Kecerdasan dan Keilmuan Muhammad Al-Ghazali
Muhammad Al-Ghazali berasal dari keluarga yang agamis sekaligus berlatar belakang pengusaha. Ayahnya adalah seorang hafizh Al-Qur’an, sementara ia sendiri telah menghafal Al-Qur’an sejak usia sepuluh tahun.
Ia dikenal sebagai ulama dan penulis produktif, dengan lebih dari 90 buku yang telah ditulisnya. Gaya penulisannya mendapat pujian dari Hasan Al-Banna, yang berkata, “Saya sangat kagum dengan tulisanmu yang ringkas, maknanya cermat, dan adabnya sopan. Seperti inilah seharusnya menulis. Menulislah dengan dukungan hati yang tulus. Semoga Allah selalu bersamamu.”
Pujian juga datang dari Syaikh Al-Azhar, Dr. Abdul Halim Mahmud, yang mengatakan, “Kita memiliki Al-Ghazali yang masih hidup (Muhammad Al-Ghazali) dan Imam Al-Ghazali, penyusun kitab Ihya.”
Salah satu karya pentingnya adalah Jahiliyah Modern, yang mengingatkan umat bahwa jahiliyah tidak hanya terjadi pada masa sebelum Rasulullah ï·º, tetapi terus hadir dan mengepung manusia di setiap zaman.
Melalui tulisan-tulisannya, ia juga mengingatkan tentang bahaya berbagai ideologi seperti komunisme, sekularisme, freemasonry, ateisme, eksistensialisme, salibisme, dan zionisme, sekaligus menawarkan cara menghadapi dan melawannya.
Muhammad Al-Ghazali juga mengkritik kondisi bangsa-bangsa Timur dengan mengatakan, “Tiada bangsa yang menghinakan diri seperti bangsa Timur, dan tiada yang hak-haknya dirampas sebagaimana dirampasnya hak agamanya.”
Beliau wafat pada Maret 1996 dan dimakamkan di Madinah, di pemakaman Al-Baqi.
Sumber:
Abdullah Al-Aqil, Mereka yang Telah Pergi, Penerbit Al-I'tishom, 2020
0 komentar: