Jürgen Habermas: Humanis, Kecuali dalam Penderitaan Palestina
Jürgen Habermas (1929–2026) dikenal sebagai salah satu filsuf paling berpengaruh dalam beberapa dekade terakhir. Ia memberi kontribusi besar dalam filsafat, sosiologi, studi komunikasi, dan ilmu politik, serta menjadi tokoh utama dalam tradisi Sekolah Frankfurt. Melalui Teori Tindakan Komunikatif, ia mengadvokasi rasionalitas, demokrasi, dan dialog bebas sebagai fondasi masyarakat modern.
Namun, setelah wafatnya, muncul perdebatan tajam, khususnya di kalangan intelektual Arab, terkait sikap politiknya terhadap Palestina. Habermas dinilai menjunjung tinggi rasionalitas Barat, tetapi mengabaikan penderitaan rakyat Palestina. Dukungan yang ia berikan terhadap Israel, termasuk dalam konteks kehancuran Gaza, dipandang bertentangan dengan prinsip-prinsip universal yang selama ini ia bela.
Kontradiksi ini semakin terlihat jika dibandingkan dengan sikapnya dalam kasus lain, seperti penolakannya terhadap Penghargaan Buku Sheikh Zayed pada 2021 karena alasan kebebasan dan keadilan. Dalam kasus Palestina, ia justru menolak menyebut kekerasan di Gaza sebagai genosida, meskipun korban sipil terus berjatuhan dalam skala besar.
Sebagian analis menjelaskan sikap ini sebagai produk konteks historis Jerman, terutama beban moral akibat warisan Nazi. Dukungan tanpa syarat terhadap Israel dianggap sebagai bentuk penebusan atas kejahatan masa lalu. Selain itu, pengaruh politik dan lobi pro-Israel juga dinilai memperkuat posisi tersebut.
Namun, penjelasan lain melihat persoalan ini lebih luas, yakni sebagai bagian dari pola historis dalam pemikiran Barat yang disebut “humanisme eksklusif.” Dalam kerangka ini, nilai-nilai seperti keadilan, kebebasan, dan kemanusiaan hanya berlaku penuh bagi kelompok internal, sementara diabaikan ketika berhadapan dengan “yang lain.”
Sejarah kolonialisme memperlihatkan pola serupa: nilai-nilai humanisme diagungkan di dalam negeri, tetapi diabaikan dalam praktik penjajahan. Dalam konteks ini, sikap Habermas bukanlah anomali, melainkan cerminan konsistensi dari tradisi tersebut—di mana universalitas hanya berlaku secara terbatas, bukan global.
0 komentar: