Kebencian Yahudi terhadap Bangsa Arab di Madinah dan di Palestina Saat Ini
Yahudi Zionis Israel terus merampas, mengusir, dan membunuh kaum Muslimin di Palestina. Bahkan, kebijakan-kebijakan yang dilegalkan untuk mengeksekusi mati tahanan dari bangsa Arab menunjukkan eskalasi kekerasan, dari sekadar “memotong rumput” menjadi “membalikkan tanah”—yakni menghancurkan bukan hanya kekuatan, tetapi juga akar kehidupan, termasuk warga sipil dan anak-anak.
Namun, apakah pola ini baru terjadi hari ini?
Sejarah menunjukkan bahwa sebelum kedatangan Nabi ﷺ di Madinah, kelompok Yahudi telah memainkan peran dalam memicu konflik antara kabilah Arab, khususnya Aus dan Khazraj. Strategi adu domba ini terus dilakukan untuk melemahkan kekuatan internal masyarakat Arab Madinah.
Tokoh seperti As’ad bin Zurarah merasakan kegelisahan yang mendalam. Ia menyaksikan bagaimana konflik yang terus dipanaskan telah mengorbankan banyak pemimpin besar Arab. Di balik itu, terdapat agenda yang lebih besar: melemahkan, lalu menguasai.
Bahkan, terdapat ancaman yang sering mereka lontarkan kepada bangsa Arab Madinah:
“Waktu Nabi yang akan diutus telah semakin dekat. Kami akan membunuh kalian bersamanya sebagaimana kaum ‘Ad dan Iram.”
Namun, rencana itu tidak berjalan sesuai harapan. Bangsa Arab Madinah justru lebih dahulu menyambut Nabi ﷺ, dan ternyata Nabi terakhir bukan berasal dari kalangan Yahudi.
Sejak saat itu, kebencian semakin memuncak. Terlebih ketika Islam tumbuh dan menguat.
Fenomena ini telah digambarkan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Fatḥ ayat 29, yang memisalkan pertumbuhan kaum Muslimin seperti tanaman:
“…seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu menguat, kemudian menjadi besar dan tegak di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanamnya, tetapi membuat marah orang-orang kafir…” (QS. Al-Fatḥ: 29)
Pertumbuhan ini—dari lemah menjadi kuat, dari sedikit menjadi banyak—justru menjadi sebab timbulnya kemarahan dan kebencian pihak yang memusuhi.
Ibnu Mas‘ud menafsirkan ayat ini dengan mengatakan:
“Semoga Allah membuat marah orang-orang kafir dengan Nabi dan para sahabatnya.”
Imam Malik juga menegaskan:
“Barangsiapa di dalam hatinya terdapat kebencian terhadap salah satu sahabat Nabi, maka ia termasuk dalam ancaman ayat ini.”
Dengan demikian, kebencian yang tampak hari ini bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Ia memiliki akar historis dan pola yang berulang: ketika umat lemah, mereka diadu domba; ketika umat bangkit, mereka dimusuhi secara terbuka.
Al-Qur’an juga menegaskan bahwa akan selalu ada generasi yang menggantikan dan melanjutkan perjuangan:
“Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya; mereka lemah lembut terhadap orang beriman dan keras terhadap orang kafir…” (QS. Al-Mā’idah: 54)
Di sisi lain, Rasulullah ﷺ menggambarkan ikatan kaum mukminin sebagai satu tubuh:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang dan kepedulian mereka seperti satu tubuh; jika satu bagian sakit, seluruh tubuh merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Kesimpulannya, eskalasi kebencian dan kekerasan yang terjadi hari ini tidak bisa dilepaskan dari dua hal: faktor sejarah dan reaksi terhadap pertumbuhan kekuatan umat. Sebagaimana benih yang tumbuh menjadi pohon yang kokoh, kekuatan itu justru memancing kemarahan pihak yang merasa terancam.
Namun di balik itu, Al-Qur’an juga menegaskan satu hal: pertumbuhan yang benar, yang berakar pada iman dan amal saleh, pada akhirnya akan berujung pada janji—ampunan, pahala dan kemenangan yang besar dari Allah.
Sumber:
Hamid Az-Zaini, The Untold Stories Sahabat Nabi, GIP, 2025
Qur'an Kemenag, Tafsir Tahlili
0 komentar: