Kezuhudan Umar Tilmisani
Syeikh Umar Tilmisani, yang wafat pada Mei 1986, berasal dari keluarga kaya. Ayah dan kakeknya adalah pengusaha kain dan permata, sementara beliau sendiri dikenal sebagai seorang pengacara terpandang di Mesir.
Namun, Umar Tilmisani memilih jalan hidup sebagai juru dakwah, murabbi, dan pemimpin yang mendedikasikan hidupnya untuk Allah. Dalam ceramah-ceramahnya, ia senantiasa memotivasi umat agar mengambil tanggung jawab dan peran dalam mengembalikan kejayaan Islam, sesuai dengan posisi dan bakat masing-masing. Baginya, itulah tugas setiap Muslim di setiap masa dan tempat.
Dengan latar belakang kekayaan dan posisi yang strategis, bagaimana kehidupannya?
Abdullah Al-Aqil dalam bukunya Mereka yang Telah Tiada menceritakan bahwa Umar Tilmisani tetap teguh dalam kezuhudannya. Ia tidak pernah berubah sikap, tidak plin-plan, serta tidak tergoda oleh keindahan dunia dan gemerlap jabatan. Ia meninggalkan kemewahan dunia untuk menghadap Allah.
Ia tinggal di sebuah apartemen yang sangat sederhana dan menjalani hidup apa adanya. Ia telah membebaskan dirinya dari kecintaan terhadap dunia, lalu berjuang dan berkorban sepenuhnya untuk agama.
Apartemennya berada di gang yang sempit, dengan tangga yang sudah tua dan usang. Perabotan di dalamnya pun sangat sederhana.
Padahal, ia berasal dari keluarga kaya raya dan memiliki kedudukan penting. Bahkan, para pejabat negara pun mengakui kemuliaan akhlaknya.
Sumber:
Abdullah Al-Aqil, Mereka yang Telah Pergi, Penerbit Al-I'tishom, 2020
0 komentar: