Kisah-Kisah Air dalam Al-Qur'an
Tanpa air, masih adakah kehidupan?
Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi hingga hari ini menjadi pusat perhatian para ilmuwan dunia. Setiap kali teleskop menemukan planet baru, pertanyaan pertama yang diajukan bukanlah apakah di sana terdapat bangunan, tumbuhan, atau makhluk hidup. Yang dicari terlebih dahulu adalah satu hal: adakah air?
Jika ditemukan air, muncul harapan adanya kehidupan. Jika tidak, planet itu hampir pasti hanya menjadi hamparan batu yang mati.
Fakta ilmiah itu ternyata telah ditegaskan Al-Qur'an lebih dari empat belas abad yang lalu. Allah berfirman,
«"...Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup..." (QS. Al-Anbiya': 30).»
Air bukan sekadar senyawa H₂O. Ia adalah fondasi kehidupan, penopang seluruh makhluk, sekaligus salah satu tanda terbesar kekuasaan Allah. Hampir seluruh tubuh makhluk hidup mengandung air. Tanah yang tandus berubah subur karena air. Peradaban lahir, berkembang, bahkan runtuh karena air.
Ketika jejak air ditelusuri dalam Al-Qur'an, muncul sebuah pola yang menarik. Air selalu hadir pada titik-titik penting sejarah manusia: saat kehidupan dimulai, ketika sebuah peradaban dibangun, saat mukjizat diturunkan, ketika azab datang, hingga gambaran kenikmatan surga.
Air yang Mengubah Peta Peradaban
Salah satu kisah paling dramatis adalah perjalanan Ibunda Hajar bersama putranya, Nabi Ismail. Mereka ditinggalkan di sebuah lembah tandus yang bahkan tidak memiliki tanaman, sebagaimana doa Nabi Ibrahim dalam QS. Ibrahim ayat 37.
Secara logika, kawasan itu mustahil menjadi pusat kehidupan. Namun, justru di tempat itulah Allah memancarkan air Zamzam.
Sejak saat itu, arah sejarah berubah. Suku-suku Arab mulai berdatangan untuk mendapatkan akses terhadap air. Lembah yang semula sunyi berkembang menjadi permukiman, lalu menjadi pusat perdagangan, dan akhirnya menjadi kota suci Mekah.
Air Zamzam bukan hanya menghilangkan dahaga. Ia mengubah peta sosial, ekonomi, bahkan politik Jazirah Arab. Penguasaan sumber air menjadikan keturunan Nabi Ismail memperoleh kedudukan yang dihormati oleh berbagai kabilah.
Air yang Melahirkan Kemakmuran
Kisah berikutnya ditemukan pada kaum Saba'.
Al-Qur'an menggambarkan negeri ini sebagai kawasan yang memiliki dua kebun besar di kanan dan kiri. Kemakmuran mereka bukan terjadi secara kebetulan, melainkan karena kemampuan mengelola air melalui bendungan besar Ma'rib.
Selama air dikelola dengan baik, negeri itu menjadi salah satu pusat peradaban paling makmur di kawasan Arabia.
Namun, ketika mereka berpaling dari Allah, bendungan itu hancur. Air yang dahulu menjadi sumber kehidupan berubah menjadi banjir besar (Sail al-'Arim) yang menghancurkan seluruh sistem kehidupan mereka (QS. Saba': 15–16).
Peristiwa itu menunjukkan bahwa keberhasilan teknologi tidak pernah terlepas dari tanggung jawab moral. Air dapat menjadi rahmat, tetapi juga dapat berubah menjadi bencana.
Air sebagai Ukuran Kekayaan
Nilai air pernah dijelaskan melalui dialog yang terkenal antara Khalifah Harun ar-Rasyid dan ulama Ibnu Sammak.
Ibnu Sammak bertanya, "Wahai Amirul Mukminin, jika engkau sangat kehausan dan dunia hanya menyisakan segelas air, dengan apa engkau akan menukarnya?"
Harun ar-Rasyid menjawab, "Dengan seluruh kerajaanku."
Pertanyaan berikutnya lebih mengguncang.
"Jika air itu telah diminum tetapi tidak dapat keluar dari tubuhmu, dengan apa engkau akan menebusnya?"
Harun kembali menjawab, "Dengan seluruh kekuasaanku."
Ibnu Sammak pun berkata, "Kalau begitu, kerajaan yang nilainya tidak lebih mahal daripada segelas air, mengapa manusia begitu membanggakannya?"
Dialog singkat itu mengubah cara pandang terhadap air. Kekuasaan ternyata dapat kehilangan nilainya ketika manusia kehilangan seteguk air.
Air sebagai Mukjizat Para Nabi
Di dalam Al-Qur'an dan hadis, air juga menjadi media berbagai mukjizat.
Nabi Musa memukul batu dengan tongkatnya. Dari batu yang keras memancar dua belas mata air untuk memenuhi kebutuhan Bani Israil (QS. Al-Baqarah: 60).
Nabi Ayyub yang bertahun-tahun diuji penyakit diperintahkan menghentakkan kakinya ke tanah. Dari sana keluar mata air yang menjadi sarana mandi dan minum hingga Allah menyembuhkan penyakitnya serta mengembalikan kesehatan, keluarga, dan keberkahannya (QS. Shad: 42).
Rasulullah SAW pun berulang kali diperlihatkan mukjizat air. Dalam beberapa hadis sahih, air memancar dari sela-sela jemari beliau sehingga mampu memenuhi kebutuhan ratusan sahabat. Pada kesempatan lain, sedikit air menjadi cukup untuk seluruh rombongan. Bahkan seekor kambing yang semula tidak mengeluarkan susu, setelah diusap oleh Rasulullah SAW, mengeluarkan susu yang melimpah.
Mukjizat-mukjizat itu memperlihatkan bahwa Allah tidak terikat oleh hukum sebab-akibat yang dipahami manusia. Air tunduk sepenuhnya kepada kehendak-Nya.
Air sebagai Gambaran Kenikmatan Abadi
Menariknya, ketika Al-Qur'an menggambarkan surga, salah satu pemandangan yang paling sering diulang adalah sungai-sungai yang mengalir.
Allah menggambarkan sungai air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai susu, sungai madu, dan sungai minuman yang lezat bagi para penghuninya (QS. Muhammad: 15).
Bagi masyarakat padang pasir yang setiap hari bergelut dengan kekeringan, gambaran itu merupakan simbol kenikmatan tertinggi. Air menjadi lambang kehidupan yang tidak pernah habis.
Pertanyaan Besar bagi Manusia Modern
Kini manusia mampu membangun bendungan raksasa, mengebor sumur hingga ribuan meter, mengubah air laut menjadi air tawar, bahkan mengirim wahana untuk mencari jejak air di planet lain.
Namun, pertanyaan mendasarnya tetap sama.
Mampukah manusia menciptakan setetes air dari ketiadaan?
Mampukah manusia menurunkan hujan kapan pun ia menghendakinya?
Mampukah manusia memerintahkan mata air keluar dari batu sebagaimana mukjizat Nabi Musa?
Semakin maju ilmu pengetahuan, justru semakin tampak bahwa manusia hanya mampu mengelola air yang telah Allah ciptakan. Bukan menciptakannya.
Di sinilah Al-Qur'an mengajak manusia merenung. Air bukan sekadar sumber daya alam, tetapi tanda kekuasaan Allah. Ia dapat menjadi rahmat bagi orang yang bersyukur, menjadi ujian bagi yang lalai, menjadi sarana mukjizat bagi para nabi, bahkan menjadi sebab lahir dan runtuhnya sebuah peradaban.
Jejak air dalam Al-Qur'an pada akhirnya mengajarkan satu kesimpulan besar: siapa yang mampu menjaga amanah air sesuai petunjuk Allah, ia sedang menjaga kehidupan. Sebaliknya, siapa yang menyia-nyiakannya, sedang membuka jalan menuju keruntuhan peradabannya sendiri.
0 komentar: