basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Menghianati Perjanjian untuk Merampok Nusantara: Akhirnya VOC dan Kerajaannya Bangkrut “Barang siapa hidup dengan menipu, akan m...


Menghianati Perjanjian untuk Merampok Nusantara: Akhirnya VOC dan Kerajaannya Bangkrut


“Barang siapa hidup dengan menipu, akan mati ditipu.”
(Pepatah lama yang kembali hidup di setiap kejatuhan imperium)


Prolog: Dua Wajah yang Datang ke Timur

Ketika armada Belanda pertama berlabuh di perairan Nusantara pada tahun 1596, mereka datang dengan dua wajah: pedagang dan pengkhianat. Di satu tangan mereka membawa peta dan perjanjian dagang; di tangan lain, senjata dan tipu daya. Mereka menyebut diri “utusan perdagangan Eropa”, padahal yang mereka bawa adalah benih penjajahan korporat yang akan menjerat Nusantara selama tiga abad.

Mereka menandatangani kontrak dengan kesultanan Islam di pesisir: Banten, Demak, Aceh, Ternate, Tidore, dan Mataram — semuanya atas nama “kerja sama dan keuntungan bersama.” Namun sejarah mencatat: setiap perjanjian yang ditandatangani Belanda berakhir dengan pelanggaran, penaklukan, dan darah.
Dan sejak saat itu, pola pengkhianatan itu menjadi semacam DNA geopolitik mereka.


---

1. Pengkhianatan di Balik Perjanjian: Dari Diplomasi ke Penjajahan

Belanda tahu, kekuatan militer mereka terbatas di hadapan armada besar kesultanan Islam di Nusantara. Maka mereka bersembunyi di balik perjanjian.

Perjanjian dagang dengan Sultan Baabullah di Ternate — mereka langgar. Setelah memperoleh hak monopoli cengkih, Belanda justru menghasut perang antara Ternate dan Tidore, dua kerajaan Islam saudara, agar mereka bisa masuk sebagai “penengah”. Dalam waktu singkat, “penengah” berubah menjadi penguasa.
Begitu juga di Banda Neira. Mereka menandatangani kontrak jual beli pala dengan harga tetap, lalu memaksa rakyat Banda menanam hanya untuk VOC. Ketika rakyat menolak, Belanda melakukan pembantaian tahun 1621 di bawah Jan Pieterszoon Coen — ribuan jiwa tewas, dan seluruh pulau direbut.

Di Banten, mereka berjanji melindungi perdagangan rempah dari bajak laut. Namun setelah memperoleh izin berdagang, mereka menyingkirkan saudagar-saudagar Muslim, memonopoli pelabuhan, dan akhirnya menggulingkan kekuasaan sultan dengan mengadu domba keluarga istana.

Begitulah cara Belanda memperluas kekuasaan: bukan dengan kemenangan perang, melainkan dengan pengkhianatan perjanjian. Setiap tinta yang mereka teteskan di atas kertas, selalu disertai rencana penjajahan di bawahnya.


---

2. Imam Bonjol, Diponegoro, dan Para Pengkhianatan yang Diabadikan

Setelah abad ke-17 menjadi masa monopoli dagang, abad ke-19 menjadi masa penghancuran harga diri bangsa.

Ketika Belanda tak lagi cukup kuat secara ekonomi, mereka mulai memeras bumi dan manusia. Tanam paksa, pajak tinggi, dan perampasan tanah menjadi alat eksploitasi baru. Tapi di tengah penindasan itu, lahirlah jiwa-jiwa besar: Pangeran Diponegoro di Jawa, Tuanku Imam Bonjol di Sumatra, Teuku Umar di Aceh, dan para bupati serta kiai yang menjadi benteng moral rakyat.

Namun seperti biasa, Belanda melawan bukan dengan kehormatan, tetapi dengan tipu daya.

Pengkhianatan kepada Pangeran Diponegoro

Perang Jawa (1825–1830) bukan sekadar perang antara bangsawan dan kolonial, melainkan antara iman dan keserakahan. Diponegoro berperang karena tanah leluhurnya, yang dijadikan jalan oleh Belanda tanpa izin, dianggap suci. Tapi ketika peperangan tak mampu mereka menangkan secara jujur, Belanda menawarkan “perundingan damai”.

Tanggal 28 Maret 1830, di Magelang, Pangeran Diponegoro datang ke perundingan dengan niat mulia. Ia percaya pada kata “damai”. Tapi Belanda — di bawah Jenderal De Kock — sudah menyiapkan jebakan. Diponegoro ditangkap tanpa senjata, dihadapkan ke pengadilan, dan dibuang ke Makassar. Di sana, sang pangeran wafat dalam kesunyian pengasingan.

Itulah wajah sejati kolonialisme Belanda: bukan sekadar perang, tapi penghianatan terhadap makna perjanjian itu sendiri.

Pengkhianatan kepada Imam Bonjol

Di Sumatra Barat, kisahnya hampir sama. Tuanku Imam Bonjol, ulama dan pejuang yang memimpin Perang Padri (1803–1837), berjuang bukan untuk kekuasaan, tapi untuk membersihkan akidah dan menegakkan keadilan.

Belanda datang berpura-pura menawarkan aliansi melawan kelompok adat. Tapi setelah berhasil masuk, mereka berbalik menembak para ulama Padri. Ketika Imam Bonjol setuju untuk berunding pada tahun 1837, ia datang dengan niat damai — namun Belanda sudah menyiapkan pengkhianatan. Ia ditangkap, diasingkan ke Manado, lalu ke Minahasa, hingga wafat di pengasingan.

Nama “perjanjian” bagi Belanda hanyalah selubung untuk penawanan.

Pengkhianatan terhadap Para Bupati dan Pejuang

Tak hanya para ulama dan pangeran. Para bupati di Jawa pun tak luput dari tipu daya kolonial. Mereka menandatangani kontrak kerja sama “pajak dan keamanan”, tapi setiap klausul disusun agar Belanda menguasai hasil bumi.
Dalam Cultuurstelsel (sistem tanam paksa) yang diperkenalkan Van den Bosch tahun 1830, rakyat dipaksa menanam kopi, tebu, dan nila untuk Belanda. Bahkan sistem itu disebut oleh sejarawan Clifford Geertz sebagai “kolonialisme moral yang paling halus namun paling mematikan”.

Sementara itu, rakyat menderita. Laporan Multatuli (Eduard Douwes Dekker) dalam bukunya “Max Havelaar” (1860) mengguncang Eropa. Ia menulis:

“Di Lebak, rakyat mati kelaparan demi membayar pajak kepada Belanda. Mereka menanam untuk negeri yang bahkan tak tahu nama mereka.”

Itulah puncak dari pengkhianatan moral: ketika sebuah bangsa menjadikan kerja sama sebagai alat perampasan.


---

3. VOC: Korporasi yang Mati oleh Dosa Sendiri

VOC — Vereenigde Oostindische Compagnie — lahir tahun 1602. Ia bukan negara, tapi memiliki hak kenegaraan: mencetak uang, menandatangani perjanjian, membangun benteng, dan bahkan berperang. Sejarawan ekonomi Niels Steensgaard menyebut VOC sebagai “negara bayangan pertama dalam sejarah modern”, di mana kapitalisme dan kolonialisme menyatu dalam satu tubuh.

Namun dari dalam tubuh itu pula lahir penyakitnya: korupsi, manipulasi laporan keuangan, dan kerakusan tanpa batas.

Menurut catatan arsip kolonial Belanda yang dianalisis oleh Karel Davids dalam The Rise and Decline of Dutch Technological Leadership, para gubernur jenderal di Batavia kerap menggunakan dana publik untuk kepentingan pribadi. Monopoli rempah menyebabkan biaya operasi membengkak, sementara para pejabat VOC di Asia menumpuk kekayaan pribadi dari suap dan kontrak gelap.

Tahun 1780-an, VOC terlilit utang 134 juta gulden — jumlah yang luar biasa besar saat itu. Pada 1799, perusahaan ini resmi dibubarkan. Sejarawan ekonomi Jan de Vries menyebut kebangkrutan VOC sebagai “kegagalan kapitalisme moral pertama di dunia.”

Sebab, VOC tidak bangkrut karena perang atau bencana, tetapi karena kerakusan diri sendiri.
Dalam istilah Arnold Toynbee, inilah “moral disintegration” — kehancuran yang lahir dari dalam, bukan dari luar.


---

4. Kas Belanda Ludes: Ironi Sebuah Imperium

Ketika VOC bubar, seluruh aset dan utangnya diambil alih oleh kerajaan Belanda. Tapi yang mereka warisi bukan kekayaan, melainkan beban. Kas negara kosong. Dalam laporan keuangan 1800, utang negara mencapai 125 juta gulden — hampir seluruhnya akibat kegagalan VOC.

Pemerintah Belanda mencoba menyelamatkan diri dengan memperluas penjarahan langsung ke Nusantara. Maka lahirlah sistem Cultuurstelsel (1830–1870). Hasilnya? Belanda sempat “kaya secara semu.”
Dalam 40 tahun, sistem ini mengirim lebih dari 800 juta gulden ke kas Belanda. Tapi kemakmuran itu menipu: ia dibangun di atas penderitaan jutaan rakyat Indonesia.

Namun hukum sejarah bekerja perlahan tapi pasti.
Di paruh kedua abad ke-19, harga komoditas dunia jatuh. Pendapatan kolonial menurun. Korupsi di kalangan pejabat kolonial meningkat. Pada awal abad ke-20, kas Belanda kembali defisit, dan pada 1940, negeri itu dijajah Jerman — suatu ironi geopolitik yang pahit: negara penjajah menjadi yang dijajah.

Ekonom Belanda Bernard Feringa dalam studinya “Financiële Crises in de Koloniale Tijd” menyebut bahwa krisis ekonomi kolonial 1880–1930 adalah “buah dari sistem eksploitasi yang kehilangan legitimasi moral.”
Artinya, Belanda dihancurkan bukan oleh kekuatan militer, tapi oleh dosa sejarah yang tak pernah ditebus.


---

5. Dari VOC ke Negara Kolonial: Reinkarnasi Dosa

Setelah VOC bubar, Belanda membentuk pemerintahan kolonial langsung tahun 1800. Tapi itu bukanlah perbaikan, melainkan kelanjutan dosa lama dalam bentuk baru.
Mereka mengganti nama, tapi tidak watak. Mereka menandatangani “kontrak politik” dengan raja-raja lokal, tapi pada akhirnya tetap merampas hak tanah dan menindas rakyat.

Sistem administrasi kolonial mereka bahkan diakui oleh ahli sejarah Cornelis Fasseur sebagai “birokrasi yang dibangun di atas kebohongan.”
Mereka menyebut diri “penjaga ketertiban”, tapi dalam praktiknya memeras sumber daya hingga ke akar. Mereka mengaku membawa “peradaban Eropa”, tapi peradaban itu justru mengubah manusia menjadi angka-angka dalam laporan keuntungan.

Dan ketika Jepang datang pada 1942, seluruh sistem kolonial yang mereka bangun selama tiga abad hancur dalam tiga bulan.
Itulah puncak dari kutukan geopolitik: pengkhianat selalu dikalahkan oleh pengkhianatan yang lebih besar.


---

6. Hukum Geopolitik: Kekuatan yang Hidup dari Kebohongan Akan Mati oleh Kebenaran

Sejarah dunia memiliki hukum yang tak tertulis, tapi selalu berlaku:

 “Setiap perjanjian yang dihianati akan menjadi batu nisan bagi pengkhianatnya.”

Belanda mengkhianati kesultanan Nusantara, mereka pun dikhianati oleh sistem kapitalisme yang mereka ciptakan sendiri. VOC menipu raja-raja, lalu ditipu oleh para direktur dan pegawainya sendiri. Belanda menjarah bumi Indonesia, lalu dijarah oleh krisis ekonomi yang mereka buat.

Arnold Toynbee pernah menulis:

 “Peradaban tidak mati dibunuh oleh musuh, melainkan bunuh diri karena kehilangan tujuan moral.”

Begitu pula Ibn Khaldun yang menegaskan dalam Muqaddimah:

“Kezaliman menghancurkan kemakmuran, sebab kekayaan tanpa keadilan hanyalah bentuk lain dari kehancuran.”

Keduanya berbicara dalam bahasa yang berbeda, tapi maknanya sama: kebohongan dan keserakahan adalah penyakit geopolitik yang membawa kematian peradaban.
Dan sejarah Belanda di Nusantara adalah salah satu contohnya yang paling telanjang.


---

Epilog: Di Bawah Bayang Kutukan Sejarah

Hari ini, Belanda sering berbicara tentang “hak asasi manusia” dan “keadilan global.” Tapi dalam tanah tropis yang dulu mereka rampas, masih tertinggal jejak darah, tulang, dan air mata.
Di Ambon, Banda, dan Banten, kisah pengkhianatan itu masih hidup dalam ingatan rakyat.
Di Bukittinggi dan Magelang, makam Imam Bonjol dan Diponegoro masih menjadi saksi bahwa perjanjian yang dilanggar manusia akan ditagih oleh sejarah.

Hukum sejarah tak mengenal belas kasihan.
Negeri yang menanam kebohongan, akan menuai kehancuran.
Dan seperti air pasang yang perlahan tapi pasti kembali ke pantai, setiap pengkhianatan akan kembali menghantam pengkhianatnya sendiri.

Belanda pernah mengira mereka bisa membeli waktu dengan tipu daya, tapi waktu justru menjual mereka kepada keadilan.
Sebab sejarah, pada akhirnya, selalu berpihak kepada kebenaran — meski kebenaran itu datang terlambat.

Ragam Jaringan Amal untuk Rakyat Gaza “Kadang, di dunia yang penuh batas politik, tangan-tangan kasih melintasi tembok yang bahk...



Ragam Jaringan Amal untuk Rakyat Gaza

“Kadang, di dunia yang penuh batas politik, tangan-tangan kasih melintasi tembok yang bahkan bom pun tak bisa runtuhkan.”


---

1. Ketika Amal Menjadi Jalan Hidup di Tengah Blokade

Sejak perang Gaza kembali berkobar pasca serangan 7 Oktober 2023, dunia menyaksikan dua wajah dari satu realitas: kehancuran dan solidaritas. Di tengah reruntuhan rumah dan langit yang dipenuhi drone, aliran bantuan terus mengalir — tidak hanya dari negara, tetapi dari ribuan lembaga amal, komunitas, dan individu di seluruh dunia.

Dari kampus kecil di Inggris hingga pesantren di Indonesia, dari lembaga internasional di Qatar hingga yayasan di Turki, semuanya berlomba menyalurkan bantuan untuk rakyat Gaza.
Namun di balik semangat itu, dunia juga berhadapan dengan dilema lama: batas antara amal, politik, dan perang yang kian kabur.


---

2. Sejarah Panjang Amal Palestina

Sejak Intifada pertama pada akhir 1980-an, jaringan amal Palestina tumbuh menjadi sistem sosial yang kompleks. Di masa awal, lembaga-lembaga seperti Islamic Charity Society Hebron atau Al-Salah Islamic Society Gaza berdiri untuk membantu keluarga syuhada, yatim piatu, dan korban penggusuran.

Ketika pemerintahan sipil di Gaza melemah, lembaga amal mengambil peran negara: membuka sekolah, rumah sakit, dapur umum, hingga sistem distribusi bahan pokok.
Bagi banyak rakyat Palestina, lembaga amal bukan sekadar penyedia bantuan — melainkan jantung sosial yang menjaga keberlangsungan hidup dan martabat.

Namun, seiring waktu, sistem ini juga menjadi bagian dari strategi bertahan sebuah bangsa yang terkurung.
Beberapa organisasi internasional mencurigai bahwa sebagian lembaga amal, terutama yang berafiliasi dengan kelompok politik, digunakan untuk menopang logistik perang.
Dari sinilah kontroversi bermula.


---

3. Dari London hingga Doha: Jaringan Amal yang Melintasi Benua

Menurut laporan dari berbagai kantor berita — Reuters, Al Jazeera, The Guardian, dan AP News — jaringan amal yang bekerja untuk rakyat Gaza dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok besar:

a. Lembaga Amal Internasional dan Kemanusiaan Resmi

Termasuk UNRWA (United Nations Relief and Works Agency), ICRC (Palang Merah Internasional), Save the Children, dan Médecins Sans Frontières.
Mereka beroperasi dengan mandat kemanusiaan dan audit internasional ketat, menyediakan layanan medis, pendidikan, dan sanitasi.
UNRWA, misalnya, mengelola lebih dari 280 sekolah di Gaza dan menampung lebih dari satu juta pengungsi.

Namun lembaga ini juga menjadi sasaran tuduhan dari Israel yang menuding beberapa pegawainya terlibat dalam kegiatan militan. UNRWA menolak tuduhan itu dan menegaskan komitmennya terhadap prinsip netralitas.
Kasus ini menunjukkan betapa kaburnya batas antara “amal” dan “politik” di wilayah perang.

b. Lembaga Amal Non-Pemerintah dan Komunitas Global

Termasuk organisasi seperti Qatar Charity, Turkiye Diyanet Foundation, Islamic Relief Worldwide (UK), dan Human Appeal.
Mereka memiliki jaringan luas di dunia Muslim dan Barat, menyalurkan bantuan logistik dan pendidikan dengan jalur diplomatik atau relawan lokal.

Qatar Charity, misalnya, mengelola proyek rumah sakit dan air bersih di Gaza senilai jutaan dolar AS.
Sementara Islamic Relief yang berbasis di Inggris telah menyalurkan dana darurat dan program penghidupan untuk lebih dari 400.000 warga Gaza sejak 2023.

Namun, sebagian lembaga seperti Interpal dan Holy Land Foundation (HLF) menjadi contoh bagaimana amal bisa terjebak dalam tuduhan politik.
HLF, yang berbasis di Amerika, ditutup pada 2008 setelah pengadilan federal menyatakan bahwa sebagian dananya digunakan untuk mendukung aktivitas Hamas.
Interpal, di sisi lain, dilarang oleh Amerika Serikat namun tetap legal di Inggris setelah investigasi otoritas amal menyatakan bukti tidak cukup.

Di sinilah dilema moral muncul:
apakah menyalurkan zakat kepada keluarga syuhada di Gaza adalah amal atau dukungan politik?


---

4. Jaringan Amal Teluk dan Dunia Muslim

Dunia Arab — khususnya Qatar, Kuwait, dan Turki — menjadi sumber vital bagi jaringan bantuan kemanusiaan Gaza.
Banyak lembaga berbasis keagamaan yang menyalurkan bantuan dari sumbangan masyarakat, termasuk Kuwait Red Crescent, Qatar Fund for Development, dan Turkiye’s AFAD.

Laporan Al Jazeera (2025) mencatat bahwa lebih dari 70% bantuan kemanusiaan Gaza pada paruh pertama tahun 2025 berasal dari lembaga dan negara Teluk.
Namun Israel menuduh sebagian jaringan ini menyalurkan dana ke kelompok militer Palestina.
Sebaliknya, pemerintah-pemerintah Teluk menegaskan bahwa semua bantuan mereka bersifat sipil dan di bawah pengawasan internasional.

Refleksi penting muncul di sini:
di dunia Islam, “amal” tidak pernah netral secara spiritual. Ia lahir dari keyakinan bahwa menolong saudara seiman adalah bagian dari jihad kemanusiaan.
Tetapi dalam sistem global yang dikontrol oleh narasi keamanan Barat, keyakinan itu sering dicurigai.


---

5. Jalur Bayangan: Amal di Era Digital dan Crypto

Di era baru, solidaritas untuk Gaza juga mengambil bentuk modern.
Mulai dari kampanye daring seperti #DonateForGaza, #WaterForPalestine, hingga platform seperti LaunchGood dan GoFundMe yang menggalang dana dari diaspora Muslim dan aktivis hak asasi.

Namun teknologi juga membawa tantangan.
Laporan Reuters (2024) dan AP (2025) mengungkap penggunaan cryptocurrency untuk mengalirkan dana ke Gaza melalui jaringan hawala digital — sistem transfer tanpa bank formal.
Amerika Serikat dan Uni Eropa kini meningkatkan pengawasan terhadap dompet kripto yang diduga terkait dengan kelompok bersenjata.

Dalam banyak kasus, publik hanya ingin menyalurkan bantuan kemanusiaan, tetapi dalam konteks perang yang penuh sensor dan embargo, ke mana uang itu akhirnya sampai — sering kali tak bisa dipastikan.


---

6. Ketika Amal Menjadi Benteng Martabat

Di luar semua tuduhan dan politik, ada fakta yang tak bisa disangkal:
tanpa jaringan amal — sekecil apa pun — Gaza sudah lama tenggelam dalam kelaparan dan penyakit.

Di kota Khan Younis, misalnya, dapur umum yang dijalankan oleh relawan Turki tetap beroperasi di bawah serangan.
Di Rafah, dokter dari Islamic Relief menolong bayi lahir di tenda.
Di kamp pengungsi Jabalia, relawan Qatar Charity menyalakan kembali sumur air.

Mereka bukan pasukan bersenjata. Mereka adalah pejuang kemanusiaan — membawa nasi, bukan senjata; membawa air, bukan amarah.

Mungkin inilah wajah sejati “jihad” yang jarang disorot media: keteguhan menyalakan kehidupan di tengah kematian.


---

7. Amal yang Membentuk Kesadaran Dunia

Bantuan untuk Gaza kini bukan hanya soal uang, tetapi soal narasi.
Setiap donasi adalah bentuk penolakan terhadap keputusasaan.
Ketika influencer, atlet, atau pelajar di Eropa menggalang dana untuk Gaza, mereka sebenarnya sedang menulis ulang peta empati global.

Hashtag seperti #GazaUnderAttack, #PrayForPalestine, dan #IStandWithGaza telah menjadi arus moral yang menembus batas bangsa.
Sementara di sisi lain, Israel dan kelompok advokasinya menuduh banyak kampanye ini menyebarkan “narasi kebencian” atau bahkan “antisemitisme terselubung”.

Kenyataannya: solidaritas terhadap Gaza tak selalu berarti permusuhan terhadap Israel.
Ia bisa berarti panggilan kemanusiaan — bahwa penderitaan siapa pun, di mana pun, tetap mengusik nurani bersama.


---

8. Refleksi: Amal, Politik, dan Nurani Dunia

Pertanyaan yang sulit selalu muncul:
bisakah amal tetap murni di tengah perang?
Bisakah cinta kasih menembus sistem sanksi dan sensor?

Dunia politik boleh mencurigai, tetapi sejarah mengajarkan bahwa peradaban sering bertahan bukan karena senjata, melainkan karena kemurahan hati.
Zakat, sedekah, dan gotong royong telah menjadi “urat nadi” ketahanan sosial umat manusia.

Gaza hari ini berdiri bukan semata karena batu dan baja, tetapi karena doa dan amal yang tak henti-henti mengalir.
Di antara puing dan blokade, ada satu arus yang tak bisa diblokir: cinta kasih manusia.


---

9. Penutup: Amal yang Menghidupkan

Dalam setiap bungkusan gandum, setiap air yang diteguk anak-anak Gaza, setiap doa yang dikirim dari ribuan kilometer jauhnya — ada pesan universal:
bahwa di dunia yang kian terbelah oleh ideologi, kemanusiaan tetap bisa menyatukan.

Ragam jaringan amal untuk rakyat Gaza, dengan segala kompleksitasnya, adalah cermin bagi dunia:
kita sedang diuji — bukan hanya apakah kita bisa memberi, tapi apakah kita masih mampu percaya bahwa memberi itu berarti hidup.

Mengapa Allah Tidak Membekali Nabi dan Rasul dengan Kekuasaan, Kekayaan, dan Teknologi? 1. Dunia: Bukan Arena Kemenangan, Tapi T...

Mengapa Allah Tidak Membekali Nabi dan Rasul dengan Kekuasaan, Kekayaan, dan Teknologi?



1. Dunia: Bukan Arena Kemenangan, Tapi Tempat Ujian

Seorang murid pernah bertanya kepada gurunya:

“Jika Allah Maha Kuasa, mengapa para nabi tidak dibekali kekuatan besar, harta melimpah, dan teknologi canggih untuk menaklukkan dunia?”

Sang guru tersenyum. Ia berkata pelan,

 “Karena Allah tidak menciptakan hidup untuk menang, tapi untuk teruji.”

Allah berfirman:

 “Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”
(QS. Al-Mulk: 2)

Dunia bukan panggung kemenangan, tapi laboratorium iman.
Jika para nabi dilengkapi kekuasaan mutlak, maka tak ada ruang untuk sabar, tawakal, dan perjuangan.
Ujian hanya berarti jika ada kekurangan;
keimanan hanya bermakna jika ada godaan;
dan kesetiaan hanya dapat diuji jika ada kesempatan untuk berkhianat.

Hasan Al-Banna pernah berkata,

“Allah tidak menghendaki kemenangan yang mudah, karena kemenangan yang mudah tidak membentuk manusia. Ia menghendaki perjuangan yang melelahkan, agar lahir generasi yang teruji.”

Inilah rahasia pertama: Allah tidak memberi kekuasaan langsung, karena iman lebih berharga daripada kemenangan.


---

2. Kekuatan yang Disimpan dalam Potensi, Bukan Diberikan Langsung

Allah tidak menurunkan istana bagi Nabi Ibrahim, tidak memberi pedang ajaib kepada Rasulullah ï·º, tidak menurunkan teknologi perang bagi kaum mukminin di Badar.
Namun Ia memberi sesuatu yang lebih dahsyat: akal, sabar, dan tekad.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
(QS. At-Tin: 4)

Manusia tidak dibekali rumah mewah, tapi diberi tangan untuk membangunnya.
Tidak diberi emas, tapi diberi kecerdasan untuk menciptakan nilainya.
Tidak diberi kendaraan terbang, tapi diberi rasa ingin tahu yang melahirkan pesawat.

Muhammad Qutb menulis dalam Manhaj al-Tarbiyah al-Islamiyyah:

 “Allah tidak menurunkan peradaban, Ia menanamkannya dalam hati orang-orang beriman. Karena peradaban yang lahir dari iman akan bertahan, sementara yang lahir dari nafsu akan runtuh.”

Potensi adalah bekal sejati.
Allah ingin manusia menjadi penemu, bukan penerima.
Sebab menemukan adalah bentuk ibadah — perjalanan menuju pengenalan diri dan Tuhan.


---

3. Kekuasaan yang Tak Diuji Akan Melahirkan Kezaliman

Setiap kekuasaan tanpa perjuangan melahirkan kesombongan.
Qarun tenggelam bukan karena hartanya, tapi karena merasa kekayaannya hasil dari dirinya sendiri.
Firaun binasa bukan karena tahta, tapi karena merasa dirinya Tuhan.

Allah menegaskan:

“Sekiranya Allah melapangkan rezeki bagi seluruh hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di muka bumi.”
(QS. Asy-Syura: 27)

Yusuf Al-Qardhawi menafsirkan ayat ini dalam al-Iman wal-Hayah:

“Manusia diberi kekurangan agar ia sadar akan keseimbangan ciptaan. Jika semua kaya, tak ada lagi makna memberi; jika semua kuat, tak ada lagi makna menolong.”

Dalam pandangan geopolitik ilahi, ketimpangan bukan kesalahan, tapi mekanisme keseimbangan.
Allah membiarkan satu bangsa kuat agar yang lain belajar bertahan,
membiarkan satu umat miskin agar yang lain belajar memberi.
Tanpa ketimpangan, kasih dan kebijaksanaan akan mati.


---

4. Dunia Bukan Tempat Menjadi Tuhan

 “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, ketika dia melihat dirinya serba cukup.”
(QS. Al-‘Alaq: 6–7)

Manusia yang merasa “cukup” akan berhenti mencari Allah.
Maka, kekurangan adalah pagar spiritual —
ia menjaga manusia agar tidak berubah menjadi Tuhan kecil.

Imam Al-Ghazali menulis dalam Ihya’ Ulumiddin:

“Keterbatasan manusia adalah rahmat, karena tanpa keterbatasan, manusia akan kehilangan makna doa.”

Teknologi, kekuasaan, dan kekayaan hanyalah bayangan dari Cahaya Ilahi.
Ketika manusia menyembah bayangan, ia kehilangan sumbernya.
Maka Allah menahan kesempurnaan, agar manusia selalu haus — bukan pada dunia, tapi pada Tuhan.


---

5. Hidup: Jalan Pulang, Bukan Tujuan Akhir

“Sesungguhnya dunia ini penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.”
(HR. Muslim)

Jika Allah memberi kesempurnaan di dunia, tak akan ada lagi kerinduan pada surga.
Dunia hanyalah sekolah jiwa.
Kesulitan adalah kurikulum, dan kematian adalah wisuda.

Hasan Al-Banna menulis,

 “Hidup ini adalah perjalanan dari Allah menuju Allah. Yang beruntung bukan yang sampai di istana, tapi yang sampai ke hadirat-Nya.”

Allah menahan nikmat agar manusia tak menetap.
Ia menanam rindu agar manusia mencari rumah sejati.
Karena dunia bukan akhir, melainkan pembuka kisah keabadian.


---

6. Hikmah dalam Ketidaklengkapan

Bayangkan manusia diciptakan sempurna: kaya, kuat, dan cerdas tanpa batas.
Ia tak akan pernah belajar menunduk, tak mengenal cinta, tak butuh doa.

Rumi menulis,

“Luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu.”

Allah menciptakan kelemahan agar manusia mengenal kasih sayang.
Ia menciptakan perbedaan agar manusia belajar saling memahami.
Ia menciptakan kehilangan agar manusia mengenal makna doa.

Setiap kekurangan adalah undangan untuk mendekat.
Setiap kesulitan adalah surat cinta yang disamarkan menjadi ujian.


---

7. Khalifah: Pemikul Amanah, Bukan Pewaris Tahta

Ketika Allah berfirman:

 “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.”
(QS. Al-Baqarah: 30)

Ia tidak bermaksud menjadikan manusia sebagai raja, tapi penanggung jawab.
Khalifah bukan pewaris tahta, tapi penjaga keseimbangan antara bumi dan langit.

Adam tidak dibekali istana, tapi akal dan wahyu.
Dua bekal itu cukup untuk membangun dunia.

Muhammad Qutb menulis,

“Khilafah sejati bukanlah kekuasaan di atas manusia lain, tapi kekuasaan atas diri sendiri — nafsu, ego, dan ambisi.”

Karena itu, para nabi tidak turun sebagai penguasa, tapi sebagai pendidik jiwa.
Kemenangan mereka bukan pada istana, tapi pada kesadaran manusia.


---

8. Penderitaan: Dapur Peradaban

Lihat sejarah.
Semua peradaban besar lahir dari luka:

Islam lahir di padang pasir yang gersang.

Jepang bangkit dari dua kota yang hancur.

Eropa muncul dari abad kegelapan.

Palestina melahirkan keberanian dari reruntuhan.


Hasan Al-Banna berkata,

 “Kemenangan bukanlah hadiah bagi yang kuat, tapi hasil dari kesetiaan orang-orang yang bertahan dalam kesempitan.”

Allah tidak memberi teknologi karena penderitaan adalah laboratorium jiwa.
Tanpa kepedihan, tak ada keteguhan.
Tanpa kehilangan, tak ada makna sabar.
Tanpa perjuangan, tak ada keindahan iman.


---

9. Kekuasaan, Kekayaan, dan Ilmu: Bayangan dari Cahaya Ilahi

Dalam pandangan para sufi, dunia hanyalah bayangan dari cahaya Tuhan.
Kekuasaan adalah refleksi dari Al-Qadir (Yang Maha Kuasa).
Kekayaan adalah pantulan dari Al-Ghani (Yang Maha Kaya).
Ilmu dan teknologi adalah percikan dari Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui).

Bayangan tak pernah memiliki cahaya.
Ia hanya bergerak mengikuti sumbernya.
Maka manusia yang mengejar bayangan akan tersesat —
seperti seseorang yang mengejar pantulan matahari di air, padahal cahaya sejatinya ada di langit.

Rumi menggambarkannya dengan indah:

“Jangan kejar bayangan di tanah. Naiklah ke arah matahari. Di sanalah sumber segala cahaya.”


---

10. Tujuan Akhir: Kembali, Bukan Menetap

Akhirnya, seluruh perjalanan ini kembali pada satu kalimat:

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali.

Kekuasaan hanyalah alat untuk menakar kejujuran.
Kekayaan hanyalah cermin untuk menguji rasa syukur.
Teknologi hanyalah titipan untuk melihat sejauh mana manusia menjaga ciptaan-Nya.

Yusuf Al-Qardhawi menulis,

“Kemajuan tanpa iman hanyalah percepatan menuju kehancuran.”

Maka Allah menakar segala sesuatu:
menahan satu nikmat untuk membuka nikmat lain,
menciptakan kelemahan agar muncul tolong-menolong,
menciptakan miskin agar tumbuh kasih,
menciptakan gagal agar lahir doa.


---

Epilog: Hikmah dari Ketiadaan

Seandainya para nabi dibekali kekuasaan, dunia akan menganggap mereka menang karena harta dan teknologi.
Namun justru karena mereka miskin, mereka menjadi saksi kebenaran.
Karena mereka lemah, mereka menunjukkan kekuatan Tuhan.
Karena mereka diuji, mereka menyalakan harapan bagi yang terluka.

Allah tidak membekali Nabi dan Rasul dengan kekuasaan dan kekayaan bukan karena mereka kurang,
tapi karena Allah ingin menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan di tangan, tapi di hati.

Seperti kata Rumi:

“Ketika kamu kehilangan segalanya, di sanalah kamu akan menemukan bahwa Tuhan adalah segalanya.”

Tauhid Sebagai Dasar dan Motor Membangun Peradaban Oleh: Nasrulloh Baksolahar   “Dan orang-orang yang beriman itu amat sangat ci...


Tauhid Sebagai Dasar dan Motor Membangun Peradaban

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


 “Dan orang-orang yang beriman itu amat sangat cintanya kepada Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 165)


Prolog: Akal yang Kering dan Hati yang Terlupa

Zaman ini telah membangun gedung-gedung tinggi, tapi kehilangan arah ke langit.
Kita memiliki universitas megah, pusat riset mutakhir, namun sedikit yang berilmu karena cinta.
Ilmu menjadi profesi, bukan ibadah. Teknologi menjadi senjata, bukan penolong kehidupan.
Manusia mencipta mesin cerdas, tetapi kerap tak tahu lagi mengapa ia hidup.

Di sinilah letak krisis besar peradaban modern — akal bekerja tanpa cinta kepada Yang Mengatur Akal.
Manusia modern menguasai hukum alam, tetapi melanggar hukum langit.
Ia tahu bagaimana membuat kehidupan, tapi lupa bagaimana memberi makna bagi hidup.

Padahal, dalam sejarah panjang manusia, cinta kepada Allah pernah menjadi tenaga utama peradaban.
Ia melahirkan ilmuwan, pemimpin, dan perancang sistem yang memadukan zikir dan pikir.
Cinta yang membangun, bukan menaklukkan; menata, bukan menguasai.


---

1. Cinta kepada Allah sebagai Sumber Ilmu

Dalam pandangan Islam, ilmu bukan sekadar hasil rasa ingin tahu, tetapi buah dari ma‘rifah — pengenalan terhadap Allah melalui ciptaan-Nya.
Ketika Adam diajari nama-nama oleh Allah (QS. Al-Baqarah: 31), itu bukan hanya pelajaran kosakata, melainkan awal perjanjian antara cinta dan ilmu:
manusia diberi akal untuk memahami tanda-tanda cinta Sang Pencipta di alam semesta.

Ibnu Sina menyebut ilmu sebagai jalan menuju kesempurnaan jiwa (al-sa‘adah).
Al-Farabi menulis dalam Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadhilah, bahwa ilmu dan kebijaksanaan hanya hidup dalam masyarakat yang menjadikan cinta kepada Tuhan sebagai orientasi tertinggi.
Sementara Jabir Ibn Hayyan dan Al-Khawarizmi bekerja di laboratorium sambil berzikir, karena bagi mereka, meneliti hukum alam sama dengan membaca ayat-ayat Allah yang tersebar di jagat raya.

Ketika cinta kepada Allah menjadi fondasi, ilmu bukan lagi sekadar power, tapi amanah.
Ia menghidupkan, bukan membinasakan.
Ia mendekatkan, bukan memisahkan.

Sejarawan George Sarton — bapak sejarah sains — dalam Introduction to the History of Science menulis:

 “Tidak ada masa dalam sejarah di mana ilmu begitu bersih dari keserakahan duniawi seperti masa keemasan Islam.”

Ilmu yang tumbuh dari cinta melahirkan keseimbangan;
sementara ilmu yang lahir dari ambisi melahirkan kehancuran.


---

2. Ketika Cinta Menjadi Motor Teknologi

Teknologi yang dibangun karena cinta kepada Allah selalu berorientasi pada pemeliharaan kehidupan (hifzh al-hayat).
Ia tidak mengeksploitasi alam, tetapi berusaha menjaga harmoni kosmos — sebab alam dianggap makhluk Allah yang juga berzikir.

Lihatlah bagaimana kaum Muslim Andalusia membangun kanal-kanal irigasi, rumah sakit, dan observatorium.
Ibn Bajja dan Ibn Zuhr menulis risalah medis bukan untuk kemegahan, tapi untuk menolong hamba Allah dari penderitaan.
Al-Jazari, pencipta mesin hidrolik, menulis dalam pendahuluan bukunya:

“Aku berharap setiap rancangan ini menjadi sedekah jariyah bagi umat manusia.”

Itulah teknologi yang berjiwa cinta: mencipta tanpa menuhankan ciptaan.

Bandingkan dengan Romawi dan Persia.
Teknologi mereka besar, tapi berpusat pada dominasi.
Romawi membangun jalan-jalan untuk pasukan, bukan untuk rakyat; Persia membangun istana untuk raja, bukan rumah bagi fakir.
Itulah mengapa keduanya hancur: sebab kekuatan tanpa cinta cepat lapuk di dalam.

Sejarawan Arnold Toynbee menulis dalam A Study of History:

“Peradaban hancur bukan karena diserang dari luar, tapi karena kehilangan makna dari dalam.”


---

3. Kepemimpinan dari Cinta

Cinta kepada Allah melahirkan kepemimpinan yang rendah hati, tapi tegas.
Rasulullah ï·º bersabda:

“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Dari sabda inilah muncul model kepemimpinan Islam yang paling sejati: pelayanan karena cinta.
Umar bin Khattab berjalan malam memeriksa rakyat, bukan karena politik populis, tapi karena hatinya takut kepada Allah.
Ia menangis ketika melihat rakyat kelaparan, karena ia tahu bahwa Allah tidak tidur ketika pemimpinnya lalai.

Sebaliknya, kepemimpinan yang lahir dari hawa nafsu melahirkan tirani.
Fir’aun, Kisra Persia, dan Kaisar Romawi adalah contoh klasik: mereka memerintah dengan ketakutan, bukan kasih.
Mereka membangun sistem kekuasaan yang memuja diri, bukan mengabdi kepada Yang Maha Kuasa.

Sejarawan Will Durant menulis dalam The Story of Civilization:

“Islam memperkenalkan tipe pemimpin baru — pemimpin yang memerintah dengan tanggung jawab spiritual, bukan hak keturunan.”

Dan inilah yang hilang di dunia modern:
Pemimpin banyak yang pandai berstrategi, tapi buta terhadap cinta yang menumbuhkan keadilan.


---

4. Cinta sebagai Dasar Manajemen dan Sistem

Dalam Al-Qur’an, Allah disebut sebagai Mudabbir al-Amr — Pengatur segala urusan.
Dari sinilah konsep manajemen Islam lahir: tadbir, yakni meniru cara Allah mengatur alam — penuh keseimbangan dan hikmah.

Kata mizan (keseimbangan) berulang dalam Al-Qur’an (QS. Ar-Rahman: 7–9).
Itulah prinsip manajemen Ilahi: tidak berlebihan, tidak kekurangan; setiap unsur mendapat fungsinya secara proporsional.

Jika cinta kepada Allah menjadi fondasi sistem, maka ekonomi tidak akan rakus, politik tidak akan zalim, dan pendidikan tidak akan menjadi pabrik ijazah tanpa akhlak.

Dalam The Wealth of Nations, Adam Smith memuji keteraturan pasar bebas, tapi dalam The Theory of Moral Sentiments ia mengingatkan bahwa sistem ekonomi hanya dapat berjalan jika manusia memiliki “moral sense”.
Namun, Barat kemudian mengambil separuh yang pertama dan melupakan separuh yang kedua — jadilah kapitalisme yang kering dari cinta.

Berbeda dengan sistem Islam klasik: baitul mal dibangun bukan hanya untuk menampung pajak, tapi menebarkan kesejahteraan.
Di bawah Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tak lagi ditemukan orang miskin yang mau menerima zakat.
Itulah manajemen cinta — efisien karena ikhlas, efektif karena takut kepada Allah.


---

5. Cinta sebagai Sumber Hukum dan Keadilan

Cinta kepada Allah adalah dasar hukum yang hidup.
Tanpa cinta, hukum menjadi kekerasan yang sah; dengan cinta, hukum menjadi rahmat yang nyata.

Rasulullah ï·º diutus sebagai “rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiya: 107).
Maka setiap hukum yang meniru syariat sejati harus menebarkan kasih, bukan sekadar hukuman.

Ketika Umar menunda potong tangan pencuri di masa paceklik, itu bukan pelanggaran syariat, tetapi puncak implementasi cinta Ilahi — sebab Allah sendiri Maha Pengasih.

Filsuf hukum Islam, Al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulum al-Din menulis:

“Syariat itu kasih sayang seluruhnya; keadilan seluruhnya; kebijaksanaan seluruhnya.”

Sementara Barat modern memisahkan hukum dari cinta.
Mereka menciptakan sistem legalistik tanpa nurani.
Maka hukum berubah menjadi alat kekuasaan, bukan pelindung kemanusiaan.
Michel Foucault menggambarkan ini sebagai “disiplin dan pengawasan yang menindas di bawah baju keadilan”.


---

6. Cinta sebagai Landasan Kekuasaan dan Peradaban

Kekuasaan yang lahir dari cinta kepada Allah adalah kekuasaan yang menjaga, bukan menaklukkan.
Peradaban Islam klasik tumbuh karena moralitas, bukan kolonialisasi.
Dari Madinah, Damaskus, Baghdad hingga Granada — ekspansi bukan hanya militer, tapi penyebaran ilmu, hukum, dan keadilan.

Romawi menaklukkan dunia dengan pedang, Islam menaklukkan hati dengan cahaya.
Romawi membangun imperium yang megah tapi rapuh; Islam membangun peradaban yang sederhana tapi bertahan ratusan tahun.
Toynbee menyebut Islam sebagai “peradaban yang mampu memadukan kekuatan spiritual dan kekuatan sosial dengan harmoni unik.”

Dan inilah paradoks besar sejarah:

Kekuasaan yang lahir dari cinta Allah tidak mengejar kekuasaan, tetapi justru karena itu ia diberi kekuasaan.

Sebaliknya, kekuasaan yang lahir dari hawa nafsu akan menimbulkan pemberontakan dari dalam — seperti Romawi, Persia, bahkan kapitalisme modern hari ini yang mulai retak oleh kesenjangan sosial dan krisis moral.


---

7. Menumbuhkan Cinta yang Produktif

Cinta kepada Allah tidak cukup diajarkan, harus ditanamkan.
Ia bukan perasaan mistik pasif, tapi daya aktif yang menggerakkan ilmu, teknologi, dan sistem.
Bagaimana menumbuhkannya?

1. Menjadikan ilmu sebagai ibadah.
Belajar untuk mengenal ciptaan Allah, bukan untuk gengsi akademik.

2. Menyucikan niat dalam setiap kerja.
Meneliti, memimpin, berdagang, menulis — semua karena Allah.

3. Menanamkan dzikir dalam sistem.
Organisasi yang dimulai dengan basmalah akan berbeda dari yang dimulai dengan target laba.

4. Menegakkan akhlak sebagai inti profesionalitas.
Akhlak adalah sistem kontrol yang tidak bisa ditiru oleh teknologi.

5. Menjadikan syariat sebagai fondasi desain sistem.
Hukum, ekonomi, dan manajemen berjalan dalam pagar tauhid — bukan sekadar efisiensi, tapi keberkahan.




---

8. Epilog: Cinta yang Melahirkan Peradaban

Ketika Romawi dan Persia membangun dunia dengan pedang dan kebanggaan, Islam membangunnya dengan pena dan kasih.
Ketika modernitas menuhankan akal, Islam mengajarkan bahwa akal adalah titipan cinta.
Dan kini, dunia modern kembali haus akan makna — karena teknologi telah membuatnya mampu melakukan segalanya, kecuali menjawab “untuk apa”.

Maka, jika peradaban modern lahir dari keinginan menundukkan alam,
peradaban Islam lahir dari kerinduan berbakti kepada Pencipta alam.

Yang satu menimbulkan kekaguman; yang lain menimbulkan ketenangan.
Yang satu mengagungkan kuasa; yang lain menumbuhkan kasih.

Cinta kepada Allah adalah energi yang tak habis.
Ia melahirkan ilmu yang jujur, teknologi yang menolong, kepemimpinan yang adil, hukum yang lembut, dan kekuasaan yang membimbing.
Tanpa cinta itu, semua hanya akan menjadi bangunan megah di atas jiwa yang runtuh.


---

 “Barang siapa mencintai Allah, ia akan melihat dunia bukan sebagai arena perebutan, tapi sebagai ladang pengabdian.”
— Muhammad Iqbal, Reconstruction of Religious Thought in Islam

Apologia dell’Islamismo: Ketika Akal Barat Menyelami Islam Pada tahun 1925, di tengah Eropa yang baru saja bangkit dari luka Per...


Apologia dell’Islamismo: Ketika Akal Barat Menyelami Islam

Pada tahun 1925, di tengah Eropa yang baru saja bangkit dari luka Perang Dunia dan gelisah mencari makna kemajuan, seorang perempuan Italia bernama Laura Veccia Vaglieri menulis sebuah buku yang tidak biasa: Apologia dell’Islamismo — Pembelaan terhadap Islam.
Karyanya datang bukan dari tangan seorang ulama, bukan pula dari semangat dakwah, melainkan dari nurani seorang sarjana Barat yang melihat sesuatu yang agung dalam agama yang selama berabad-abad disalahpahami bangsanya sendiri.

Buku itu bukan pamflet teologis, bukan risalah misioner. Ia adalah jeritan lembut dari ruang pikir yang tercerahkan, ketika seorang orientalis menatap Islam bukan sebagai objek studi, melainkan sebagai sumber kebenaran yang menegur dunia modern.
Veccia Vaglieri menulis dengan nada yang jarang bagi zamannya — bukan dengan sikap kolonial, melainkan dengan kerendahan hati seorang pengamat yang takjub.


---

Sebuah Pencarian di Tengah Prahara Peradaban

Awal abad ke-20 adalah masa di mana Eropa menyanjung ilmu pengetahuan, tetapi kehilangan Tuhan. Di ruang kuliah, Islam sering dipotret sebagai sisa-sisa masa lalu Timur yang “statis” dan “fatalistik”. Dalam pusaran itu, Veccia Vaglieri memilih jalan berlawanan.
Ia bertanya: Bagaimana mungkin sebuah agama yang melahirkan peradaban ilmiah, hukum yang adil, dan etika universal, dianggap sebagai penghalang kemajuan?

Pertanyaan itu menuntunnya menulis Apologia dell’Islamismo, semacam surat panjang kepada bangsanya sendiri — kepada dunia yang terbiasa menghakimi Islam tanpa mengenalnya.
Buku ini bukan sekadar kumpulan argumen; ia adalah renungan antara akal dan hati, antara pengetahuan dan rasa kagum yang tulus.


---

Tauhid: Gerbang Kemurnian

Baginya, inti Islam adalah tauhid — pengakuan bahwa hanya ada satu Tuhan yang Esa dan bahwa manusia sepenuhnya bergantung kepada-Nya.
Veccia Vaglieri melihat dalam ajaran ini bukan sekadar dogma, melainkan pembebasan dari tirani spiritual dan sosial.
Ia menulis bahwa Islam memotong rantai panjang perantara: tidak ada imam yang menjadi juru selamat, tidak ada kelas rohani yang menguasai akses ke surga.

“Manusia,” tulisnya, “menjadi hamba hanya kepada Tuhan, bukan kepada sesama manusia.”
Kalimat itu mengandung gema yang dalam — sebuah seruan pembebasan yang lebih tua dari semua revolusi modern.

Tauhid, dalam pandangannya, bukan hanya sistem teologi, melainkan sumbu etika yang menyatukan manusia dalam kesetaraan. Semua manusia, kata Al-Qur’an, diciptakan dari tanah yang sama; yang membedakan hanyalah ketakwaan dan amal.
Baginya, ajaran ini adalah cahaya yang memulihkan martabat manusia — sesuatu yang hilang di Barat ketika kekuasaan gereja dan kapitalisme sama-sama memperbudak hati.


---

Ajaran yang Terpelihara dan Larangan Bertaklid

Veccia Vaglieri mengagumi satu hal yang jarang disadari para sarjana Eropa: Islam memiliki daya jaga internal terhadap kemurnian ajarannya.
Ia menyebut bahwa Al-Qur’an, sejak diwahyukan, tetap utuh — dibaca, dihafal, dan dikaji tanpa perubahan.
Di dalamnya terkandung seruan untuk berpikir, bukan sekadar percaya buta.
“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mengetahui,” begitu peringatan Al-Qur’an yang ia kutip dengan kekaguman.

Larangan untuk bertaklid, menurutnya, menjadikan Islam agama akal dan nurani, bukan sekadar warisan turun-temurun. Dalam pandangan ini, Veccia Vaglieri menemukan sesuatu yang justru hilang di negerinya sendiri: keberanian untuk bertanya di hadapan Tuhan tanpa kehilangan iman.


---

Hijab: Pemuliaan yang Tak Ternilai

Salah satu bagian yang paling menggugah dari bukunya adalah pembelaan terhadap hijab.
Ia menolak pandangan Barat yang menganggap penutup kepala atau tubuh perempuan sebagai tanda penindasan.
Baginya, hijab adalah simbol pemuliaan — perisai martabat, bukan kurungan.
Ia menulis dengan nada lembut, “Islam memuliakan perempuan bukan karena tubuhnya, tetapi karena akalnya dan kehormatannya.”

Bagi Veccia Vaglieri, perempuan dalam Islam tidak disingkirkan, melainkan diangkat ke derajat yang spiritual dan rasional sekaligus.
Ia menemukan bahwa sejak awal Islam telah memberi perempuan hak waris, hak memilih pasangan, dan hak atas kehormatan pribadi — sesuatu yang baru diakui oleh Eropa berabad-abad kemudian.
Dalam tulisannya, hijab menjadi lambang kebebasan dari tatapan yang menundukkan.


---

Hilangnya Paganisme dan Kelahiran Cahaya

Veccia Vaglieri melihat kehadiran Islam sebagai titik balik sejarah spiritual manusia.
Dalam masyarakat Arab yang dulu penuh berhala dan perang antar-kabilah, Islam datang membawa tauhid yang jernih, akhlak yang tinggi, dan rasa kemanusiaan universal.
Ia menulis bahwa Islam telah menghapus paganisme tanpa darah berlebihan — bukan dengan paksaan, melainkan dengan kekuatan akal dan keyakinan.

Baginya, inilah keajaiban Islam: sebuah revolusi tanpa kebencian, transformasi budaya yang terjadi karena daya moral dan logika wahyu.
Ia memandang bahwa berkat Islam, bangsa-bangsa yang tercerai-berai oleh kebodohan dan sukuisme berubah menjadi umat yang bersatu dalam pengetahuan dan hukum.


---

Al-Qur’an: Padat Makna, Kaya Hikmah

Ketika membaca Al-Qur’an, Veccia Vaglieri mengaku terpesona oleh kekuatannya yang tak tertandingi.
Ia menyebut kitab ini sebagai Libro inimitabile — kitab yang tak dapat ditiru.
Bukan hanya karena keindahan bahasanya, tetapi karena kedalaman ide dan daya transformasinya terhadap manusia.

Menurutnya, tidak ada teks suci lain yang begitu padat makna: setiap ayat memuat lapisan moral, hukum, sejarah, dan perenungan metafisik.
Bahkan, bagi yang bukan beriman pun, Al-Qur’an tetap menawarkan struktur intelektual yang luar biasa — seperti jalinan puisi, hukum, dan filsafat dalam satu tarikan napas.


---

Al-Qur’an yang Tak Pernah Membosankan

Veccia Vaglieri mencatat fenomena yang unik: kaum Muslim tidak pernah lelah membaca Al-Qur’an.
Kitab ini dibaca berulang-ulang, diulang seumur hidup, namun tak pernah kehilangan rasa segarnya.
Baginya, hal itu menjadi bukti keajaiban psikologis dan spiritual dari wahyu tersebut.

Ia menulis, “Tidak ada kitab lain yang bisa memikat hati pembacanya setiap kali dibuka, bahkan setelah ribuan kali dibaca.”
Dalam pengamatannya, itu bukan sekadar karena keindahan retorika, tetapi karena Al-Qur’an berbicara kepada setiap zaman dengan makna baru.


---

Akidah Paling Jernih

Dalam bab tentang teologi, Veccia Vaglieri menyebut Islam memiliki “akidah paling jernih” di antara agama-agama besar.
Ia menilai bahwa konsep ketuhanan dalam Islam bebas dari paradoks dan mistifikasi, jauh dari konsep trinitas atau penebusan dosa yang membingungkan akal.
Tuhan dalam Islam, katanya, adalah “Yang Satu, Yang Dekat, dan Yang Adil.”

Ia menulis bahwa keindahan ajaran ini terletak pada kesederhanaannya yang mendalam: manusia mengenal Tuhan bukan lewat teka-teki metafisik, tetapi lewat ciptaan dan nurani.
Dalam pandangan itu, Veccia Vaglieri melihat Islam sebagai agama rasionalitas spiritual, di mana iman dan akal bukan lawan, tetapi sekutu.


---

Al-Qur’an: Kalam Allah dan Mukjizat Agung

Veccia Vaglieri berulang kali menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad ï·º.
Ia bukan sekadar kitab hukum atau doa, tetapi suara Ilahi yang mengubah sejarah.
Ia menulis, “Tak ada nabi yang meninggalkan bukti kenabiannya dalam bentuk kata-kata hidup seperti Muhammad.”

Baginya, mukjizat Islam tidak memerlukan pertunjukan supranatural.
Cukup dengan kalam yang mengguncang hati dan menata dunia, Islam membuktikan dirinya sebagai wahyu sejati.
Veccia Vaglieri bahkan menyebut bahwa keabadian teks Al-Qur’an adalah bukti bahwa Tuhan “menjaga firman-Nya dalam bahasa manusia”.


---

Tidak Ada Pemasungan Pemikiran

Salah satu hal yang membuatnya kagum adalah ruang berpikir dalam Islam.
Ia menolak tuduhan bahwa Islam menutup pintu rasionalitas.
Sebaliknya, Al-Qur’an justru mengundang manusia untuk berpikir, meneliti, dan menafsirkan alam.

Baginya, kata pertama wahyu — Iqra’ (bacalah) — adalah manifesto intelektual terbesar dalam sejarah agama.
Ia menulis bahwa seluruh peradaban Islam dibangun di atas keyakinan bahwa ilmu adalah ibadah.
Dalam hal ini, Veccia Vaglieri menegaskan bahwa tidak ada benturan antara wahyu dan ilmu, karena keduanya bersumber dari Tuhan yang sama.


---

Musuh Islam Buta Karena Kedengkian

Veccia Vaglieri tidak menulis dengan amarah, tetapi dengan nada sedih, ketika membahas permusuhan Barat terhadap Islam.
Ia menyebut bahwa banyak tuduhan terhadap Islam lahir bukan dari pengetahuan, melainkan dari prasangka dan kedengkian.
Sebagian intelektual Eropa, katanya, buta terhadap keindahan Islam karena terlalu sibuk mempertahankan citra diri sebagai “pembawa peradaban”.

Ia menulis, “Mereka menutup mata bukan karena tak mampu melihat, melainkan karena takut kehilangan superioritas semu.”
Kalimat itu, ditulis seabad lalu, tetap terasa tajam hari ini.
Ia tidak bermaksud memusuhi, tetapi mengajak Barat untuk bercermin — apakah mungkin peradaban yang mengaku maju bisa jujur menilai yang lain tanpa rasa takut?


---

Rasulullah ï·º: Adil dan Penuh Kasih

Bagian paling menyentuh dari buku ini adalah deskripsinya tentang Nabi Muhammad ï·º.
Veccia Vaglieri menulis dengan penghormatan yang jarang ditemukan pada penulis non-Muslim.
Ia menggambarkan beliau sebagai “manusia yang paling adil dan penuh kasih,” bukan hanya bagi pengikutnya, tetapi juga bagi musuh-musuhnya.

Ia menolak citra buruk yang sering dilekatkan oleh literatur Barat: bahwa Nabi adalah penakluk atau pemimpin perang.
Sebaliknya, ia melihat Nabi sebagai reformator spiritual dan sosial, yang membangun masyarakat berdasarkan keadilan dan kasih sayang.
Ia menulis, “Di tangan Muhammad, kekuasaan tidak menjadi alat, melainkan amanah.”

Dalam pandangan itu, Veccia Vaglieri seperti menemukan teladan yang hilang dari politik modern — seorang pemimpin yang kuat karena akhlaknya, bukan karena kekerasannya.


---

Poligami Bukan Nafsu, tapi Tanggung Jawab

Dalam bab yang membahas hukum keluarga, Veccia Vaglieri menyinggung poligami — isu yang sering dijadikan senjata untuk menyerang Islam.
Ia menjelaskan bahwa praktik itu tidak lahir dari nafsu, melainkan dari realitas sosial yang saat itu dihadapi: banyaknya janda perang, anak yatim, dan ketimpangan jumlah gender.
Ia menulis bahwa Islam membatasi dan mengatur poligami, bukan mendorongnya.

Baginya, ajaran itu justru menempatkan moral di atas syahwat, karena setiap pernikahan kedua, ketiga, atau keempat hanya dibenarkan jika suami mampu berlaku adil.
“Dan jika kamu khawatir tidak mampu berlaku adil,” kutipnya dari Al-Qur’an, “maka cukuplah satu.”
Baginya, itu bukan pintu kebebasan nafsu, melainkan pagar etika yang tinggi.


---

Toleransi yang Utuh

Veccia Vaglieri juga menekankan toleransi Islam sebagai nilai yang menakjubkan.
Ia menulis bahwa sejak awal, Islam memberi ruang hidup bagi Yahudi dan Kristen — yang disebut Ahlul Kitab — untuk memeluk keyakinan mereka tanpa paksaan.
“Tidak ada paksaan dalam agama,” adalah ayat yang ia sebut sebagai fondasi kebebasan berkeyakinan paling tulus dalam sejarah manusia.

Ia mengagumi bahwa di bawah kekuasaan Islam, beragam bangsa dapat hidup berdampingan: Arab, Persia, Turki, Andalusia, India.
Ia melihat di situ konsep universalitas Islam — bukan sebagai dominasi, tetapi sebagai ummah yang menampung perbedaan dalam kesatuan moral.


---

Al-Qur’an Membenarkan Kitab Sebelumnya

Veccia Vaglieri menyebut bahwa keagungan Al-Qur’an juga tampak dari pengakuannya terhadap kitab-kitab sebelumnya.
Bagi seorang orientalis yang lahir dari tradisi Kristen, hal ini sangat menggugah.
Ia menulis, “Al-Qur’an tidak menafikan sejarah wahyu sebelumnya; ia datang untuk mengonfirmasi, bukan meniadakan.”

Baginya, hal itu menunjukkan sifat inklusif Islam — bahwa kebenaran bukan milik satu bangsa, melainkan berkesinambungan sejak Nabi Adam hingga Muhammad ï·º.
Ia menilai pendekatan ini sebagai bentuk dialog ilahi antar-zaman, di mana wahyu Islam melengkapi, bukan menggantikan, pesan-pesan langit terdahulu.


---

Kelebihan dan Keterbatasan

Veccia Vaglieri sadar bahwa tulisannya bukan risalah ilmiah yang dingin.
Ia menulis dengan hati yang menyala, kadang terlalu bersemangat, namun itulah kekuatannya.
Ia membela dengan cinta, bukan fanatisme.
Ia melihat Islam dengan mata yang jujur dan hati yang bersih — sesuatu yang jarang pada zamannya.

Namun ia juga mengakui keterbatasan: ia bukan Muslim, dan tulisannya tetap berada di batas pengamatan luar.
Tetapi justru di sanalah nilai Apologia dell’Islamismo — ia menjadi jembatan antara Timur dan Barat, antara iman dan akal, antara sejarah dan kemanusiaan.


---

Warisan dan Relevansi

Kini, seabad setelah buku itu terbit, dunia kembali berada dalam kebingungan yang serupa.
Ilmu maju, tetapi manusia kehilangan arah.
Kekerasan dilakukan atas nama agama, sementara prasangka masih menutupi wajah kebenaran.

Dalam konteks itu, suara Veccia Vaglieri terdengar seperti gema yang datang dari hati nurani sejarah.
Ia mengingatkan bahwa Islam bukan ancaman bagi dunia modern, tetapi obor yang pernah menerangi akal dan keadilan manusia.
Ia memanggil dunia Barat — dan juga dunia Muslim sendiri — untuk kembali memahami Islam bukan sebagai ideologi, melainkan sebagai peradaban akhlak dan rasionalitas.


---

Penutup: Ketika Barat Menyapa Timur dengan Hati

Dalam paragraf penutup bukunya, Veccia Vaglieri menulis sesuatu yang hampir seperti doa:
“Jika Eropa mau melihat dengan jujur, ia akan menemukan dalam Islam bukan lawan, tetapi sahabat. Sebab Islam adalah ajakan untuk mengenal Tuhan melalui akal, dan untuk mengenal manusia melalui keadilan.”

Kalimat itu, meski sederhana, menyentuh inti dari semua yang ia perjuangkan.
Apologia dell’Islamismo bukan sekadar buku orientalis; ia adalah kesaksian spiritual seorang intelektual yang berani melawan arus.
Ia menulis bukan karena ingin masuk Islam, tetapi karena ia menemukan keindahan kebenaran yang tak bisa ia sangkal.

Bagi pembaca hari ini, karya Veccia Vaglieri adalah cermin:
bahwa keindahan Islam kadang justru tampak paling jernih ketika dilihat oleh mata yang tak terikat kepentingan — mata yang haus akan makna, dan hati yang jujur mendengar panggilan Tuhan.

Parlemen Israel Menyetujui Penjajahan di Tepi Barat: Bagaimana dengan Oslo, Mahkamah Internasional dan Abraham Accord? Di antara...


Parlemen Israel Menyetujui Penjajahan di Tepi Barat: Bagaimana dengan Oslo, Mahkamah Internasional dan Abraham Accord?



Di antara Gema Gencatan Senjata

“Perang sudah berakhir,” kata seorang anak kecil di Abu Falah kepada kakeknya, “bolehkah aku ikut memetik zaitun?”
Kakeknya terdiam. Di hadapannya, pohon-pohon zaitun yang diwariskan leluhur berdiri tanpa dahan. Beberapa telah dicabut akarnya. Sebagian lagi gosong, dibakar oleh para pemukim. Di tanah yang katanya “sudah damai”, mereka masih menghitung mayat, bukan panen.

Begitulah Tepi Barat menyambut gencatan senjata Gaza—dengan ironi. Saat dunia bersorak bahwa perang berhenti, di dataran antara Ramallah dan Nablus justru penjajahan meningkat. Tidak ada gencatan bagi yang hidup di bawah pagar baja, tembok setinggi tujuh meter, dan kebijakan apartheid yang kini disahkan oleh parlemen Israel sendiri.


---

Dua Dunia yang Tak Pernah Damai

Sepekan setelah pengumuman gencatan di Gaza, kehidupan di Tepi Barat tetap dililit oleh pos pemeriksaan. Di kota baru Rawabi, yang hanya sepuluh menit jarak ke Ramallah, penduduknya menghadapi empat gerbang besi, sebuah menara militer, dan sebuah pembatas — perjalanan sepuluh menit bisa memakan waktu berjam-jam.

Di seluruh Tepi Barat kini berdiri 916 barikade, pos, dan gerbang logam; 243 di antaranya dibangun setelah 7 Oktober 2023. Tentara Israel membuka dan menutupnya sesuka hati—kadang demi “keamanan”, kadang sekadar permainan kuasa.

Sejak 7 Oktober, lebih dari 7.100 serangan pemukim terjadi terhadap warga Palestina. Hampir seribu orang terbunuh, termasuk 212 anak-anak. 37.237 pohon zaitun dihancurkan—pohon yang bukan sekadar tumbuhan, tapi simbol keteguhan bangsa Palestina.

Bahkan udara malam tak memberi jeda. Tentara bisa datang kapan saja, menendang pintu, menyeret anak muda dari tempat tidur, lalu pergi tanpa penjelasan. Rumah yang semula tenang bisa berubah jadi penjara dalam lima menit.


---

Penjajahan yang Dilegalkan

Lalu datanglah berita dari Tel Aviv: Knesset menyetujui tahap pertama undang-undang pencaplokan Tepi Barat — 25 suara mendukung, 24 menolak. Tipis, tapi cukup untuk mengubah sejarah.

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben‑Gvir, berkata lantang, “Waktunya memaksakan kedaulatan atas Tepi Barat telah tiba.” Kata “kedaulatan” di mulut penjajah selalu berarti kebebasan untuk menindas.

Dengan satu sidang parlemen, Perjanjian Oslo (1993) — yang menjanjikan otonomi bagi Palestina — digugurkan tanpa suara ledakan. Oslo membagi wilayah Tepi Barat menjadi Area A (18 %), Area B (22 %) dan Area C (60 %) di bawah kendali Israel. Namun kini Area C bukan sekadar wilayah militer — ia menjadi peta masa depan Israel Raya. Pemerintah mempercepat klaim atas area itu, menghancurkan desa-desa Badui, dan memindahkan warganya paksa. “Aneksasi diam-diam” telah berlangsung selama bertahun-tahun, kini menjadi hukum resmi negara.

Partai Likud menyebutnya “kedaulatan sejati”. Tapi di Ramallah, orang menyebutnya kematian diplomasi.


---

Perang yang Berubah Bentuk

Israel tidak lagi memerlukan tank untuk menaklukkan Palestina: ia hanya butuh bulldozer dan pena hukum. Dengan alasan “keamanan”, tentara menyita lebih dari 70.000 meter persegi tanah di provinsi Nablus pada Oktober 2025. Hanya dalam satu tahun, 53 perintah militer dikeluarkan untuk memperluas pemukiman Yahudi.

Menurut Komisi Kolonisasi Palestina, kini ada 710 pemukiman dan pos militer di Tepi Barat — rata-rata satu setiap delapan kilometer persegi. Peta Palestina tampak seperti kulit yang digerogoti lubang.

Dan setiap lubang membawa makna:

Lubang air yang dikuasai perusahaan Israel Mekorot — menyisakan warga Palestina dengan jatah air minim.

Lubang ekonomi, di mana tanah subur diubah menjadi zona militer.

Lubang spiritual, karena ribuan warga tak bisa lagi mencapai Masjid Al-Aqsa atau Gereja Makam Suci tanpa izin.


Di musim panas, ketika sumur-sumur kering, warga terpaksa membeli air mahal dari penjajah yang mencuri sumbernya. Air yang seharusnya menghidupi, kini menjadi alat penjajahan paling sunyi.


---

Janji Palsu Perdamaian

Di manakah letak Oslo, Mahkamah Internasional, dan Abraham Accord dalam situasi ini? Mereka berdiri seperti tugu yang retak: masih ada di atas kertas, tapi tak lagi punya jiwa.

Perjanjian Oslo, yang dahulu ditandatangani di halaman Gedung Putih, kini hanyalah simbol kegagalan dua generasi diplomat. Setiap peta yang dijanjikan “negara Palestina” kini tinggal arsip museum.

Mahkamah Internasional (ICJ) pada 19 Juli 2024 mengeluarkan opini hukum bahwa kehadiran Israel di wilayah pendudukan Palestina adalah ilegal — bahwa aneksasi, fragmentasi wilayah, penghalangan hak penentuan nasib sendiri rakyat Palestina, serta penguasaan sumber daya secara diskriminatif, semuanya melanggar hukum internasional. 
Mahkamah menegaskan bahwa bahkan tidak boleh ada aneksasi oleh Israel berdasarkan klaim keamanan, dan bahwa seluruh keberadaan Israel sebagai kekuatan pendudukan di wilayah tersebut adalah tindakan salah yang terus-menerus. 
Namun keputusan ini bersifat konsultatif (advisory) dan tidak memiliki mekanisme penegakan langsung — sehingga di lapangan, situasi tetap berjalan seperti sebelumnya.

Abraham Accords — perjanjian normalisasi antara Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) serta beberapa negara lainnya — didasari salah satu syarat penting: Israel menangguhkan rencana aneksasi Tepi Barat. 
UEA bahkan menyatakan bahwa setiap aneksasi Tepi Barat akan menjadi “garis merah” yang bisa merobohkan Accords tersebut. 
Namun ketika Knesset menyetujui undang-undang kedaulatan, maka janji bahwa aneksasi tidak akan terjadi menjadi retorika: realitas di lapangan bergerak ke arah sebaliknya.


---

Dunia yang Menonton

Di ruang sidang PBB, diplomat membaca naskah kecaman. Di jalan-jalan Ramallah, para ibu membaca daftar nama anak-anak yang ditangkap. Sejak dua tahun terakhir, lebih dari 20.000 warga Palestina ditahan, termasuk 1.600 anak-anak. Dunia bisa menghitung dan mencatat angka tersebut.

Mahkamah bisa menyebut “ilegal”. PBB bisa menyerukan “penghentian pemukiman”. Tapi di tanah yang retak oleh buldoser, hukum internasional tak punya bentuk.

Perdamaian tidak pernah gagal karena kekurangan dokumen; ia gagal karena kehilangan keberanian moral. Dunia lebih takut kehilangan hubungan dagang daripada kehilangan kemanusiaan.


---

Di Antara Pohon Zaitun yang Ditebang

Di Abu Falah, anak kecil itu masih menatap ladang kakeknya yang gersang. Ia bertanya lagi, “Kapan kita bisa memetik zaitun?”
Kakeknya menjawab perlahan, “Saat dunia berhenti memanggil penjajahan ini dengan nama perdamaian.”

Tepi Barat kini hidup dalam paradoks: dijanjikan negara, tapi dijadikan koloni; diberi peta, tapi dipagari; diberi air, tapi diputus kuotanya. Setiap undang-undang baru dari Tel Aviv menandai kematian sebatang pohon zaitun—dan sekaligus kelahiran perlawanan baru.

Karena tanah yang dicintai tak bisa ditinggalkan, bahkan jika pohonnya ditebang.

Israel mungkin berhasil menghapus garis batas Oslo, tapi tidak bisa menghapus memori orang-orang yang tertindas. Setiap akar zaitun yang tertimbun debu akan tumbuh lagi—entah di kebun Ramallah, di hati anak-anak Gaza, atau di doa jutaan orang yang masih percaya bahwa keadilan tak bisa selamanya disembunyikan di balik pagar baja.

Keteguhan Tepi Barat Menanam Zaitun “Suatu hari, jika kau ingin tahu seberapa dalam cinta seorang manusia pada tanahnya, lihatla...



Keteguhan Tepi Barat Menanam Zaitun


“Suatu hari, jika kau ingin tahu seberapa dalam cinta seorang manusia pada tanahnya, lihatlah bagaimana ia menanam pohon di tengah ancaman.”
— Catatan dari Bil’in, Tepi Barat



Pohon yang Menolak Mati

“Dengar,” kata seorang kakek di Al-Mughayyir kepada cucunya, “pohon zaitun ini lebih tua dari aku, dan mungkin akan hidup lebih lama darimu.”
Cucunya menatap batang tua yang retak, penuh luka bekas gergaji. Di sekelilingnya, tanah hangus, akar-akar mencuat seperti nadi yang disayat.

Beberapa hari sebelumnya, laporan Al Jazeera menyiarkan kabar itu ke dunia: militer Israel mencabut lebih dari 3.000 pohon zaitun di desa Al-Mughayyir, Ramallah. Operasi itu disebut sebagai bagian dari “keamanan nasional”.
Tetapi bagi warga desa, itu bukan operasi keamanan—melainkan operasi pencabutan kehidupan.

Sejak pendudukan 1967, ribuan kebun telah diratakan, ribuan batang tua ditebang. Bagi Israel, tanah adalah peta; bagi warga Palestina, tanah adalah ingatan.
Dan di antara keduanya, pohon zaitun menjadi saksi: teguh, diam, tapi berbicara dalam bahasa ketekunan.


---

Panen yang Menjadi Waktu Takut

Ketika musim gugur datang, daun zaitun biasanya bergetar lembut di bawah sinar matahari Tepi Barat. Di masa lalu, anak-anak berlari membawa keranjang, perempuan bernyanyi di antara barisan pohon, dan para lelaki memeras minyaknya dengan doa.

Kini, seperti dilaporkan Reuters, musim panen berubah menjadi musim ketakutan.
Seorang petani di Salfit menunjukkan batang pohon berusia lima abad. “Ia hidup lebih lama dari penjajahan mana pun,” katanya pelan, “tapi aku tak tahu apakah ia akan bertahan tahun depan.”

Pemukim bersenjata menunggu di bukit; pos militer berdiri di ladang. Setiap panen kini adalah pertaruhan hidup. Para petani harus mendapat izin untuk memetik buah dari pohon yang tumbuh di tanah mereka sendiri.

Dan izin itu, sering kali, tidak pernah datang.


---

Zaitun yang Didedikasikan untuk Perdamaian

Namun di tengah kegetiran, ada kisah lain yang lebih lembut.
Associated Press melaporkan bahwa di kota Tulkarem, Palestina menanam 250 pohon zaitun baru — bukan untuk panen, tapi sebagai penghormatan bagi Jimmy Carter, mantan Presiden AS yang dikenal kritis terhadap penjajahan Israel.

Di antara tanah retak dan kawat berduri, pohon-pohon muda itu berdiri, batangnya ramping, daunnya pucat.
“Satu hari nanti,” kata seorang perempuan tua sambil menimbun tanah di akarnya, “mereka akan tahu bahwa kita pernah menanam perdamaian, bahkan ketika dunia menanam diam.”

Begitulah Palestina hidup: dari tanah yang dikhianati, mereka terus menanam makna.


---

Ketika Dunia Melihat tapi Tidak Menyentuh

Menurut laporan The Guardian dan UN-OCHA, musim panen zaitun tahun 2025 diselimuti gelombang kekerasan baru.
Ratusan pohon dibakar dalam seminggu pertama panen. Para petani diserang ketika mencoba memasuki ladang mereka.

Dalam satu catatan OCHA disebut:

“Musim yang biasanya menjadi waktu sukacita dan doa, kini menjadi musim kehilangan dan ketakutan.”

Tapi barangkali inilah yang membuat Tepi Barat berbeda dari seluruh dunia: mereka tidak pernah berhenti datang ke ladang itu — bahkan ketika tahu pohonnya telah ditebang.
Mereka datang bukan hanya untuk memetik buah, tetapi untuk membuktikan keberadaan mereka di tanah sendiri.


---

Akar yang Menjadi Perlawanan

Dalam budaya Palestina, pohon zaitun bukan sekadar sumber minyak. Ia adalah simbol waktu dan warisan.
Banyak keluarga menanam pohon ini ketika anak lahir — tanda kehidupan yang tumbuh bersama usia manusia.
Ketika penjajah menebangnya, yang hilang bukan sekadar ekonomi, tapi silsilah spiritual.

Hampir sepertiga penduduk Tepi Barat menggantungkan hidup pada zaitun.
Namun setiap hektar ladang kini berada di bawah bayang-bayang pemukiman ilegal. Setiap jalur irigasi dapat ditutup kapan saja. Dan air — seperti yang dikuasai oleh perusahaan Israel Mekorot — kini menjadi barang mewah yang dijual kepada mereka yang sebelumnya pemilik sumbernya.

Dalam laporan UN-OCHA, satu kalimat mencolok:

“Menanam pohon di Area C hari ini adalah tindakan keberanian, bukan pertanian.”


---

Dalam Film dan Lensa Dunia

Beberapa seniman mencoba merekam keteguhan itu agar dunia tak lupa.

Dalam dokumenter The Color of Olives (2006), keluarga Amer di Tepi Barat hidup di kebun mereka yang terbelah oleh tembok pemisah. Mereka berjalan sejauh satu kilometer setiap hari untuk menyentuh pohon mereka.

Film 5 Broken Cameras (2011) merekam perjuangan desa Bil’in — kamera demi kamera rusak karena peluru, tapi petani terus menanam dan merekam lagi.
Where Olive Trees Weep (2024) menambahkan lapisan baru: trauma perempuan, kehilangan rumah, dan kekuatan akar budaya yang tak bisa dihapus oleh beton.

Ada pula Zeitounat (2002), karya dokumenter pendek yang memperlihatkan perempuan Palestina menanam kembali pohon yang dicabut, seolah sedang menanam kenangan ibunya sendiri.

Dalam semua karya itu, pohon zaitun bukan hanya tumbuhan — ia adalah karakter utama. Ia hidup, disakiti, dirindukan, dan disembah dengan air mata.


---

Zaitun dalam Puisi dan Doa

Mahmoud Darwish, penyair Palestina terbesar, pernah menulis:

“Kami adalah pohon zaitun yang dibakar, tapi masih berbuah di hati manusia.”

Banyak puisi Palestina modern menggambarkan zaitun sebagai ibu yang dipukul tapi tetap memberi susu.
Di situs-situs sastra Arab, bertebaran sajak seperti ini:

“Their spirits stamp loud footsteps on rot-brown grass,
a graveyard underneath the olive tree…”

Puisi-puisi itu bukan sekadar estetika; ia adalah surat panjang dari tanah kepada langit, agar dunia tahu bahwa penderitaan bukan sekadar statistik.


---

Dialog di Ladang yang Tersisa

Sore itu, di kaki bukit Salfit, dua generasi duduk di bawah pohon yang separuhnya gosong.
Anak muda itu bertanya, “Mengapa kakek terus menanam lagi, padahal mereka akan menebangnya?”
Sang kakek menjawab pelan, “Karena jika kita berhenti menanam, kita telah membantu mereka menebang.”

Dialog seperti ini terjadi di ratusan desa. Ia sederhana, tapi maknanya dalam:
menanam berarti menolak musnah.

Pohon zaitun tumbuh lambat — butuh puluhan tahun hingga berbuah. Tapi mungkin itulah sebabnya ia menjadi simbol Palestina: sabar, diam, dan abadi.


---

Ketika Dunia Diam, Akar Berbicara

Di ruang-ruang diplomasi, dunia masih bicara tentang “proses perdamaian” dan “solusi dua negara”.
Namun di ladang-ladang Tepi Barat, “proses” itu diterjemahkan dalam bunyi bulldozer dan api malam hari.

Pohon zaitun yang dicabut hari ini bukan sekadar kehilangan ekologis, melainkan penyiksaan spiritual terhadap bangsa.
Sebagaimana seseorang yang dicabut dari rumahnya, tanah pun kehilangan bahasa ketika akarnya hilang.

Namun ada sesuatu yang tidak bisa dicabut: memori.
Akar zaitun yang tertinggal di bawah tanah sering tumbuh lagi, menembus aspal dan pagar kawat.
Seperti doa yang tidak pernah berhenti dikirim.


---

Seni Bertahan di Tanah yang Disangkal

Pameran seni di Ramallah dan Jenin sering menampilkan patung, kanvas, dan instalasi bertema zaitun.
Dalam salah satu pameran di Birzeit, seorang seniman muda menggantungkan ranting-ranting kering di langit-langit ruangan, dengan tanah di bawahnya meneteskan air.
Judulnya: “We still water them.”

Ia berkata:

 “Ini bukan hanya tentang pohon. Ini tentang kami yang terus menyirami ingatan, bahkan ketika tanahnya tidak lagi milik kami.”

Seni, dalam konteks Palestina, bukan pelarian; ia adalah perlawanan spiritual yang tenang.


---

Sebuah Dunia dalam Setetes Minyak

Minyak zaitun Palestina terkenal di seluruh dunia karena warnanya yang keemasan dan rasa yang kuat.
Tapi bagi banyak keluarga, setetes minyak hari ini mewakili harga yang sangat mahal: perjalanan berjam-jam melewati pos pemeriksaan, izin yang bisa dibatalkan kapan saja, dan ketakutan bahwa panen tahun depan mungkin tak akan ada lagi.

Seorang petani di Jenin berkata kepada wartawan Reuters:

“Kami menekan buah zaitun dengan tangan yang gemetar, bukan karena lelah, tapi karena kami tidak tahu apakah kami akan bisa memetiknya lagi.”

Minyak itu, bagi mereka, adalah darah yang sah — hasil kerja keras yang lebih suci daripada emas.


---

Tanah sebagai Kitab yang Dibaca

Jika dunia modern menulis sejarah di atas kertas, Palestina menulisnya di atas tanah.
Setiap pohon yang ditanam adalah huruf, setiap akar adalah kata, dan setiap pembakaran adalah upaya menghapus kalimat kehidupan.

Namun sejarah yang tertulis di tanah tidak bisa dibakar. Ia akan muncul kembali di musim berikutnya, di batang-batang baru yang menembus reruntuhan.
Itulah sebabnya setiap penebangan selalu diikuti penanaman. Setiap kehancuran selalu disusul oleh benih baru.

Dan dari siklus itulah lahir istilah tak resmi di kalangan petani: “Intifadha Zaitun” — perlawanan dengan menanam.


---

Renungan di Bawah Cahaya Senja

Sore di Tepi Barat sering berwarna keemasan, mirip warna minyak zaitun.
Di desa Al-Khalil, seorang imam tua menulis di dinding masjid:

“Barangsiapa menanam zaitun dengan niat mempertahankan tanah, maka setiap buahnya adalah sedekah dan setiap akarnya adalah doa.”

Barangkali itulah bentuk ibadah paling senyap di dunia — menanam di tengah ancaman.
Ketika senjata diarahkan kepadamu, dan kau justru menunduk untuk menanam, itu artinya kau sedang menulis ayat keberanian.


---

Dunia yang Menonton

Sementara itu, di ruang-ruang konferensi internasional, para diplomat membahas laporan tahunan tentang “pelanggaran hak asasi manusia”.
Tapi di Ramallah, seorang ibu mencatat daftar anak-anak yang ditangkap.
Sejak dua tahun terakhir, lebih dari 20.000 warga Palestina ditahan — termasuk 1.600 anak-anak.

Mahkamah Internasional bisa menyebut “pendudukan ini ilegal”,
PBB bisa menyerukan “penghentian permukiman”,
namun di tanah yang retak oleh roda buldoser, hukum internasional tidak berwujud apa-apa.

Keadilan berhenti di atas kertas; keteguhan hidup di bawah akar.


---

Epilog: Akar yang Mengingat

Di desa Abu Falah, seorang anak menatap tanah kering tempat kakeknya dulu menanam zaitun.
Ia bertanya, “Kapan pohon kita tumbuh lagi, Kek?”
Sang kakek menjawab, “Saat dunia berhenti memanggil penjajahan ini dengan nama perdamaian.”

Itulah inti keteguhan Tepi Barat: mereka tidak menunggu keadilan datang, mereka menanamnya.
Setiap pohon adalah doa yang tumbuh perlahan,
setiap akar adalah ingatan yang menolak mati,
dan setiap buah adalah bukti bahwa kehidupan tak bisa sepenuhnya dijajah.

Israel mungkin berhasil mencabut pohon-pohon zaitun,
tapi tidak akan pernah bisa mencabut akar cinta dari tanah yang telah menyerap darah dan doa begitu lama.

Karena di Tepi Barat, bahkan tanah yang terbakar masih punya kehendak untuk menumbuhkan hijau.
Dan dari kehendak itulah lahir bangsa — bangsa yang menanam di bawah bayang-bayang senjata,
namun tetap memandang langit dengan tangan yang berlumur tanah, sambil berkata pelan:
“Kami masih di sini.”

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (361) Al-Qur’an (6) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (2) Kecerdasan (263) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (2) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (3) Nusantara (249) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (568) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (260) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (6) Sirah Penguasa (243) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (160) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (21) Sirah Ulama (157) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)