Wahyu Pertama, Lalu Terhenti
Al-Muqrizi dalam Imtā‘ al-Asmā’ meriwayatkan bahwa setelah Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ di Gua Hira dan membacakan firman Allah, “Iqra’ bismi rabbika alladzī khalaq”, Rasulullah ﷺ pulang ke rumah Khadijah r.a. Dalam keadaan itu, beliau terdiam dan tinggal di rumah selama masa yang dikehendaki Allah, tanpa menerima wahyu apa pun.
Wahyu pun terhenti.
Terhentinya wahyu itu menghadirkan kesedihan yang mendalam di hati Rasulullah ﷺ. Kerinduannya kepada kalam Allah mendorong beliau berulang kali naik ke puncak-puncak gunung, berharap peristiwa agung seperti di Gua Hira kembali terulang.
Para ulama berbeda pendapat tentang lamanya masa terhentinya wahyu tersebut. Ada yang mengatakan dua tahun, sebagaimana dinukil dari sebagian riwayat. Ibnu Abbas berpendapat berlangsung selama empat puluh hari. Al-Zujjaj menyebut lima belas hari. Sementara dalam tafsir Muqatil disebutkan hanya tiga hari, dan pendapat inilah yang dikuatkan oleh banyak ulama.
Muqatil menjelaskan bahwa masa terhentinya wahyu itu memiliki keserupaan dengan ihwal seorang hamba yang sedang ditempa kedekatan dan keteguhan di sisi Rabb-nya. Hingga akhirnya, Jibril kembali menampakkan diri kepada Rasulullah ﷺ, terlihat di antara langit dan bumi, duduk di atas kursi. Malaikat itu meneguhkan hati beliau dan menyampaikan kabar gembira bahwa ia benar-benar adalah utusan Allah.
Namun pemandangan itu membuat Rasulullah ﷺ diliputi rasa takut. Beliau segera pulang menemui Khadijah dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.” Dalam keadaan itulah Allah menurunkan firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الْمُدَّثِّرُۙ
Wahai orang yang berselimut,
قُمْ فَاَنْذِرْۖ
bangkitlah, lalu berilah peringatan!
وَرَبَّكَ فَكَبِّرْۖ
dan Tuhanmu agungkanlah!
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْۖ
dan pakaianmu bersihkanlah.
(Al-Muddatstsir [74]: 1–4)
Dengan turunnya ayat-ayat ini, jelaslah bahwa peristiwa di Gua Hira adalah awal kenabian dan pewahyuan. Sedangkan perintah dalam surah Al-Muddatstsir menandai fase baru: perintah untuk bangkit, memberi peringatan, dan mengajak manusia kepada Allah.
Dari sinilah dakwah Rasulullah ﷺ dimulai—awalannya dilakukan secara rahasia, perlahan, namun dengan fondasi ruhani yang telah ditempa melalui kesunyian, kerinduan, dan penantian yang mendalam terhadap wahyu.
0 komentar: