Bukan Iran yang Mengalahkan Israel?
Sejarah kerap memperlihatkan pola yang berulang: kekuatan besar tidak selalu ditumbangkan oleh kekuatan besar lainnya, tetapi justru oleh entitas kecil yang tumbuh perlahan, ditempa oleh tekanan, dan dipersatukan oleh keyakinan.
Ketika Perang Bizantium-Sasaniyah menguras energi dua imperium besar—Romawi dan Persia—lahir sebuah kekuatan baru di Madinah di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad. Dalam beberapa dekade, kekuatan yang awalnya kecil itu mampu mengubah peta dunia, sebagaimana dicatat dalam karya Hugh Kennedy The Great Arab Conquests, yang menjelaskan bagaimana momentum sejarah dimanfaatkan oleh komunitas Muslim awal.
Pola serupa tampak saat Perang Salib mencapai puncaknya dengan jatuhnya Baitul Maqdis. Bukan kekhalifahan besar yang terlebih dahulu membebaskannya, melainkan gerakan yang dibangun oleh Nur ad-Din Zengi dan disempurnakan oleh Salahuddin al-Ayyubi. Sejarawan Carole Hillenbrand dalam The Crusades: Islamic Perspectives menekankan bahwa kemenangan itu lahir dari konsolidasi moral, politik, dan spiritual—bukan sekadar kekuatan militer.
Demikian pula ketika Invasi Mongol menghancurkan peradaban besar, kemenangan justru datang dari kekuatan yang relatif baru di Mesir: Kesultanan Mamluk. Pertempuran Pertempuran Ain Jalut menjadi titik balik, sebagaimana dijelaskan oleh Peter Jackson, bahwa ketangguhan organisasi dan kepemimpinan mampu menghentikan gelombang yang sebelumnya dianggap tak terbendung.
Begitu pula Kesultanan Utsmaniyah yang berawal dari suku kecil di Anatolia, namun kemudian menjelma menjadi kekuatan global yang mengubah sejarah Eropa dan Timur Tengah.
Dari rangkaian ini, muncul satu pelajaran penting: perubahan besar sering lahir dari pinggiran, bukan dari pusat kekuasaan. Dalam konteks hari ini, ketika Israel mendominasi secara militer, pertanyaan yang muncul bukan hanya siapa lawan terkuatnya, tetapi siapa yang paling merasakan dampak langsung dari konflik tersebut.
Sejumlah analis seperti Rashid Khalidi dalam The Hundred Years’ War on Palestine menekankan bahwa dinamika perlawanan sering tumbuh dari pengalaman langsung penindasan—bukan semata dari kalkulasi geopolitik negara besar.
Dengan demikian, kemungkinan perubahan tidak selalu datang dari kekuatan besar seperti Iran, tetapi bisa muncul dari entitas kecil di Gaza, Tepi Barat, Lebanon, atau Suriah—yang ditempa oleh realitas konflik itu sendiri. Sejarah menunjukkan: yang menentukan bukan hanya kekuatan, tetapi daya tahan, arah keyakinan, dan kemampuan membangun momentum dari keterdesakan.
0 komentar: