Anatomi Rezeki dan Menyikapinya dalam Surat Al-Baqarah
Semua manusia mengejar rezeki.
Sejak pagi hingga malam, manusia bekerja, berdagang, bertani, berlayar, membangun perusahaan, meneliti, mengajar, dan melakukan berbagai aktivitas demi memperoleh penghidupan.
Namun sebuah pertanyaan mendasar jarang diajukan:
Apakah rezeki itu hasil usaha manusia, ataukah pemberian Allah?
Al-Qur'an memberikan jawaban yang sangat menarik. Dalam banyak ayat, Allah tidak pernah mengatakan, "rezeki yang kalian ciptakan" atau "rezeki yang kalian hasilkan sendiri." Sebaliknya, Allah berulang kali menggunakan ungkapan:
«"Rezeki yang Kami berikan kepada mereka."»
Sejak awal Surah Al-Baqarah, Al-Qur'an mengarahkan perhatian manusia bukan hanya kepada rezeki itu sendiri, tetapi kepada Pemberi Rezeki.
Rezeki Adalah Pemberian
Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 3:
«"...dan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, mereka infakkan."»
Ayat ini mengandung prinsip yang sangat mendasar.
Harta yang berada di tangan manusia bukanlah miliknya secara mutlak.
Ia hanyalah penerima amanah.
Karena itu orang bertakwa tidak memandang hartanya sebagai hasil kecerdasan semata, melainkan sebagai karunia Allah yang dititipkan kepadanya.
Menariknya, dalam ayat ini Allah tidak memulai dengan perintah mencari rezeki, tetapi dengan tiga karakter orang bertakwa:
1. Beriman kepada yang gaib.
2. Menegakkan salat.
3. Menginfakkan sebagian rezeki.
Urutannya mengandung pelajaran penting.
Iman membentuk cara pandang.
Salat membangun hubungan dengan Allah.
Kemudian rezeki digunakan sesuai kehendak-Nya.
Dengan kata lain, yang terpenting bukan berapa banyak rezeki yang dimiliki seseorang, melainkan bagaimana sikapnya terhadap Pemberi Rezeki.
Rezeki Telah Disiapkan Sebelum Manusia Ada
Jika diperhatikan secara berurutan, Surah Al-Baqarah menghadirkan fakta yang menakjubkan.
Sebelum menceritakan penciptaan Adam, Allah terlebih dahulu menjelaskan bagaimana bumi disiapkan.
Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 22:
«"Dia menghasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untuk kamu."»
Kemudian Allah berfirman:
«"Dialah yang menciptakan segala yang ada di bumi untukmu." (Al-Baqarah: 29)»
Urutan ini mengandung pesan yang sangat dalam.
Buah-buahan telah tersedia.
Air telah tersedia.
Tanah telah tersedia.
Atmosfer telah tersedia.
Siklus hujan telah tersedia.
Bahkan seluruh ekosistem telah dipersiapkan.
Semua itu hadir sebelum manusia pertama diciptakan.
Seolah-olah Al-Qur'an ingin menunjukkan bahwa ketika manusia datang ke bumi, Allah telah lebih dahulu menyiapkan meja kehidupan bagi mereka.
Manusia tidak menciptakan rezeki.
Manusia hanya memasuki sistem rezeki yang telah Allah ciptakan.
Kisah Adam: Ketika Rezeki Sudah Tersedia
Pelajaran yang sama muncul dalam kisah Nabi Adam.
Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 35:
«"Makanlah dengan nikmat berbagai makanan yang ada di sana sesukamu."»
Perhatikan.
Adam tidak diperintahkan menanam terlebih dahulu.
Tidak diperintahkan membangun irigasi.
Tidak diperintahkan mengolah tanah.
Makanan telah tersedia.
Rezeki telah disediakan.
Namun di tengah kelimpahan itu terdapat satu larangan.
Dari sini tampak bahwa ujian utama manusia bukanlah apakah ia memperoleh rezeki atau tidak.
Ujian utamanya adalah:
Apakah ia taat kepada Allah ketika menikmati rezeki tersebut?
Rezeki dan Syukur
Setelah menjelaskan berbagai nikmat-Nya, Allah berulang kali memerintahkan manusia untuk bersyukur.
Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 172:
«"Makanlah apa-apa yang baik yang Kami anugerahkan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah."»
Ayat ini memperlihatkan pola yang konsisten:
Rezeki → Syukur.
Bukan:
Rezeki → Kesombongan.
Bukan pula:
Rezeki → Merasa mandiri dari Allah.
Karena semakin besar rezeki yang diterima, semakin besar pula kewajiban syukur kepada Sang Pemberi.
Kesalahan yang Berulang dalam Sejarah
Bani Israil pernah menjadi bangsa yang memperoleh banyak nikmat.
Karena itu Allah mengingatkan mereka:
Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 40:
«"Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu."»
Mengapa Allah mengingatkan mereka tentang nikmat?
Karena manusia sering menikmati pemberian tetapi melupakan pemberinya.
Mereka menghitung jumlah nikmat, tetapi tidak mengingat sumber nikmat.
Mereka sibuk mempertahankan karunia, tetapi melupakan Dzat yang mengaruniakannya.
Inilah penyakit yang berulang dalam sejarah manusia.
Rezeki di Dunia dan Rezeki di Surga
Menariknya, ketika Al-Qur'an menggambarkan surga, tema rezeki kembali muncul.
Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 25:
«"Setiap kali diberi rezeki buah-buahan darinya, mereka berkata: 'Inilah rezeki yang diberikan kepada kami sebelumnya.'"»
Penghuni surga tetap menyadari bahwa segala kenikmatan yang mereka peroleh adalah rezeki dari Allah.
Artinya, kesadaran tentang Sang Pemberi Rezeki tidak berhenti di dunia.
Bahkan di surga pun mereka tetap mengenali sumber seluruh kenikmatan itu.
Rezeki dan Tanggung Jawab
Karena rezeki adalah pemberian Allah, maka respons yang benar terhadap rezeki bukan sekadar menikmati, tetapi:
- Mensyukurinya.
- Menggunakannya dalam ketaatan.
- Menginfakkan sebagian darinya.
- Tidak boros dan tidak kikir.
- Tidak menyombongkan diri.
- Tidak menjadikan rezeki sebagai tandingan bagi Allah.
Harta, ilmu, jabatan, kesehatan, keluarga, waktu, dan kemampuan berpikir semuanya termasuk rezeki.
Karena itu setiap rezeki membawa pertanyaan yang sama:
Bagaimana sikap kita terhadap Pemberi Rezeki?
Kesimpulan
Ketika Surah Al-Baqarah dibaca secara utuh, tampak sebuah pola yang sangat jelas.
Allah menyiapkan bumi.
Allah menurunkan hujan.
Allah menumbuhkan tanaman.
Allah menyediakan makanan.
Allah menciptakan manusia.
Allah memberi nikmat.
Kemudian Allah menguji manusia.
Maka persoalan terbesar dalam kehidupan bukanlah bagaimana mendapatkan rezeki semata.
Persoalan terbesar adalah:
Apakah manusia mengenali bahwa rezeki itu berasal dari Allah, lalu bersikap benar terhadap Sang Pemberi Rezeki?
Karena rezeki bukan sekadar tentang apa yang masuk ke tangan kita.
Rezeki adalah ujian tentang bagaimana hati kita memandang Allah.
0 komentar: