Perubahan Geopolitik Baru: Arab–Iran Menghangat, Israel–AS Menegang?
Pertemuan para menteri luar negeri di Riyadh menandai babak baru dinamika geopolitik Timur Tengah. Dalam forum yang melibatkan Hakan Fidan serta para Menlu negara Teluk, muncul kekhawatiran bahwa konflik antara Iran dan aliansi Israel–Amerika Serikat akan berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Menurut laporan Anadolu Agency dan dikutip pula oleh Republika, para pemimpin kawasan memperkirakan perang dapat berlanjut beberapa pekan ke depan. Negosiasi gencatan senjata dinilai sulit tercapai, terutama karena adanya dorongan kuat dari Benjamin Netanyahu agar Donald Trump tidak menghentikan operasi militer.
Fidan menegaskan bahwa Israel berupaya memengaruhi kebijakan Washington agar tidak membuka jalur damai. Hal ini justru memunculkan indikasi kesenjangan kepentingan antara Israel dan AS, sebagaimana juga disorot dalam sejumlah analisis media Barat seperti Reuters dan Al Jazeera, yang mencatat meningkatnya perbedaan pendekatan dalam menangani konflik Iran.
Di sisi lain, negara-negara Arab menegaskan posisi netral. Mereka tidak mengizinkan wilayah udara maupun pangkalan militernya digunakan untuk menyerang Iran. Namun, mereka juga mengecam serangan balasan Iran yang menyasar infrastruktur sipil di kawasan Teluk. Sikap ini menunjukkan upaya menjaga keseimbangan di tengah eskalasi konflik.
Meski demikian, dinamika baru mulai terlihat. Para pemimpin Arab, menurut Fidan, mulai mempertimbangkan kemungkinan kerja sama pertahanan dengan Iran di masa depan. Ini sejalan dengan pandangan dalam literatur hubungan internasional tentang balance of power, di mana negara-negara cenderung menyesuaikan aliansi demi stabilitas kawasan.
Perubahan ini mengindikasikan pergeseran penting: dari ketergantungan penuh pada payung keamanan Barat menuju opsi multipolar. Jika tren ini berlanjut, Timur Tengah berpotensi memasuki fase baru—di mana Iran tidak lagi semata dipandang sebagai ancaman, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam arsitektur keamanan regional.
0 komentar: