Umat Kristen Yerusalem Mendesak Gereja Bersikap: Antara Iman dan Tekanan Kekuasaan
Oleh Peter Oborne dan Lubna Masarwa
31 Maret 2026
Penolakan yang Mengguncang
Penolakan terhadap Pierbattista Pizzaballa, Patriark Katolik Yerusalem, untuk memasuki Gereja Makam Suci pada Minggu Palma memicu gelombang simpati global. Peristiwa ini bahkan disebut sebagai kejadian pertama dalam berabad-abad di mana seorang patriark tidak dapat memimpin misa di situs paling suci umat Kristen tersebut.
Namun di balik simpati internasional, suasana di lapangan justru lebih kompleks. Tidak semua umat menyambut sikap sang patriark dengan hangat.
Kota Tua yang Sunyi dan Terkunci
Sejak meningkatnya konflik antara AS, “Israel”, dan Iran, kawasan Kota Tua Yerusalem praktis berada dalam kondisi terbatas. Pasukan keamanan Israel ditempatkan di berbagai gerbang, membatasi akses ke situs-situs suci.
Masjid Al-Aqsa juga ditutup bagi umat Muslim, bahkan selama Ramadan dan Idul Fitri. Otoritas Israel menyatakan kebijakan ini sebagai langkah keamanan akibat ancaman serangan rudal.
Namun, bagi warga Palestina, alasan tersebut dipandang sebagai dalih. Mereka menilai pembatasan ini merupakan bagian dari upaya sistematis untuk memperkuat kontrol atas Yerusalem Timur, wilayah yang sejak 1967 berada di bawah pendudukan dan dinilai ilegal menurut hukum internasional.
Kritik dari Dalam Jemaat
Seorang warga Katolik setempat, yang disebut sebagai Boutros, mengungkapkan kekecewaannya. Ia menilai Patriark seharusnya tidak tunduk pada larangan tersebut.
“Seharusnya dia tetap melanjutkan, bahkan jika harus berdoa di jalan,” ujarnya.
Bagi sebagian umat, sikap gereja yang memilih jalur negosiasi dengan otoritas Israel justru dipandang sebagai bentuk pengakuan terhadap kekuasaan yang mereka anggap tidak sah. Kritik ini mencerminkan kekecewaan yang lebih luas: bahwa lembaga keagamaan dinilai terlalu kompromistis.
Negosiasi atau Legitimasi?
Setelah insiden tersebut, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa Patriark akan diberikan akses penuh ke Gereja Makam Suci. Sementara itu, Patriarkat menyatakan tetap menjalin dialog dengan pihak berwenang, bahkan menyampaikan apresiasi kepada Presiden Isaac Herzog atas intervensinya.
Namun respons ini justru memperkuat kritik sebagian umat. Mereka melihat negosiasi tersebut sebagai bentuk legitimasi terhadap kontrol Israel atas situs-situs suci.
Bagi mereka, persoalannya bukan sekadar akses sementara, melainkan prinsip: siapa yang berhak mengatur tempat suci di kota yang diperebutkan.
Tuduhan Standar Ganda
Organisasi International Centre of Justice for Palestinians menilai pembatasan ini sebagai pelanggaran kebebasan beragama. Mereka juga menyoroti adanya standar ganda.
Saat akses ke situs suci Muslim dan Kristen dibatasi, perayaan Purim tetap berlangsung di bagian lain kota. Laporan bahkan menggambarkan perayaan publik yang meriah, kontras dengan penutupan tempat ibadah bagi komunitas lain.
Perbandingan ini memperkuat persepsi bahwa kebijakan keamanan diterapkan secara selektif.
Kehidupan yang Tercekik
Di dalam Kota Tua, dampaknya terasa nyata. Jalanan yang biasanya ramai saat Paskah kini lengang. Warga menggambarkan suasana duka, kehilangan, dan keterasingan.
“Tidak ada perayaan. Mereka menghancurkan semua rasa sukacita,” kata seorang perempuan Palestina.
Kehadiran aparat keamanan yang masif, pemeriksaan acak, dan pembatasan pergerakan menciptakan tekanan psikologis yang terus-menerus. Bahkan di sekitar Gereja Makam Suci, kehadiran aparat dinilai melanggar kesepakatan “status quo” yang selama ini menjaga pengelolaan situs oleh komunitas Kristen.
Antara Iman dan Kekuasaan
Bagi banyak umat Kristen Palestina, persoalan ini melampaui insiden satu hari. Ini adalah tentang martabat, kebebasan beribadah, dan posisi gereja di tengah tekanan politik.
Mereka mempertanyakan: apakah gereja akan tetap menjadi pelindung umat, atau justru terjebak dalam kompromi dengan kekuasaan?
Dalam konteks Yerusalem—kota suci bagi tiga agama—pertanyaan ini tidak pernah sederhana. Namun satu hal menjadi jelas: ketika tempat suci dikunci dan ibadah dibatasi, yang dipertaruhkan bukan hanya akses fisik, tetapi juga makna spiritual dan identitas sebuah komunitas.
0 komentar: