Dari Good to Great ke Good to Eternal: Bisnis Rasulullah ﷺ dan Para Sahabat
---
Prolog: Jejak Bisnis yang Menjadi Peradaban
Jim Collins dalam Good to Great (2001) menyebut bahwa tidak semua perusahaan mampu “meloncat” dari sekadar baik menuju hebat. Ada prinsip-prinsip mendasar yang membedakan mereka yang bertahan jangka panjang dengan mereka yang cepat jatuh. Konsep ini dirayakan sebagai pedoman korporasi modern.
Namun, jauh sebelum buku ini ditulis, dunia Islam sudah memiliki kisah nyata: Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Mereka bukan hanya great secara bisnis, melainkan juga eternal dalam warisan nilai. Jika perusahaan modern berfokus pada laba dan umur panjang, Islam membangun bisnis yang melahirkan keberkahan, membentuk peradaban, dan membawa cahaya spiritual hingga hari ini.
> Allah berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.” (QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini menjadi fondasi: bisnis bukan sekadar duniawi, tapi jembatan menuju akhirat.
---
1. Level 5 Leadership: Kerendahan Hati dan Tekad Besar
Collins menyebut “Level 5 Leader” sebagai pemimpin yang rendah hati sekaligus bertekad kuat.
Rasulullah ﷺ: dikenal dengan julukan al-Amîn (yang terpercaya). Bahkan sebelum diangkat menjadi Nabi, beliau sudah membangun reputasi yang tidak ternilai dalam perdagangan. Saat Khadijah ra. mempercayakan kafilah dagangnya, keuntungan yang didapat berlipat karena kejujurannya.
Abu Bakar ra.: meski seorang pedagang kaya, beliau tetap sederhana. Saat menjadi khalifah, ia tetap berdagang di pasar sampai para sahabat memintanya fokus memimpin.
Utsman bin Affan ra.: pebisnis ulung, namun rendah hati. Ia membeli sumur Raumah dengan harga tinggi, lalu mewakafkannya untuk umat.
Abdurrahman bin Auf ra.: ketika hijrah ke Madinah tanpa harta, ia berkata pada sahabat Anshar yang menawarkan bantuan: “Tunjukkan aku di mana pasar.” Inilah tekad dan kemandirian seorang “Level 5 Leader”.
> Rasulullah ﷺ bersabda:
“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi)
Refleksi modern: John C. Maxwell menyebut dalam The 21 Irrefutable Laws of Leadership bahwa pemimpin besar bukan yang memperkaya dirinya, tetapi yang meninggalkan warisan. Inilah yang dilakukan Rasulullah ﷺ dan para sahabat: mewariskan nilai, bukan sekadar aset.
---
2. First Who, Then What: Orang Tepat Sebelum Strategi
Collins menegaskan: sebelum memutuskan strategi, pastikan orang-orang yang terlibat adalah yang tepat.
Rasulullah ﷺ bermitra dengan Khadijah ra., bukan hanya karena modalnya, tetapi karena integritasnya.
Abu Bakar ra. sebagai sahabat pertama yang masuk Islam, menjadi mitra strategis dakwah dan bisnis.
Abdurrahman bin Auf ra. membangun reputasi di pasar Madinah dengan memilih mitra dagang yang jujur.
> Nabi ﷺ bersabda:
“Allah merahmati seseorang yang toleran ketika menjual, ketika membeli, dan ketika menagih.” (HR. Bukhari)
Pakar marketing: Philip Kotler menyebut dalam Marketing Management bahwa “trust is the currency of modern business.” Kepercayaan adalah mata uang yang tidak lekang, dan inilah yang dipraktikkan Rasulullah ﷺ sejak awal.
---
3. Confront the Brutal Facts: Kejujuran Menghadapi Realitas
Collins berkata, perusahaan hebat berani menghadapi fakta brutal.
Rasulullah ﷺ menolak menutupi cacat barang. Dalam satu peristiwa, beliau memasukkan tangannya ke dalam tumpukan makanan dan menemukan bagian bawahnya basah. Beliau bersabda:
> “Barang siapa menipu, maka ia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim)
Abdurrahman bin Auf ra. menghadapi realitas monopoli Yahudi di pasar Madinah. Ia tidak mengeluh, tapi berusaha keras mencari jalur distribusi alternatif.
Pakar bisnis: Peter Drucker, bapak manajemen modern, berkata: “The greatest danger in times of turbulence is not the turbulence; it is to act with yesterday’s logic.” Artinya, hanya mereka yang jujur menghadapi kenyataan dan beradaptasi yang bisa bertahan.
---
4. Hedgehog Concept: Fokus pada Inti Kekuatan
Collins memperkenalkan konsep “landak”: fokus pada satu hal inti yang menjadi kekuatan utama.
Rasulullah ﷺ: fokus pada integritas sebagai modal dagang.
Abu Bakar ra.: fokus pada reputasi amanah.
Utsman ra.: fokus pada distribusi besar (kafilah dagang, perdagangan internasional).
Abdurrahman bin Auf ra.: fokus pada ketekunan kerja dan diversifikasi perdagangan.
Refleksi modern: Warren Buffett menyebut strategi bisnis terbaik adalah “circle of competence”—fokus pada bidang yang benar-benar dipahami.
---
5. Culture of Discipline: Disiplin Etika dan Eksekusi
Collins menekankan budaya disiplin sebagai pembeda utama perusahaan besar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah)
Para sahabat disiplin dalam menepati akad dan membayar hutang.
Abdurrahman bin Auf ra. disiplin menjaga kerja kerasnya hingga dikenal sebagai pebisnis paling sukses.
Psikologi bisnis: Daniel Goleman dalam Emotional Intelligence menjelaskan bahwa disiplin diri (self-regulation) adalah inti dari kepemimpinan efektif. Itulah yang dicontohkan para sahabat: tidak menunda kewajiban, tidak berlebihan dalam keuntungan.
---
6. Technology Accelerator: Menggunakan Sarana Zaman
Collins menulis bahwa teknologi hanyalah pengungkit, bukan penentu arah.
Rasulullah ﷺ menggunakan jaringan perdagangan Quraisy ke Syam dan Yaman.
Utsman ra. mengembangkan armada kapal dagang lintas Laut Merah.
Abdurrahman bin Auf ra. memanfaatkan sistem pasar Madinah yang bebas dari monopoli.
Pakar korporasi: Jack Welch, CEO legendaris General Electric, menyebut: “Technology is a tool. But people and values are what matter most.” Nilai inilah yang menjadikan teknologi sekadar pengungkit, bukan tujuan.
---
7. Beyond Good to Great: Menuju Good to Eternal
Di sinilah perbedaan utama:
Good to Great berbicara tentang umur perusahaan ratusan tahun.
Rasulullah ﷺ dan sahabat membangun bisnis yang berbuah peradaban ribuan tahun.
Karena ada satu dimensi yang tak disentuh teori bisnis modern: spiritualitas.
> Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya harta ini hijau lagi manis. Barang siapa mengambilnya dengan cara yang benar, ia akan diberkahi. Barang siapa mengambilnya tidak dengan cara yang benar, maka tidak akan diberkahi baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pakar keuangan Islam: Muhammad Nejatullah Siddiqi menyebut bahwa tujuan ekonomi Islam bukan sekadar efisiensi dan pertumbuhan, tapi falah (kebahagiaan dunia-akhirat). Inilah yang menjadikan bisnis Rasulullah ﷺ dan sahabat bukan hanya great, melainkan eternal.
---
Epilog: Jalan Bisnis Menuju Surga
Bayangkan, Utsman ra. dengan sumurnya, Abdurrahman bin Auf ra. dengan infaknya, Abu Bakar ra. dengan pengorbanannya, Rasulullah ﷺ dengan integritasnya. Mereka semua membuktikan bahwa bisnis bukan jalan menuju kerakusan, melainkan jalan menuju surga.
Jika Jim Collins menulis tentang perusahaan yang melompat dari Good to Great, sejarah Islam menulis kisah yang lebih agung: perjalanan dari Good to Eternal.
Karena harta yang dikelola dengan iman tidak hanya mengubah pasar, tapi juga menyalakan cahaya peradaban.
0 komentar: