Mengapa Al-Qur'an dibuka dengan kalimat Alhamdulillāhi Rabbil 'Ālamīn?
Mengapa bukan diawali dengan perintah, larangan, atau ancaman? Mengapa Allah justru mengajarkan pujian sebelum menjelaskan hukum-hukum-Nya?
Seolah Allah sedang mengajarkan satu kesimpulan terlebih dahulu, sebelum manusia menyaksikan seluruh perjalanan hidupnya: apa pun yang Allah tetapkan, pada akhirnya akan bermuara pada "Alhamdulillah".
Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kasih sayang itulah yang menaungi seluruh nama dan sifat-Nya. Karena itu, tidak ada satu pun ketetapan-Nya yang lahir tanpa hikmah, tidak ada satu pun keputusan-Nya yang lepas dari rahmat.
Allah menciptakan segala sesuatu dengan kebenaran, memelihara seluruh makhluk dengan ilmu yang sempurna, dan tidak pernah menzalimi seorang pun.
Bukankah Allah telah berfirman,
«"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
(QS. Al-Baqarah: 286)»
Kalau begitu, mengapa kita masih mengira bahwa ujian kita terlalu berat?
Mungkinkah yang berat bukan ujiannya, tetapi cara kita memandangnya?
Setiap ujian sesungguhnya telah diukur oleh Allah Yang Maha Mengetahui kemampuan hamba-Nya. Bahkan sering kali, ujian yang terasa pahit hari ini justru menjadi jalan tercepat menuju ampunan, kedewasaan, dan kebahagiaan akhirat.
Lalu mengapa kita masih sering mengeluh?
Barangkali karena kita lebih sibuk melihat apa yang hilang daripada apa yang sedang Allah siapkan.
Di sinilah makna Alhamdulillah menjadi sangat dalam.
Rabb berarti Yang Menciptakan, Yang Mendidik, Yang Memelihara, dan Yang Menyempurnakan. Ketika kita mengucapkan Alhamdulillah, sesungguhnya kita sedang mengakui bahwa seluruh proses pendidikan Allah kepada hamba-Nya adalah baik, meskipun belum seluruhnya kita pahami.
Bukankah Allah juga telah mengingatkan,
«"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 216)»
Berapa banyak kegagalan yang ternyata menyelamatkan kita?
Berapa banyak kehilangan yang justru mengantarkan kepada nikmat yang lebih besar?
Berapa banyak doa yang tertunda, tetapi ternyata sedang dipersiapkan dengan cara yang jauh lebih indah?
Ketika semua itu telah berlalu, bukankah hati akhirnya berkata, "Alhamdulillah..."
Lihatlah Nabi Ayyub 'alaihissalam.
Beliau kehilangan harta, keluarga, kesehatan, bahkan harus menjalani ujian yang sangat panjang. Namun lisannya tidak dipenuhi keluhan kepada Allah. Yang keluar justru doa penuh adab,
«"Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang."
(QS. Al-Anbiya': 83)»
Beliau tidak kehilangan keyakinan bahwa rahmat Allah lebih besar daripada penderitaannya.
Demikian pula para salihin.
Mereka tidak mengukur kehidupan dari banyaknya kenikmatan, tetapi dari dekatnya mereka kepada Allah.
Mereka tidak bertanya, "Mengapa aku diuji?"
Mereka lebih memilih bertanya, "Apa yang Allah ingin ajarkan kepadaku melalui ujian ini?"
Lalu bagaimana jika hari ini kita masih sulit mengucapkan Alhamdulillah atas sebagian takdir?
Mungkin bukan karena takdir Allah yang keliru.
Mungkin karena ego kita masih ingin semua berjalan sesuai keinginan sendiri.
Selama hawa nafsu menjadi ukuran kebahagiaan, kita akan mudah kecewa. Namun ketika ridha menjadi ukuran hidup, kita akan menemukan ketenangan bahkan di tengah ujian.
Itulah yang disebut Al-Qur'an sebagai jiwa yang tenang.
«"Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai."
(QS. Al-Fajr: 27–28)»
Pada akhirnya, setiap manusia akan sampai di penghujung perjalanan.
Saat itu jabatan telah selesai.
Harta telah ditinggalkan.
Pujian manusia telah berhenti.
Yang tersisa hanyalah hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Lalu, apakah kesimpulan seluruh perjalanan itu?
Bukan penyesalan.
Bukan kemarahan.
Bukan pula kebanggaan terhadap dunia.
Melainkan satu kalimat yang sejak awal diajarkan Allah dalam Al-Fatihah:
Alhamdulillāhi Rabbil 'Ālamīn.
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Itulah kesimpulan hidup seorang mukmin.
Semakin panjang usianya, semakin banyak ia melihat hikmah.
Semakin banyak hikmah yang ia lihat, semakin mudah lisannya mengucapkan Alhamdulillah.
Dan ketika ruh meninggalkan jasad, semoga kalimat itu bukan sekadar ucapan di bibir, melainkan kesaksian hati atas seluruh perjalanan hidupnya.
Kesimpulan hidup hanya satu: Alhamdulillah.
0 komentar: