Ilmu Pembuka Tabir Qadha dan Qadar dari Samudera Sejarah
Mengapa Allah mengulang kisah-kisah para nabi, umat terdahulu, kemenangan, dan kehancuran bangsa-bangsa berkali-kali dalam Al-Qur'an?
Mengapa Rasulullah ï·º berkali-kali menerima wahyu yang berisi sejarah, padahal beliau sedang menghadapi persoalan nyata di zamannya?
Mengapa para sahabat mendengarkan kisah-kisah itu dengan penuh perhatian, seolah-olah sedang menerima petunjuk untuk menghadapi hari esok?
Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita kepada sebuah kenyataan penting.
Sejarah dalam Al-Qur'an bukanlah arsip masa lalu.
Ia adalah peta kehidupan.
Ia bukan sekadar menceritakan apa yang telah terjadi, tetapi menyingkap hukum-hukum Allah (sunnatullah) yang terus bekerja sepanjang zaman.
Di sinilah sejarah menjadi jalan menuju apa yang oleh sebagian ulama tasawuf disebut sebagai kasyaf—tersingkapnya tabir sehingga seseorang mampu membaca kehidupan dengan cahaya petunjuk Allah. Yang dimaksud bukan pengetahuan gaib tentang masa depan, melainkan kejernihan memahami pola-pola yang Allah tunjukkan melalui wahyu dan sejarah.
---
Sejarah Bukan untuk Dikagumi
Banyak orang mempelajari sejarah agar dikenal sebagai sejarawan.
Sebagian mempelajarinya untuk menjadi ahli strategi, politikus, sosiolog, antropolog, atau pembicara yang memukau.
Semua itu dapat menjadi manfaat sampingan.
Namun, Al-Qur'an memperlihatkan tujuan yang jauh lebih dalam.
Rasulullah ï·º tidak menerima kisah para nabi agar menjadi ahli sejarah.
Beliau menerima kisah-kisah itu untuk meneguhkan hati, menguatkan dakwah, meluruskan cara berpikir, dan membimbing umat menghadapi realitas yang sedang mereka jalani.
Sejarah dalam Al-Qur'an selalu berfungsi sebagai petunjuk, bukan sekadar informasi.
---
Mengapa Rasulullah Menunggu Kisah Itu?
Ketika tekanan kaum Quraisy semakin berat, Allah menurunkan kisah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Yusuf, dan para rasul lainnya.
Bukan karena Allah ingin menambah pengetahuan Rasulullah tentang masa lalu.
Melainkan karena setiap kisah membawa jawaban atas persoalan yang sedang dihadapi.
Melalui Nabi Nuh, Allah mengajarkan kesabaran.
Melalui Nabi Ibrahim, Allah mengajarkan keteguhan tauhid.
Melalui Nabi Yusuf, Allah memperlihatkan bahwa jalan menuju kemenangan sering kali melewati pengkhianatan, kesendirian, dan penjara.
Melalui Nabi Musa, Allah menunjukkan bahwa sebesar apa pun kekuasaan Fir'aun, ia tetap berada di bawah kehendak-Nya.
Sejarah menjadi penyangga ruhani bagi Rasulullah ï·º.
---
Bagaimana Para Sahabat Mendengar Sejarah?
Para sahabat tidak mendengar kisah Al-Qur'an sebagai hiburan.
Mereka mendengarnya sebagai petunjuk hidup.
Ketika turun kisah tentang kaum yang dibinasakan, mereka tidak sibuk menghakimi kaum itu.
Mereka bertanya kepada diri sendiri:
"Apakah penyakit yang sama ada pada diri kami?"
Ketika turun kisah kemenangan para nabi, mereka tidak sekadar mengagumi.
Mereka mencari jalan agar layak memperoleh pertolongan Allah sebagaimana para nabi dan pengikutnya.
Karena itu, setiap kisah selalu melahirkan perubahan amal.
Ilmu berubah menjadi tindakan.
Pengetahuan berubah menjadi ketakwaan.
---
Membaca Pola, Bukan Sekadar Peristiwa
Di sinilah letak hakikat sejarah.
Peristiwa selalu berubah.
Tokohnya berganti.
Negaranya berbeda.
Teknologinya berkembang.
Namun pola-pola besarnya tetap sama.
Kesombongan melahirkan kehancuran.
Kezaliman mempercepat keruntuhan.
Kemewahan yang melalaikan menghancurkan sebuah bangsa.
Kesabaran melahirkan kemenangan.
Tauhid melahirkan keberanian.
Pengkhianatan melemahkan perjuangan.
Inilah yang terus diulang Al-Qur'an.
Bukan untuk memenuhi lembaran mushaf, tetapi agar manusia mengenali hukum-hukum Allah yang terus berlaku sepanjang sejarah.
---
Ketika Tabir Mulai Tersingkap
Orang yang memahami sejarah melalui cahaya Al-Qur'an akan mulai melihat kehidupan secara berbeda.
Ia tidak mudah terkejut.
Ia tidak mudah hanyut oleh propaganda.
Ia tidak mudah mabuk oleh kemenangan.
Ia tidak mudah putus asa ketika menghadapi kekalahan.
Bukan karena ia mengetahui perkara gaib.
Tetapi karena ia memahami bahwa Allah telah memperlihatkan pola-pola kehidupan melalui sejarah para nabi dan umat terdahulu.
Ia menyadari bahwa pergantian tokoh tidak mengubah hukum Allah.
Fir'aun boleh berganti nama.
Qarun boleh berganti bentuk kekayaan.
Namrud boleh berganti sistem kekuasaan.
Namun kesombongan tetap memiliki akibat yang sama.
Demikian pula keimanan, kesabaran, dan kejujuran akan selalu melahirkan buah yang sama menurut kehendak Allah.
---
Ketika Dunia Menjadi Terlalu Bising
Banyak manusia habis energinya memperdebatkan persoalan-persoalan kecil.
Hari ini mereka bertengkar tentang politik.
Esok mereka bertengkar tentang jabatan.
Lusa mereka bertengkar tentang harta.
Padahal sejarah memperlihatkan bahwa semua itu telah berulang ribuan kali.
Yang berubah hanyalah nama para pelakunya.
Kesadaran ini bukan membuat seorang mukmin menjadi pasif.
Sebaliknya, ia membuatnya fokus.
Ia tidak lagi menghabiskan umur pada perkara-perkara yang tidak menentukan keselamatan akhirat.
Ia belajar membedakan antara yang abadi dan yang sementara.
---
Kasyaf dari Samudera Sejarah
Inilah yang dapat disebut sebagai kasyaf sejarah.
Bukan kemampuan mengetahui perkara gaib.
Bukan pula kemampuan membaca masa depan secara mistis.
Melainkan tersingkapnya tabir sehingga seseorang mampu melihat kehidupan dengan perspektif wahyu.
Ia melihat sejarah sebagai cermin sunnatullah.
Ia melihat setiap peristiwa sebagai bagian dari pendidikan Allah.
Ia melihat bahwa qadha dan takdir Allah berjalan dengan hikmah yang tidak acak.
Semakin dalam seseorang menyelami samudera sejarah Al-Qur'an, semakin sederhana orientasi hidupnya.
Ia tidak lagi mengejar kemasyhuran.
Tidak mengejar kekuasaan.
Tidak mengejar pujian manusia.
Karena ia mengetahui bahwa seluruh peradaban, kerajaan, dan tokoh besar akhirnya hanya menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya.
---
Fokus yang Tidak Pernah Berubah
Pada akhirnya sejarah mengajarkan satu kenyataan yang sangat sederhana.
Yang tersisa bukanlah nama besar.
Bukan pula kemegahan bangunan.
Bukan luasnya kekuasaan.
Yang menentukan hanyalah tauhid dan amal saleh.
Segala peristiwa hanyalah jalan yang Allah pilih untuk menguji keduanya.
Karena itu, semakin dalam seseorang memahami sejarah, semakin sedikit ia disibukkan oleh hiruk-pikuk dunia.
Semakin besar pula kerinduannya kepada Allah, Sang Perancang seluruh sejarah.
Di situlah sejarah tidak lagi menjadi cerita.
Ia berubah menjadi cahaya yang menerangi perjalanan hidup.
Dan di situlah tabir mulai tersingkap.
Bukan tabir masa depan.
Melainkan tabir yang selama ini menutupi hati dari melihat kebesaran Allah dalam setiap perjalanan zaman.
0 komentar: