bertahan untuk sementara waktu, sedangkan kebenaran yang ditegakkan dengan hujah akan tetap hidup melampaui runtuhnya sebuah kerajaan.
Itulah sebabnya Al-Qur'an mengabadikan kisah Musa dan Harun, bukan sebagai catatan masa lalu semata, tetapi sebagai pelajaran bahwa propaganda dapat memengaruhi manusia, sedangkan hujah yang bersumber dari Allah pada akhirnya akan menyingkap kebenaran.
0 komentar: