Semuanya Karya Besar
Al-Qur'an dipenuhi kisah para nabi yang menghadapi kerajaan tiran, bencana besar, dan perubahan sejarah dunia. Namun, di sela-sela narasi besar itu, Allah justru mengabadikan sejumlah kisah yang tampak sederhana, bahkan hanya berupa fragmen pendek kehidupan seseorang.
Mengapa?
Jika ukuran kebesaran adalah luasnya wilayah kekuasaan, besarnya peperangan, atau panjangnya catatan sejarah, maka kisah-kisah itu mungkin tidak akan mendapat tempat khusus dalam Al-Qur'an. Tetapi Allah menilainya dengan ukuran yang berbeda.
Perhatikan Nabi Khidir. Kisahnya hanya muncul dalam sepotong perjalanan Nabi Musa AS di Surah Al-Kahfi. Perannya tampak singkat: menemani Nabi Musa menyaksikan tiga peristiwa yang pada awalnya tidak dapat dipahami. Namun, dari penggalan kisah yang pendek itu lahir pelajaran besar tentang kesabaran, hikmah di balik takdir, dan keterbatasan ilmu manusia. Dalam khazanah tasawuf, kisah ini bahkan menjadi salah satu pijakan pembahasan mengenai ilmu yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya.
Lihat pula keluarga Imran. Tidak ada penaklukan negeri atau kemenangan militer. Yang diabadikan justru nazar seorang ibu yang mewakafkan anaknya untuk beribadah kepada Allah, lalu perjuangan mendidik Maryam, serta amanah yang dipikul Nabi Zakaria AS dalam membimbingnya. Dari rumah sederhana itulah lahir salah satu perempuan paling mulia dalam sejarah manusia.
Demikian pula Lukman Al-Hakim. Al-Qur'an tidak menceritakan kerajaan yang dipimpinnya ataupun kekayaan yang dimilikinya. Yang Allah abadikan justru dialog seorang ayah dengan putranya. Nasihat tentang tauhid, akhlak, ibadah, kesabaran, dan kerendahan hati menjadi warisan pendidikan yang melintasi ruang dan waktu. Percakapan keluarga itu terus hidup hingga hari ini sebagai fondasi pendidikan generasi.
Begitu juga Maryam. Al-Qur'an tidak berfokus pada perjalanan hidupnya secara keseluruhan, melainkan pada masa-masa paling berat dalam kehidupannya: mengandung tanpa suami, melahirkan sendirian di bawah pohon kurma, lalu menghadapi tuduhan keji dari kaumnya. Dari ujian pribadi itulah lahir keteladanan tentang kesucian, kesabaran, dan tawakal yang diabadikan sepanjang zaman.
Masih banyak kisah serupa.
Ashabul Kahfi hanyalah sekelompok pemuda yang memilih mempertahankan akidah daripada mengikuti arus zaman. Asiyah, istri Fir'aun, tidak memimpin revolusi, tetapi menjaga keimanan di tengah istana tirani. Ibunda Nabi Musa hanya melakukan satu tindakan yang sangat berat: menghanyutkan bayinya ke Sungai Nil karena taat kepada petunjuk Allah. Hajar berlari antara Safa dan Marwah demi mencari setetes air untuk putranya. Langkah-langkahnya yang sederhana justru diabadikan menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yang dikerjakan jutaan kaum muslimin setiap tahun.
Semua kisah itu memperlihatkan satu pola yang sama.
Allah tidak hanya mengabadikan mereka yang mengubah dunia melalui kekuasaan, tetapi juga mereka yang mengubah kehidupan melalui keikhlasan.
Al-Qur'an seakan mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki panggung pengabdian yang berbeda-beda. Ada yang memimpin umat. Ada yang mendidik anak. Ada yang menjaga amanah. Ada yang menemani perjalanan orang lain. Ada pula yang hanya melakukan satu amal kecil, tetapi dilakukan dengan hati yang sepenuhnya ikhlas.
Karena itu, ukuran sebuah karya tidak selalu ditentukan oleh besarnya sorotan manusia.
Allah berfirman:
"Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya." (QS. Az-Zalzalah: 7)
Dan Rasulullah ï·º bersabda bahwa menyingkirkan gangguan dari jalan merupakan salah satu cabang keimanan.
Dengan demikian, karya besar tidak selalu berupa membangun peradaban, memimpin negara, atau menorehkan nama dalam sejarah. Karya besar bisa berupa mendidik seorang anak hingga menjadi saleh. Menjaga amanah yang tidak diketahui siapa pun. Menguatkan hati seseorang yang hampir putus asa. Bahkan sekadar menyingkirkan duri dari jalan agar orang lain dapat melintas dengan aman.
Semua itu menjadi besar ketika lahir dari hati yang ikhlas, mengikuti petunjuk Allah, dan meneladani Rasulullah ï·º.
Barangkali itulah pesan yang ingin disampaikan Al-Qur'an.
Bahwa tidak ada amal yang benar-benar kecil.
Yang kecil hanyalah pandangan manusia terhadapnya.
0 komentar: