Cara Berfikir Israel yang Menghancurkan Dirinya Sendiri
Apakah perjalanan Israel menuju isolasi dan potensi keruntuhan merupakan akibat dari tindakannya sendiri? Pertanyaan ini semakin relevan di tengah kepemimpinan Benjamin Netanyahu, yang kerap membingkai setiap perang bukan sebagai pilihan politik, melainkan sebagai keniscayaan sejarah.
Dalam berbagai pernyataannya, Netanyahu menegaskan bahwa Israel “dipaksa berperang” demi mempertahankan eksistensi. Namun, narasi ini mengandung kontradiksi mendasar: bagaimana mungkin sebuah negara yang secara aktif memulai dan memperluas konflik tetap mengklaim diri sebagai pihak yang semata-mata bertahan? Meski demikian, dalam wacana politik Israel dan sebagian media Barat, kontradiksi ini justru dinormalisasi.
Akar dari cara pandang ini dapat ditelusuri jauh sebelum berdirinya Israel pada peristiwa Nakba. Sejak awal, pemikiran Zionisme menempatkan kelangsungan hidup sebagai kemenangan, bukan koeksistensi. Keamanan dipahami sebagai ekspansi, bukan keseimbangan.
Sebelum 7 Oktober 2023, Israel berada dalam fase ekspansi diplomatik melalui normalisasi dengan berbagai negara. Netanyahu bahkan membayangkan “Timur Tengah baru” yang mengintegrasikan Israel secara politik dan ekonomi. Namun, perang di Gaza justru membalik arah tersebut. Alih-alih memperkuat posisi global, konflik ini mempercepat isolasi internasional dan mengikis legitimasi, termasuk di antara sekutu tradisional.
Di sisi lain, krisis internal Israel turut memperparah keadaan. Peringatan tentang potensi keruntuhan konstitusional serta wacana “kutukan dekade kedelapan” mencerminkan kecemasan mendalam mengenai keberlanjutan negara.
Ironinya, Israel terus mengandalkan kekuatan militer tanpa menghasilkan solusi politik yang berkelanjutan. Di Gaza, Lebanon, dan kawasan lain, dominasi militer tidak berujung pada stabilitas.
Dengan demikian, ancaman terhadap Israel kini bukan semata datang dari luar, melainkan dari logika politiknya sendiri. Ketika koeksistensi tidak pernah benar-benar menjadi pilihan, maka konflik menjadi satu-satunya jalan—dan kehancuran perlahan menjadi konsekuensi yang tak terelakkan.
0 komentar: