Wafatnya Para Nabi dan Rasul: Mengapa Nasib Bani Israil dan Umat Islam Sangat Berbeda?
Sejarah sering kali berubah ketika seorang pemimpin besar wafat. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang terjadi setelah itu?
Banyak peradaban mampu melahirkan tokoh besar. Namun, hanya sedikit yang mampu mempertahankan nilai-nilai yang diwariskannya. Al-Qur'an mengajak kita tidak hanya mempelajari kehidupan para nabi, tetapi juga memperhatikan bagaimana nasib umat mereka setelah para nabi tersebut tiada.
Jika jejak sejarah Bani Israil ditelusuri, tampak sebuah pola yang berulang. Sebaliknya, sejarah awal umat Islam memperlihatkan pola yang sangat berbeda.
Dari Kemuliaan Menuju Kehinaan
Pasca Wafatnya Nabi Yusuf AS
Bani Israil pernah mencapai kedudukan yang sangat terhormat di Mesir. Melalui kebijakan Nabi Yusuf, Mesir berhasil melewati bencana kelaparan yang dahsyat. Keluarga Nabi Ya'qub pun memperoleh perlindungan dan penghormatan.
Namun, beberapa generasi setelah Nabi Yusuf wafat, muncul rezim baru yang tidak lagi mengenal jasa beliau. Bani Israil berubah dari tamu yang dihormati menjadi kaum yang diperbudak di bawah kekuasaan Fir'aun.
Setelah Nabi Musa AS
Melalui Nabi Musa, Allah membebaskan Bani Israil dari penindasan Fir'aun. Laut terbelah, musuh dihancurkan, dan jalan menuju Tanah Suci terbuka.
Namun, kebebasan tidak selalu melahirkan ketaatan.
Mereka berulang kali membangkang, enggan memasuki negeri yang diperintahkan Allah, bahkan sering menentang nabi mereka sendiri. Akibatnya, Allah menetapkan mereka tersesat di Padang Tih selama empat puluh tahun (QS. Al-Ma'idah: 26).
Setelah Nabi Sulaiman AS
Pada masa Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, Bani Israil mencapai puncak kekuasaan, keamanan, dan kemakmuran.
Namun, setelah Nabi Sulaiman wafat, kerajaan terpecah menjadi dua. Perselisihan politik melemahkan persatuan, penyimpangan agama kembali muncul, dan konflik antarsesama semakin tajam.
Kelemahan internal itu akhirnya membuka jalan bagi bangsa-bangsa asing. Kerajaan Babilonia di bawah Nebukadnezar menyerbu Yerusalem, menghancurkan Baitul Maqdis, dan membawa banyak penduduk ke pembuangan.
Setelah Nabi Isa AS
Al-Qur'an menggambarkan bahwa Bani Israil berselisih tentang ajaran Nabi Isa. Sebagian menerima, sebagian menolak, bahkan sebagian merencanakan pembunuhan terhadap beliau.
Dalam perjalanan sejarah berikutnya, Yerusalem dihancurkan oleh pasukan Romawi di bawah Titus pada tahun 70 M. Banyak orang Yahudi tercerai-berai ke berbagai wilayah.
Apa Pola yang Berulang?
Al-Qur'an menjelaskan bahwa berbagai musibah yang menimpa Bani Israil bukan terjadi tanpa sebab.
Allah berfirman:
«"...Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas."
(QS. Al-Baqarah: 61)»
Allah juga mengingatkan:
«"Sungguh, kamu pasti akan berbuat kerusakan di bumi dua kali dan pasti akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar."
(QS. Al-Isra': 4)»
Al-Qur'an mengaitkan kemunduran mereka dengan pembangkangan terhadap wahyu, perpecahan, serta penyimpangan dari ajaran para nabi.
Bagaimana dengan Umat Muhammad SAW?
Wafatnya Rasulullah SAW juga merupakan ujian yang sangat berat.
Bahkan Al-Qur'an telah mengingatkan:
«"Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu akan berbalik ke belakang?"
(QS. Ali 'Imran: 144)»
Namun, para sahabat tidak berhenti pada kesedihan. Mereka segera menjaga persatuan umat melalui kepemimpinan Khulafaur Rasyidin dan tetap berpegang teguh kepada Al-Qur'an serta sunnah Rasulullah SAW.
Dalam beberapa dekade berikutnya, dakwah Islam berkembang ke Persia, Syam, Mesir, Afrika Utara, hingga kemudian menjangkau sebagian wilayah Eropa dan Asia melalui berbagai dinasti Islam.
Keberhasilan itu tidak semata-mata disebabkan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kuatnya komitmen generasi awal terhadap ajaran Islam.
Allah telah menjanjikan:
«"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi..."
(QS. An-Nur: 55)»
Pelajaran Besar dari Sejarah
Perbedaan antara dua perjalanan sejarah tersebut bukan terletak pada wafat atau hidupnya seorang nabi.
Yang menentukan adalah bagaimana umat memperlakukan warisan risalah setelah nabi mereka tiada.
Ketika wahyu ditinggalkan, perselisihan dibiarkan tumbuh, dan hawa nafsu mengalahkan petunjuk Allah, sebuah umat kehilangan arah meskipun pernah mencapai puncak kejayaan.
Sebaliknya, ketika sebuah umat tetap menjaga Al-Qur'an, menegakkan keadilan, memelihara persatuan, dan melanjutkan perjuangan para nabi, wafatnya seorang pemimpin tidak menghentikan perjalanan peradaban.
Sejarah para nabi menunjukkan bahwa ujian terbesar sebuah umat bukan ketika memiliki pemimpin besar, melainkan ketika pemimpin itu telah tiada.
Pada saat itulah akan tampak apakah mereka benar-benar mengikuti risalah yang dibawa sang nabi, atau hanya bergantung kepada sosoknya.
0 komentar: